LOVEHATE- EXTRA
Moving forward using all my breath
Making love to you was never second best
I saw the world rushing all around your face
Never really knowing it was always mesh and lace
I'll stop the world and melt with you
You've seen the difference
and it's getting better all the time
There's nothing you and I won't do
I'll stop the world and melt with you
Dream of better lives
The kind which never hate
Wrapped in a state of imaginary grace
I made a pilgrimage to save this human race
Never comprehending the race had long gone by
I'll stop the world and melt with you
You've seen the difference
and it's getting better all the time
There's nothing you and I won't do
I'll stop the world and melt with you
The future is open wide
(I melt with you by Natalie imbruglia)
.
.
"Mommy!" Baik Leo maupun Leah sama- sama berteriak nyaring. Masing- masing dari mereka memegang setangkai bunga mawar, membuatku harus memutar mata ketika dibelakangnya menyusul Brandon dengan buket mawar yang lebih besar di tangannya.
"Kau terlalu berlebihan Brandon." Kataku mengindahkan tatapan memuja dari matanya.
"Bunga yang cantik untuk wanitaku yang cantik." Bisiknya sembari membawa tubuhku kedalam pelukannya.
"Terima kasih."
"Hanya terima kasih?"
Aku tahu apa yang dia inginkan tapi aku harus menahan diri. Setidaknya itu yang harus kulakukan.
Tak terasa sudah lima tahun berlalu sejak bangunku dari koma dulu. Brandon banyak bercerita denganku termasuk mengenai ibuku dan juga Julia. Julia sama sekali tidak menampakkan wajahnya, sesuatu yang aku tidak ketahui dengan pasti alasan kenapa tiba- tiba dia menghilang. Bibi Samantha pun tidak mengetahui mengenai keberadaan Julia seakan dia tiba- tiba di telan bumi. Aku merindukannya sekaligus juga mengkhawatirkannya. Apa sesuatu telah terjadi padanya?
Hubunganku dengan Claire pun semakin terasa lebih baik. Okey, di tahun pertama kami memang terlihat sedikit canggung tapi semua mendadak berubah dengan kemunculan Case- sepupu Brandon, sang pianis cantik yang sama sekali tidak kukenal sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu kalau Brandon memiliki kerabat yang terkenal seperti Case. Case sama sekali tidak terlihat seperti dia orang terkenal sama sekali malah justru seperti aku atau Claire tapi dalam versi muda. Brandon mengatakan kalau Case sudah ditunangkan dengan seorang yang juga kenalannya. Hm, apa dalam keluarga Brandon, semua keluarga harus berakhir dengan perjodohan? Aku harap Leo dan Leah lama tumbuh besar. Aku masih merasa bersalah jika mengingat waktu tiga bulan ketika aku koma dulu meskipun Brandon mengatakan kalau itu bukan salahku tapi tetap saja aku masih merasa sedih jika mengingatnya.
Brandon juga terlihat semakin protective dalam menjagaku. Maksudku aku tidak akan terjatuh dengan mudah jika tidak berada didekatnya kan? Aku baik- baik saja dan semakin bertambah baik apalagi sekarang aku sedang mengandung anak ketiga kami.
Aku sebenarnya sudah tidak boleh memiliki anak lagi. Sejak kejadian jatuhku dulu, membuat rahimku agak rentang dengan yang namanya keguguran tapi aku tetap memaksa Brandon agar mau mengabulkan keinginanku. Aku hanya tidak ingin Leo dan Leah hanya memiliki satu sama lain dan kehadiran seorang anak tidak akan membuatku terluka, iya kan? Tentu saja!
Jadi mulailah aku melakukan bujukan serta rayuan agar Brandon bisa luluh.
"Aku ingin punya anak lagi."
Dia terdiam di tempatnya. Selama ini dia selalu menolak jika kukatakan kalau aku ingin memiliki bayi lagi tapi aku tidak akan menyerah lagi kali ini. Kudekatkan tubuhku ke tubuh telanjangnya. Aroma percintaan pertama kami merasa terasa jadi mungkin itu bisa membuatku mendapatkan apa yang kuinginkan apalagi jika diingat, sudah lama aku tidak hamil lagi. Leo dan Leah juga sudah besar.
"Elena." Dia mendesah putus asa seraya menghentikan tanganku yang sedang menggodanya.
"Apa kau mau?" Aku sengaja memperdengarkan suara riang.
Tidak ada jawaban.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Brandon tapi aku sudah memikirkan semuanya." Aku kembali akan melancarkan aksiku ketika ia menahan tubuhku agar tidak mencium lehernya.
"Tidak!" Dia berkata tegas seakan menekankan maksudnya tapi aku tidak tinggal diam dan sebagai gantinya aku justru bangun dari tidurku dan menaikinya. Aku nyaris menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika melihat matanya yang membelalak karena sikap agresifku ketika otakku melarang. Belum saatnya aku senang. Brandon orang yang sangat keras jika menyangkut keselamatanku. Seakan aku akan koma lagi jika aku hamil anaknya lagi. Gezzz
"Apa yang kau lakukan?" Desisnya. Dalam hati aku bersorak gembira ketika merasakan kalau apa yang dikatakannya tidak sejalan dengan apa yang tubuhnya inginkan. Pria kecil yang malang. Tambahku sedih ketika merasakan bagian bawah Brandon menginginkanku sama seperti milikku yang menginginkannya.
Tunggu Mommy sayang. Mommy sedang berusaha membujuk big Daddy.
Kuciumi sekitar rahang Brandon dan bergumam. "Aku akan baik- baik saja."
"Kau tidak tahu apa yang kau katakan."
Kuhentikan mencium lehernya dan menatap matanya. Dasar pria keras kepala!
"Oh tentu saja aku tahu. Aku akan tetap hamil sekalipun kau tidak mengijinkan." Aku akhirnya meledak juga karena kekeras kepalaannya.
Brandon terdiam lalu kemudian aku melihat sekilas kalau dia menunjukkan tanda- tanda ingin tertawa. "Dan bagaimana kau akan hamil jika tanpa bantuanku?"
"Oh aku bisa memikirkannya Mr. Hill." Balasku enteng sementara memikirkan kemungkinan- kemungkinan untuk memperdayainya nanti. "Aku bisa saja membuatmu mabuk atau mencampurkan sesuatu pada minumanmu." Kataku tersenyum licik.
Kali ini aku berhasil membuat tawa lolos dari bibirnya. "Itu namanya curang, Mrs. Hill."
"Aku tahu tapi seingatku, aku tidak pernah mengatakan kalau aku akan bermain adil." Aku membalasnya pongah.
Tidak ada yang bersuara diantara kami. Kami hanya saling menatap ketika mendadak posisiku sudah berubah dengan dia yang berada diatasku.
"Aku tidak pernah menemukan wanita senakal dirimu, sayang."
Dalam hati aku bersorak gembira. "Apa artinya itu jawaban kalau setuju denganku? Kalau begitu, ayo kita mulai membuat adik untuk Leo dan Leah." Kataku dan langsung menempatkan bibirku untuk kucium sebelum dia berubah pikiran.
"Aku benar- benar membenci Josh karena memintamu menyanyi di kafe ini lagi."
Aku mengulum senyum di bibir melihat kemarahan di wajahnya. Saat ini usia kandunganku sudah menginjak usia enam bulan tapi sikap Brandon seakan aku akan melahirkan setiap saat.
"Josh hanya meminta tolong padaku." Jawabku menenangkannya.
"Tapi apa dia tidak bisa melihat bagaimana situasimu sekarang ini?"
Aku mendelik padanya. "Jangan mulai lagi Brandon. Kita kan sudah membicarakan ini."
"Dan keputusanku tetap seperti semula. Kau harus di operasi jika melahirkan nanti. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?"
Aku bahkan belum akan melahirkan besok!
Sengaja kuhirup udara dalam- dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Aku tahu hal ini tidak akan mudah ketika aku memintanya melakukan ini.
"Tapi aku ingin melihat wajahnya ketika ia baru saja keluar dari rahimku." Aku merenggek padanya.
Ya. Perasaan karena kala itu aku langsung mengalami koma sehingga tidak bisa melihat Leo dan Leah untuk pertama kalinya masih membekas dalam ingatanku. Aku bahkan tidak bisa memberikan asi pertamaku padanya ketika mengeluarkan mereka dulu.
"Kau sudah tahu dari awal kalau seharusnya kau tidak hamil lagi mengingat keadaanmu dulu ketika hamil Leo dan Leah."
Grrr. Brandon dan keras kepalanya!
"Mommy, daddy benar." Perhatianku seketika teralih setelah mendengar suara Leo bahkan Leah juga ikut menambahi.
Astaga! Aku lupa bagaimana kedua anakku ini sangat mendukung Brandon sepenuhnya. Brandon dulu tidak henti- hentinya menceritakan tentang keadaanku dulu yang sempat koma, seakan itu adalah dongeng sebelum tidur atau semacamnya.
Aku langsung memberi Brandon tatapan paling tajam yang bisa kulakukan. "Bagus Brandon, sekarang kau menyusupi otak anakku dengan kematianku." Aku benar- benar jengkel padanya ketika kemudian menyesali perkataanku. Raut wajah Brandon seketika berubah saat itu juga. "Oh tidak. Maafkan aku, Brandon." Kuraih tangannya, mencoba membuatnya merasa tenang. "Aku baik- baik saja."
"Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku melihatmu terbaring diam dulu."
Sama sepertinya. Aku tentu tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Aku benci mengatakannya tapi melihat dia masih merasa bersalah dan sedih dengan kejadian dulu membuatku semakin merasa bersalah padanya. Jika bukan karena kelalaianku, kejadian dulu tidak akan terjadi. Tanpa pikir panjang. Kudekatkan bibirku ke bibirnya seakan menekankan kalau aku masih bersamanya. Disini. Di tempat ini. Dengan dia yang bisa menyentuhku. Kuperdalam ciumanku padanya ketika akhirnya dia membalasku.
"Mom. Dad!" Suara jengah Leah menghampiri indra pendengaranku. "Kami masih berada disini dan melihat Mommy melakukan hal itu didepan kami."
Oh Tuhan!
"Ya. Sepertinya mom dan dad menganggap kita mengontrak di sini." Leo menambahkan dengan kesal.
"Kalian berdua hentikan!" Entah darimana Josh muncul dan langsung memisahkan aku dengan Brandon. Teriak Josh yang langsung memisahkan aku dan Brandon. "Kalian berdua membuatku dan para pelangganku risih dan bagaimana kalian bisa melakukan itu dihadapan anak kecil?"
"Oh jangan khawatir paman Josh. Mom dan dad selalu melakukan itu di rumah." Leo menjawab polos yang langsung membuat Josh memberiku tatapan tajam dan juga Brandon.
"Tidak seperti itu, sobat." Brandon berusaha menengahi antara aku dan Josh sembari menertakan kepolosan putranya tadi.
"Tapi kami menyukainya kok paman. Itu tandanya Daddy dan Mommy saling mencintai." Leah menambahkan dengan senyum polosnya yang langsung mendapatkan dua buah jempol dari Brandon dan dibalas oleh Leah dengan mengedipkan sebelah matanya.
Tuhan! Tuhan! Apa yang sudah Brandon tanamkan pada anak- anakku?
"Mom kita pulang sekarang." Leo mulai mengeluarkan suara yang mirip Brandon jika memerintahkan sesuatu. "Mom harus istirahat."
Dan hal terakhir yang aku lihat adalah Brandon seperti melihat bangga kedua anaknya dan membuatku harus menggelengkan kepala karena kelakuannya.
Tapi dibandingkan itu semua. Dalam hatiku yang paling terdalam, aku mensyukuri semua itu. Kedua anakku berhasil selamat yang menandakan kalau mereka berdua sangat kuat baik ketika masih berada didalam rahimku juga ketika mereka akan lahir dan aku semakin bahagia karena tidak lama lagi kami akan kedatangan malaikat kecil yang sudah aku tunggu, yang akan menambah semarak dalam kehidupan kami.
Pria sekaligus suami yang baik. Anak- anak yang menggemaskan meskipun sama seperti Brandon, sangat menjagaku seakan akulah yang perlu dilindungi bukannya mereka, yang akan selalu sedia mengikuti apa yang dikatakan oleh Brandon selama itu menyangkut tentang diriku.
Kupikir aku bisa bertahan dengan itu semua dan diam- diam berharap anakku yang masih berada didalam kandunganku mewarisi sifatku dan tidak terlalu menjagaku seperti Leo dan Leah.
Ya. Tidak ada salahnya berharap. Iya kan?
END
Comments
Post a Comment