LOVEHATE- TIGA BELAS

Elena PoV...

Damn! Ini semua karena Brandon pagi tadi. Apa maksudnya coba dia menciumku seperti itu? Itu memang bukan ciuman pertamaku tapi yang benar saja. Ini sih sama saja dengan pemerkosaan meskipun hanya di bibir.

Dan dasar jantung sialan! Kenapa selalu saja berdetak lebih kencang tiap kali mengingat bibir itu. Apa sekarang aku mulai terkena serangan jantung?

Ah, tidak mungkin. Seingatku aku tidak pernah punya riwayat jantung. Hal yang paling mencurigakan adalah jika aku mulai menyukainya.

Tunggu, apa aku memang menyukainya? Brandon memang tampan. Okey, tampan tidak akan cukup untuk mengambarkan dirinya. Dia sangat sangat sangat sangat sangat tampan. Dengan alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, warna matanya biru yang sangat memabukkan, belum lagi bibir dan aroma tubuhnya ketika menyentuhku tadi.

Astaga... aku pasti sudah gila dan berhentilah berpikir yang macam- macam Elena. Brandon milik Julia. Kau tidak berhak memilikinya sementara Julia di luar sana tidak di ketahui keberadaannya.

Kuhembuskan napasku sedikit lebih keras kali ini ketika mendapati tatapan jengkel dari beberapa orang di sampingku. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi jika perasaanku sekalut ini jadi setelah meminta maaf, kubereskan buku dan laptopku- membawanya keluar dari perpustakaan sebelum mereka beramai- ramai memutuskan untuk melemparku keluar.

Aku baru saja menyalakan kembali laptopku di taman dekat tidak jauh dari perpustakaan ketika mendengar nada dering dari ponselku dan mengernyit saat menyadari kalau itu adalah panggilan Internasional.

"Halo?"

"Elena?"

"Bibi Samantha?" Aku memekik senang. Sudah lama aku tidak mendengar suara bibiku itu sejak dia... dia pergi tanpa memberitahuku.

"Bagaimana kabarmu sayang?"

Setidaknya dia menghubungi. Itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memikirkannya membuat perasaanku membuncah karena senang.

"Buruk bi," keluhku. Aku begitu merindukannya hingga rasanya ingin menangis. "Kenapa Bibi tidak memberi tahuku kalau Bibi akan pergi?"

"Maaf sayang tapi waktu itu Bibi melihatmu terburu- buru lagipula tidak sopan jika kau terus berjauhan dengan Brandon. Apa yang akan di katakan keluarga dari suamimu kelak."

Aku mengerang frustrasi atas jawaban yang dilontarkan Bibi Samantha barusan. "Mereka dan Bibi sendiri tahu alasan kenapa aku menerima pernikahan ini."

"Bibi mengerti, sayang tapi rasanya tidak etis jika kalian tidak tinggal bersama. Apa yang akan dikatakan mertuamu jika kau terus saja menghindarinya?"

Hah? Apa? Tidak etis katanya?

"Kami menikah hanya di atas kertas, Bi." Ujarku mengingatkannya.

"Tapi dia tetaplah suamimu yang sah."

Ugh, aku benci pembicaraan ini.

"Jadi apa Bibi sudah menemukan Julia?" Kualihkan pembicaraan yang memuakkan ini sebelum otakku meledak karenanya.

"Ti- tidak."

Oh bagus! Sekarang Bibi Samantha membohongiku. Mengetahuinya membuat hatiku sakit.

"Apa Bibi yakin Julia tidak pernah menghubungi Bibi?"

"Tidak."

Okey, terlalu cepat.

Aku meringgis menyadari kalau Bibi bahkan menyembunyikan keberadaan Julia.

"Well, kalau begitu jika Julia menghubungi Bibi. Bisakah Bibi menyampaikan pesan dariku?"

"Ten..tentu sayang. Pesan seperti apa?"

Kupejamkan mataku sesaat. "Katakan padanya, berhenti melarikan diri, toh sudah tidak ada gunanya. Semuanya sudah terjadi, jangan karena masalah kecil menjadi besar. Tidak semua orang bisa melindungi apa yang kau perbuat." Aku terdiam begitupun dengan Bibi Samantha diseberang. " okey, itu saja." Ucapku mengakhiri.

"Elena, sayang?"

"Maaf bi," aku memotong ucapan Bibi Samantha cepat. "Aku sedang berada di perpustakaan. Aku Akan menutup sekarang."

Tanpa menunggu jawaban lagi, kuputuskan sambunganku dan melempar ponselku kearah sampingku dan mengerang jengkel.

"Elena?"

"Jo?"

Aku memberikan Joanna tempat duduk kosong disampingku tapi dia justru memberiku tatapan intens, "ada apa?" Tanyanya.

Aku menggeleng. "Hanya sakit kepala." Jawabku seraya tetap memijat pelipisku yang terasa sakit.

"Aku akan mengantarmu ke dokter."

Aku terkekeh. "Yang benar saja, ini hanya sakit kepala biasa Jo, akan hilang sebentar lagi."

"Jangan terlalu memaksakan diri. Kau membutuhkan waktu untuk dirimu sendiri, mengerti?" Ancamnya tapi membuat tawaku meledak. "Oh iya, aku sudah bertemu dengan pemilik perusahaan Hill Inc."

"Eh apa itu?" Aku bertanya bingung tapi justru mendapatkan pukulan disertai tatapan tajam darinya.

"Kau tidak tahu?" Dia memberiku tatapan mencemooh khas miliknya.

"Kalau tahu, tidak mungkin aku bertanya tuan putri." Sungutku kesal.

"Kau harus lebih banyak membaca tabloid pengusaha."

Keningku semakin bertaut bingung, "sekarang kau membaca itu? Dan bukannya tabloid fashion atau artist?"

Joanna tersenyum malu- malu. "Well, kemarin aku mengikuti acara yang mengundang para pengusaha dan disitu aku melihat mereka."

"Mereka?"

"Ya. Harry James Patterson dan Brandon Demian Hill."

Aku mengernyit heran mendengar nama lengkap Brandon disebut dan lebih heran lagi ketika Joanna yang mengatakannya.

"Ada apa dengan mereka?" Aku bertanya khawatir. Entah mengapa mendengar nama suamiku disebut membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Kau tahu, mereka terlihat sangat tampan. Astaga bahkan para wanita disana berebutan untuk berdansa dengannya."

Eh?

"Apa Brandon mengiyakan ajakan mereka?" Aku mulai penasaran tapi berusaha untuk tidak terdengar terlalu bersemangat.

"Tentu saja," jawabnya memberi senyum penuh arti. "Kurasa aku jatuh cinta."

Eh?

"Aku menyukai Brandon Demian Hill."

Apa?!

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan mulai merasakan perasaan gelisah hingga bisa merasakan rasa asin yang tidak biasa di bibirku.

"Elena?" Joanna menyentak tubuhku agak lebih keras dan mencoba untuk tidak menampilkan wajah kagetku. "Ada apa? Kau baik- baik saja?" Tanyanya kemudian.

Lidahku rasanya kelu karena apa yang baru saja diberitahukan oleh Joanna.

"Kau baik- baik saja?" Tanyanya lagi.

Aku mengangguk. "Ya. A-aku hanya merasa tidak enak badan." Dustaku.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS