LOVEHATE- ENAM BELAS
Elena PoV...
Seharusnya ini tidak boleh terjadi tapi aku juga begitu menginginkannya. Apa yang harus kulakukan? Julia, maafkan aku. Kumohon beritahukan apa yang harus kulakukan.
"Hei, ada apa?"
Kugelengkan kepalaku pada Joanna yang mengambil tempat duduk didepanku sementara sebelah tanganku memijit pelipisku yang mulai terasa sakit. "Tidak apa- apa." Jawabku.
"Kau tampak pucat."
"Oh mungkin karena aku kurang tidur." Balasku seraya mengalihkan pandanganku darinya. Aku tidak ingin membuatnya semakin curiga.
"Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan."
Aku tersenyum dan mengangguk mendengar omelannya. Aku begitu menyayangi Joanna. Bagiku dia adalah teman, saudara dan sahabat terbaik yang kumiliki.
"Hei, ada yang ingin ku ceritakan?" Aku kembali mengalihkan pandanganku untuk melihatnya dan mendapati kalau pandangan Joanna mulai berbinar- binar. "Kurasa aku mulai jatuh cinta." Ucapnya penuh kebahagian.
"Wow. Siapa pria beruntung itu?" Tanyaku ikut bersemangat. Joanna bukanlah tipe orang yang akan mudah mengatakan kata cinta.
"Benarkah? Apa kau mendukungku?"
"Tentu saja aku akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih Elena. Kau memang teman terbaikku."
Aku tersenyum. "Jadi seperti apa dia?"
Oh, dia benar- benar jatuh cinta. Rasanya sangat menyenangkan melihat sahabatmu jatuh cinta.
"Dia baik dan luar biasa sangat tampan." Joanna mengatakannya dengan senyum yang masih setia menempel di bibirnya.
Wow, aku begitu terperanggah dan tanpa sadar bersiul kecil. Sangat jarang mendengar Joanna memuji orang. Biasanya kalau dia memilih pria, dia hanya akan menganggapnya sebagai teman kencan tanpa embel- embel pujian di belakangnya.
"Kalau begitu dekati dia. Kalau perlu ikat dia." Usulku penuh semangat. Joanna pantas mendapatkannya.
"Haruskah aku melakukan itu?"
Aku mengangguk mantap, meyakinkannya.
"Kau menyukainya kan? Maksudku ini tidak seperti pria yang biasa kau kencani kan?"
"Aku sangat menyukainya Elena. Aku tidak pernah bertemu dengan pria seperti dirinya."
Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Kejar dia tapi tunggu dulu, dia tidak punya pacar kan?" Aku tidak mau melihat Joanna patah hati.
"Bahkan jika dia punya istri, aku juga tidak peduli."
Oh okey. Joanna benar- benar menyukai pria itu. Joanna begitu mengerikan jika menginginkan sesuatu.
"Jadi siapa dia?" Aku mulai penasaran dengan pria misterius itu.
"Aku pernah menceritakannya padamu."
Eh? "Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu."
Aku mengernyit bingung. Satu- satunya hal yang Joanna pernah ceritakan padaku mengenai pria adalah... tunggu, yang mana yang Joanna maksud? Harry atau....
"Dia Brandon Demian Hill, Elena." Ucap Joanna dengan kesabaran seperti memberitahukan kepada anak SD.
Eh?
"Aku tidak pernah menyangka kalau ayahku sangat mengenal baik Mr. Hill," cecarnya dengan rona kegembiraan yang terpancar di matanya. "Tapi menurutku wajar saja sih. Mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi informasi ini tapi kau harus bertemu langsung dengannya, maksudku Mr. Hill eh salah, Brandon. Dia sangat tampan juga sopan."
Jujur, aku tidak tahu harus menanggapi perkataan Joanna dengan apa. Aku terlalu syok menyadari kalau Joanna menyukai suami... salah, suami Julia. Bagaimana ini bisa terjadi? Pertama kakakku sekarang sahabatku. Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau Brandon itu adalah calon suami kakakku?
Kupandangi Joanna yang masih terus membicarakan Brandon. Sesekali aku melihat wajahnya berubah setiap kali dia membicarakan Brandon.
"Kau janji akan mendukungku kan?" Tanya Joanna membuyarkan lamunanku.
"Eh?"
Joanna menatapku tajam. "Jngan bilang kau juga menyukainya."
"Eh apa? Tentu saja tidak."
"Oh baguslah, karena aku tidak akan kalah darimu. Apapun yang terjadi."
Kupandangi Joanna lekat. Ini bukanlah Joanna yang selama ini kikenal. Tatapannya seperti menunjukkan kalau ada tekad tak kasat mata yang menatapku tidak suka.
"Aku tidak akan menyukainya". Dan entah kenapa ketika aku mengatakan itu, aku merasa ada luka perih di sekujur tubuhku terutama di dadaku.
.
.
Aku sengaja pulang menjelang tengah malam berharap supaya tidak bertemu Brandon atau pun Claire. Aku sempat bertemu dengan Claire ketika berada di kampus tadi dan tidak heran mendapatkan senyum paling sinis miliknya.
Claire membenciku lebih dari siapapun yang kuingat di dunia ini dan melihat kemarahan Brandon semalam, sudah jelas Claire merasakan kebahagian yang tak terkira.
Dengan langkah gontai aku menaiki tangga menuju kamar ketika telingaku menangkap suaranya dan mendapati dia berada diatas tempat tidur sedang menatapku.
"Darimana saja kau?"
Kukedipkan mataku beberapa kali menahan kegugupan tiap kali melihatnya dan melangkah menuju lemari pakaian setelah terlebih dahulu menyimpan tasku.
"Dari tempat Josh," aku menjawab seraya mengambil kaos dengan asal dan menuju kamar mandi. "Oh, dan aku tidak mengatakan apapun mengenai kejadian semalam." Aku tidak melihat raut wajahnya karena aku langsung menutup pintu kamar mandi dan mendesah sambil bersandar di balik pintu.
Aku tidak boleh menangis. Aku akan baik- baik saja selama aku tetap berpikir seperti itu. Kuucapkan kalimat bagai mantra itu berkali- kali. Aku begitu menginginkan pegangan saat ini dan itu dari diriku sendiri.
Aku mulai membuka bajunya ketika melihat tanda dibagian dada hasil semalam lalu kembali mendesah. Aku tidak tahu apa yang mempengaruhiku semalam tapi aku sangat menginginkan Brandon. Sentuhannya, ciumannya dan semua yang kami lakukan benar- benar membuatku mabuk kepayang. Aku bahkan tidak merasa menyesal karena telah melepaskan keperawananku untuk orang yang jelas bukan milikku, aku hanya menginginkannya- tidak lebih tapi apakah yang kulakukan itu salah?
Aku akan berpikir ini hanyalah seks. Semua orang memiliki kebutuhan dan mungkin saja kebutuhanku saat ini sudah berada pada masa dimana aku menginginkannya. Ini tidak berarti apa- apa. Ini bukanlah bercinta, berhenti berharap terlalu tinggi Elena lagipula bukankah Brandon sudah meminta persetujuanmu sebelum melakukannya dan kau mengijinkannya jadi kenapa aku harus mempermasalahkannya? Ya. Kenapa aku harus mempermasalahkannya? Kubulatkan tekadku atas pemikiran yang baru saja terlintas.
Julia akan kembali. Aku yakin itu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi dan mengernyit heran ketika Brandon masih berada di tempatnya- dalam posisi sebelum aku membersihkan diri.
Apa dia menungguku?
Tapi itu tidak mungkin.
Kuputuskan untuk tidak memperdulikannya dan memilih untuk berbaring disisi yang lain. Otakku rasanya ingin meledak dan jalan satu- satunya adalah dengan tidur.
Aku baru saja menarik selimut satin agar membuatku lebih nyaman ketika ikut merasakan pergerakan disisi yang lain ketika mendadak tubuhku rasanya membeku seiring tangannya yang memelukku dari belakang.
"Apa kau baik- baik saja?" Lirihnya pelan, sangat dekat dengan telingaku.
"A-apa maksudmu?" Aku membalas lirih, mengenggam sisi selimut lebih erat sementara jantungku berdetak liar.
"Aku tidak pernah berhubungan seks dengan perawan sebelumnya kuharap aku tidak menyakitimu."
Oh!
Aku tertawa, menyembunyikan kegugupanku. Entah mengapa ketika dia mengatakan berhubungan seks membuat hatiku semakin perih meskipun aku sudah menekankan berkali- kali dalam hati.
"Ya. Aku tidak apa- apa. Tidurlah."
"Elena..."
"Aku baik- baik saja Brandon. Sungguh. Kita hanya... Hm, kau tahu, terbawa suasana."
Aku tidak mengerti kenapa aku merasakan tubuhnya yang menegang dibelakangku ketika kembali santai beberapa menit kemudian.
"Ya. Terbawa suasana," Balasnya mengikuti kalimatku tadi. "Bolehkah aku memelukmu seperti ini?"
Aku mengangguk pelan, mengiyakan. Aku juga tidak ingin Brandon melepaskan dekapannya dariku. Tidak kali ini atau malam- malam selanjutnya.
Apa aku terlalu egois? Pria ini bukanlah milikku. Ada dua orang wanita yang sangat berarti bagiku yang menyukai pria ini.
Yang mana yang harus ku pilih?
***
Comments
Post a Comment