LOVEHATE- DUA TUJUH
"Aku mendengar suaramu."
Aku mencoba melawan gelapnya ruangan ini dengan memicingkan kedua mataku dan melihat sosok itu dibalik sorotan lampu mobil yang kebetulan lewat.
Tubuhku mendadak tersentak dan tanpa sadar mundur hingga beberapa langkah ketika merasakan punggungku yang menabrak tembok. Sorot matanya menyiratkan gairah dan keinginan yang luar biasa padaku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Aku mulai panik ketika ia justru melangkahkan kakinya kearahku, seperti predator yang sedang menikmati buruannya. "Dan bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini?"
Aku meringgis ketika lututku menabrak ujung meja sebagai usaha untuk menghindarinya dan mencoba mencari letak lampu dengan sebelah tanganku.
"Aku sangat merindukanmu Elena."
Suaranya terdengar penuh damba, memberiku alarm peringatan agar segera mencari tempat yang aman.
"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau pacar Claire?" Tanyaku mencoba mengulur waktu.
"Apa kau tidak ingat padaku?"
Sial! Dimana sih tombolnya? Eh tunggu, ingat? Apa yang harus kuingat?
"Apa yang kau bicarakan? Ingat? Aku sama sekali tidak mengenalmu." Jawabku setengah berteriak.
"Cih, " dia menatapku penuh celaan. "Pantas saja sikapmu biasa saja ketika melihatku dulu. Meskipun aku tidak heran, kau dulu dalam keadaan mabuk dan sebelum aku menyentuhmu lebih jauh, pria yang bernama Josh itu datang dan menghentikan semuanya."
Aku terdiam, mencoba mengingat. "Kau mengenal Josh?"
"Tentu saja. Aku adalah Luke. Orang yang pernah menciummu dan berusaha mencicipi sedikit tubuhmu saat kau mabuk."
Tubuh dan otakku mendadak seperti terbuat dari es dan menggigil ketika merasakan hembusan napasnya yang panas di sekitar wajahku. Dan aku mengingat wajah itu. Wajah pria yang berpura- pura menawarkan sebuah minuman padaku dan belakangan aku tahu kalau dibalik minuman itu, ia telah mencampurkan obat perangsang. Aku bisa saja pulang dalam keadaan tidak berdaya ketika entah darimana Josh muncul dan menghajar pria dihadapanku ini.
Aku nyaris tidak bisa melepaskan diri ketika kedua tangannya menarik kedua tanganku diatas kepala dan menyatukannya dengan tangan yang lain dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain mulai menyusuri tulang pipiku.
"Kau sedikit agak lebih berisi sejak terakhir aku melihatmu tapi masih tetap cantik." Desahnya.
"Lepaskan! Apa yang ingin kau lakukan?!"
Pria yang menyebutkan namanya sebagai Luke ini terkekeh. "Ketika melihatmu berada disini. Jujur, aku kaget setengah mati dan semakin tidak percaya kalau kau adalah ipar Claire. Jadi apakah pria itu sudah menyentuhmu?"
"Hentikan!" Aku mulai gusar. Aku tidak bisa bertindak gegabah, tidak ketika aku sedang hamil. "Atau aku akan teriak."
Luke tertawa, tawa yang tidak bisa dibilang lucu dan justru membuat perasaanku menjadi tidak enak.
"Kau cantik bahkan setelah menikah."
"Hentikan, Luke! Sebentar lagi suamiku akan pulang."
"Oh sayang, betapa aku menyukai sikap liarmu saat ini. Ini membuatku semakin... bergairah."
"Kau gila!"
"Kau benar. Aku memang gila tapi gila karenamu." Luke mulai menciumi pundakku yang terbuka, menghirup aromanya.
"Hentikan Luke!" Aku mengeliat tidak nyaman dengan hembusan napasnya.
"Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji. Aku hanya ingin mencicipi seperti apa rasamu dan aku yakin suamimu itu tidak akan mengetahuinya."
"Aku tidak mau! Hentikan! Aku tidak akan..." tubuhku membeku seiring tangannya yang menyentuh perutku yang mulai membesar. Kedua matanya bolak- balik menatap diriku dan kearah perutku kemudian melihatnya menyeringai.
"Kau hamil." Itu bukan pertanyaan.
"Ya. Jadi percuma saja kau menginginkanku. Aku sedang hamil anak suamiku saat ini."
Tanpa kuduga Luke terkekeh. "Aku dengar kalau wanita hamil jauh lebih menantang dan bergairah ketika bercinta."
"Apa?!"
"Jadi mari kita buktikan teori itu."
Tidak! Tidak! Brandon, tolong aku!
Aku berontak, menendang sejauh yang aku bisa dan segera melayangkan tamparan ke wajahnya ketika melihat matanya yang semakin menggelap. Aku berusaha kabur dari dirinya ketika Luke mendapatkanku kembali dan mendorongku ke belakang dan meringgis ketika tubuhku menabrak sisi tembok yang runcing. Rasanya sungguh luar biasa menyakitkan.
"Kau membuatku semakin bergairah dengan menggigit bibirmu seperti itu." Aku bisa merasakan bibirnya yang menyentuh bibirku, memaksanya terbuka dan terlonjak ketika ia menyentuh payudaraku yang sensitif, membuatnya mengambil kesempatan untuk memasukkan lidahnya ke mulutku. Aku mendengarnya mengerang karena puas.
"Jangan khawatir, sayang. Aku akan bertanggung jawab dan merawat anak kita." Ucapnya disela ciuman paksa darinya.
Aku mencoba melawan dan luar biasa kelelahan dalam usaha melawannya ketika mendengar suara yang didobrak disusul suara dingin di indra pendengaranku.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Terdengar suara desis penuh marah Claire.
Mataku mengerjap bertepatan dengan lampu yang dinyalakan dan Luke yang berhenti menciumku.
"Nanti akan kita lanjutkan sayang." Luke memberiku kecupan di kening disusul dengan Luke yang telah berada di lantai setelah Brandon memukulnya.
Butuh beberapa saat bagiku untuk memulihkan diri dari semuanya ketika menyadari apa yang terjadi dan tanpa berpikir panjang, aku melemparkan diriku- menghentikan Brandon dari usahanya untuk membunuh Luke yang kemudian kusesali karena mendadak Claire melayangkan tangannya ke pipiku. Rasa karat dan asin mendadak terasa di sudut terdalam pipiku.
"Bagus! Sekarang kau sudah membuktikan kalau kau memang pelacur sejati. Bahkan diam- diam kau menjalin hubungan dengan pacarku dan hamil anaknya? Hebat!" Sekarang Claire mulai bercucuran air mata tapi masih sempat memberiku tatapan penuh cela dan jijik. Kualihkan pandanganku pada Brandon yang melihatku dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan tapi ada luka disana, lebih dari ketika aku mengatakan kalau aku ingin menyerahkan dirinya pada Julia.
Kulangkahkan kakiku guna mendekatinya. Aku ingin menyentuhnya dan menjelaskan kesalah pahaman ini padanya. Biar bagaimanapun aku juga merindukannya ketika ia menepis tanganku yang ingin menyentuhnya.
"Brandon?"
"Inikah alasanmu ingin meninggalkanku? Berpura- pura atas nama Julia dan ternyata kau hamil anak dari pria lain?" Tanyanya.
"Apa? Tidak. Luke bukan..."
"Keluar Elena."
"Apa?"
"Keluar dari rumah ini. Sekarang!"
"Brandon?"
"Kalian berdua keluar!"
Tanpa ampun Claire langsung menyeretku keluar dari rumahnya dan tidak lama kemudian muncul Luke yang langsung dilempar oleh Brandon keluar. Aku menatap nanar Brandon yang bahkan menolak untuk melihatku dan menutup pintu tepat di depan wajahku, meninggalkanku dengan air mata yang tergenang di pelupuk mata.
***
Comments
Post a Comment