LOVEHATE- ENAM
Elena PoV...
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menarik napas kemudian menghembuskannya dengan kasar. Entah apa yang membuat Joanna tiba- tiba ingin datang dan menginap di rumahku- rumah yang aku maksud disini adalah rumah yang pernah aku tinggali bersama Bibi Samantha.
Jadi, sebelum ia menarikku masuk kedalam mobilnya dan membawaku kesana. Aku langsung berpura- pura melupakan sesuatu di perpustakaan dan berbelok menuju cafe ketika Joanna sudah tidak dapat melihatku lagi.
"Hai, Sweety."
Senyumku mendadak mengembang ketika telah berada di tempat yang menurutku paling aman di dunia ini. Yep, kebetulan kafe yang kudatangi ini adalah milik temanku, tidak. Dia juga sahabatku tapi lawan jenis.
"Hai Josh." Balasku seraya memeluknya.
Josh si pemilik cafe lovey- entah mengapa dia memberikan nama itu untuk kafenya. Faktanya dia jauh lebih dari kata manis atau romantis, dia bahkan tidak memiliki pacar, demi Tuhan! Dia adalah pria keturunan korea - Prancis dan terdampar di London. Jangan bayangkan ketampanan yang dimilikinya karena dia memang tampan tapi meskipun begitu, kami hanya menganggap satu sama lain sebagai saudara.
"Aku sedang mencoba membuat waffle, apa kau mau?"
Aku mengangguk, nyengir "kebetulan aku lapar."
"Tunggu. Akan kubawakan."
Aku kembali mengangguk seraya berjalan mencari tempat duduk dan kuputuskan untuk mengambil tempat yang terletak didekat jendela, memandangi mobil yang lalu lalang. Tidak lama kemudian aku mendengar suara kursi di geser dan menampilkan Josh dengan tangan yang membawa makanan yang dikatakan waffle kehadapanku.
Aku mengernyit, ngeri dengan tampilan yang tersaji didepanku. "Kau yakin ini bisa dimakan?" Aku bertanya ragu. Ragu karena merasa tidak yakin kalau ini adalah makanan dan bukannya tumpukan lumpur.
"Makan saja, okey?" Perintahnya tersinggung. "Dan berikan komentarmu."
Aku melihatnya tapi dengan tangan yang meraih garpu yang disodorkannya, masih merasa tidak yakin. "Apa aku telah berbuat salah padamu?" Tanyaku hati- hati. Siapa tahu saja aku benar pernah berbuat salah padanya dan dia ingin membalasku.
"Apa maksudmu?"
"Kau ingin membunuhku melalui makanan ini." Aku segera membelakkan mataku dan menjawab histeris dengan berlebihan.
Detik selanjutnya dia melihatku dengan tajam dan semakin tajam ketika dia mengeluarkan ujung belatinya.
"Kau yang makan sendiri atau aku yang harus memasukkan makanan itu ke mulutmu. Aku tidak keberatan jika itu harus dengan paksaan."
Aku mengangga. Apa benar aku sudah berbuat salah padanya? Atau aku salah memilih hari?
Dengan hati- hati kumasukkan waffle yang bahkan tidak ada mirip- miripnya dengan waffle itu ke dalam mulutku.
Sekali.
Dua kali.
Okey, tidak terlalu buruk. Tunggu? Apa ini? Kulit... telur?
"Bagaimana?" Josh memberiku tatapan penuh penasaran padaku dan dengan susah payah aku menelan makanan yang ada di mulutku.
"Lumayan," kataku tanpa menyebutkan kulit telur yang sempat tertelan. Anggap saja sebagai krispi. "tapi kurasa kau memberinya terlalu banyak pemanis." Kalau yang ini sih harus dikatakan.
"Hm, aku juga merasa begitu." Ujarnya seraya mengetuk- ngetuk jarinya kearah dagunya, membuatku tertawa.
Aku tidak heran dengan hobinya yang satu ini. Josh memang sering berekperimen dengan dapurnya. Terakhir kali dia melakukannya dia hampir membakar seluruh isi cafe tapi itu tidak membuatnya kapok dan berhenti mencoba.
"Kau butuh bantuan?" Kali ini aku menawarkan bantuan padanya. Dia pasti membutuhkan bantuan mengingat dia perlu mendaur ulang bahan wafflenya.
"Kau mau?" Tanyanya dengan binar kebahagian yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya akan silau. "Kalau begitu pergilah ke kasir. Layani pelanggan kita sementara aku akan memperbaiki kerusakan yang terjadi."
Aku tertawa semakin keras. Dia bahkan memberi kata kerusakan pada buatannya sendiri. Sangat Josh!
Jadi tanpa menunggu lagi kuambil alih bagian kasir sementara Josh kembali ke dapurnya.
Aku sedang mencatat barang- barang yang akan habis ketika mendengar suara denting pintu yang menandakan seseorang baru saja masuk.
"Aku pesan America latte satu." Ucapnya.
"15 dollar"
Dia memberikan sebuah kartu kearahku dan mengembalikannya semenit kemudian.
"Kau pelayan baru ya?" Tanyanya setelah aku memberikan minuman yang dipesannya.
Aku mendongak dan untuk pertama kalinya aku memperhatikan wajah si pembeliku tadi. Sial! Dia tampan sekali dan tipikal playboy. Well, setidaknya dia kaya jadi tidak masalah.
"Hai namaku Harry." Katanya seraya mengulurkan sebelah tangannya padaku dan kubalas hanya dengan tersenyum. Peraturan nomor satu di kafe Josh adalah Jangan menggoda pembeli. "Kau belum menyebutkan namamu." Katanya membuyarkan apa yang ada dalam pikiranku.
"Elena." Jawabku singkat.
"Jadi kau pelayan baru disini. Jam berapa kau selesai?"
Alisku mengernyit heran. "Aku tidak berkencan dengan pelanggan." Aku tidak ingin memberinya banyak harapan apalagi saat ini aku juga tidak bisa sebebas dulu. Ada orang lain yang juga tinggal bersamaku atau aku yang tinggal bersamanya. Entahlah yang mana bagus tapi intinya aku tidak sebebas dulu.
Harry tertawa. "Apa aku tampak seperti itu? Menggodamu?"
"Begitu yang aku lihat." Kataku jujur.
"Kau menarik."
Aku hanya terdiam. Apa maksudnya?
"Lalau begitu ingat wajahku baik- baik karena aku akan selalu datang ke sini." Aku pasti tampak bodoh dengan wajah melonggo seperti ini tapi aku juga tidak bisa bersikap biasa saja ketika seorang pria dengan latar belakang kaya dan tampan mengajakmu bicara dan mengatakan jangan melupakannya. Oh! Mendadak aku merasa kalau kedua pipiku menjadi panas dan semakin terasa panas ketika melihatnya justru melambaikan sebelah tangannya hingga dia masuk kedalam mobil yang di parkir di depan kafe.
"Aku yakin sebentar lagi lalat akan masuk ke dalam mulutmu jika kau terus membukanya seperti itu."
Aku mendelik ke sumber suara dan melihat Josh yang sedang bersandar pada konter tidak jauh dariku.
"Aku tidak tahu kalau lalat menyukai tempat ini mengingat kokinya sendiri membuat makanan yang bahkan aku tidak tahu bentuknya." Ledekku karena telah menganggu kesenanganku tadi.
"Okey. Saatnya kau pulang."
"Eh?" Aku terkejut dengan cara pengusirannya yang tiba- tiba dan semakin terkejut ketika dia justru mengumpulkan barang- barangku dan menaruhnya dengan paksa ke kedua tanganku yang bebas lalu mendorongku keluar pintu kafenya.
"Hey! kau belum membayarku." Seruku tidak terima.
"Aku menganggap kalau aku sudah membayarmu dengan makananku tadi."
Aku membelalak. "Kau membayarku dengan makanan itu? Waffle yang bahkan bukan waffle?" Tanyaku terkejut tidak percaya.
"Pergilah"
"Setidaknya berikan aku choco Oreo shake, please?" Pintaku mengedipkan sebelah mataku agar terlihat menggoda.
"Tidak."
Aku mencibir, merasa tersinggung karena usahaku tidak membuahkan hasil. "Kau sangat jahat, Josh."
"Begitupun dengan dirimu."
"Aku tidak akan menyerah." Tekadku sudah bulat. Mana boleh dia memberiku waffle yang hanya sekali kugigit? Aku harus menuntut yang menjadi hakku.
"Aku sudah mempersiapkannya."
Aku begitu terperangah ketika Josh justru menutup pintu tepat di depan hidungku. Hidungku kempas- kempis karena emosi dan mulai melakukan serangan.
Kutempelkan hidungku ke kaca kafenya, membuat pelanggan yang kebetulan berada didalam memandangku dengan tidak nyaman. Aku bahkan tidak peduli jika Josh akan kehilangan pelanggan. Biar saja!
Aku masih menarikan tarian hula- hula membelakangi kafenya ketika mendengar suara Josh dari arah sampingku.
"Pertunjukkan yang menarik." Ucapnya tertawa.
Kuambil kembali barang- barangku yang sengaja kuletakkan diatas tanah dan langsung mengambil minuman yang kuinginkan- Choco Oreo Shake- tercinta dari tangan Josh dan terbelalak ketika menyadari ada tambahan float dan coklat diatasnya.
"Kau yang terbaik, Josh." Aku tersenyum dan memeluknya- sangat senang.
***
Comments
Post a Comment