LOVEHATE- DUA EMPAT
Brandon PoV...
"Apa yang terjadi?" Teriak Harry berusaha melawan hingar bingar musik malam.
Aku hanya bisa terdiam. Entah dari mana aku harus menceritakan segala apa yang menjadi beban pikiranku saat ini. Mungkin saat ini Elena sedang menangis di rumah atau dia sama sekali tidak menangis.
Seketika kesadaran menghantamku. Aku sama sekali tidak pernah melihat air matanya bahkan tadi ketika aku meninggalkannya, matanya sama sekali tidak berkaca- kaca.
Apa sejak awal dia hanya menjalani pernikahan ini karena perjanjian konyol itu? Dia sama sekali tidak mencintaiku. Apa hanya aku yang merasa mencintainya?
Sial! seharusnya aku menunggu jawabannya tadi, kupikir dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan selama ini padanya mengingat tatapannya selama ini dan wajahnya yang malu- malu setiap kali kusentuh. Apa itu semua hanya sandiwara?
"Aku akan menghubungi Josh." Teriaknya lagi seraya hendak mengambil ponselnya tapi langsung kucegah.
"Aku akan pulang." Kataku sambil bangkit dari dudukku.
"Eh? benarkah?"
Aku mengangguk.
"Baiklah. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu tapi kuharap kau bisa mengambil keputusan dengan bijaksana seperti yang biasa kau lakukan."
"Apa kau yakin aku bisa melakukannya?" Aku menatapnya ragu. Aku bahkan tidak yakin dengan diriku saat ini.
Harry memandangku selama beberapa saat dan berkata. "Josh dengan segala kebaikannya dan kau dengan kepala dinginmu. Kau bisa mencerna situasi dalam segala bidang, itulah sebabnya kau memiliki perusahaan yang sangat besar saat ini. Kau juga pintar menilai orang. Kurasa itu sudah cukup menjelaskan seperti apa dirimu."
Aku berusaha menyerap apa pun kalimat dari Harry.
"Dan kuharap itu tidak berhubungan dengan Elena karena kalau sampai Elena terluka. Aku tidak akan melepaskannya lagi untukmu," kali ini suara Harry terdengar aneh di telingaku seperti sarat dengan ancaman tapi bukan berarti aku akan takut. Justru itu membuatku merasa tidak nyaman. "Aku mengalah karena aku tahu kalau Elena akan memilihmu tapi ketika aku mendapatkan celah, jangan pikir aku akan melepaskannya lagi."
Kutarik napasku pelan dan kuhembuskan. "Aku mengerti. Thanks, sobat."
"Tentu, Mate."
Aku baru saja melangkahkan kakiku beberapa langkah ketika memutuskan untuk mengatakan apa yang selama ini ada dalam benakku. "Oh iya Harr, sebaiknya kau mencari wanita lain karena aku sama sekali tidak tertarik untuk melepaskan Elena sampai kapan pun." Lalu aku berlalu meninggalkannya yang melihatku dengan mata melotot.
Dalam hati aku bersyukur telah memiliki sahabat seperti Josh dan Harry. Meskipun terkadang mereka berdua menjengkelkan karena menyukai wanitaku tapi mereka cukup jantan untuk bermain adil dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda- tanda akan merebut apa yang sudah menjadi milikku terutama Harry. Aku tahu bagaimana dia dulu sering menceritakan tentang pelayan yang bekerja di kafe milik Josh yang tidak lain adalah Elena.
Aku masih ingat ketika tanpa sengaja aku bertanya pada mereka berdua apa yang membuat mereka hingga bisa menyukai wanitaku dan jawaban yang mereke berdua lontarkan membuatku ingin melemparkan apa saja pada mereka berdua. Bagaimana tidak, mereka berdua kompak mengatakan kalau selain wanitaku yang sangat cantik dan kepribadian yang cerai. Mereka juga menyukai kedua kaki Elena yang jenjang hingga aku bisa sangat yakin kalau mereka pernah membayangkan kaki itu melingkar di sekitar pinggang mereka tapi dari sekian banyak yang membuatku jengkel adalah dia menyukai tulang yang berada di bahu Elena, yang menurut mereka sangat seksi dan menggoda.
Sialan! Apa yang dikatakan oleh mereka berdua, mau tidak mau membuatku setuju. Elena memang memiliki tulang bahu yang sangat menggoda selera. Itulah sebabnya kenapa aku sangat suka menciumi daerah leher dan di daerah sekitar bahunya itu.
Claire menatapku tajam ketika mendapati aku yang pulang pukul satu dini hari tapi seperti yang biasa, dia langsung berjalan menuju kamarnya tanpa melihat dan mengucapkan sepatah kata lagi.
Yang terpenting saat ini adalah aku membutuhkan Elena. Melihat wajah itu lagi dan menghirup aroma tubuhnya. Aku sudah sangat merindukan wanita itu dan mungkin aku juga akan meminta maaf padanya atas kelakuanku tadi.
Setelah membuka baju dan mengganti celanaku dengan celana panjang kain. Aku langsung membaringkan tubuhku di sampingnya yang sudah tertidur pulas. Elena tertidur hingga nyaris berada pada ujung tempat tidur dan melihat bantalnya sama sekali kering. Aku tidak ingin melihatnya menangis tapi ada kalanya aku ingin tahu bagaimana perasaannya terhadapku.
Kudekatkan tubuhku ke tubuhnya yang langsung membuatnya tegang. Aku tahu dia terbangun karena sentuhanku.
"Maafkan aku, sayang." Ucapku sambil mencium rambutnya yang beraroma stroberi.
Elena melepaskan rangkulanku dari tubuhnya dan tak menyangka kalau ia akan berbalik hingga kami saling berhadapan.
"Aku yang seharusnya minta maaf." Balasnya dengan suara serak.
Suara seraknya barusan seperti ia telah menangis tapi tidak ada tanda- tanda dalam matanya kalau dia menangis. Apa ini karena dia baru saja bangun tidur? Tapi aku kenal suara bangun tidurnya. Yang ini lebih terasa berat.
"Apa kau memaafkanku?" Tanyanya setelah lama tidak ada balasan dariku.
Kutatap matanya. Sial! kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Sinar mata Elena memancarkan ketulusan dan kejujuran. Sekarang aku bisa mengerti kenapa kedua sahabatku itu mati- matian membela Elena. Elena berbeda dari gadis- gadis yang pernah kami temui. Kejujuran, ketulusan dan juga kepolosan tergabung menjadi satu. Dalam hati aku bersyukur akulah yang dipilihnya.
"Aku sudah memaafkanmu sayang. Apa kau juga memaafkanku?" Tanyaku.
Dia mengangguk.
Aku tersenyum dan mengecup bibirnya. "Tidurlah." Kataku lembut seraya membawa kepalanya keatas lenganku dan mendekapnya.
Aku tahu kalau Elena orang yang mudah tertidur dan mau tidak mau aku tertawa karena kelakuannya yang seperti ini. Dia sama sekali tidak memberiku kesempatan agar mengecup bibirnya lebih lama lagi dan langsung jatuh tertidur setelah aku menyuruhnya untuk tidur.
Oh, aku pasti akan kehilangan seluruh jiwaku jika harus kehilangan dirinya.
"Aku mencintaimu, sayang." Bisikku pelan semakin menguatkan pelukanku padanya.
***
Comments
Post a Comment