LOVEHATE- DUA TIGA

"Kau sudah menepati janjimu. sekarang aku ingin mengambil posisiku kembali."

Eh? "Apa?"

"Ayolah Elena, kau tahu apa yang kumaksud." Julia memberiku tatapan malas di wajahnya.

"Tapi itu tidak mungkin." Ujarku nyaris seperti berbisik.

"Kenapa tidak mungkin? Selama ini kalian tidak tidur bersama kan?" Ungkapnya membuatku seketika terdiam. Aku seperti sedang di scan oleh tatapan Julia ketika kulihat tatapan matanya mulai berubah. "Wow! Tidak kusangka kalau hal ini akan terjadi. Kupikir Bibi Samantha sudah menekankan hal ini padamu tapi ya sudahlah yang jelas tidak ada yang terjadi dengan kalian kan selama ini?"

Lagi- lagi aku terdiam ketika sedetik kemudian aku kembali mendengar suara Julia.

"Shit! Jadi selain kau tidur dengannya, kau juga menggodanya?!" Desisnya marah.

"Tidak seperti itu Julia." Aku berusaha menenangkannya.

"Perjanjiannya tidak seperti itu Elena, kau hanya bersedia menikah dengannya tapi tidak untuk menggodanya."

"Aku tidak menggodanya, sungguh!"

"Jadi apa kau ingin mengatakan kalau Brandonlah yang menggodamu?"

"Tidak seperti itu." Aku mulai merasa gusar. Ini bukan yang kuinginkan.

"Aku sudah mengatakan dengan jelas perjanjian itu pada Bibi Samantha tapi kau..."

"Perjanjian apa?" Tubuhku kaku mendengar suara Brandon menyela diantara kami, membuatku dan Julia serempak menoleh dan terkejut. Josh juga bahkan memberiku tatapan tidak percaya.

Jangan! Jangan Josh... Kau harus percaya padaku. Kau satu- satunya orang yang tahu bagaimana diriku.

Aku sangat mengharapkan Josh mempercayaiku seperti yang biasa dia lakukan. Aku tidak masalah jika Brandon membenciku meskipun aku sangat mengharapkan kalau Brandonlah orang yang paling kuharapkan untuk 1000 kali lebih percaya padaku tapi dia bukanlah milikku jika suatu hari nanti terjadi sesuatu diantara kami.

"Perjanjian jika suatu hari aku kembali. Elena akan mengembalikanmu padaku lagi."

Aku nyaris limbung. Kututup kedua mataku sejenak, menghilangkan pandangan di sekelilingku yang terlihat berputar dan membukanya ketika mataku langsung berhadapan dengan mata Brandon yang menyiratkan amarah yang luar biasa.

"Apa itu benar?" Suara Brandon seketika membuat tubuhku menggigil. Dingin dan menakutkan.

"Brandon... Aku..."

"Jawab aku Elena!" Oh Tuhan!

"Brandon, kurasa Elena..."

"Jangan ikut campur Josh. Ini urusanku dengan istriku." Bentaknya juga pada Josh yang baru akan menyela.

Josh melihatku kemudian beralih kembali pada Brandon dan mengangkat kedua tangannya, menyerah. Setelah ia melakukan itu, Brandon meraih tanganku dan menyeretku keluar dari kafe milik Josh.

"Oh iya," Brandon menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Julia tajam. "Aku bukanlah barang yang bisa dikembalikan ke siapapun. Kita sudah lama berakhir ketika kau mengatakan ingin memutuskan pernikahan kita dulu." Ucapnya.

Aku merasa otakku mendadak beku dan hanya bisa menatap Brandon dan Julia, bingung. Jadi mereka bertemu sebelum pernikahan? Dan apa katanya tadi? Julia sendiri yang memutuskan untuk pergi?

Aku tidak mengerti. Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa tak seorangpun memberitahuku tentang ini? Sebelum aku bisa menanyakannya, kembali Brandon menyeretku masuk kedalam mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga kami tiba di rumah. Tak sedetikpun Brandon tidak melepaskan genggamannya dan kembali menyeretku hingga berada didalam kamar.

Dia melempar tubuhku hingga membentur tempat tidur lalu merobek kaus yang kukenakan.

"Brandon, hentikan. Kumohon. Kau menyakitiku." Pintaku penuh permohonan tapi aku tidak boleh menangis, sesakit apapun yang kurasakan. Brandon hanya melihatku sekilas lalu mulai menciumku dengan ganas beralih ke leher dan kedua payudaraku.

Aku mengerang, mengeliat karena sentuhannya dan terdiam ketika merasakan sesuatu yang keras di bawahku.

"Brandon...! Arghh..." aku berteriak hingga harus berpegangan erat pada bagian punggung Brandon ketika sesuatu yang kuketahui adalah milik Brandon itu memasuki diriku. Rasanya menyakitkan karena aku sama sekali belum siap.

Oh tidak! Bayiku!

Aku menjerit ingin melepaskan diri tapi cengkramannya semakin kuat dan dia terus saja menghujamku dengan miliknya hingga kedua pahaku terasa kebas dan berhenti ketika ia mencapai kepuasannya.

Jantungku memacu lebih keras karena aktivitas kami barusan ketika kembali mendengar suara dingin miliknya, membuatku ingin menangis.

"Aku harap dengan ini kau akan ingat kalau aku bukanlah ajang perjanjian konyol dua orang saudara." Dan dia beranjak pergi setelah memakai kembali celananya, meninggalkanku yang tampak menyedihkan kemudian menutup pintu dengan suara yang berdebam keras memekakkan telinga disusul suara mobil yang pergi tidak lama kemudian.

Aku bangun dari tidurku dan menyeka mataku yang berair ketika melihat warnanya. Cepat- cepat aku berlari menuju kamar mandi dan membasuhnya tapi semakin aku mencoba menghentikannya, semakin deras air yang keluar dari kedua mataku.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS