LOVEHATE- DUA SEMBILAN

Josh PoV...

Entah mengapa ada sesuatu yang terasa mengangguku. Ini seperti aku mengkhawatirkan sesuatu tapi aku tidak tahu seperti apa kekhawatiranku saat ini.

Sejak pertemuanku dengan Brandon kemarin dan mengatakan semua yang bisa kukatakan padanya, aku percaya kalau Brandon akan berpikir secara bijak. Dialah si pengambil keputusan dan aku mempercayakan Elena, gadis yang telah kuanggap sebagai adikku sendiri padanya. Aku tahu dari cara Elena yang menatap Brandon, Elena telah jatuh cinta pada pria itu begitupun sebaliknya yang terjadi pada Brandon. Elena tentu saja akan mengamuk hingga tidak mengajakku bicara hingga berhari- hari jika mengetahui kalau aku mencampuri urusannya meskipun aku tidak mengetahui dengan jelas apa yang terjadi diantara mereka. Elena sudah berusaha keras untuk tidak menemuiku dan sudah jelas dia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin kuketahui.

"Kita kembali ke kafe dulu," ucapku mengatakannya pada Harry yang sedang mengemudi.

Sejenak Harry memandangku dengan ekspresi wajah khawatir yang terpampang jelas di wajahnya. "Kau tidak bermaksud bereksperimen dengan sesuatu yang kau sebut waffle itu kan?"

Jujur aku tersinggung mendengar ucapannya. Waffle buatanku tidak seburuk itu kok.

"Aku mungkin akan merekomendasikan waffle buatanmu jika seseorang sudah mengucapkan kalimat istimewa yang bisa ku dengar."

"Kalimat istimewa?"

"Ya. Selain wanita yang menyukai permainanmu diatas ranjang. Aku ingin mendengar orang mengatakan 'dia mencintaimu' setelah memakan waffle buatanmu. Tentu saja tanpa ada yang pingsan hingga harus dibawa ke UGD karena itu."

"Sialan!" Aku mengutuknya. "Jika kau terus mengungkit makananku maka aku tidak akan segan- segan menjadikanmu sebagai salah satu bahan pembuatan waffleku."

"Oh pasti itu akan laris manis. Aku tahu pengaruh seperti apa yang bisa kuberikan pada orang lain."

Seketika aku memberinya pandangan jijik, membuatnya tertawa.

"Aku merindukan Elena." Kutolehkan kepalaku kearah Harry lalu kembali menatap jalanan di depan dan mendesah.

"Ya. Aku juga merindukannya." Ya, aku tahu pengaruh Elena padaku tapi aku tidak tahu sejak kapan Elena memberi pengaruh pada Harry. Kurasa itu karena dia dulunya menyukai Elena.

"Menurutmu apa yang terjadi padanya?" Tanya penasaran.

Kuangkat kedua bahuku. "Aku juga tidak tahu. Kuharap dia baik- baik saja dan... tidak menangis." Aku bisa merasakan tatapan Harry yang ditujukan padaku.

"Ya. Aku akan membunuh Brandon jika membuat gadis itu menangis." Ujarnya menimpali.

Aku tersenyum. "Dia sudah menikah, Harr. Perasaanmu padanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi."

"Aku tidak menyukainya seperti yang kau pikirkan." Harry memberiku pandangan mencela. "Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."

Wow! Sungguh ini membuatku terkejut tapi setelah dipikir lagi, Elena memang bisa dikatakan seperti adik yang imut dan harus dilindungi. Itu pun jika orang lain tahu apa yang sudah dialaminya dulu.

"E...lena?"

Rasanya aku ingin tertawa saat itu juga. Harry ternyata jauh lebih merindukan Elena dibandingkan diriku ketika mengikuti kemana arah tatapan Harry.

Seketika tubuhku membeku. Elena sedang berjongkok didepan pintu kafeku. Wajahnya disembunyikan dibalik kedua tangannya yang ditempatkan di kedua pahanya. Aku merasa Harry seperti melambatkan laju mobilnya hingga ia berhenti. Tanpa menunggu sebelum ia mematikan mesinnya, aku melompat keluar dari mobil dan berlari kearah Elena yang sedang.... aku berusaha menyakinkan diriku sendiri supaya tidak berprasangka buruk.

"Elena...?"

Tidak ada suara.

"Oh shit!" Aku mulai mengutuk apapun lalu ikut berjongkok agar bisa sejajar dengannya. Elena tampak aneh dengan posisinya saat ini, seperti ada benda besar yang menahan tubuhnya diantara dada dan perut. "Elena?" Sekali lagi aku menyebut namanya. "Ini aku...Josh." masih tidak ada suara hingga kupikir bisa saja dia tertidur karena lelah menungguku kemudian menyadari penampilannya. "Elena?" Dan aku mendengarnya. Suara seperti kucing yang kehilangan induknya dan menyadari kalau Elena berusaha menghentikan tangisannya.

Oh tidak! Kuharap ini bukan seperti yang kupikirkan tapi aku tidak mungkin salah dengar.

Kubawa dia dalam dekapanku, masih dengan posisinya saat ini dan mengelus bahunya, mencoba menenangkan dirinya. "Elena... tidak apa- apa. Semua akan baik- baik saja. Kita akan menyelesaikan semuanya." Aku merasakan tubuhnya yang gemetaran ketika kusentuh dan mengutuk Brandon. Apa yang sudah diperbuatnya hingga Elena seperti ini? Dan kemana pria brengsek itu? Aku bersumpah akan membunuhnya setelah ini.

"Tidak apa- apa. Kita akan melaluinya." Lagi.

Jantungku seakan ingin lepas dari tempatnya melihatnya yang seperti ini.

Ini tidak baik.

Kuputuskan untuk melepaskan jaket yang kukenakan, berharap dinginnya malam tidak terlalu membuatnya beku tapi aku yakin kalau itu berhasil. Elena bergetar hebat dalam sentuhanku.

Sudah berapa lama ia menungguku?

Oh sial! Seharusnya aku tidak kemana- mana tadi dan hanya berada di dalam kafe.

Aku mungkin akan menyalahkan diriku jika terjadi sesuatu padanya meskipun sebelum itu aku harus membunuh Brandon terlebih dahulu atas apa yang sudah dilakukannya.

"Elena, pakai ini. Kau bisa saja keding..." dan aku melihatnya. Warna merah dibalik baju putih yang dikenakannya. Tidak perlu menjadi pintar untuk menanyakan apa itu karena dulu aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Elena menangis dan itu bukan air mata seperti yang biasa orang- orang keluarkan tiap kali mereka merasa sedih. Elena mengeluarkan tangisan air mata merah atau darah dalam artian yang sesungguhnya.

"Harry!" Aku nyaris berteriak ketika mengatakannya. "Buka pintu kafe." Perintahku seraya membawa Elena dalam dekapanku.

"Apa?"

"Sekarang!" Terpaksa aku bersuara keras padanya dan dia langsung mematuhi setelah melihat sesuatu yang tadi kulihat.

"Elena, please!" Aku memohon sambil membawa tubuhnya. Ia masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tapi warna lain terlihat jelas di sela- sela ruas jarinya. "Please, kau tidak boleh menangis atau kita tidak akan bisa menghentikannya."

Aku benar- benar akan membunuhnya kali ini.

Dan penjelasan? Bullshit!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS