LOVEHATE- SEMBILAN
Hari sudah larut malam ketika aku pulang ke rumah dan terkejut mendapati Claire dan pria yang pernah di bawanya ke rumah.
Mereka berdua sedang asyik bercumbu diatas sofa yang biasa kutempati untuk mengerjakan mengetik tugas akhirku dan tidak menyadari akan kehadiranku.
Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mau biasa saja tapi adegan di depanku ini sangat panas bahkan atmosfer di sekitarku juga ikut panas. Mau keluar dan menunggu di luar juga sudah terlanjur masuk.
Tiba- tiba sekelebat aku melihat tangan pria itu mulai masuk kedalam pakaian Claire dan tidak butuh menjadi orang pintar untuk mengetahui apa yang pria itu ingin lakukan.
Gawat. Apa yang harus kulakukan?
Aku mulai panik menghadapi situasi seperti ini. Sudah jelas terpampang apa yang akan mereka lakukan di ruangan ini, diatas sofa ini dan depan mataku. Bagaimana kalau tiba- tiba Bran... eh? Pikiranku mendadak terhenti ketika mendapati pria itu justru melihatku dengan tatapan... okey, ini aneh.
Aku terperangah. Sungguh. Pria itu tahu aku berada disini, sedang melihat dirinya yang mengerayangi tubuh, well adik dari suamiku? Ah, masa bodohlah dan tidak menghentikannya? Dan kenapa dia menatapku seperti itu?
Tubuhku mendadak kaku ketika telingaku menangkap suara Claire yang mulai mendesah, melenguh karena sentuhan tangan pria itu dan pria itu tetap melanjutkan ciumannya tanpa sama sekali melepaskan tatapannya dariku.
Aku merinding. Bukan karena kegiatan yang mereka lakukan atau karena dinginnya udara diluar sana tapi aku merinding karena pria yang didepanku ini justru melihatku dengan tatapan seakan akulah yang dinikmatinya. Sial!
Kumantapkan hatiku yang kemungkinan besar akan membangkitkan amarah Claire lagi. Aku berdehem kecil beberapa kali untuk menarik perhatian Claire dan ternyata berhasil membuat Claire sadar dan dengan segera menjauhkan bibirnya dari pria itu. Aku bisa melihat sudut bibir pria itu berkedut menahan senyum dan Claire yang sekarang memberiku tatapan marah. Okey, aku sudah mengantisipasinya kan?
"Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa kau tidak membuat suara ketika kau datang? Apa kau ingin menonton adegan seksku secara langsung?!"
Oh Tuhan! Aku bisa merasakan pipiku yang mendadak panas karena ucapannya, ditambah lagi aku membayangkan hal itu. Sialan!
Aku kembali berusaha menfokuskan pada apa yang diucapkannya dan bukan pada apa yang hampir terjadi. Biasanya itu berhasil pada diriku.
"Sudah kulakukan tapi kalian terlalu asyik bermesraan dan tidak menyadari keberadaanku." Aku menjawab dengan nada dingin dan mengernyit ketika menangkap tatapan mata pria itu masih mengarah padaku. Aneh, kenapa aku merasa tidak asing dengan dirinya? "Oh, dan jangan coba- coba kalian melanjutkan kegiatan kalian tadi di dalam kamar." Aku mengeluarkan jurus andalanku dan mengancam Claire agar bisa mengerti. Pria itu sama sekali belum mengalihkan tatapannya dariku. "Karena kalimatku tempo hari masih sama." Kali ini aku mengarahkan tatapanku pada pria disamping Claire yang seperti yang menyunggingkan senyum samar padaku.
Tak kusangka, Claire justru berdiri dari tempatnya tanpa perlu repot- repot memperbaiki pakaiannya terlebih dahulu yang sudah separuh terbuka memperlihatkan tonjolan payudaranya
"GaKau. Tidak. Punya. Hak. Di. Rumah. Ini." Claire mengatakannya dengan wajah tegasnya sementara jari telunjuknya terus menekan dadaku dengan keras seiring setiap kata yang diucapkannya.
"Aku tidak peduli."
Aku memang tidak peduli dengan apapun yang menyangkut dalam rumah ini. Yang kupedulikan adalah Claire menghentikan kegiatannya tadi dan sudah jelas dia sudah tidak memiliki perasaan lagi untuk melakukannya, mengingat aku sudah menghancurkan suasana hatinya saat ini.
Kulangkahkan kakiku menuju kamarku dan mendesah lega setibanya didalam sini. Setelah menyimpan tas dan buku- bukuku di atas meja. Aku melangkah ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur yaitu berendam didalam air hangat guna merilekskan tubuhku. Satu- satunya yang membuatku penasaran adalah kenapa pria tadi terus saja melihatku?
Ah sial! Aku bahkan lupa mencari tahu namanya.
.
.
Aku bangun lebih cepat keesokan paginya, merasakan kepalaku yang terasa berat. Kemungkinan karena aku terlalu lama berendam semalam ketika tidak pernah terlintas dalam benakku kalau Claire akan menahan tubuhku sebelum kakiku melangkah keluar.
Wajahnya menyiratkan amarah yang luar biasa dan dugaanku benar, dia tidak jadi melakukannya dengan pria yang dianggapnya pacarnya itu dan entah mengapa aku justru bersyukur karena itu.
"Kau iri kan?" Tuduhnya sementara sebelah tangannya masih menahanku disebelah pintu.
Aku mengernyit, merasa bingung. "Iri kenapa?"
"Kau iri karena hingga sekarang Brandon tidak pernah menyentuhmu. Kau iri karena Brandon bahkan tidak pernah tertarik padamu. Apa kau lupa kau ini hanya benalu yang diperlukan untuk menutupi aib yang sudah dilakukan kakakmu yang sok suci itu. Intinya kau sama sekali tidak berguna!"
"Claire!"
Entah bagaimana Brandon bisa muncul diantara kami dan menghardik Claire. Aku begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Claire dan kenapa ini justru terasa menyakitkan? Bukankah pada kenyataannya, apa yang dikatakan oleh Claire itu benar? Aku menutupi apa yang sudah diperbuat Julia.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Sergah Brandon seraya menjauhkan tubuh Claire dariku.
"Tanya perempuan ini! Hanya karena dia sudah menjadi istrimu bukan berarti dia punya hak penuh atas rumah ini juga." Tuding Claire marah.
"Apa yang kau bicarakan?" Brandon mengernyit heran kemudian matanya beralih padaku. "Apa yang sudah kau lakukan lagi?"
Lagi? Dia mengatakan lagi? Memang apa yang sudah kulakukan hingga harus mendapatkan kehormatan kata 'lagi' itu?
Kukerjapkan mataku beberapa kali. Tidak Elena, jangan terpancing. Jangan melakukannya.
"Aku akan tetap melakukannya bahkan jika aku harus mendapatkan hukuman karena itu." Hardikku merasa sangat marah.
Plak!
Aku merasakan pipiku yang mendadak panas. Claire baru saja menamparku dan Brandon hanya menatap adiknya dengan kaget.
"Aku akan anggap pembicaraan kita selesai sampai disini."
Dan tanpa menunggu lagi, kulangkahkan kakiku keluar dari tempat yang sangat memuakkan itu, meninggalkan Claire yang melolong marah dibelakangku.
Seharusnya aku ke kampus hari ini. Aku memiliki jadwal pertemuan dengan professor yang menjadi pembimbingku tapi suasana hatiku sedang sangat buruk. Alih- alih menuju kampus, aku justru melangkah menuju satu- satunya tempat yang kukenal dan itu adalah kafe milik Josh.
Hari masih tergolong sangat pagi. Biasanya Josh akan membuka kafenya menjelang siang hari atau setelah makan siang dan kuputuskan untuk menunggunya di depan pintu kafenya seraya berjongkok memeluk lututku.
Entah berapa lama aku dalam posisi ini ketika aku merasakan sebuah pergerakan dan menoleh ketika mendapati Josh yang melihatku dengan pandangan kaget. Dia ikut berjongkok hingga kemudian aku melihat alisnya yang saling bertaut sementara sebelah tangannya mulai menyentuh pipiku yang kena tamparan tadi.
Josh sama sekali tidak bertanya. Yang ada dia justru membantuku berdiri kemudian menggendongku ketika merasakan kakiku yang mendadak mati rasa karena terlalu lama berdiam diri didepan kafenya tadi kemudian mendudukkanku di meja konter.
Josh pergi kemudian kembali semenit kemudian dengan membawa salep pereda nyeri di tangannya lalu mengoleskannya ke pipiku yang terasa perih. Pasti pipiku memerah karena itu. Aku tidak menangis tentu saja dan sebenarnya aku tidak boleh menangis.
"Kau akan baik- baik saja." Josh membawaku dalam dekapannya sementara terus menggumankan kalimat yang seperti mantra bagiku hingga berkali- kali, membuatku terlena dan pada akhirnya kegelapan mengambil alih tubuhku.
***
Comments
Post a Comment