LOVEHATE- DUA LIMA
Elena PoV...
"Julia?"
Aku mungkin terlalu berlebihan ketika mengucapkannya tapi jujur melihat kedatangan Julia di rumah Brandon bahkan tanpa sama sekali menghubungiku membuatku gusar sekaligus bingung. Bingung karena aku tidak tahu harus mengatakan apa semenjak pertemuan terakhir kami dulu dan gusar karena menyadari apa maksud dari perkataan Julia dulu.
"Hai my beatiful little sister?" Julia tersenyum. "Aku bermaksud ingin mengunjungimu sekaligus melihat seperti apa kehidupan yang kau jalani." Ujarnya membuatku tidak tahu harus berbuat apa. "Kau tidak ingin mempersilahkanku masuk?' Tanyanya setelah lama kami hanya saling memandang di depan pintu.
"Julia?"
Kedua kening Julia bertaut, "kau tidak mengharapkan kedatanganku?" Matanya menyipit curiga dan aku merasa mulai tidak nyaman.
"Tidak. Tidak sama sekali." Kumantapkan hatiku seraya membuka pintu lebih lebar agar dia bisa masuk.
"Oh, aku merindukanmu adikku sayang. Hari itu kau tiba- tiba dibawa pergi oleh Brandon? Apa kau tidak apa- apa?"
Ini mungkin hanya perasaanku saja tapi entah mengapa setiap kata yang diucapkannya seakan menyiratkan makna yang lain dibaliknya.
"Duduklah dulu, Julia. Aku akan membawakan minuman."
Julia mengangguk dan keluar beberapa menit kemudian seraya membawa segelas jus di tanganku.
"Rumah ini bagus." Komentarnya dan aku hanya bisa mengikuti arah pandangannya ke seluruh penjuru rumah dan tersenyum. "Aku bertanya- tanya kapan kau akan mengembalikan ini semua padaku?"
"Eh?"
"Ayolah Elena..."
"Siapa yang mengijinkanmu masuk kesini?" Mendadak Claire muncul dari arah kamarnya dan memandang Julia dengan marah dan ini kali pertama aku melihat wajah marahnya yang seperti ini.
"Hai adik ipar." Julia tersenyum menyapanya kembali, semakin membuat wajah Claire semakin terlihat mengeras.
"Aku bukan adik iparmu dan tidak akan pernah menjadi iparmu jadi keluar!"
"Wow. Sikapmu masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Kekanak- kanakan."
"Apa?!"
"Julia," aku berkata putus asa. Memegang lengan Julia.
"Pergi atau aku harus menelpon polisi atas dasar menganggu kenyamanan orang lain?" Suara Claire semakin keras sementara arah matanya melihatku dan juga Julia.
"Menganggu kenyamanan orang lain katamu? Yang benar saja." Julia membalas sinis.
"Julia," kutarik lengan Julia mencoba meredakan perselisihan diantara mereka. "Sebaiknya kita pergi." Kataku
Julia memberiku tatapan tidak percaya. "Kau bercanda ya? Kau mau dikalahkan sama anak ingusan ini?" Julia mengarahkan telunjuknya pada Claire, membuat kedua mata Claire semakin melotot.
"Kau...!"
"Julia, ayo kita pergi." Aku terpaksa harus menyeret Julia keluar dari rumah ini sebelum Claire meledak karena amarah.
"Aku belum selesai bicara dengan gadis manja itu." Sergah Julia berusaha membebaskan dirinya dari peganganku.
"Dasar jalang! Keluar dari rumahku sekarang juga!" Suara Claire tidak kalah kerasnya dari suara Julia, membuatku harus menutup mata selama sesaat.
"Ayo Julia." Kukerahkan seluruh kekuatanku untuk menarik Julia dan disusul suara pintu yang dibanting sangat keras sedetik setelah kaki kami berada di luar pintu.
"Ayolah Julia, kau tidak bisa begitu saja datang kemari seperti yang kau lakukan barusan." Kataku sambil memijit pelipisku yang mulai sakit.
Julia memberiku tatapan tajam. "Kenapa tidak bisa? Aku punya hak disana." Lalu matanya mulai menyipit, memberiku pandangan curiga. "Apa sekarang kau menganggap dirimu sebagai nyonya rumah di rumah itu?" Tuduhnya tajam.
"Tentu saja tidak." Elakku cepat
"Kalau begitu kapan kau akan menyerahkan posisiku kembali?"
"Semuanya butuh waktu Julia. Kau tidak bisa datang begitu saja setelah beberapa bulan terakhir ini kau menghilang." Kataku mencoba memberinya pengertian.
"Cih! Omong kosong!"
"Ayolah Julia, kau juga harus memikirkan bagaimana perasaan mereka setelah kau tinggalkan."
Tidak ada jawaban.
Kutatap wajah Julia lekat- lekat. Dibandingkan wajahku, wajah Julia sangat cantik dengan rambut pirang stroberinya. Bibirnya yang kecil dan tipis semakin menambah kecantikannya.
Setidaknya aku beruntung telah diangkat sebagai anak oleh orang tua Julia ketika aku berumur enam tahun. Mr dan Mrs. Williams adalah orang tua yang penuh kasih. Dari merekalah aku bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus, yang sebelumnya tidak kudapatkan dari orang tua kandungku. Aku dimasukkan ke panti sosial ketika masih berumur beberapa bulan dan ketika orang tua Julia meninggal, aku merasa separuh hidupku juga ikut mati bersama mereka.
Sejak kecil, Julia selalu menjagaku dan tidak pernah memperlihatkan kecemburuannya padaku meskipun aku anak adopsi. Dia bahkan menganggapku seperti layaknya adik kandungnya sendiri. Itulah sebabnya kenapa aku sangat mencintai dan menyayangi dirinya.
"Baiklah. Mungkin mereka hanya butuh waktu seperti yang kau katakan." Katanya
Aku langsung mengucap syukur atas pengertian Julia. Dalam hati aku bertanya- tanya, apa yang akan dikatakan Julia kalau aku mengatakan kalau aku hamil anak Brandon. Apa dia akan langsung marah seperti yang tadi dia tunjukkan? Aku sangat berharap dia justru mengucapkan selamat untukku meskipun aku sadar kalau itu tidak mungkin.
"Apa kau lapar? Ayo kita cari sarapan." Ajakku
Julia tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakanku. Kudekap lengannya seperti yang dulu aku lakukan ketika kami berjalan bersama- sama. Sungguh, aku juga sangat merindukan kehadirannya terlepas dari masalah yang kami berdua alami. Kubawa Julia ke kafe terdekat dan memesan pancake beserta waffle untuk kami berdua.
Aku sengaja tidak mengajak Julia ke kafe milik Josh karena aku tahu Josh pasti akan menghadangku dan menanyakan banyak hal tentang maksud kemunculan Julia lagi. Aku bukannya tidak ingin menjelaskan pada pria yang telah kuanggap sebagai sahabat baikku itu tapi entahlah, aku hanya tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.
"Jadi Julia, " aku memulai kembali pembicaraan kami yang sempat tertunda disela sarapan kami. "Kalau tidak salah kemarin aku mendengar kau mengatakan kalau kau mendatangi Brandon sebelum pernikahan kalian." Aku berusaha menahan getir ketika mengucapkannya. Biar bagaimana pun aku harus ingat kalau posisi yang saat ini ku tempati adalah posisi Julia pada awalnya.
"Ya. Dua hari sebelum pernikahan. Aku memintanya untuk memutuskan dalam artian menundanya untuk sementara waktu." Julia menjawab disela ia mengunyah pancakenya.
"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanyaku lagi seraya berusaha mencoba menelan waffleku yang terasa seperti menelan gabus di tenggorokanku.
Sambil memicingkan matanya, Julia menjawab tapi ada nada kesal di suaranya. "Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Aku tidak tahu kalau Bibi Samantha justru menyuruhmu untuk menggantikanku dan kukira Brandon juga membatalkan pernikahan itu."
"Kau sempat meminta itu?" Aku terkejut, tidak menyangka.
"Ya. Aku tidak tahu kenapa Brandon justru malah melanjutkan pernikahan itu."
"Tapi kenapa kau baru muncul sekarang?"
"Tentu saja Karena aku butuh waktu, adikku sayang. Claire memergokiku berciuman dengan pria lain. Apa kau pikir gadis yang belum bertumbuh dengan sempurna itu akan menyukaiku?"
"Claire memang tidak pernah menyukai orang lain. Itu juga berlaku padaku."
"Tapi melihat keadaanmu yang baik- baik saja saat ini membuktikan kalau kau bisa menghadapi penyihir kecil itu."
"Coba pikirkan, kau tidak bisa begitu saja masuk dalam sebuah keluarga setelah kau sendiri memutuskan untuk meninggalkannya."
Lagi- lagi Julia melihatku dengan pandangan curiga. "Kau mencintainya." Tuduhnya langsung.
"Hah? Siapa?"
"Brandon"
Aku langsung tertawa, menyembunyikan rasa gugupku. "Aku tidak menyukainya Julia. Ingat. Aku hanyalah penggantimu."
"Benarkah?"
Kuhirup udara yang mendadak terasa dingin karena kehadirannya yang mendadak dan terpaksa menutup mata sejenak sebelum menghadapi badai selanjutnya dan merasakan tanganku yang ditarik paksa olehnya hingga merasakan tubuh kokohnya di dekatku
"Kuperingatkan sekali lagi Julia," suara Brandon terdengar jauh lebih dingin dan berbahaya. "Aku bukanlah barang yang bisa diserahkan begitu saja oleh kalian." Lalu matanya kemudian beralih padaku. "Dan kau Elena. Kupikir kita sudah melupakan kejadian ini kemarin tapi ternyata kau masih saja ingin menyerahkanku pada saudaramu ini. Apa aku sama sekali tidak ada artinya buatmu?"
Ada nada sakit hati dalam suaranya yang bisa ku mengerti. Dia menyukaiku tapi aku justru malah ingin menyerahkannya pada orang lain.
"Aku bisa menjelaskan." Kataku membuka suara.
"Aku tidak perlu mendengar penjelasan darimu. Kupikir beberapa ini sudah cukup menjelaskan semuanya." Lalu dia berbalik pergi meninggalkanku.
"Maaf Julia. Aku harus pergi. Aku akan menjelaskan padamu. "Aku langsung naik kedalam mobil Brandon sebelum ia pergi.
Selama perjalanan, kami sama sekali tidak berbicara dan aku cukup tahu jika aku berbicara sekarang, maka yang ada Brandon akan semakin marah.
"Brandon, apa kau menemukan.... Oh. Kau sudah menemukannya." Entah apa yang ingin dikatakan oleh Claire sesampainya kami di rumah tapi asumsiku dia membicarakan tentangku.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulakukan tapi aku tetap memberikan Claire permintaan maafku. Mungkin kehamilan ini justru membuatku menjadi serba salah.
Kulangkahkan kakiku, mungkin sedikit mengejar Brandon yang telah lebih dulu berjalan menuju kamar kami dan mendapatinya berdiri seraya menghadap luar jendela.
Kuhembuskan napasku. Aku juga merasakan sakit tapi pilihan apa yang ku punya? Julia adalah satu- satunya keluarga yang kumiliki dan aku akan melakukan apa saja untuknya, salah satunya adalah janji yang pernah kuucapkan padanya.
Sepertinya Brandon menyadari kehadiranku ketika ia justru membalikkan tubuhnya kearahku dan memberiku pandangan nanar juga sakit hati.
"Apa kau sebegitu inginnya menyerahkanku padanya?"
***
Comments
Post a Comment