LOVEHATE- DUA SATU
Aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana, Joanna sama sekali tidak memberiku kesempatan dan jalan satu- satunya adalah dengan menunggunya di rumahnya. Entah berapa lama aku menunggu ketika melihat dirinya yang berjalan mendekat. Kedua keningnya sama- sama saling bertaut dan semakin bertaut ketika ia hendak melewatiku tapi langsung kutahan lengannya.
"Apa yang kau lakukan?" Bentaknya seraya menyentakkan tanganku agar melepaskan tangannya.
"Kita perlu bicara, Jo. Jangan seperti ini. Kau salah paham."
"Salah paham?" Dia mengeluarkan suara tawa sinis. "Oh okey, salah paham karena aku mendapatimu berpelukan dengannya, bjkan? Kau tidak ingin disebut sebagai orang yang licik. Cih, dasar tidak tahu malu."
Aku kembali ingin memegangnya ketika secara bersamaan ia meneriakiku.
"Jangan menyentuhku pelacur!"
"Joanna?" Aku sungguh tidak menduga kalau ia akan menyebutku seperti itu.
"Sudah berapa lama kau berhubungan dengannya?" Tanyanya beberapa saat kemudian.
"Hampir tujuh bulan?"
"Apa? Tujuh bulan?"
Aku mengangguk. "Ya. Dia sebenarnya pria yang dijodohkan dengan Julia. Dia suami Julia."
Sontak kulihat kedua mata Joanna membelalak. "Maksudmu kau menjalin hubungan dengan suami dari kakakmu? Apa kau sebegitu menyedihkannya hingga harus menjadi perusak. Kau benar- benar memperlihatkan dirimu sebagai seorang pelacur."
"Joanna bukan seperti itu. Sebenarnya Brandon adalah suamiku."
"Kau juga istri Brandon?" Kedua matanya semakin membelalak dan belum sempat aku menjawab sebuah rasa perih mendadak terasa di pipi kiriku.
"Joanna?" Kusentuh pipiku yang baru saja ditampar olehnya.
"Kau benar- benar menjijikkan," cemoohnya. "Selamat. Kau telah membuktikan kalau dirimu adalah pelacur sejati."
"Jo, kau salah paham. Kejadiannya tidak seperti itu."
"Pergi!"
"Joanna."
"Kubilang pergi pelacur dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu dihadapanku."
"Joanna, please."
"Pergi Elena! Sebelum aku menghancurkanmu hingga menjadi kepingan."
"Jangan melakukan itu. Kau bilang kalau kau tidak akan meninggalkanku." Ucapku dengan suara tercekat.
Joanna tertawa sambil mengibaskan sebelah tangannya kearahku. "Oh yang benar saja. Aku hanya mengatakannya sambil lalu, Elena sayang." Lalu dia mulai menyunggingkan senyum. "Tentu saja aku melakukan itu untuk merebut perhatian pria- pria yang mendekatimu tapi terkadang kau sungguh bodoh menyia- nyiakan mereka." Ucapnya sekaligus membuatku terperanggah. Ini semua bohong. Apa selama tiga tahun persahabatan kami, tidak ada sama sekali hal yang tulus?
"Maaf, sayang tapi jujur saja aku kaget mengetahui kalau kau ternyata tidak senaif yang kau tunjukkan. Bahkan kau rela berbagi suami dengan suami kakakmu sendiri," Joanna mulai menyentuh rambutku, membuatku seketika bergidik karena tidak lagi mengenal sosok didepanku. "Aku jadi kasihan dengan Julia. Kau pasti menggoda Brandon mati- matian hingga mau menikahimu. Wajar saja sih melihat bagaimana kau dilahirkan sepertinya itu cukup membuktikan dari mana kau berasal."
"Cukup!"
"Kenapa? Marah?"
"Jangan pernah menghina orang tuaku." Desisku menahan kepalan tanganku agar tidak lolos.
"Kenapa? Apa kau merasa sakit hati? Kau tidak mungkin merasakan itu mengingat kau adalah anak yang tidak di inginkan."
"Cukup. Cukup Joanna. Kau sama sekali tidak tahu apa- apa mengenai diriku."
Lagi- lagi dia tertawa. "Aku tidak perlu tahu untuk bisa mengenalmu, Elena karena aku tahu lebih dari siapapun kalau kau hanyalah sampah yang tidak dibutuh..."
Plak. Aku tidak dapat mengendalikan diri lagi dan langsung menamparnya.
"Aku bilang cukup!" Aku mengeram, memberi Joanna tatapan tajam.
"Dasar kau pelacur." Serapahnya.
"Aku beruntung kau memperlihatkan sifat aslimu secepat ini," Aku berusaha menunjukkan senyum sinisku, mengindahkan perasaan sakit di relung hatiku akibat perkataannya tadi. Sungguh, aku mengira Joanna adalah keberuntungan yang kudapatkan selama beberapa tahun ini. Dia adalah salah satu orang yang paling penting dalam hidupku dan semuanya telah berakhir sekarang. "Aku tidak ingin berbohong padamu disaat terakhir kita berpisah," kutarik napasku sesaat dan menghembuskannya. "Memang benar kalau Brandon adalah suamiku tapi itu hanya sementara sampai Julia datang dan aku hanya mengantikan posisinya karena di saat pernikahan mereka, Julia tiba- tiba menghilang dan tempat yang seharusnya ditempati Julia dengan terpaksa aku harus tempati. Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku juga minta maaf karena tidak jujur padamu sejak awal."
"Kau pikir aku akan percaya dengan semua ceritamu itu, hah?"
"Aku tidak meminta kau untuk percaya atau tidak. Yang aku tahu adalah tiga tahun waktu kebersamaan kita bukanlah waktu yang pendek untuk kita lalui bersama."
Joanna terdiam.
"Sekali lagi maaf Jo," ucapku lirih." Tapi sekarang aku benar- benar membencimu Karena telah memanfaatkan diriku selama ini. Aku akan pergi".
Joanna tertawa mencemoh. "Ya. Pergilah. Aku ragu ada orang yang akan membutuhkanmu."
Aku berjalan meninggalkannya Tanpa menoleh lagi.
Jangan... Jangan menangis Elena. Kau tidak boleh menangis. Tidak ketika semuanya akan baik- baik saja.
.
.
Delapan minggu berlalu tanpa kejadian yang berarti. Aku masih tetap melanjutkan aktivitasku seperti biasanya- meskipun seorang diri. Aku menolak untuk menceritakan kejadian yang terjadi kala itu pada Brandon yang untungnya cukup ia mengerti. Claire masih terlihat membenciku yang entah untuk alasan apa semakin menjadi- jadi padahal aku sama sekali tidak pernah mengajaknya berbicara.
Selama beberapa hari ini aku merasa seperti selalu dihantam oleh sekumpulan sapi yang berlari, lelah dan remuk di sekujur tubuh dan memutuskan untuk ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Brandon sedang menjalani perjalanan bisnis bersama Harry dan Josh ke New York. Josh bermaksud membuka cabang di tempat lain dan dia mengajak Brandon dan Harry untuk melihat lapangan yang kebetulan juga Brandon mempunyai proyek disana.
Aku sedang menunggu namaku dipanggil oleh suster ketika mendengar suara dering dari ponselku dan mengernyit ketika melihat nomor yang tidak kukenal di layar ponselku.
"Halo."
"Miss Williams?" Tanya suara di seberang.
"Ya. Saya sendiri."
"Saya dari rumah sakit ingin memberitahukan kalau Mrs. Eva ingin bertemu anda."
Aku syok. Tidak percaya dengan apa yang saat ini kudengar.
Tidak mungkin.
"Miss Williams? Apa anda masih disana?" Suara diseberang kembali menyadarkanku.
Aku berdehem dua kali,
"Ya."
"Baik. Kapan anda punya waktu untuk mengunjungi Mrs. Eva?"
"Eh jam berapa saya bisa mengunjungi?"
"Anda bisa datang jam tiga sore ini."
"Baik. Satu jam lagi saya akan kesana."
"Baik Miss. Williams, terima kasih." Klik
Tidak. Tidak mungkin itu dia... Aku harus pergi melihatnya sendiri. Dia tidak mungkin ingin melihatku.
"Mrs. Hill?" Kulihat seorang suster yang tersenyum ramah kearahku.
Aku segera berdiri dan mengikuti suster tadi masuk ke sebuah ruangan dimana seorang dokter wanita juga ikut tersenyum ramah ketika melihatku.
"Halo Mrs. Hill. Saya dokter Lillian. Bagaimana perasaan anda?" Tanyanya.
"Hm, baik." Aku menjawab gugup. Setengah tidak yakin dengan nama penyakit yang sebentar lagi akan kudengar.
"Apa anda sering mual di pagi hari?"
Aku mengangguk. "Ya. Kadang aku sering muntah meskipun tidak banyak yang keluar."
"Bagaimana dengan pusing atau nafsu makan?"
"Pusing masih bisa saya atasi dok dan nafsu makan saya kadang bervariasi. Kadang saya ingin banyak makan tapi kadang juga tidak ingin makan sama sekali."
"Baik bisa dimengerti." Dia kembali tersenyum ramah sembari menuliskan sebuah catatan diatas kertas.
"Penyakit apa yang saya derita, dok?" Aku mulai penasaran karena Lillian sama sekali tidak mengatakan apa- apa lagi.
Lillian tersenyum melihatku. "Anda tidak sakit Mrs. Hill."
"Elena. Panggil saja Elena."
"Baik," dia kembali tersenyum. "Elena, Saya ulangi anda tidak terkena penyakit apapun. Anda hanya hamil dan usia kandungan anda saat ini sudah menginjak enam minggu."
***
Comments
Post a Comment