LOVEHATE- DUA DELAPAN

Brandon PoV...

Semua ini terasa mimpi bagiku. Mimpi baik bercampur mimpi buruk seperti badai katrina yang mendadak datang- menghancurkan semuanya.

Aku sangat senang ketika Claire memberitahu pemikirannya tentang Elena yang mengandung anakku tapi satu hal yang tidak kusangka dan kuharap ini semua adalah mimpi buruk adalah karena menyadari kalau anak itu bukanlah anakku. Anak itu adalah anak dari pria lain yang kebetulan adalah pacar Claire.

Aku tidak pernah menyangka kalau Elena adalah orang yang sangat picik dan licik. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua ini pada pernikahan kami? Kupikir dengan kebersamaan kami selama ini membuatnya justru menyukaiku. Aku tahu dari caranya yang menatapku hingga menyukai rona merah di pipinya tiap kali kusentuh. Harus kuakui, aku memang tidak pernah mendengar Elena yang mengatakan kalau dia mencintaiku tapi apakah butuh pembuktian lain lagi ketika aku sangat yakin dari sikap tubuhnya padaku?

Kuedarkan seluruh pandanganku ke seluruh ruang tidur kami. Aroma tubuhnya masih begitu terasa di setiap sudut, seakan dia masih berada di sekitar sini.

Jangan khawatir Elena. Aku akan bertanggung jawab dan merawat anak kita.

Anak kita...

Anak kita...

Pranggg....

Kulepaskan seluruh rasa frustrasiku pada cermin di depanku, membiarkan darah mengucur deras dari buku- buku jariku. Aku tidak perduli lagi dengan semuanya ketika menunduk dan mendapati sebuah kelender kecil. Di tiap tanggalnya terdapat foto- foto kecil yang sengaja ditempelkan oleh Elena. Dalam foto itu hanya ada kami berdua dalam berbagai pose, terkadang ketika aku tertidur dan dia yang diam- diam memotretku.

Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Elena. Dia melakukan semua ini tapi hamil anak dari pria lain. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Apa ini caranya agar tidak ketahuan olehku?

Sial!

Kuusap rambutku kasar. Semua ini memusingkanku. Jika Elena menginginkannya maka tidak cara lain untuk membalasnya. Aku mengerang memikirkan pembalasan apa yang pantas untuknya. Dulu aku masih menolerir sikapnya yang ingin menyerahkanku pada kakaknya yang tidak berharga itu tapi aku yakin kalau aku tidak akan menolerir sikapnya kali ini. Aku perlu memikirkan secara matang apa yang kulakukan padanya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian tapi kuharap kau tidak melakukan kesalahan yang bisa membuatmu menyesal suatu hari nanti."

Ucapan Josh tempo hari seketika membuatku mendengus. Menyesal? Aku bahkan sudah menyesal karena telah mencintainya. Dia adalah wanita paling licik yang pernah kutemui. Mungkin Julia masih lebih baik dibandingkan dirinya.

Hentikan, Brandon. Kau bisa membunuhnya!

Sial! Sial! Sial!

Semuanya brengsek!

Aku perlu keluar dari tempat ini sebelum menghancurkan seluruh tempat yang memiliki aroma tubuhnya ketika berhadapan dengan Claire ketika hendak keluar. Terlihat sekali kalau Claire sangat sakit hati dengan peristiwa ini. Bukan... bukan karena ia prihatin dengan hubunganku. Aku sangat yakin kalau Claire sangat senang dengan kandasnya pernikahan ini. Bukankah sejak awal dia tidak menyukai Elena? Dia pasti menangisi pria itu. Pria yang menghamili Elena, ayah dari anak yang dikandung istriku.

Untuk sesaat aku mencibir. Mencibir karena betapa aku sangat bodoh menyangkut wanita itu.

"Aku akan pergi." Ucapku.

"Kemana?" Claire menatapku. Masih ada sisa air mata di matanya. Aku menyayangi Claire tapi kondisiku juga tidak cukup baik untuk menghiburnya.

"Aku perlu menghentikan kegilaan ini sebelum aku benar- benar menjadi gila."

"Brandon..."

Kuhentikan dia sebelum dia mengatakan kalimatnya lebih lanjut. Aku tidak ingin mendengar nada permohonan darinya setidaknya tidak sekarang.

"Tinggallah disini atau di hotel atau dimanapun yang kau sukai," ucapku. "Tapi pastikan kau menyuruh orang untuk menyingkirkan barang- barangnya dari tempat ini."

"Tapi Brandon..."

Aku jarang melontarkan tatapan pada orang- orang yang ku sayangi tapi tidak ada pilihan lain selain mendengar perkataan Claire. Aku perlu membungkamnya dan itu dengan cara memberinya tatapan penuh intimidasi. Tidak seorangpun yang pernah melawan tiap kali aku mengeluarkan tatapan itu kecuali...

"Lakukan saja apa yang kukatakan." Kataku dingin. Aku tidak sanggup untuk memikirkan wanita itu lagi.

Kuputuskan untuk tidak mengatakan apa- apa lagi dan berpaling meninggalkan Claire. Aku akan kembali menemui adikku itu jika perasaanku sudah jauh lebih baik. Baik dalam artian tidak ada pisau dalam jarak yang terlalu dekat hingga bisa menancapkannya pada tubuh seseorang.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS