LOVEHATE- SEMBILAN BELAS

Satu hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika mengalami siklus bulananku. Oh tidak, ini bukan karena aku tidak senang mengalami menstruasi, maksudku itu berarti kalau aku termasuk normal dan subur kan? Tapi well, hanya saja terkadang ini terjadi sangat menyakitkan ketika indung telur yang gagal dibuahi harus keluar.

Kuposisikan tidurku seperti bayi dalam rahim ketika beberapa menit kemudian aku mendengar suara dering ponselku yang berbunyi nyaring, menampilkan nama Josh dilayarnya

"Ya Josh." Aku bahkan bisa mendengar suaraku yang tersenggal karena kesakitan.

"Elena, apa yang terjadi?" Josh terdengar panik diseberang.

Aku tersenyum, lucu sekali dia. "Aku baik- baik saja Josh. Berhenti bersikap melebih- lebihkan."

"Tapi kau terdengar..."

"Ini hanya masalah bulananku. Tidak perlu panik."

Tidak ada suara. Kupikir Josh mematikan sambungannya diseberang ketika kembali mendengar desah napasnya.

"Kau ... um, kau baik- baik saja?"

Aku tertawa sebelum menjawab pertanyaannya yang terkesan konyol. "Tidak." Jawabku ketika kembali mendengar deru napasnya yang keras. "Tapi semua masih bisa diatasi jadi semuanya aman terkendali."

Hening sesaat.

"Oh, lucu sekali." Sarkasmenya yang mau tidak mau membuatku tertawa.

"Aku baik- baik saja, Josh. Ini sudah biasa terjadi. Aku akan segera sembuh."

"Oh!" Jeda sesaat. "Okey" lanjutnya terdengar gugup, kembali membuatku tertawa.

"Um Josh, maaf. Sepertinya aku tidak bisa datang ke kafe hari ini." Ujarku setelah meredakan tawaku.

"Tidak masalah, dear Istirahatlah."

"Okey," aku menganggukkan kepalaku. "Sampai nanti, Josh." Kumatikan ponselku dan melemparnya ke sisi ranjang, semakin meringkukkan tubuhku hingga menjadi seperti bola.

Aku seperti baru saja memejamkan mata ketika tiba- tiba aku merasakan sebuah tangan hangat menyentuh keningku, membuatku terpaksa membuka mata sambil mengerang pelan.

"Apa kau sakit?" Suara Brandon terdengar lirih dan khawatir. Bisa kurasakan sebelah tangannya yang menyentuh helaian rambutku dan merapikannya agar tidak terhalang mataku.

"Hai Brandon." Aku menyapanya sementara bulir- bulir keringat membasahi kening dan leherku. "Kapan kau pulang?" Tanyaku berusaha untuk bangun tapi kurasa tubuhku terlalu lama dalam posisi meringkuk seperti ini hingga terasa kaku.

"Kenapa kau tidak menghubungiku dan mengatakan kalau kau sakit?" Katanya lagi.

Aku terdiam, berpikir dan menyadari kalau saat ini dia berada pada posisi berlutut sementara aku sudah berada di sudut tempat tidur. Pasti aku tidak menyadarinya.

Aku tersenyum, berusaha membuatnya agar tidak khawatir. "Aku tidak apa- apa. Hanya siklus bulananku saja." Jawabku.

Brandon terdiam sementara kedua keningnya sama- sama saling bertaut lalu detik selanjutnya kedua matanya melebar dan aku menduga kalau dia sudah mengerti apa yang kumaksudkan.

"Apa itu sakit?" Tanyanya lagi.

Keningku berkerut. "Apa kau tidak pernah melihat Claire mengalami siklus bulanannya?"

"Ketika itu terjadi," dia seperti tampak sedang berpikir keras. "Kadang aku mendengarnya berteriak."

Aku kembali tersenyum, "Well, semacam itu." Timpalku membuat senyum muncul di sudut bibirnya. "Apa kau sudah makan?"

"Ya."

"Jam berapa sekarang?"

"Sepuluh malam."

Sepuluh malam? Well, itu sudah cukup lama.

"Kau sudah makan?" Kali ini dia gantian yang bertanya.

Aku mengangguk. "Ya."

Aku melihat Brandon akan mengucapkan sesuatu ketika aku kembali meringgis hingga harus menggigit bibirku kuat- kuat sembari memejamkan mataku.

"Kau sudah minum obat penghilang rasa sakit?"

Kubuka kembali mataku dan langsung berhadapan dengan mata itu lalu beralih pada penampilannya. Dia bahkan belum mengganti pakaian dan mencuci badannya. Apa dia melakukannya karena khawatir? Padaku?

"Aku akan baik- baik saja, Brandon. Aku hanya perlu tidur selama... beberapa jam."

Brandon terdiam lalu berdiri dari tempatnya. Aku tidak tahu kemana dia pergi dan aku juga terlalu lemah untuk menanyakan hal itu padanya. Aku baru saja merasa menutup mataku ketika aku kembali mendengar suaranya.

"Elena... Elena. Bangunlah sayang".

"hm?" Kubuka kembali mataku dengan paksa dan melihatnya dengan pakaian yang sudah diganti dan tampak jauh lebih tampan.

Aku begitu terhipnotis dengan penampilannya saat ini. Dia beraroma sabun dan aftershave, terlihat sangat menggiurkan. Belum lagi rambutnya yang masih setengah kering.

Sialan yang menggiurkan!

"Kita bisa melakukannya lain kali, sayang tapi sebelum itu kau perlu minum obat penghilang rasa sakit." Brandon memberiku senyum mengodanya, membuatku malu karena tertangkap basah.

"Kau tidak perlu repot- repot." Ujarku mengalihkan rasa maluku dan memperlihatkan wajah cemberut sementara ia membantuku untuk duduk.

"Tidak apa- apa. Ini makanlah." Dia menyodorkan sebutir obat kearahku ketika menarik kembali tangannya. "Tunggu, kapan terakhir kau makan?"

"Tadi siang. Kenapa?"

Dia mengerang. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"

Hah?

"Memberitahu apa?" Aku bertanya bingung.

"Kalau kau belum makan malam."

"Apa itu penting?" Aku masih tidak mengerti apa yang telah membuatnya marah.

Kembali dia mengerang. "Jelas itu penting. Kau mengatakan kalau kau sudah makan."

"Aku memang sudah makan."

"Tapi itu tadi siang."

"Memang benar."

Dia terdiam. Aku juga diam kemudian aku melihatnya menghembuskan napas.

"Tunggu disini." Brandon meraih ponselnya yang terletak di meja nakas dan menghubungi seseorang dan keluar dari kamar.

Dua puluh menit kemudian, Brandon kembali masuk seraya membawa segelas air dan sebuah mangkuk dan mengernyit ketika melihat isinya.

"Bubur?" Tanyaku tanpa sadar.

"Kau tidak suka? Kita bisa memesan makanan lain."

Kugelengkan kepalaku sebagai jawaban. Aku merasa tidak ingin memakan apapun.

"Aku bisa sendiri Brandon." Ucapku ketika ia mengarahkan sesendok bubur ke mulutku.

"Tidak. Kau masih sakit."

Kuputar kedua mataku kearahnya, memperlihatkan betapa jengkelnya aku dengan sikapnya kali ini ketika dia sama sekali tidak berkutik, malah justru terus menyorongkan sendok yang sedang dipegangnya kearah mulutku.

Meskipun merasa aneh karena seperti diperlakukan seperti orang yang berpenyakit parah tapi kuputuskan untuk melakukan apa yang dimintanya, lagipula Brandon tampak tidak ingin dibantah (oh, kapan sih pria tampan yang menggiurkan ini bisa dibantah bahkan aku sendiri pun tahu dengan jelas kalau aku tidak bisa menghilangkan pengaruh yang dia berikan padaku, sial!)

Brandon menyuapiku dengan sabar dan telaten yang kadang kala diselingi dengan senda gurau darinya. Kami membicarakan apa yang dilakukannya seharian ini, okey mungkin sebagian besar aku yang mendengarkan dan dia yang menyuapi. Brandon tidak membiarkanku bicara sambil makan. Dasar tukang perintah!

Di suapan ketujuh, aku mulai merasa tidak bisa lagi menampung asupan karbohidrat dan ini semua karena haid pertama yang kualami, semacam itulah.

"Aku sudah kenyang." Ucapku seraya menahan tangannya untuk mengambil bubur itu lagi.

"Kau yakin?" Dia tampak tidak mempercayai ucapanku, membuatku memutar mata untuk yang kesekian kalinya.

"Ya, Brandon," Entah berapa kali aku menyebutkan namanya selama beberapa menit ini. " aku selalu mengalami ini jadi tidak perlu khawatir okey." Aku jengkel sekali dengannya.

Brandon menatapku selama beberapa detik kemudian berujar. "Baiklah. Kalau begitu kau harus meminum obat."

Aku langsung berjengit seraya menatapnya tidak suka sementara otakku sibuk memikirkan kalimat apa yang tepat.

"Hm, begini Brandon... kau tahu obat semacam...." belum sempat aku mengatakannya dia langsung memberiku senyum jenaka dan menggoda.

"Kau takut sama obat?" Tebaknya langsung.

"Tentu saja tidak!" Sergahku membalasnya ketika langsung merasakan kedua pipiku yang memanas karena tatapannya yang hm, seksi.

Sial! Ada apa denganku?!

Otakku belum bisa mencerna semuanya ketika secara tiba- tiba Brandon justru memasukkan obat itu kedalam mulutnya- mengigitnya dua kali, masih dengan tatapan kearahku ketika menarik leherku dan...

Glup.

Rasanya sangat pahit ketika obat itu melewati tenggorokanku. Aku cukup terkejut dan terperanggah dengan kejadian barusan ketika ia justru menyodorkan segelas air padaku.

"Kau cerdas," lagi- lagi sarkasmeku muncul seraya mengambil air dari tangannya dan meneguknya hingga tandas. "Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau kau akan memikirkan cara itu."

Brandon terkekeh. "Apa itu membuatku kagum?"

Kuputar kedua bola mataku. "Jangan mimpi."

"Tapi kau menikmatinya."

Menikmatinya katanya? Oh well, memang sih.

"Aku tidak akan berkomentar atas kalimat yang berbahaya tadi."

Lagi- lagi Brandon terkekeh kemudian mengarahkan bibirnya ke keningku. "Aku akan menaruh ini di dapur dulu. Istirahatlah, sayang." Dan dia beranjak pergi seraya membawa mangkuk beserta gelas yang tadi kugunakan.

.
.

Aku terbangun dengan perasaan seperti dihantam oleh sekawanan sapi perah, terasa sakit dan pegal ketika menyadari kalau sebuah tangan berada diatas perutku yang telanjang. Aku ingat semalam memang dia berusaha meredakan sakitku dengan menyentuh dan mengusap perutku dengan tangannya yang langsung membuatku terlelap.

Kubalikkan tubuhku yang sebelumnya terlentang agar bisa berhadapan dengan dirinya ketika ia juga bergerak seiring ia yang membuka matanya.

"Hai," Dia menyapa dengan suara khas bangun tidurnya. "Bagaimana tidurmu?"

Aku tersenyum sementara jari- jariku mulai menyentuh sekitaran pipi dan alisnya, membuatnya mendesah. "Hai juga. Tidurku nyenyak. Terima kasih."

Dia terdiam kemudian tanpa kuduga Brandon menarikku dalam dekapannya.

"Kau baik- baik saja?" Tanyaku setelah mendengar deru napasnya yang terdengar aneh.

"Tidak." Balasnya semakin membawaku dalam dekapannya.

Kulepaskan tubuhku dari tubuhnya dan mendongak. Tatapan matanya terlihat berkabut seakan menahan... gairah?

"Kenapa tidak?" Tanyaku mulai penasaran.

"Karena dirimu."

Hah?

Aku tidak tahu apakah ini karena masih terlalu pagi atau memang aku yang terlambat memproses semuanya hingga tidak mengerti apa yang dikatakannya. Kuarahkan bibirku kebawah rahangnya ketika deru napasnya semakin tertahan.

"Apa kau tidak bisa tidur karena aku?" Tanyaku

Brandon menggeleng tapi juga senyum muncul di bibirnya kemudian beralih ke bibirku. Awalnya hanya lumatan- lumatan kecil ketika beralih menjadi kebutuhan.

"Aku menginginkanmu, Elena," bisiknya penuh gairah. "Tapi aku tahu kau tidak bisa." Lanjutnya sedih.

Seperti sekawanan kupu- kupu yang masuk kedalam perutku, kutarik kembali bibirnya ke bibirku. Sekarang aku mengerti apa yang diinginkannya dan merasa sedih karena tidak bisa mengabulkan keinginannya tapi ada cara lain yang bisa aku lakukan untuknya. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku saat ini.

"Kau masih bisa melakukannya." Bisikku masih mengalungkan kedua lenganku di sekitaran lehernya dan tersenyum seraya mengedipkan sebelah mataku menggodanya dan tanpa sempat membuat dirinya berpikir lagi, kutarik lehernya lagi dan menciumnya dengan rakus.

Aku tidak mengerti apa yang telah dia lakukan padaku, yang aku tahu adalah aku akan memberikan apapun untuknya termasuk jika ia meminta hidupku.

Kurasa aku telah terjatuh sangat dalam karenanya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS