LOVEHATE- SEPULUH
Brandon PoV...
Ini pertama kalinya aku merasa sangat marah pada Claire. Aku tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka tapi ketika melihat Elena ditampar seperti itu, membuatku seperti merasakan sakitnya juga.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu tapi ketika melihatnya dia sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun. Aku benar- benar penasaran dengan perselisihan diantara mereka. Okey, ini mungkin dari pihak Claire saja karena selama aku memperhatikan Elena, gadis itu sama sekali tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan oleh Claire bahkan Elena cenderung menghindar.
Sejak Claire mengetahui kalau aku akan menikah karena perjodohan, dia sudah memperlihatkan sikap ketidaksetujuan. Entah apa yang menjadi penyebabnya tapi setelah dipikir lagi kala itu yang dijodohkan denganku adalah Julia dan bukannya Elena. Apa Claire tidak menyukai kedua saudara itu? Tapi kenapa?
Memikirkannya pertengkaran mereka tadi membuatku kesulitan untuk berkonsentrasi jadi setelah menyelesaikan rapat yang entah rasanya seperti seabad, kuputuskan untuk pulang dengan alasan keluarga. Aku berharap Claire ada di rumah dan mungkin saja kami bisa berbicara dari hati ke hati. Biar bagaimanapun, dia adalah adikku satu- satunya. Sudah seharusnya aku bertanggung jawab atasnya.
Aku baru saja membuka pintu rumah ketika bukannya Claire yang kutemui melainkan Elena yang bergoyang mengikuti alunan musik milik Fergie- London Bridge. Dia tampak bahagia dan lebih ceria seakan kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi.
Mataku meneliti pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih yang dipadu padankan dengan hotpants, memperlihatkan kakinya yang putih dan jenjang. Rambutnya sengaja dia ikat ponytail menampilkan lehernya yang tampak menggoda.
Hot.
Tawaku hampir saja meledak ketika melihat ekspresi kaget di wajahnya ketika berbalik tadi. Aku menyukai wajah kagetnya, sangat menggemaskan dengan mata yang semakin lebar dan bibir yang terbuka. Seperti ikan mas koki, lucu sekali dan kemudian aku tertegun, dia tersenyum. Senyum yang sangat tulus.
"Kau sudah pulang?" Elena berjalan kearahku sementara kedua tangannya sibuk menyiapkan berbagai macam makanan diatas meja. "Apa kau lapar? Aku baru saja membuat ayam cillada. Kuharap kau tidak keberatan dengan masakan pedas. Oh iya, aku juga membuat pasta dan French fries," dia memberitahu kemudian berhenti sementara hidungnya mengernyit, sangat lucu. "Kurasa aku membuatnya terlalu banyak." Komentarnya tanpa jeda.
Aku tidak bisa memalingkan wajahku darinya, merasakan perasaan aneh yang mendadak muncul.
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya padaku.
Aku tertawa lalu mengambil tempat duduk yang menghadapnya. Lagi- lagi dia mengernyit.
Apa lagi?
"Hm Brandon. Kurasa ada baiknya kalau kau mengganti bajumu dulu setelah itu kembali lagi kesini."
Aneh, tapi tetap menuruti kemauannya setelah berganti pakaian dengan pakaian biasa. Aku kembali berjalan menuju dapur, tidak sabar menemuinya.
Bau semerbak makanan tiba- tiba menyeruak di hidungku.
"Kelihatannya enak." Pujiku tulus seraya memperhatikan hasil masakannya yang tampak menggoda selera. Elena tersenyum menimpali sementara kedua tangannya sibuk menaruh masakannya ke piringku.
Ini pertama kalinya aku memakan masakannya dan ini luar biasa enak. Aku bahkan tidak ingat kalau akulah yang sebagian besar mengambil alih masakannya.
Dia tertawa setiap kali aku meminta tambah. Tawanya terdengar seperti lonceng dan renyah dan aku semakin ingin mendengarnya tertawa. Lalu aku berhenti ketika melihat pipinya yang tampak memerah hasil tamparan Claire pagi tadi.
"Apa masih sakit?" Oh, dasar bodoh! Tentu saja itu sakit. Kau sudah melihat bagaimana tamparan itu membekas di pipinya.
Dia tersenyum, senyum yang tampak terpaksa. "Bohong kalau aku bilang tidak," cebiknya. "Kurasa Claire kehilangan kontrol atas tangannya."
Aku menatapnya selama beberapa saat. Apa dia sedang mencoba menghibur dirinya sendiri?
"Maaf." Jujur aku menyesal karena tidak bisa mencegah Claire.
"Kau tidak bersalah Brandon," katanya tersenyum lagi. "Kan bukan kau yang menyuruhnya menamparku."
Aku terdiam. Terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya. Apa dia memang selalu seperti ini? Sangat positif?
Kami berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing- masing hingga tidak sadar kalau aku sudah menghabiskan seluruh masakannya.
"Well, karena aku sudah memasak makan malam yang rupanya sebagian besar kau yang habiskan. Jadi kau yang bertugas mencuci ini semua.
Aku terperanggah sementara kedua mataku menatapnya, berusaha mencari nada main- main yang ternyata tidak ada. Dia tanpa ragu menyuruhku cuci piring yang mana semua wanita yang kukenal tidak pernah memerintahku melakukan sesuatu seperti yang barusan ia lakukan. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik berada diatas ranjang alih- alih dapur karena akulah yang mengontrol mereka dan bukannya mereka yang mengontrolku.
Aku baru saja menyabungi piring ketika aku merasakan pergerakan disampingku.
"Akan lebih cepat kalau kita mengerjakannya berdua". Katanya seraya membilas piring yang sudah kusabungi.
Sementara dia sibuk dengan membilas piring- piring itu dan menatanya, diam- diam aku juga menghirup aroma perpaduan antara coklat dan stoberi dari rambutnya. Sangat membuat tenang.
Selang beberapa jam. Kami berdua naik ke atas tempat tidur kami. Elena bahkan tetap bersikukuh untuk tidak tidur diatas sofa begitupun dengan malam- malam selanjutnya dan sejujurnya aku tidak ingin dia berpisah dariku.
Dari yang kupelajari selama ini. Elena orangnya mudah terlelap. Jadi kupandangi dirinya ditemani nyala lampu tidur yang sedikit remang- remang yang untungnya menghadap kearahku karena pipinya yang sudah pasti masih sedikit sakit jika di tekan.
Kupindahkan anak rambut dari pipinya. Memperhatikan mata, hidung dan terakhir aku sengaja menyisakan bibirnya. Bibirnya terlihat pink alami dengan bibir bawah yang sedikit lebih penuh.
Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya jadi kudekatkan wajahku ke wajahya pelan, tidak ingin membuatnya terbangun. Kuhirup aromanya dalam- dalam sebelum mengecup bibirnya.
Bibir itu diam tapi hangat dan cukup membuatku merasa ada sedikit gelenyar muncul dalam diriku yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Kulepaskan bibirku darinya dengan perlahan kemudian aku mendengarnya berguman.
" maaf. Maaf Julia".
Aku mengernyit. Kenapa Elena meminta maaf pada Julia? Kupandangi Elena lebih dekat tapi dia tidak mengatakan apa- apa lagi.
***
Comments
Post a Comment