LOVEHATE- SEBELAS
Aku bangun lebih cepat daripada Elana. Bisa kurasakan kalau sudut- sudut bibir semakin melebar seiring dengan pergerakan yang dilakukan oleh tubuhnya ketika aku melihat matanya mulai terbuka dengan perlahan.
Sejujurnya tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat ekspresi wajahnya saat ini. Mata yang seketika menjadi besar karena kaget melihat dirinya yang sangat dekat denganku, belum lagi posisinya yang well, menurutku sangat intim. Ya, dia memelukku atau begitulah yang dipikirkannya. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk merasakan bibir itu lagi seperti yang telah kulakukan semalam. Bibirnya seperti selalu menarikku atau harus kukatakan, selalu menggodaku untuk mencicipinya lagi.
"Apa kau berusaha menggodaku pagi- pagi buta seperti ini, sayang karena aku..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, mendadak tubuhnya menjauh hingga nyaris saja terjatuh jika saja aku tidak sigap menariknya hingga sekarang posisinya yang berada diatas tubuhku.
Sial! Aku merutuk dalam hati seiring dengan aku yang merasakan bagian bawahku menegang karena dirinya.
Kupejamkan kedua mataku berusaha menfokuskan pada sesuatu yang lain ketika mendengar suara pelan miliknya dan membuka mata.
"Terima kasih."
Rasanya ada yang ikut hilang seiring Elena yang melepaskan dirinya dariku. Aku seakan ingin dia berada dalam posisi seperti ini, mendekapnya dan mencium aroma tubuh dan rambutnya seharian ini.
"Kau perlu lebih berhati- hati." Aku mengucapkan dengan separuh hati dan langsung bangun dari tempat tidurku, melepaskan kehangatan tubuhnya.
Wanita ini benar- benar membuat frustrasi. Selama ini aku tidak pernah tidur dengan seorang wanita tanpa melakukan apa- apa. Tidak ada selimut yang berantakan, baju yang masih melekat seperti semalam dan yang lebih penting, tidak adanya aroma seks di penjuru ruangan. Juniorku membutuhkan pelampiasan dan jalan satu- satunya adalah dengan mandi air dingin atau... sabun.
Sialan!
Aku baru saja akan membuka pintu kamar mandi ketika kembali aku mendengar suaranya yang gugup.
"Bagaimana aku bisa berada... Hm, kau tahu? Seperti yang tadi kita..."
Hm, wanita yang penasaran?
Tanpa sadar aku tersenyum menyadari betapa mudahnya dia dipermainkan dan aku semakin ingin bercanda dengan milikku. Oh! Elena adalah milikku sejak tadi malam dan akan selamanya begitu. Mendadak aku merasakan darahku berdesir hanya dengan memikirkannya.
"Tubuhku maksudmu?" Dia mengangguk dan aku berani bersumpah kalau aku baru saja melihat semburat merah di pipinya. Tuhan! Kenapa dia begitu cantik hanya dengan malu- malu? "Aku juga tidak tahu tapi dari yang kuperhatikan. Kaulah yang mendatangiku." Jawabku berbohong.
Tentu saja kejadiannya tidak seperti itu karena akulah yang menarik tubuhnya agar mendekat padaku. Awalnya aku bimbang, bagaimana kalau tiba- tiba Elena terbangun dan melihatku yang menariknya tapi Elena benar- benar terlelap seperti orang mati. Aku bahkan harus selalu mengecek suhu tubuhnya agar bisa menyakinkan kalau Elena masih hidup dan bukannya pingsan atau...
"Aku mendatangimu?" Dia bertanya tampak tak percaya.
Aku mengangguk, menampilkan ekspresi yakin di wajahku. "Kalau kau memperhatikan, kaulah yang mendatangi daerah tempatku tidur." Jelasku seraya menunjuk posisinya saat ini.
Dia terdiam. Kedua alisnya saling bertaut, bingung tapi kembali meminta maaf. Sebelum aku lepas kendali, kuputuskan untuk menyudahi pembicaraan yang memerlukan tenaga ekstra ini. Aku tidak ingin melampiaskan hasrat terpendamku pada dirinya. Belum. Belum saatnya
.
.
Aku baru saja selesai memakai kemejaku ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan nyaris tidak bisa bernapas melihat dirinya yang hanya terbalut sepotong handuk. Elena tampak malu- malu ketika mata kami berserebok. Dia bahkan jauh lebih menggoda dengan posisinya saat ini.
Damn it!
"Eh aku lupa membawa baju ganti ke dalam jadi..."
"Tidak masalah," potongku cepat. "Aku sudah terbiasa melihat tubuh wanita telanjang sebelumnya."
Damn! Aku kembali merutuk bibir brengsekku ketika melihat ekspresi wajahnya yang tampak kaget dan semburat merah itu muncul lagi di kedua pipinya.
Dia meraih pakaiannya didalam lemari sembarangan dan menggantinya di dalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama ketika aku mendengar suara pintu kamar mandi kembali terbuka dan menampilkan dirinya dengan rambut yang masih basah. Kuperhatikan Elena berusaha untuk tidak melihatku ketika aku mengernyit mendapati dirinya telah mengambil tasnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa?" Dia melihatku dengan bingung kemudian kearah penampilannya saat ini.
"Apa kau mau keluar dengan rambut basah seperti itu?"
Sekilas Elena menyentuh rambut basahnya lalu kembali melihatku. "Aku tidak sempat mengeringkannya. Aku sudah sangat terlambat." Dia menjawab, gelisah.
"Kau lebih memilih tidak terlambat dibandingkan terkena flu?" Aku mulai tersulut dengan sikap tidak pedulinya.
"Aku tidak selemah itu hingga mudah kena flu, Brandon." Balasnya.
Oh bagus! Dia mulai seperti Elena yang kukenal. Pembangkang dan punya jawaban untuk segala sesuatu.
"Hair drier ada di dalam kamar mandi. Gunakan itu untuk mengeringkan rambutmu."Elena memberiku tatapan ingin membantah tapi dengan cepat pula kupotong. "Aku akan mengantarmu ke kampus hari ini." Kemudian aku melihat mulutnya yang terbuka, antara syok dan tak percaya.
"Kau ingin mengantarku?"
"Kau sudah mendengarku, Elena jadi sekarang pergi keringkan rambutmu dan semakin lama kau membantah, semakin lama pula kita akan berdebat dan tentunya itu akan membuatmu semakin terlambat." Jelasku memberinya senyum penuh kemenangan.
Dia memberiku tatapan tajam miliknya begitupun denganku. Sedetik kemudian dia melempar kembali tasnya keatas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi seraya menghentakkan kakinya. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti anak kecil, membuat amarah yang tadinya muncul karena dirinya seketika menjadi surut.
Selang beberapa menit dia masuk kedalam mobil yang akan kami kendarai dengan rambutnya yang sudah kering dan terlihat sangat halus.
"Kau selalu naik kendaraan umum ya?" Aku membuka pembicaraan dengannya disela mengantarnya ke kampusnya.
"Yep." Jawabnya pendek.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak punya mobil."
Seketika aku langsung memalingkan wajahku dari jalanan di depanku ke samping, tempat Elena duduk. Elena menolak untuk melihatku dan lebih asyik melihat ke sampingnya.
"Jawaban cerdas." Kataku membalas ucapannya, merasa geli.
"Itu karena letak asramaku dekat dengan kampus." Katanya lagi.
"Kau tidak tinggal dengan Bibi Samantha?" Aku tidak tahu kalau dia tinggal di asrama dekat kampus.
"Tidak. Hanya Julia." Entah kenapa aku seperti mendengar ada nada getir dalam suaranya.
Ada apa dengan mereka? Apa mereka tidak akur?
"Sejujurnya aku bahkan tidak tahu kalau Julia punya adik." Ujarku sengaja ingin menghiburnya.
Elena tertawa, entah apa yang ditertawakannya tapi itu membuatku semakin ingin mendengar tawa itu lagi.
"Kalau begitu besok kita beli mobil untukmu." Lanjutku.
"Apa? Kenapa?"
"Apa kau mengharapkan aku terus mengantarmu kesana- kemari?" Tanyaku menatapnya meskipun dalam hati aku tidak keberatan.
Dia menggelengkan kepalanya berkali- kali. "Bukan itu maksudku. Kenapa kau ingin membelikanku mobil?"
Aku mengernyit bingung. Bukankah sudah jelas apa kegunaan alat transportasi roda empat itu?
"Kau tidak tahu menyetir ya?"
"Tentu saja aku tahu." Sergahnya.
Apa dia sekarang marah?
"Siapa?"
"Siapa apa?"
"Siapa yang mengajarimu menyetir?"
Wajahnya seketika merona dan aku yakin seribu persen kemudian dikalikan lagi kalau orang yang mengajarinya menyetir adalah seorang pria. Memikirkan berapa kali pria itu memegang tanganmya membuat amarahku kembali bangkit.
"Terima kasih telah mengantarku." Dia berucap sekeluarnya ia dari mobilku.
Tanpa berpikir lagi. Kulepaskan seatbelt yang menahan diriku dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain menahan tangannya agar tidak pergi terlalu jauh. Elena melihatku dengan pandangan bingung dan nyaris saja menjerit ketika tanpa peringatan aku mengecup bibirnya. Bibirnya terasa seperti stroberi, sangat menggiurkan dan menggoda selera.
"Belajar yang rajin, sayang." Lalu aku mendorong tubuhnya yang telah membeku sedikit lebih jauh agar bisa menutup pintu mobilku kembali dan tertawa geli ketika Elena masih terdiam di tempatnya.
***
Comments
Post a Comment