LOVEHATE- DUA ENAM
"Apa kau sebegitu inginnya menyerahkanku padanya?"
"Brandon..." dengan putus asa kudekati dia yang justru malah menarik tanganku dengan kasar, membuat posisi kami sangat berdekatan. Dengan susah payah aku berusaha untuk tetap berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur atas reaksi yang ditimbulkannya pada tubuhku.
"Apa kau tidak mencintaiku?"
"Brandon..."
"Jawab aku Elena!" Aku tersentak kebelakang tapi Brandon sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk melepaskan genggaman tangannya.
"Brandon..." mendadak aku mual, pusing. Rasanya ruangan ini berputar di sekelilingku.
"Sial!" Dan genggamannya terlepas, membuatku seperti kehilangan pegangan hidup. Susah payah aku mencoba untuk tetap berpijak di kedua kakiku.
Brandon memberiku tatapan nanar di kedua matanya, membuat lidahku terasa kelu dan pahit. Aku membenci melihatnya yang seperti ini. Aku ingin menyentuhnya, menenangkannya dan mengatakan kalau aku juga mencintainya tapi aku tidak boleh egois. Sejak awal Brandon bukanlah untukku.
"Apa aku sama sekali tidak ada artinya buatmu?" Lagi- lagi pertanyaannya membuatku seperti tertikam ribuan pisau tak kasat mata tepat ke jantungku.
"Bukan seperti itu..." kugelengkan kepalaku menahan rasa sakit.
"Kau tidak ingin bersamaku."
Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Kenapa ini harus terjadi pada kami? Apakah aku harus egois dan memilih untuk tidak melepaskannya?
"Aku tidak akan melepaskanmu, Elena bahkan jika kau tidak mencintaiku. Aku akan membuatmu menderita karena perbuatanmu dan juga perbuatan kakakmu."
Dan Brandon pergi setelah meninju cermin yang terletak tidak jauh dari kami, membuatnya pecah berantakan dan ada darah yang menetes di kepalan tangannya. Membuatku diam membeku karena sikapnya barusan.
Aku tidak tahan lagi. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua yang ku makan hingga lidahku terasa pahit dan mendongak ketika mataku juga mengeluarkan warna lain dan dengan cepat ku seka. Aku tidak boleh menangis, tidak ketika ada kehidupan lain yang saat ini sedang tumbuh dalam diriku.
"Maafkan mommy ya, sayang. Mommy belum bisa memperkenalkanmu pada daddy." Kataku seraya mengusap gundukan kecil pada perutku. "Tetaplah kuat dan bersamaku. Mommy membutuhkanmu saat ini."
Setelah berganti pakaian, aku kemudian turun menuju dapur ketika mendapati Claire dengan sarapan serealnya. Claire memberiku tatapan yang sulit kuartikan dan lebih memilih untuk tidak memperdulikannya. Hubunganku dengan Claire bukanlah hubungan layaknya seperti teman yang bisa saling menceritakan masalah masing- masing. Kami hanyalah dua orang asing yang kebetulan tinggal seatap dan Claire juga membenciku sama seperti ia membenci Julia.
"Kau baik- baik saja?"
Nyaris saja aku tersedak airku sendiri ketika mendengar suaranya dan berbalik ketika ia masih melihatku. Setelah lama berpikir, aku baru menyadari kalau ini pertama kalinya ia tidak menampilkan wajah tidak sukanya padaku.
Aku mengangguk membalasnya dan tersenyum. "Ya."
"Jangan pura- pura tersenyum kalau kau tidak bisa melakukannya. Kau terlihat bodoh dengan senyummu itu."
Aku meringgis.
"Maaf." Kataku
Claire mengangkat sebelah alisnya kearahku.
"Atas perlakuan Julia padamu dan Brandon." Lanjutku yang langsung membuatnya tertawa sinis.
"Tidak ada gunanya kau meminta maaf padaku. Semuanya sudah terjadi meskipun aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan begini."
Aku tersenyum. "Well, setidaknya kau masih punya saudara di sampingmu. Aku harap kau tetap bersama Brandon. Jangan pedulikan aku."
Claire terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat diurungkannya dan mendengus.
"Siapa bilang aku akan peduli padamu? Aku tidak peduli dengan urusan kalian berdua." Setelah itu Claire berlalu meninggalkanku.
.
.
Waktu terus berjalan tanpa henti. Siang dan malam silih berganti dan tanpa sadar usia kandunganku sudah menginjak usia tujuh bulan yang selalu ku tutupi dengan baju yang sedikit lebih besar.
Brandon tidak pernah lagi kembali ke rumah sejak pertengkaran kala itu. Dan dari percakapan yang ku curi dengar antara Claire dan Brandon pada sambungan telepon. Aku bisa menyimpulkan kalau Brandon telah membeli sebuah apartemen untuk tempat tinggalnya.
Brandon sudah sangat membenciku dan sudah pasti ia jijik dengan wanita yang rela memberikan suaminya sendiri pada wanita lain. Aku bisa mengerti perasaanya itu.
Kegiatan di kampus juga sudah berhasil ku selesaikan dan tidak ada kegiatan lain lagi yang bisa kulakukan selain terus memeriksakan kandunganku dan juga mengunjungi ibu kandungku di rumah sakit yang selalu mengungkit masalah jantung yang ku miliki.
Aku menyayanginya. Biar bagaimanapun dia adalah orang yang telah membawaku ke dunia ini. Aku tahu bagaimana beratnya mengandung dan itulah yang saat ini kurasakan. Aku tidak ingin menyia- nyiakan ibu kandungku saat ini karena aku tahu aku membutuhkannya terlepas apa yang sudah ia lakukan padaku dulu.
Ia semakin terlihat kurus dan pucat tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya meskipun sikap dingin dan arogannya masih ia tunjukkan padaku. Meskipun begitu ia masih gigih mengenai masalah jantung itu.
Tadi aku menyempatkan diri untuk berkonsultasi pada dokter yang menanganinya dan menanyakan berbagai macam hal tentang keadaan ibuku dan justru malah berakhir dengan kehamilanku. Ya, berbagai cara telah aku lakukan untuk menutupi perutku tapi tetap saja dokter itu mengetahuinya dan merutuk atas kebodohanku sendiri. Dia kan dokter. Apa sih yang bisa luput dari pengamatannya?
Kuputuskan untuk sekalian berjalan- jalan saja sepulang dari rumah sakit. Aku perlu menggerakkan tubuhku dan juga merilekskan kepalaku sebelum kembali ke rumah. Claire juga sering memberiku tatapan yang tak ku mengerti secara diam- diam. Tinggal beberapa langkah lagi menuju rumah ketika ponselnya berdering dengan nyaring, membuatku senyumku seketika terbit ketika melihat nama pada layarnya.
"Elena?"
"Bibi Samantha," kataku membalas. "Bagaimana kabar bibi?"
"Oh sayang. Bibi baik- baik saja. Bagaimana denganmu? Apa kau baik- baik saja?"
"Baik Bi," kataku tersenyum. "Aku merindukan Bibi."
"Oh sayang, bibi juga merindukanmu. Kau yakin kau baik- baik saja, Elena? Kenapa suaramu terdengar lain?"
Crap! Cepat- cepat kuusap kedua mataku, menghilangkan air mata yang mengenang. Aku tidak boleh menangis. Tidak ketika Bibi Samantha berada sangat jauh dariku. Aku sudah cukup menghindari Josh dan yang lainnya karena tidak ingin mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku baik- baik saja, Bi. Aku agak sedikit flu saat ini." Maafkan aku telah berbohong padamu Bi. Aku menambahkan dalam hati.
Lama tidak ada jawaban darinya ketika mendengar helaan napas pelannya.
"Maafkan Bibimu yang bodoh ini, Elena sayang. Maukah kau?"
"Maaf? Maaf untuk apa Bi?"
"Bibi yakin, Julia sudah menemuimu, iyakan?"
"Bi," kumohon jangan membahasnya saat ini. "Aku tidak apa- apa, Bi. Julia memang sudah menghubungiku."
"Apa yang dikatakannya?"
"Tidak ada yang spesifik. Hanya mengatakan kalau dia merindukanku."
Lagi- lagi terdengar helaan napas di seberang. "Jangan terus- menerus membelanya, sayang. Sudah cukup kau mengorbankan dirimu untuknya."
Aku mulai terisak tanpa sadar. "Aku tidak bisa. Ini semua bukanlah milikku. Brandon bukanlah milikku Bibi. Apa yang harus kulakukan?"
"Oh sayang. Kau mencintainya?"
Aku tidak menjawab.
"Ini salah Bibi. Seharusnya Bibi tidak memintamu untuk melakukannya. Maafkan Bibimu ini, Elena."
Aku menggeleng. "Tidak. Tidak ada yang harus disesali, Bi. Semuanya telah terjadi." Ya, semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Aku memiliki anak Brandon saat ini.
"Kau harus berhenti menangis, sayang. Jangan biarkan hal itu terjadi lagi setiap kali kau menangis."
"Aku mengerti,Bi."
"Bibi berharap bisa disana menemanimu."
Aku tersentak mendengar suaranya dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mengatakannya.
"Apa Bibi bisa datang jika ku minta?"
"Tentu saja. Apa kau menginginkanku sekarang?"
Ya. "Tidak. Tidak sekarang Bi, aku akan menghubungi Bibi ketika waktunya tiba."
"Kau yakin?"
"Ya. Aku akan menghubungi Bibi nanti."
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, sayang meskipun Bibi merasa kalau kau menyembunyikan sesuatu saat ini."
Aku tertawa menyembunyikan perasaan gugupku. "Oh, dan aku menemui ibu kandungku." Kataku memberitahunya.
Lama tidak ada suara sehingga kupikir sambungan kami terputus ketika kembali mendengar suaranya, kali ini sangat dingin dan ada nada ketidaksukaan di dalamnya.
"Mau apa dia?"
"Tidak ada. Dia mengatakan kalau ia merindukanku." Entah berapa banyak kebohongan yang telah kuucapkan dalam kurun satu jam ini.
"Jadi itu artinya sebentar lagi wanita itu akan mati."
Aku tertawa. Tawa yang sangat dipaksakan keluar. Atau aku yang akan mati. Aku menambahkan dalam hati.
"Maafkan aku, Bi tapi aku akan menghubungi Bibi nanti."
"Elena..."
Klik. Kumatikan ponselku cepat. Aku tidak mau orang lain mendengar pembicaraanku dengan Bibi Samantha saat ini apalagi jika Bibi Samantha sangat bersikeras ingin melarangku bertemu dengannya lagi.
Aku mengernyit bingung. Jika di luar ada mobil Claire yang terparkir, kenapa lampu ruang tengah masih belum dinyalakan mengingat hari sudah malam. Apa Claire ketiduran?
Sambil meraba dalam kegelapan, aku mencoba mencari saklar lampu ketika mendengar suara.
"Aku mendengar suaramu." Suara itu terdengar dalam dan penuh... gairah?
***
Comments
Post a Comment