LOVEHATE- SATU

Elena PoV...

"Elena, ayo sarapan".

"Iya Bibi." Sahutku tergopoh- gopoh turun dari atas kamarku menuju dapur.

"Kamu ini bukannya berubah malah semakin menjadi- jadi. Ingat Elena kamu..."

"Ya... ya... ya Bibi. Elena ngerti". Potongku cepat. Aku mulai jengah diingatkan tentang hal itu setiap harinya.

Bisa kurasakan Bibi Samantha mendelik kearahku. Dia paling tidak suka kalau aku memotong kata- katanya.

Kulirik jam ditanganku dan terlonjak. Mampus, bisa kena omelan lagi nih. Cepat- cepat kutandaskan roti dan susu coklatku dalam sekali teguk dan berpamitan dengan Bibiku yang paling cantik sedunia.

Aku merasa ada yang ingin dikatakannya tapi ah, tidak ada waktu. Cepat- cepat kuhentikan taksi yang biasa lewat di jalan dekat rumah meskipun aku tahu, aku akan merogoh kocek berlebih dibandingkan jika aku memilih naik bis.

15 menit kemudian aku tiba di kampus dan lega karena Professor yang mengajar mata kuliah sastra juga terlambat dan baru datang tepat setelah aku menaruh pantat indahku diatas tempat duduk.

"Ssssttttt...." desisan suara dibelakangku benar- benar sangat menganggu. "Sstttt...."

Dengan jengkel aku berbalik dan tanpa sadar menjerit senang melihat Joanna berada di kursi tepat dibelakangku.

"Apa ada masalah Ms. Williams?" Tanya Prof. Jhon datar, dosen yang mengajar saat ini.

Aku meringgis menyadari kesalahanku. "Tidak Professor. Maaf." Jawabku menunduk. Bisa kudengar kalau Joanna sedang terkikik dibelakangku.

Ugh, awas saja!

Setelah menunggu selama lebih dari satu jam dengan gusar. Akhirnya kelas Prof. Jhon berakhir dan secepat kilat pula aku mencegat Joanna.

"Darimana saja kau? Di telpon tidak tersambung, Skype juga tidak aktif." Hardikku marah tapi justru dibalas dengan senyuman olehnya.

Ihhh apaan sih anak?

"Tenang sis".

"Apa? Tenang katamu? Sebulan lebih kau tidak memberi kabar, Jo".

Joanna terkekeh. "Did you miss me?" Tanyanya.

"A lot"

"Oww how sweet you are" Sahutnya memelukku.

"So tell me, where have you been?" Aku bertekad untuk tidak melepaskannya kali ini.

"Well, doing something fun."

Keningku seketika mengernyit, heran. " Fun?"

"Yeah. Netherlands".

Oh, shit. She did that!

Aku menatapnya tidak percaya. Bisa- bisanya dia berlibur dan bersenang- senang sementara aku disini sedang mempertaruhkan masa depanku.

"So, apa yang terjadi selama kepergianku?" Saat ini kami sedang berjalan menuju perpustakaan kampus ketika dia bertanya.

"Tidak ada." Aku sudah malas menceritakannya. Menurutku sudah tidak ada gunanya.

Joanna menahanku. "Nothing? Kalau aku tidak salah ingat, seminggu yang lalu kau mengirimkan pesan di emailku dan bilang 'Selamatkan Aku Segera!!!' dengan banyak tanda seru. Nah apa artinya itu?"

"Bukan sesuatu yang menarik". Jawabku lagi. Toh, semuanya sudah terjadi.

Joanna baru saja akan membuka mulutnya ketika disaat yang bersamaan dia melihat kerumunan orang disertai teriakan yang tentu saja dari para wanita.

Aku dan Joanna saling berpandangan bingung.

"Apa hari ini kita kedatangan artist?" Tanyaku ingin tahu.

Joanna kembali terkekeh. "Menurutmu siapa?"

Aku mengangkat bahuku. "Entahlah. Justin Bieber atau One Direction? Bukankah mereka yang sedang naik daun." Jawabku sekenanya.

Kali ini Joanna sukses tertawa ketika mendadak kerumunan melebar, membuat mataku seketika membelalak menyadari siapa yang menjadi biang keladi semua ini kemudian menoleh ke samping, kearah Joanna yang juga terbelalak tapi bedanya dengan tambahan liur di bibirnya.

Kali ini gantian aku yang tertawa. "Hapus tuh liur dibibirmu. Norak tahu". Ucapku bercanda dan langsung berlari meninggalkan dirinya, masuk ke dalam perpustakaan.

Perpustakaan tempat paling aman untuk menghindari amukan Joanna saat ini, selain karena didalam disini, suara sekecil apapun dilarang tapi juga ada Madam Lian yang super galak- yang menjaga perpustakaan dari segala macam kebisingan dan dengan siap sedia akan menjatuhkan sangsi pada mahasiswa yang ketahuan melanggar.

***

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS