LOVEHATE- EMPAT
Elena PoV...
Sial.... Sial... Sial...
"Kali ini siapa yang telah membuatmu marah?" Jantungku hampir saja melompat dari rongganya karena terkejut dan semakin mendelik tajam setelah mengetahui siapa yang baru saja melakukannya.
"Joanna!"
Bukannya menjawab, makhluk itu justru menyunggingkan senyum cengir penuh khasnya seraya mengambil tempat duduk disampingku. "Jadi siapa dia?"
"Maksudmu?" Tanyaku kembali berkutat dengan laptop didepanku.
"Kau tidak mungkin memberi orang- orang tatapan membunuh jika kau sedang tidak marah," komentarnya. "Jadi siapa dia?" Tanyanya lagi.
Kuhembuskan napasku yang terasa berat. Kadang kala aku lupa kalau Joanna sangat teliti jika menyangkut perasaan hatiku.
"Tidak ada." Jawabku sedikit malas.
Joanna tampak tidak percaya dengan apa yang kukatakan dan memang aku sedang malas mengungkit apa yang terjadi padaku selama beberapa hari ini, bahkan untuk menceritakan permulaannya pun aku tidak tahu.
"Baiklah tapi jangan menyimpannya seorang diri, okey? Best friend for life, remember? Tidak akan kubiarkan seorangpun menyakitimu."
Aku tersenyum. "Thanks, Jo."
"Jadi bagaimana kalau kita menghabiskan malam ini di apartemenku? Kita bisa berpesta semalaman, bagaimana?" Ajaknya beberapa saat kemudian.
Hm, Tawaran yang menarik. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama tapi tunggu dulu, bagaimana dengan Brandon dan Claire?
Argh, sial!
Masa bodohlah!
"Maafkan aku, Jo tapi kurasa aku tidak bisa." Aku tidak bisa juga untuk tidak memikirkannya. Sial!
"Kenapa tidak?"
"Well, kau tahulah akhir- akhir ini kita banyak tugas. Belum lagi aku harus menyelesaikan thesisku." Jawabku memberi alasan.
"Ya. Baiklah. Ayo kita cari makan. Aku sudah sangat lapar." Joanna paling membenci jika aku mengatakan kata tugas dan sebagainya lagipula aku juga sudah sangat lapar karena tidak sempat menyantap sarapan pagi tadi.
Aku tidak mengerti ada apa dengan Claire? Memang aku sudah salah apa padanya? Kenapa dia tampak sangat membenciku?
Semua pertanyaan ini membuat kepalaku terasa sakit.
.
.
.
Aku dan Joanna berpisah dari kafe tempat kami biasa makan dan berpisah ketika Joanna mengatakan akan menemani mamanya berbelanja jadi disinilah aku, terpaksa kembali ke rumah Brandon- seorang diri.
Pengurus rumah biasanya datang pagi- pagi untuk membersihkan dan memasak tapi karena berhubung pemilik rumah ini selalu datang jauh setelah matahari terbenam jadi pengurus rumah yang kuketahui bernama Mrs. Fleury jarang menyiapkan makanan didalam rumah.
Kuputuskan untuk mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai- bukan berarti pakaian yang kukenakan tadi tidak santai tapi ya, kau mengerti kan maksudku? Aku menata beberapa coklat yang telah ku potong kecil- kecil dan menaruhnya dalam wadah yang juga tergolong kecil kemudian menyalakan laptopku. Aku seharusnya sudah mulai mengerjakan kelanjutan dari tugas akhirku seminggu yang lalu tapi karena banyaknya yang kupikirkan dan perasaan hatiku yang ikut mempengaruhi maka seperti inilah.
Matahari sudah lama terbenam dan coklatku juga sudah nyaris habis tapi sayangnya baru beberapa paragraf yang sudah aku buat. Kuhela napasku pelan berupaya merilekskan otot- otot leherku yang tadi sempat tegang dan kembali aku memelototi layar laptop di depanku.
Entah sudah berapa lama aku berada dalam posisis diam sambil terus memeloti layar ketika aku dikagetkan dengan pintu yang tiba- tiba menjeblak terbuka disusul oleh suara cekikikan dari orang yang kukenal.
Claire tampak tidak menyadari kehadiranku dan asyik bercumbu dengan seorang pria dengan penuh antusias, membuatku harus memutar mata karenanya.
Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya tapi suara desahan disertai bunyi plop keras yang berasal dari ciuman mereka membuatku semakin sulit untuk berkonsentrasi. Masih tetap membiarkannya, aku mengalihkan tatapanku dari layar laptop dan menonton kegiatan ciuman yang mereka lakukan seakan sedang menonton sebuah film.
Aku bukannya iri dengan apa yang mereka lakukan tapi setidaknya salah satu dari mereka mungkin ada yang sedang melihat mereka dan saat itulah pandanganku bertemu dengan pria itu, sekilas aku melihat kalau dia tampak terkejut melihatku tapi kemudian berubah tanpa ekspresi. Claire sepertinya baru tersadar ketika ia berbalik dan mendapati aku (masih) tidak melepaskan pandanganku dari mereka.
"Kau!"
Oh, seandainya aku tak mengenal nona manis ini. Besar kemungkinan aku akan marah mendengar bentakannya. Hey, harusnya aku yang marah disini. Dia kan yang menganggu konsentrasiku lebih dulu.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Tanyanya kasar.
Sekilas aku mengernyitkan dahiku.
"Mencari inspirasi tugas akhir". Jawabku kalem.
Dia terdiam. Aku melihat dia menggigit bibir bawahnya yang mulai membengkak karena ciuman yang dilakukannya kemudian ia menarik tangan pria itu menjauhi tempatku menuju kamarnya.
Tunggu, apa dia akan ke kamar? Oh. Itu tidak boleh terjadi. Apa yang akan dikatakan oleh Brandon kalau dia mendapatkan ada pria lain yang berada di rumah ini? Eh ralat, kamar adiknya.
Bukan urusanku.
Tapi...
Sial!
Kualihkan tatapanku dari wajah Claire ke wajah pria itu dan mengernyit heran lalu beralih ke pakaian yang kukenakan. Oh sial. Pantas saja dia memperhatikanku seperti itu. Pakaianku turun hingga hampir ke dada.
"Ayo kita ke kamarku sayang." Claire kembali menarik tangan pria itu tanpa sama sekali menyadari kalau pria yang- apakah itu pacarnya- melihatku dengan tatapan yang menurutku aneh tapi juga... hm, bergairah? Aku tak yakin.
"Seperti yang kau inginkan, sayang." Pria itu membalas perkataan Claire dengan lembut tapi tetap pandangannya kearahku.
Apa sih masalahnya denganku?
Eh tapi aku merasa seperti pernah melihatnya tapi dimana?
Aku terdiam masih bimbang dengan pilihan yang akan kubuat dan mengerang jengkel akan keputusan yang kuambil.
Kuikuti mereka berdua dan sebelum mereka melangkah lebih jauh, aku menghalangi mereka dan mendapati Claire yang menatapku dengan tatapan marah di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Okey, ini bukan yang pertama kalinya dia marah dan berkata kasar padaku jadi tidak masalah.
Setidaknya Brandon tidak mengetahui hal ini.
"Jangan ke kamar," kataku. "Kalau kalian mau, kalian bisa mengobrol di ruang tengah atau di taman samping rumah. Aku berjanji aku tidak akan menganggu kalian. Kalau perlu aku bisa menutup telingaku dengan headset. Asal jangan di dalam kamar." Jelasku panjang lebar.
Claire sekilas menatapku dan memberiku tatapan paling tajam. Apa pernah ada kejadian dimana ada orang mati karena tatapan? Medusa hanya membuat orang menjadi batu seketika dan ibu malin kundang juga hanya mengutuk anaknya menjadi batu jadi...
"Apa kau pikir kami ke kamar hanya untuk mengobrol?" Tanyanya sinis.
Oh! Aku bisa merasakan rasa panas menjelajari kedua pipiku.
"Lagipula apa hakmu melarangku di rumahku sendiri?" Tambahnya sinis. "Kau hanya orang luar. Orang luar yang menumpang." Lanjutnya menekankan kata menumpang dalam kalimatnya.
Tidak ada cara lain selain menggunakan nama orang yang paling berkuasa dalam rumah inj.
"Okey. Kalau begitu mungkin aku harus menghubungi pemilik rumah yang lain."
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu apa yang kumaksud, Claire," aku sengaja mengibaskan sebelah tanganku tidak perduli sementara tangan yang lain mulai mencari nama Brandon dalam kontak telponku. "Brandon pastinya tidak keberatan jika pulang cepat."
Aku berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika melihat wajah Claire yang mendadak menegang.
"Halo, Brandon..." aku sengaja tidak menyungingkan senyumku dan pergi meninggalkannya dengan kemarahan yang kutahu sebentar lagi akan meledak.
***
Comments
Post a Comment