LOVEHATE- LIMA
Aku masih berkutat dengan tugas akhirku ketika merasa mendengar suara samar di sampingku dan hampir saja memekik keras ketika melihatnya yang muncul dalam kegelapan.
"Kenapa kau?"
Aku langsung memberi Brandon tatapan tajam sementara berusaha menetralisir jantungku yang tadinya hampir keluar.
"Bisakah kau membuat suara ketika kau masuk?" Aku menanyainya jengkel. "Kau nyaris membuatku hampir tidak bisa merasakan detak jantungku lagi."
"Sudah kulakukan," Brandon menjawabnya seakan bukan masalah kalau aku tidak bernapas lagi. "tapi sepertinya kau lebih memilih untuk memelototi laptop itu dibanding memperhatikan sekitarmu. Memang dia salah apa?"
Aku mendengus jengkel ketika melihat senyum penuh ejekan di bibirnya. Kutarik napasku dan menghembuskannya dengan pelan lalu kembali berpaling kembali kedepan laptopku, tanpa memelototinya.
"Aku sedang mencari inspirasi untuk tugas akhirku."
"Benarkah? Kalau begitu selamat menikmati."
Aku menoleh lagi dan melihatnya sudah pergi. Apa dia baik- baik saja?
Kugelengkan kepalaku kembali berusaha fokus pada tugas didepanku. Oh ya, ngomong- ngomong tentang Claire. Sebenarnya malam itu aku hanya mengertaknya. Sejujurnya bukan Brandon yang kuhubungi tapi nomor Julia dan seperti biasa nomornya tidak tersambung dan jadilah operator yang baik hati yang mengangkat dan berbicara padaku. Tapi ada baiknya juga aku melakukan hal itu. Bukan bermaksud untuk mengatur apa yang ingin dilakukannya tapi aku cuma merasa risih saja jika mereka melakukannya di rumah ini, meskipun rumah ini juga miliknya tapi kan ada aku disini. Aku kan tidak mau mata atau telingaku di nodai dengan mendengar sesuatu yang aneh suatu saat nanti.
Sepeninggalku ke kamar malam itu, tidak lama kemudian Claire muncul dengan wajah yang memerah, bukan karena percintaan yang hampir saja mereka lakukan tapi karena menahan amarah. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui apa yang menjadi alasannya. Karena alasannya cuma satu.
Aku telah mengusir pria yang memiliki hubungan dengannya mentah- mentah.
Tapi, memang aku peduli? Aku kan hanya ingin melindunginya dari Brandon tapi tunggu dulu, bukankah itu sama saja kalau aku peduli?
Arghhh, apa yang sebenarnya kupikirkan? Berhenti berpikir Elena! Seperti kata Claire tadi. Kau hanya menumpang. Jangan terlalu sering memikirkan sesuatu yang bukan urusanmu, huft.
Kembali aku berkutat, mencoba menyambung satu kata ke kata lain agar menjadi kalimat ketika merasakan bulu kudukku yang seketika meremang dan kali ini aku benar- benar berteriak karena kaget.
"Astaga, Brandon!" Aku benar- benar jengkel dengannya ditambah lagi, dia dengan seenaknya duduk diatas sofa dibelakangku. "Tidak bisakah kau membuat suara setiap kali kau datang?"
"Kau ini orang yang mudah kaget ya?"
"Aku tidak akan sekaget itu kalau kau paling tidak membuat suara," Sergahku marah. "Dan jam berapa sih ini?" Lanjutku seraya berpaling menatap jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 1 malam lalu mengernyit pada Brandon. "Kau baru pulang jam begini?" Tanyaku padanya.
"Tadi Harry mengajakku minum sebentar."
Aku tidak perlu bertanya siapa itu Harry. Toh, hubungan kami tidak sedekat itu untuk saling mengenal teman kami masing- masing.
"Kau sudah makan?" Tanyaku kemudian. Dia baru pulang dini hari seperti ini, kemungkinan besar dia belum makan apa- apa jika temannya yang bernama Harry itu membawanya minum.
Tidak ada jawaban dan seketika aku sadar. Kenapa aku terdengar begitu peduli padanya? Dia sudah besar. Brandon pasti mampu mengurus dirinya sendiri. Dasar Elena bodoh! Seharusnya kau konsentrasi saja dengan tugasmu dan jangan melibatkan hubungan yang tidak nyata ini.
Aku berusaha mengenyahkan pikiran- pikiran anehku tentangnya dan berdehem pelan.
"Well, kau tahu minum sebelum makan bisa berefek buruk jika kau mabuk jadi ya, semacam itu." Jawabku berusaha bersikap acuh dan biasa.
"Aku tidak mabuk." Balasnya.
Oh benar juga!
Kali ini aku berharap ada batu bata dihadapanku dan membenturkan kepalaku yang bodoh ini diatasnya.
"Oh, okey kalau begitu." Aku membalasnya merasa sangat malu.
Hening.
"Aku lelah. Aku mau tidur. Jangan terlalu lama begadang." Katanya seraya beranjak dari tempatnya duduk.
Mataku terus mengikutinya hingga ke atas, ke kamar kami dan merutuki diriku habis- habisan karena telah bersikap bodoh.
Apa- apaan tadi itu Elena? Makan? Mabuk? Apa sekarang kau cari muka dengannya?. Rutukku merasa bodoh.
.
.
.
Brandon PoV...
Apa tadi itu? Kenapa dia bahkan terlihat cantik dengan wajah marah menatap laptopnya?
Dia orang paling aneh yang kutemui. Biasanya semua wanita akan tersipu ketika aku berada dalam jarak pandang mereka tapi dihadapan Elena, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan ekpresi apapun.
Tadi aku sempat melihat memar biru di lengan kanannya hasil dari perkelahian kami merebut siapa yang berhak dan tidak berhak tidur di atas tempat tidur.
Harus kuakui dia gadis yang gigih. Dia bahkan menolak untuk tidur diatas sofa.
Dan apa katanya tadi? Dia menanyaiku tentang makanan? Apa dia berniat membuatkan makanan kalau kukatakan kalau aku belum makan? Tidak. Pertanyaannya adalah apakah dia bisa masak? Dari apa yang kulihat adalah dia hanya memakan roti atau sereal setiap pagi dan langsung berangkat ke kampusnya.
Apakah aku harus mempertimbangkan usulan Harry yang mengatakan aku harus mempertemukan mereka dan berbuat baik padanya?
Kudengar pintu dibuka dengan sangat pelan. Aku sengaja membuka mataku sedikit tapi berusaha tampak sedang tidur dan hampir saja tawaku meledak ketika melihatnya berjalan dengan mengendap- endap menuju kamar mandi. Dia terlihat sangat lucu.
Aku menunggunya, masih dengan posisi yang sama- mata setengah terpejam dan melihatnya telah berganti pakaian. Sama ketika ia akan menuju kamar mandi, Elena juga melakukan hal yang sama ketika ia akan naik keatas tempat tidur kami. Sekilas aku melihat pakaian tidur yang dikenakannya. Minion? Kemarin dia bahkan mengenakan Hello Kitty. Sejujurnya ia membuatku seperti sedang tidur dengan anak- anak dan bukannya gadis dewasa. Aku bahkan yakin kalau Claire tidak memiliki pakaian tidur yang sama seperti yang selalu digunakan Elena.
Dia menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Bergumam beberapa kali kemudian diam. Kubuka mataku sepenuhnya dan melihatnya yang sudah terlelap, mendesah.
Dia gadis yang mudah tertidur.
***
Comments
Post a Comment