LOVEHATE- EMPAT BELAS
Aku tahu ada yang aneh dengan diriku dan ini semua karena perkataan Joanna tempo hari yang membuatku nyaris tidak bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Apa sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya padanya? Tapi apa yang harus kukatakan padanya? Dan bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya? Bagaimana kalau dia justru mengira diriku yang mengada- ada atau mungkin...
Otakku mendadak berhenti berpikir ketika merasakan sebuah lengan kokoh yang memelukku dari belakangku dan terenyak ketika mendengar suara paraunya. Apa aku menganggu tidurnya?
"Apa yang kau pikirkan?" Brandon berbicara sangat dekat di leherku, membuat perasaan merinding dan dingin seketika menerpaku dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendingin ruangan dalam kamar ini.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa kuucapkan ketika secara bersamaan Brandon melepaskan rangkulannya dari tubuhku, membuatku seketika merasakan perasaan hampa dan mengernyit heran ketika ia membalik tubuhku kearahnya, membuat sebelah lengannya menjadi bantalan untuk kepalaku.
Aku nyaris tidak bisa bernapas melihat perlakuannya yang sangat lembut dan terdiam ketika ia menaruh sebelah tangannya dibawah daguku hingga mata kami saling menatap.
Rasanya jantungku ingin segera melompat keluar dari rongganya karena menatap kedua mata itu. Sangat menyakitkan tapi juga menyenangkan.
"Kau terlihat gelisah selama beberapa hari ini. Apa yang kau pikirkan?" Dia mengucapkannya dengan sangat lembut dan itu semakin membuat jantungku memompa dengan sangat cepat seperti telah berlari mengitari lapangan sepakbola lalu menuju afrika dan berakhir di kutub utara. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku hingga terasa sangat panas tapi disisi lain juga dingin karena sentuhan yang diberikannya.
Aku bisa gila!
"Aku.. Aku pusing memikirkan tugas akhirku." Kilahku mencari alasan. Aku bahkan tidak ingat apa yang baru saja kukatakan ketika melihat alisnya terangkat satu.
Keren. Bagaimana dia melakukannya?
"Kuliahmu maksudmu?"
Aku mengangguk dan tanpa sadar mengiyakannya dengan desahan yang lolos dari bibirku.
Sial! Apa yang baru saja kulakukan?
Kuberanikan diriku untuk melihat Brandon dan terkejut ketika ia melihatku dengan pandangan yang sulit kuartikan tapi kemudian kembali menjadi seperti biasa. Ia mendekapku membawaku kedalam tubuhnya sementara bisa kurasakan kalau bibirnya menyentuh puncak kepalaku.
"Well, kurasa referensimu masih kurang. Apa yang kau angkat?" Tanyanya kemudian.
"Um, dewa- dewi yunani?" Sejujurnya itu bukanlah yang ingin kukatakan tapi ketika melihat wajahnya tadi membuatku memikirkan hal itu. Aku tidak mengerti ada apa dengan diriku tapi aku selalu merasa gugup jika bersama Brandon. Apa ada yang salah dengan jantungku saat ini?
"Dewa- dewi Yunani?" Aku tahu ini kedengaran konyol dan wajar saja kalau Brandon beranggapan seperti itu.
"Ya," ku coba menjawab seadanya tanpa ada desahan lagi. "Mungkin aku perlu ke Yunani supaya lebih bisa mendapatkan referensi." Kelakarku
"Hm, kurasa idenya tidak buruk."
Hah? Apa maksudnya?
"Tidurlah Elena," ucapnya pelan, kembali mengecup puncak kepalaku. "Kalau kau tidak tidur, aku juga tidak bisa tidur karena kau selalu saja bergoyang kesana kemari dan besok aku harus menghadiri rapat." Katanya lagi.
"Eh, di hari sabtu?" Tanyaku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku, melihatnya.
Brandon terkekeh tapi yang dilakukannya kali ini membuat tubuhku membeku. Dia menciumku tepat di kening. Ya Tuhan!
"Ya. Hanya membicarakan proyek baru kami. Tidurlah Elena."
Tidak ada cara lain selain melakukan apa yang diucapkannya. Brandon kembali membawaku dalam dekapannya dan aku yang mencoba memejamkan mata, yang ajaibnya langsung membuatku tertidur nyenyak.
.
.
Aku terbangun dengan perasaan gamang dan sepi ketika disaat yang bersamaan pandanganku bertemu dengan pandangan Brandon. Dia baru saja akan melilitkan dasinya disekitar lehernya dan tersenyum.
"Pagi." Sapanya sambil tersenyum. Dalam hati akan kutambahkan senyuman Brandon dalam hal yang ku sukai.
"Hai, pagi juga. Kau sudah mau pergi?" Tanyaku seraya bangkit dari tempat tidurku.
"Ya."
"Semoga berhasil dengan pertemuanmu."
Dasar bodoh! Apa yang nanti ia katakan tentang dirimu, Elena bodoh! Dan berhentilah berperan menjadi istri yang baik karena...
"Terima kasih, sayang." Aku terenyak ketika mendadak merasakan bibir Brandon di keningku.
.
.
Aku memiliki janji dengan Joanna hari ini ketika melihat Claire yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Claire tidak pernah lagi mengatakan apapun sejak kepulangannya tiga hari yang lalu tapi masih tetap memberiku tatapan tajam tiap kali kami bertemu pandang.
Well, setidaknya salah seorang dalam rumah ini tidak melakukan hal yang sama dengan Claire.
Aku dan Joanna menghabiskan waktu dengan berbelanja. Well, lebih tepatnya Joanna lah yang berbelanja dan aku hanya mengomentari.
"Penampilanmu akhir- akhir ini berubah ya?" Tanyanya disela- sela ia memilih pakaian yang entah keberapa.
Hah?. "Berubah apanya?" Aku mulai memandangi pantulan diriku di cermin- dress selutut perpaduan warna putih dan kuning.
"Hampir setiap saat aku melihat penampilanmu yang seperti ini."
Oh! Aku terdiam. Aku tahu apa yang dia maksudkan. Aku tidak pernah memakai dress atau pakaian feminim seperti ini sebelumnya,
"Aku menyukainya," lanjutnya kemudian. "Kau terlihat cantik. Tadinya kupikir kau punya pacar dan ingin merubah penampilan."
Oh Tuhan!
"Haha pacar apaan?" Kilahku merasa bersalah padanya. "Aku hanya... hanya ingin merubah penampilanku kok. Ya, hanya itu."
Maafkan aku, Jo. Aku bukannya tidak ingin memberitahumu. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi ketika merasa bersyukur dengan orang yang menelponku.
"Ya, Josh." Ucapku segera menempelkan ponselku ke telinga sementara Joanna memicingkan matanya ke sipenelpon.
"Bisakah kau datang ke kafe malam ini?"
"Eh, kenapa?"
"Begini, kau tahu orang yang bisa tampil di tempatku?"
Aku mengangguk sebagai jawaban, "ya. Kenapa?"
"Dia baru saja memberitahuku kalau tidak bisa hadir malam ini jadi aku bermaksud memintamu mengantikannya."
"Apa?!" Aku berteriak seketika dan mendapatkan tatapan dari orang- orang yang kebetulan juga sedang berbelanja. Kuberikan tatapan undur diri kearah Joanna yang dibalas oleh anggukan pelan dari gadis itu. "Kau gila ya?" Bisikku disela langkahku menuju pintu keluar. "Aku tidak suka bernyanyi dihadapan semua orang."
"Please Len, kali ini saja. Kalau kau mau kita bisa memakai tirai supaya orang- orang tidak melihatmu."
Oh tentu saja.
"Saran yang bagus, Josh. Apa kau pikir aku akan semudah itu dibohongi?" Sinisku
"Apa itu berarti kau setuju?"
"Aku belum mengatakan 'ya'."
"Oh ayolah Elena. Aku akan membayarmu."
"Terima kasih tapi aku menolak."
"Empat kali lipat."
Wow. Aku menghitung berapa banyak penghasilan yang akan kudapatkan dan tersenyum.
"Okey." Kataku cepat.
"Dasar mata duitan."
"Hei, semua orang butuh uang, Josh. Aku menerimanya. Empat kali lipat kan?"
"Ya," dia membalas malas. "Dimana kau sekarang?"
"Pusat perbelanjaan."
"Hah? Kau sekarang senang belanja ya?"
"Ish, bukan untukku tapi aku menemani Joanna belanja."
"Oh." Dia menyahut pendek. Entah bagaimana ceritanya tapi yang jelas Josh selalu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Joanna.
"Jam berapa aku harus kesana?" Tanyaku tidak suka dengan keheningan yang tercipta diantara kami.
"Sekarang."
"Hah?"
"Pertunjukkannya akan mulai jam sembilan nanti."
"Apa?"
"Kau ini lupa ya, aku selalu memulai live musicku jam sembilan malam."
"Kau bercanda." Segera kulirik jam ditanganku pukul 8.40.
"Oh iya, Elena. Setiap menit yang terlewatkan akan kuhitung."
"Baiklah... baiklah aku akan kesana."
"Cepatlah."
Gezz, "iya!"
"Ada apa?" Tanya Joanna ketika aku sudah menghampirinya.
"Josh kekurangan orang di kafenya." Jawabku mengambil tasku yang tadi kutinggalkan diatas tempat duduk toko. "Kau mau ikut? Malam ini Josh memintaku tampil."
"Tidak. Terima kasih, lagipula bukannya kau tidak suka muncul di depan banyak orang?"
"Josh bersedia membayarku empat kali lipat dari yang biasanya." Aku menjawab sambil terkekeh.
"Aku mungkin tidak akan melihat penampilanmu tapi aku akan mengantarmu kesana. Aku merasa lelah mengitari tempat ini seharian."
Aku terdiam sementara melihat heelsnya yang kutebak lebih dari sepuluh centi dan meringgis membayangkan kakiku memakai barang setinggi itu.
Aku tiba lima belas menit lebih awal dan ini semua tumpangan yang diberikan Joanna. Aku akan meneraktirnya nanti.
"Ayo Elena sayang. Mainkan musikmu dan hibur orang- orang di kafe ini." Seru Josh, membuatku memutar mata kearahnya dan menerima gitar yang disodorkan padaku.
Aku tersenyum ketika petikan pembuka dari gitarku mulai dan sengaja menyisakan lagu kesukaanku sebagai lagu terakhir.
***
Comments
Post a Comment