LOVEHATE- DUA DUA
Bagaimana ini?
Apa yang harus kulakukan?
Julia dimana kau sekarang?
Aku membutuhkanmu.
Mendadak aku merasakan perasaan pening disekitar kepalaku. Bagaimana bisa aku seteledor ini? Harusnya aku tidak melakukannya. Apa yang harus kulakukan?
Kuremas kedua tanganku yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin di telapaknya. Aku bukannya tidak menginginkan kehamilan ini hanya saja kehadiran seorang anak diantara kami bukanlah yang menjadi pilihan yang aku punya. Aku mencintai Brandon tapi apakah Brandon juga merasakan hal yang sama padaku? mencintaiku? Sementara ada Julia yang berhak atas dirinya.
Dan bagaimana kalau ternyata Brandon tidak menginginkan anak ini? Apa yang harus kulakukan? Dia tidak pernah mengatakan kalau dia berkeinginan memiliki anak dalam waktu dekat ini dan... dariku.
Dasar kau bodoh, Elena! Apa kau berniat menjadikan anakmu seperti dirimu?
Aku terus merutuk kebodohanku hingga tanpa sadar aku telah berada di sebuah rumah sakit dan menemui suster yang menghubungi tadi. Suster itu melihatku dengan pandangan terkejut lalu mengubahnya menjadi senyum ramah kemudian membawaku ke sebuah taman.
Dia menunjuk seorang wanita yang duduk sembari melihat- lihat sekelilingnya. Meskipun sedikit tidak percaya karena wanita itu menghubungiku tapi jauh dari dalam hatiku yang paling dalam- aku juga merasa senang.
"Ada apa kau mencariku?" Aku menyembunyikan perasaan senangku dengan baik. Sejenak aku memperhatikan wajahnya, dia masih terlihat cantik tapi sedikit lebih kurus dari yang kuingat meskipun masih terdapat wajah angkuh di wajahnya.
"Begitukah caramu menyapa ibu kandungmu Elena?" Dia membalasku dengan senyum angkuh yang dibuat- buat. Oh! Betapa aku merindukan dirinya.
Aku kembali berpura- pura tidak peduli dan tertawa miris. "Sejak kapan kau menganggapku sebagai anak?" Ada perasaan sakit hati yang kembali muncul ketika mengucapkannya. "Sepuluh tahun yang lalu kau bahkan tidak mengakuiku ketika aku bersusah payah mencarimu."
Sial, jangan menjadi lemah, Elena!
"Itu karena aku belum membutuhkanmu."
Aku menatap matanya yang justru dengan enggan kembali melihatku. Ia membalikkan wajahnya dan sibuk melihat- lihat para pengunjung lainnya. Dia kembali tidak memperdulikanku seperti yang dulu ia lakukan.
"Jadi apa yang kau inginkan?" Kataku mengindahkan perasaan perih teriris yang kurasakan.
"Pergilah memeriksa." Dia mengatakannya dengan nada perintah yang tak ingin dibantah.
"Aku baik- baik saja. Terima kasih,"
apa yang terjadi?
"Bukan untukmu tapi untukku."
"Untukmu?" Aku tidak mengerti.
"Aku memiliki penyakit jantung."
"Dan?" Aku semakin tidak mengerti.
"Aku membutuhkan jantung baru segera," jawabnya dengan nada malas. "Kau anakku jadi sudah selayaknya kau membalas kebaikanku selama ini."
"Mama!" Aku langsung berdiri dari tempatku duduk seraya melihatnya dengan tidak percaya. Bagaimana dia... bagaimana dia bisa setega ini padaku? "Apa ini alasan kau menghubungi setelah sekian lama?"
Sakit... rasanya sangat sakit.
"Memang apa yang kau harapkan Elena? Mengatakan kalau aku merindukanmu? Kau tahu dengan jelas kalau itu tidak mungkin. Aku membenci ayahmu yang telah meninggalkanku dulu dan warna matamu mengingatkanku pada pria menjijikkan itu." Serunya semakin membuatku membelalak tidak percaya.
"Tapi itu tidak berarti aku harus mengalami semua ini. Apa mama tahu kehidupan apa yang harus...".
Dia langsung berdiri hingga kami sejajar. "Aku tidak peduli dengan kehidupan apa yang kau jalani dulu dan melihat keadaanmu sekarang sepertinya kau baik- baik saja. Aku tidak mau tahu, pergilah periksa dan jika cocok, aku mau kau mendonorkan jantungmu."
"Mama!" Aku benar- benar tidak percaya dan putus asa ketika dia justru pergi meninggalkanku... lagi.
Entah kejadian buruk apalagi yang akan kualami. Rasanya aku sudah tidak kuat menjalaninya lagi. Semua terasa salah, aku senang karena aku hamil anak Brandon, aku juga senang karena aku akhirnya bertemu dengan ibu kandungku tapi semuanya terasa salah karena tidak satupun dari kejadian itu yang bisa membuatku merasa bahagia.
"Hei kau!" Mendadak Claire meneriakiku ketika aku baru saja akan membuka pintu kamar. "Dari mana saja kau?!" Dia melirik jam yang telah menunjukkan pukul sebelas malam lalu kembali melihatku.
Aku sungguh tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengannya dan hanya mengucapkan kata maaf lalu membuka pintu kamarku.
"Maaf?" Dia menyentak tanganku, menahan aku masuk. "Asal kau tahu, sejak tadi Brandon menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu. Dari mana saja kau dan kenapa ponselmu tidak aktif?"
"Maaf." Aku mengucapkan dengan nada lirih yang terasa menyesakkan di dadaku.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Claire tapi dia terus saja melihatku. "Terserahlah. Oh iya, ngomong- ngomong Brandon memberi tahuku kalau dia akan pulang har...."
"Baik. Terima kasih Claire," potongku dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Aku menanggalkan semua pakaianku dan masuk kedalam bathtub yang telah kuisi ketika merasakan air dingin yang tiba- tiba terasa di tubuhku hingga semakin lama air dalam bathtub mulai berubah warna karena tangisanku.
"Hei, ada apa?" Seperti biasa Brandon akan langsung memelukku dari belakang. Sudah tiga hari berlalu semenjak pertemuanku dengan ibu kandungku dan sejak itu pula aku tidak lagi mendengar kabarnya.
Kupaksakan sebuah senyum padanya. "Tidak apa- apa. Kau tidak ke kantor?"
"Tidak." Dia menjawab dengan senyum samar masih tetap dengan melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Tidak?"
Brandon membalikkan tubuhku agar dia bisa melihatku kemudian mengecup keningku. "Ya. Aku meliburkan diriku sendiri."
Aku mendengus dan memutar kedua bola mataku, membuatnya terkekeh lalu kembali melayangkan bibirnya kali ini ke bibirku dan seperti biasa, sensasi yang dihasilkannya membuat kepalaku terasa mengambang.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku memilikinya tapi kurasa aku mulai mencintaimu."
Deg.
Rasanya aku ingin menangis karena pengakuannya barusan. Apa sekarang waktu yang tepat untuk memberitahukan mengenai kehamilanku?
Ya. Aku akan mencobanya.
"Brandon.. hm, aku..." Kalimatku terpotong dengan suara dering ponselnya.
"Sebentar sayang." Dia beranjak pergi meninggalkanku kemudian kembali beberapa menit kemudian dengan senyum merekah.
"Ayo." Brandon menarik tanganku agar mengikutinya.
"Kemana?" Tanyaku bingung.
"Kita akan menemui seseorang." Dan dia kembali tersenyum setelah terlebih dahulu mengecup keningku.
.
.
Tidak mungkin.
Julia?
Aku terperangah tidak percaya setelah melihat kehadiran Julia berada di kafe milik Josh. Josh melihatku seakan meneliti ekspresi yang kutampilkan ketika kuputuskan untuk membalas tatapannya dengan senyuman. Yang kuinginkan saat ini adalah sebuah dukungan dan itu harus berasal darinya, ketika semakin yakin ketika melihatnya membalas senyumanku. Josh tahu aku membutuhkan dirinya saat ini tanpa harus mengatakan apa yang kurasakan.
"Julia, apa kabar?" Brandon yang lebih dulu membuka pembicaraan.
Julia berdiri, tersenyum kemudian memeluk pria disampingku ini tanpa ragu. "Baik. Bagaimana denganmu, Brandon?" Balasnya dengan wajah berseri- seri setelah melepaskan dirinya kemudian beralih melihatku. "Dan my little sister, oh I miss you so much." Ujarnya ikut memelukku yang kubalas dengan perasaan yang tiba- tiba sakit. Ada apa denganku?
"Apa kabar Julia?" Tanyaku setelah kami berdua duduk di kursi.
"Baik. Sepertinya kau melakukan tugasmu dengan baik."
Kupaksakan diriku tersenyum. "Ya. Apa Bibi Samantha baik- baik saja?"
Julia balas tersenyum dan tidak tampak kaget mengetahui kalau aku tahu keberadaannya selama ini. Inilah yang kusukai darinya. Dia tidak pernah berpura- pura jika dihadapanku.
"Ya. Dia baik- baik saja,"Hmmm lalu Julia beralih pada Brandon. "Hm Brandon, bisakah kau meninggalkan kami?"
"Baiklah," Balasnya setelah melihat wajahku. "Aku akan menunggumu di sebelah sana bersama Josh. Bersenang- senanglah dengan kakakmu,kakakmu, sayang." Tubuhku mendadak kaku seiring Brandon yang mengecup keningku dan diam- diam aku melirik Julia yang sepertinya tidak tampak senang.
Tidak ada yang bersuara diantara kami berdua hingga Brandon masuk ke ruangan yang terhalang lemari disusul oleh Josh yang terlihat mengkhawatirkanku.
"Apa kau bahagia?" Tanya Julia.
"Eh?"
"Ayolah Elena," Julia mengucapkannya dengan malas. "Ini pertama kalinya aku melihat Brandon sehangat tadi. Sejujurnya alasan aku meninggalkan dia karena dia sama sekali tidak melirikku dan adiknya itu. siapa namanya?"
"Claire?"
Apa ini saatnya aku mengetahui alasan dari kebencian Claire selama ini?
"Ya. Claire! Dia gadis sok tahu dan manja yang berpikiran kalau dia bisa memerintah orang seenaknya."
"Aku tidak mengerti, Julia. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia juga sepertinya sangat membenciku?
Julia tertawa. "Jadi dia juga membencimu ya?"
"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?"
"Dia memergokiku berciuman dengan pria lain seminggu sebelum pernikahanku dengan kakaknya."
Tanpa sadar kututup mulutku agar tidak mengeluarkan sumpah serapah padanya. Aku tahu kalau Julia adalah tipe gadis yang sangat bebas, berbeda denganku yang kurang memiliki hubungan dengan lawan jenis. Julia justru kebalikan dari diriku. Dalam seminggu entah berapa banyak pria yang dikencaninya tapi kupikir semua itu telah berubah sejak perjodohan antara Brandon dan dirinya disepakati.
"Oh ayolah Elena," Julia memberiku tatapan jengah. "Kau tahu bagaimana diriku dulu."
"Tapi ini tidak adil." Bisikku lirih.
"Bukankah hidup memang tidak adil?"
Aku terdiam. Hidup memang tidak pernah adil setidaknya padaku.
"Apa kau masih ingat dengan janjimu kala itu?" Tanyanya membuyarkan apa yang sedang kupikirkan. "Kalau kau akan menjadi menteriku jika terjadi sesuatu padaku?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Itu adalah janjiku ketika ibunya memutuskan untuk mengambilku dari panti asuhan ketika berumur enam tahun.
"Kau sudah menepati janjimu. Sekarang aku ingin mengambil posisiku kembali." Lanjutnya
Eh?
***
Comments
Post a Comment