LOVEHATE- DUA

Aku mendesah melihat rumah besar dihadapanku ini. Tadi Mama menelpon dan menyuruhku untuk langsung datang kemari sepulangnya aku dari kampus.

Kutarik napas dalam- dalam dan kuhembuskan dengan pelan.

"Apa yang kau lakukan?"

Suaranya yang tiba- tiba membuatku terlonjak kebelakang dan tanpa sadar menabrak dada bidangnya. Oh shit! "Apa kau masih mau berdiri dan menempel disitu?" Suaranya yang berat dan tegas seakan membekukan tubuhku, belum lagi tatapannya yang tajam seakan ingin segera menggulitiku.

Aku terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa ketika dia justru berjalan meninggalkanku. Setelah menghembuskan napas yang teramat panjang (aku tahu suatu saat lapisan es di kutub utara akan semakin cepat mencair jika aku terlalu memboroskan pasokan udara). Aku mengikutinya masuk kedalam rumah besar ini. Sesampainya didalam, Mama langsung menyambutku dengan suka cita dan juga memelukku.

"Elena sayang, bagaimana kabarmu?"

Aku tersenyum menampilkan senyum terbaikku. "Baik Ma. Mama dan Papa, apa kabar?"

"Baik sayang." Jawabnya menirukan ucapanku. Lalu kedua mata Mama bergantian melihatku dan seseorang yang telah duduk didepan meja makan kemudian tiba- tiba senyum tersungging diwajahnya. "Apa kalian pulang bareng?"

Eh?

"Kami bertemu di depan, Ma". Sahutnya, membuat ekpresi diwajah mama kecewa.

Dan aku benci melihatnya.

"Tadi kami sempat ketemu kok di kampus." Sahutku cepat dan langsung mendapat tatapan dingin darinya.

Tapi setidaknya raut wajah Mama kembali sumringah. "Wah benarkah? Mama tidak menyangka kalau dia akan bela- belain ke kampus Elena segala."

"Rektor kampusnya mengajakku ke sana, Ma. Tidak ada sesuatu yang spesial." Balasnya yang langsung mendapat bentakan dari Papa, membuat ruangan disekelilingku menjadi sunyi.

Oh bagus!

"Brandon. Papa tidak pernah mengajarimu menjadi tidak sopan seperti ini. Biar bagaimanapun Elena adalah...."

Ugh. Aku benci suasana begini.

"Jadi Ma, Mama masak apa saja?" Kuputuskan untuk mengalihkan pembicaraan ini. "Sepertinya Elena sangat kelaparan setelah dari kampus. Apa sekarang Elena bisa mencicipinya?"

Untunglah Mama cepat mengerti dan ikut tersenyum sambil menyeretku duduk disamping Brandon.

Selama di meja makan. Mama tidak henti- hentinya bercerita tentang apa yang dilakukannya seharian ini dan aku juga harus menceritakan bagaimana kegiatanku di kampus.

Setelah lebih dari sejam kami bercerita tentang hal ringan akhirnya Papa mengambil alih pembicaraan. Aku tidak merasakan firasat apa pun, toh tidak ada yang perlu kurasakan.

"Besok Papa harus ke Italy." Ucap Papa yang kubalas dengan anggukan kepala. "Dan tentu saja Mama harus ikut." Kali ini aku memandang mama dengan sedih. Ah, tidak ada lagi mama yang akan mengajakku makan. Harus kuakui aku menyukai masakannya. Bibi Samantha lebih menyukai makanan yang mudah atau membeli makanan jadi. Itulah sebabnya aku dan Julia sering berganti tugas masak. "Dan Karena bibi Samantha sudah berangkat ke Jerman sore tadi jadi otomatis Elena akan tinggal disini."

Aku langsung tersedak pastaku. Mataku terasa panas sementara Mama setengah mati berusaha meredakan batukku dengan memberiku segelas air. Kulirik Brandon yang berada di sampingku dan tampak tenang.

Dia tahu? Dia sudah mengetahui ini semua?!

"Bibi Samantha tidak mengatakan apa- apa." Sekuat tenaga aku berusaha menahan emosiku, masih tetap tidak melepaskan tatapanku dari Brandon yang sekarang meminum winenya dengan kalem.

Shit!

"Mungkin bibimu tidak ingin kamu khawatir." Jelas mama sambil mengelus tanganku lembut.

Khawatir? Dia justru membawaku ke kandang singa!

"Sayang, bukankah lebih baik kalau kalian tinggal bersama? Kalian kan sudah seminggu ini menikah."

Apa sekarang aku boleh menusuk diriku dengan garpu?

Kutatap Mama tidak percaya. Bukankah mereka sudah tahu alasan aku melakukan pernikahan ini?

"Ya. Itu lebih baik daripada kau harus tinggal di rumah itu sendirian."Kali ini Brandonlah yang menjawab dan otomatis kepalaku kembali menghadapnya.

Aku tidak mau!

Ya, aku dan Brandon memang sudah menikah. Bukan pernikahan layaknya pasangan normal lainnya tapi lebih kepada pengorbanan dan tentu saja aku yang dikorbankan disini.

Sebenarnya Julia lah yang harusnya berada disini dan bukan aku. Brandon dan Julia sudah dijodohkan sejak mereka kecil.

Brandon kuliah di negara lain sampai ketika bibi Samantha mengatakan kalau Julia sudah dijodohkan. Aku tidak pernah bertemu Brandon sebelumnya Karena aku tidak selalu berada di rumah dan lebih memilih untuk tinggal di asrama kampus.

Tepat ketika sehari menjelang pernikahan. Bibi Samantha muncul di depan pintu asramaku dengan wajah cemas dan memberitahukan kalau Julia pergi dengan pria yang selama ini dia pacari dan meminta pernikahan dibatalkan.

Kakakku yang tersayang itu memang sering mengambil keputusan tanpa berpikir lebih dulu dan karena undangan telah disebar dan Bibi Samantha juga tidak ingin merenggangkan hubungannya dengan keluarga yang juga sahabat kakaknya dalam hal ini ibuka maka jadilah aku yang dikorbankan untuk menutupi aib yang diperbuat oleh kakakku yang baik dan juga cantik itu.

Aku memang memilih untuk tinggal bersama bibi Samantha setelah aku menikah. Toh, aku menikah juga bukan kemauanku tapi sekarang... tinggal bersama?

"Kita tidak hanya berdua. Ada Claire yang akan tinggal bersama kita." Lanjut Brandon. Sejenak aku mengalihkan pandanganku kearah Claire yang duduk di depan Brandon sementara senyum sinis tercetak dibibirnya.

Great! sekarang mereka hendak mengumpankanku ke piranha.

Aku tidak tahu apa masalah Claire denganku. Dari awal bertemu, dia tidak pernah menyukaiku padahal sepanjang ingatanku berjalan, aku nyaris tidak pernah bertemu dengan dirinya di kampus. Aku dan Claire berada di kampus yang sama tapi berbeda jurusan.

"Kapan Mama dan Papa berangkat?" Tanyaku perlahan- lahan meredakan emosi yang saat ini menggelegak.

"Besok pagi. Pesawat pertama".

Kali ini aku tidak tahan. Kugebrak meja membuat semua mata tertuju padaku hingga aku menyadari kalau tangan Brandon memegang tanganku.

Sejenak aku merasakan aliran listrik di tangan yang disentuhnya dan mengerjap kagetm

"Duduklah dulu, Elena". Meskipun aku merasakan ada nada memerintah disana tapi aku tetap mengikutinya.

"Maaf sayang kalau kami memberitahumu secara mendadak." Mama kembali memegang tanganku lembut.

Kututup mataku dalam hati ikut merasakan penyesalan pada dua orang yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri.

Kulepaskan genggaman tangan Brandon dari tanganku.

"Tidak apa, Ma. Elena juga minta maaf karena telah berbuat tidak sopan seperti tadi. Maaf ma... Maaf pa".

Papa tersenyum menenangkan. "Tidak apa- apa. Papa bisa mengerti".

Aku tersenyum dan dalam hati bersyukur. Memang apalagi yang kucari jika orang tua di depanku ini terlihat sangat menyayangiku. Sedikit pengorbanan lagi tidak akan membunuhku, iya kan?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS