LOVEHATE- TIGA DUA
Aku tahu aku memang bodoh dan tidak memikirkan konsekuensinya ketika mengutarakan keinginanku tapi sulit rasanya berpikir dengan jernih ketika dihadapkan pada suatu dimana orang yang kau rindukan selama ini mendadak muncul dan menginginkanmu kembali, tidak peduli dengan apa yang sudah dilakukannya.
Dan kurasa ini karena aku mencintai Brandon hingga bisa melakukan hal ini. Iyakan? Aku memang bodoh!
Agar bisa berdekatan dengannya, aku menolak untuk berpisah dengannya. Maksudku berpisah adalah aku tidak ingin dia menempatkanku di kamar yang lain (bukan berarti dia mengatakannya tapi aku takut kalau dia yang lebih dulu mengatakannya jadi aku langsung mengutarakan keinginanku itu). Brandon tidak mengatakan atau merespons kalimatku ketika tiba di rumahnya.
Oh! Rumah yang aku maksud bukan lagi rumah yang sebelumnya kami tinggali. Brandon memiliki penthouse, sesuatu yang tidak kuketahui sebelumnya tapi ya, Brandon memang memilikinya dan kabar baiknya adalah Claire tidak tinggal bersama kami, aku tahu... aku tahu ini mungkin terdengar kejam tapi aku menginginkan privasi dengan Brandon dan dengan kehadiran Claire yang tinggal bersama kami membuatku tidak bisa melakukan apa- apa. Aku menyukai Claire tapi kami tidak bisa tinggal dalam satu atap jika Claire masih berprasangka buruk padaku.
Rasanya tubuhku hampir tidak bisa digerakkan lagi dan mengingat selama aku selalu tidur di sofa membuatku semakin merasa kepayahan tapi meskipun begitu, aku juga rutin memeriksakan kandunganku. Setidaknya aku harus menjaga dan memikirkan kehidupan lain yang saat ini bersamaku terlepas dari apa yang selama ini kurasakan.
Suhu tubuhku meningkat dan menurut Sisca, itu adalah hal yang biasa mengingat sebulan lagi aku akan melahirkan. Sungguh luar biasa aku masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Aku tahu kalau mereka didalam sana sangat kuat dan tangguh. Untuk itulah aku juga harus bertahan dan kuat sama seperti mereka dan menyarankan untuk tetap mengkomsumsi buah dan banyak meminum air putih agar aku tidak dehidrasi nantinya.
Aku baru saja menandaskan dua gelas air dan sedang mencari bahan makanan untuk kuolah (kehamilan ini ditambah dengan anak kembar di perutku membuatku mempunyai nafsu makan yang gila- gilaan. Aku berusaha keras untuk tidak memikirkan nafsu lain selain makanan, yang sebenarnya tidak mudah) ketika merasakan kehadiran seseorang dan terlonjak.
"Astaga!" Aku mengerang frustrasi ketika melihat Brandon yang justru hanya diam melihatku dengan tangan yang didekapkan di dada. "Tidak bisakah kau membuat suara ketika kau datang?"
Aku sedang hamil anaknya dan dia ingin membuatku mati karena serangan jantung. Gezzz...
"Apa yang kau lakukan?"
Kuhela napasku panjang. Seandainya dan kuharap ini benar- benar terjadi, aku sangat ingin memukul kepalanya dengan panci yang bisa kuraih ketika melihat penampilannya. Brandon tampak sangat kusut dan oh! Luar biasa tampan ketika kembali aku terenyak. Brandon berbicara padaku? Dia... mengajakku bicara? Apa ini hanya halusinasiku sendiri? Atau ini benar- benar nyata?
"Ada apa?" Dia memberiku ekspresi bingung sementara sebelah alisnya terangkat, memandangiku.
Wow! Ini harus dirayakan. Brandon akhirnya mengajakku bicara. Dia akhirnya berbicara padaku. Entah kenapa perasaanku seperti membuncah karena bahagia.
"Kau..."
"Ada apa denganku?" Masih dengan ekspresi bingung yang terlihat jelas di wajahnya, dia memberiku tatapannya seakan menyiratkan aku sinting atau entahlah.
"Rasanya menyenangkan akhirnya kau mengajakku berbicara." Jawabku tanpa menyembunyikan senyum yang mungkin terlihat jelas di wajahku lagipula siapa yang akan peduli. Aku? Aku tentu saja tidak akan memperdulikannya.
Dia terdiam dan aku tidak ingin membuatnya merasa tidak enak padaku.
"Aku lapar. Apa kau juga lapar?" Tanyaku mengalihkan topik yang bisa saja kembali membuatnya tidak mengajakku bicara lagi.
"Tidak."
Sangat singkat. Apa dia marah?"
"Oh. Baiklah." Aku tidak tahu apalagi yang harus kukatakan.
Aku baru saja berbalik membelakanginya dan hendak mengambil beberapa tomat di dalam kulkas ketika kembali mendengar suaranya.
"Apa yang ingin kau makan?"
Eh?
Kubalikkan tubuhku dan terperanggah ketika yang kudapati Brandon justru telah berada diatas kursi berhadapan dengan meja bar.
"B-Brandon?"
"Ada apa?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Duduk."
Aku terdiam kemudian kugelengkan kepalaku.
"Aku hanya ingin melihat apa yang ingin kau makan."
Aku mengerjap. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Apa yang ingin kau makan?"
"A-aku ingin makan pasta." Aku tidak mengerti ada apa dengannya. Apa terjadi sesuatu? Atau meteor baru saja menabrak tempat tidur dan mengenai kepalanya?
"Pasta?"
Aku mengangguk. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Oh."
Okey, ini tidak biasa. Karena lama tidak ada lagi suara darinya, kuputuskan untuk melanjutkan acara memasakku membuat pasta. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya tapi dari sudut mataku, aku bisa melihat dirinya yang terus memperhatikan apa yang sedang kulakukan.
"Kembalilah tidur, Brandon." Akhirnya aku tidak tahan lagi melihatnya yang hanya diam seraya matanya terus menatapku. Rasanya seperti aku sedang berada dalam pengawasan dan ini sangat tidak membuat nyaman.
"Aku tidak ingin tidur." Balasnya. "Kau tidak suka aku berada disini?"
Tentu saja tidak! Teriakku dalam hati tapi aku tidak mungkin mengatakannya. Hal konyol yang selama beberapa bulan ini diam- diam kulakukan adalah memotretnya ketika dia tidak menyadarinya dan membuatnya menjadi stiker- stiker kecil kemudian menempelkannya dalam pictorial book untuk calon anak kembar kami. Aku tidak ingin kehilangan moment Brandon bersama dengan bayi kami dan sebentar lagi akan tiba ke dunia ini.
Kuhembuskan napasku pelan dan tersenyum. "Tidak. Tetaplah disini." Aku menjawab.
"Kenapa?"
Okey, ini membingungkan. Kenapa dia justru melihatku dengan tatapan seperti itu?"
"Ini tempat tinggalmu, Brandon." Akhirnya aku mengatakan apa yang pertama muncul dalam benakku. "Dan ini juga dapurmu. Aku tidak punya hak dengan melarangmu mendatangi rumah dan dapurmu sendiri kan?"
Setelah menghela napas panjang. Entah berapa banyak udara yang telah kuhembuskan karena dirinya. Aku senang dia berada disini tapi juga bingung kenapa dia harus melakukannya.
"Apa kau yakin bisa menghabiskan semua itu?"
Awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan ketika aku melihat arah tatapannya dan menyadari kalau ia sedang membicarakan pastaku yang terlihat seperti untuk beberapa orang.
"Aku hamil, ingat?"
Hening. Kenapa kami selalu terdiam jika selesai mengucapkan satu kata?
"Ya. Kau hamil. Aku ingat."
Tanpa sadar aku tersenyum. Brandon tampak kesulitan merangkai kata- kata dan aku harus maklum, dia benci berada disini. Di dekatku tapi tetap ingin menemaniku karena mungkin saja dia berpikir kalau aku akan menghanguskan seluruh isi dapurnya.
"Kenapa kau pergi?'
Terpaksa aku berhenti dari menyendokkan pasta ke mulutku ketika hampir mencapai suapan kelima ketika mendengar pertanyaannya.
"Apa?"
"Kenapa kau pergi? Malam itu."
Aku tidak mengerti. "Kau yang menyuruhku pergi."
"Seharusnya kau tidak melakukannya. Harusnya kau tetap bertahan."
Sungguh! Apa telah terjadi sesuatu padanya?
"Aku tidak peduli kemana kau pergi, setidaknya itu masih ada didalam rumah. Kau bisa mengunci pintu kamar jika kau mau. Terserah." Lanjutnya.
Ada apa dengannya?
"A-aku tidak memikirkan hal itu." Jawabku akhirnya. "Lagipula Brandon, kau begitu marah saat itu. Begitupun dengan Claire. Aku tidak mungkin tidak pergi jika kalian berdua menyuruhku. Itu rumahmu dan aku tidak memiliki hak sama sekali pada rumah itu jadi..."
"Kau punya hak. Hak sepenuhnya karena kaulah istriku."
Aku mengerjap. Serius. Apa yang terjadi padanya?
Aku tidak tahu lagi harus berkata apa dan memutuskan untuk melanjutkan acara makan dini hariku ketika kembali ia bersuara.
"Dan kenapa kau ingin ikut denganku?"
"Apa?" Dalam hati aku mulai bertanya- tanya. Apa kehamilan ini bisa membuat otak lambat merespon suatu hal semacam pertanyaan?
"Ketika berada di depan apartemen Josh. Kau memilih untuk ikut denganku."
"Kau memintaku untuk pergi denganmu jadi aku ikut. Apa ada yang salah?" Tanyaku tidak mengerti.
Tidak ada jawaban dan aku merasa tidak nyaman berada dibalik tatapannya ketika mendadak ia berdiri dari tempatnya duduk, tanpa melihatku.
"Kalau kau sudah makan, pergilah ke tempat tidur. Jangan tidur di sofa lagi. Aku tahu kalau kau sangat tidak nyaman tidur disana." Dan dia pergi. Brandon pergi, meninggalkanku yang melonggo tidak percaya atas apa yang baru saja kudengar.
.
.
Aku sangat bersyukur. Akhirnya hari- hari penderitaanku di sofa berakhir. Aku sudah kembali tidur diatas tempat tidur dan kabar baiknya Brandon tidak pindah alias dia tetap tidur disampingku.
Hanya ada satu masalah yang harus kuhadapi ketika pertama kali membaringkan tubuhku diatas kasur. Ya. Aku kesulitan mencari posisi yang nyaman untuk perutku yang semakin membesar setiap harinya ketika tanpa kuduga, Brandon melakukan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benakku. Dia menyentuhku well, maksudku sebelah tangan Brandon mendadak berhenti diatas perutku dan ajaibnya aku langsung merasa tenang. Bayi- bayiku juga yang berada di dalam perutku juga ikut tenang. Aku tidak tahu apakah Brandon sengaja melakukannya atau tidak, melihat matanya yang ikut terpejam tapi aku tidak peduli.
Hari sudah sangat malam ketika kuputuskan untuk kembali dari toko buku ke tempat tinggal Brandon ketika mataku menangkap sosok- sosok yang kukenal yang berdiri di pelataran tempat tinggal Brandon. Terlihat jelas kalau Brandon juga baru saja tiba dari tempatnya bekerja ketika aku menyadari pandangan Josh dan terdiam ketika siapa yang sedang dipandanginya.
Luke?
Kuperhatikan Luke dan Claire sedang bergandengan tangan sementara Brandon tampak tidak setuju.
"Josh? Harry? Apa yang kalian..."
"Darimana?"
Aku terpaksa harus mengalihkan pandanganku sejenak ketika Brandon justru menatapku dengan tajam.
"Toko buku. Aku terlalu asyik melihat- lihat hingga tidak menyadari kalau hari sudah malam." Aku tersenyum kearah Brandon tapi sama seperti yang kemarin, tidak ada respon darinya. "Apa yang kalian lakukan di cuaca sedingin ini. Ayo masuk, Claire." Ajakku
"Jadi kau kembali, huh?" Tanyanya sinis. Tidak mudah memang meluluhkan hati Claire. "Setelah menghancurkan hubungan orang lain. Dasar ja..."
"Claire! Jika kau mengatakannya maka aku akan..."
Aku begitu terkejut mendapati kemarahan yang ditunjukkan Brandon pada Claire. Maksudku, aku tidak pernah melihat Brandon semarah ini pada Claire. Aku tahu Brandon sangat menyayangi adiknya. Aku kemudian beralih pada Luke yang justru melihatku dengan tatapan aneh di matanya. Entah berapa kali aku melihat bola matanya yang bolak- balik melihat wajahku dan perutku ketika sontak saja aku merasakan sebuah tarikan di lenganku. Josh memegang sebelah lenganku dan bersikap seperti sedang melindungiku dari semacam predator.
"Perhatikan matamu, Luke sebelum aku sadar telah mencongkel keduanya dan menjadikannya makanan anjing."
Jujur, mendengar Josh bersuara dingin dan berbahaya seperti ini membuatku merinding.
"Josh, kau...!" Aku bisa melihat kalau kedua mata Claire membelalak tapi Josh justru tidak memperdulikannya tapi sebaliknya malah melihatku dengan tajam.
"Dan kau!" Dia menunjukku dengan sorot matanya yang tajam. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah bertemu dengan si brengsek ini?"
Aku meringgis, tidak nyaman. Josh dan Brandon adalah orang yang sama yang tidak ingin kudengar amarahnya tapi aku berhasil membuat mereka berdua marah. Menurutku, baik Josh maupun Brandon sama- sama memiliki aura yang sangat menakutkan jika sedang marah.
"Sudah ku bilang, tidak ada gunanya kita berada disini. Ayo pergi." Kulihat Luke menarik tangan Claire paksa.
"Lepaskan dia." Harry menyeruak hendak menghentikan.
"Kau mengenalnya? Kau mengenal Elena?" Claire tampak baru saja ditampar di wajahnya.
Kupikir Luke akan mengelak tapi yang ada dia justru melihatku sejenak dan tersenyum pada Claire. "Tentu saja aku mengenalnya. Ada banyak pria yang berlomba ingin tidur dengannya."
"Apa?"
"Elena sangat cantik dan juga seksi dalam satu waktu."
"Kau... kau brengsek."
Ini tidak baik. Aku merasa kasihan pada Claire saat ini.
"Kau brengsek! Aku tidak ingin disentuh oleh pria brengsek seperti dirimu!" Claire melepaskan genggamannya dari Luke.
"Oh bagus!" Luke tertawa. Tawa yang sangat sinis. "Lucu sekali. Kaulah yang dulu memohon padaku untuk kembali padamu tapi sekarang kau justru menyebutku brengsek? Siapa yang lebih brengsek daripada aku Claire? Kau memukul seorang wanita yang sedang hamil karena kesalahpahaman dan hm, jika boleh kutambahkan kecemburuan antar wanita?" Sekali lagi Luke melihatku dengan senyuman di wajahnya.
"Jika sekali lagi aku melihatmu berada di dekat Claire maka aku akan..."
"Oh!" Luke memotong ucapan Brandon, membuat Brandon semakin menatap tajam. "Apakah sekarang kau akan kembali berperan sebagai suadara yang melindungi? Oh, kalau bisa, aku ingin meminta Elena. Kau tahu, Brandon? Seperti kataku tadi, begitu banyak pria yang ingin tidur dengan Elena tapi siapa yang menyangka kalau dia telah menikah diam- diam dan sungguh, harus kuakui kalau kau sangat beruntung bisa menidurinya. Bagaimana rasanya? Apakah seperti candu? Oh! Dan bahkan dengan kehamilannya pun, dia tampak semakin cantik dan juga seksi. Aku tidak masalah jika harus mendapatkan bar..."
Bukkk
Aku terdiam. Entah bagaimana Brandon telah melayangkan tinjunya pada Luke, membuat pria itu mundur hingga beberapa langkah.
"Sekali lagi kau mengatakan hal yang bukan- bukan tentang istriku maka aku tidak akan segan- segan membunuhmu!" Ancam Brandon.
Aku melihat tangan Luke terulur dan kembali meraih Claire.
"Lepaskan aku, brengsek." Claire meronta hendak melepaskan diri, memasang wajah jijik dan meludahi tepat ke wajah Luke.
"Brengsek!"
Mengikuti naluriku, aku berlari ketika melihat tangan Luke yang hendak memukul Claire, yang ternyata malah berbalik akan mendorong tubuh Claire ke jalanan dimana sebuah mobil terlihat sedang meluncur dengan cepat.
Claire selamat karena aku langsung meraih tangannya, ketika aku merasa tubuhku kehilangan keseimbangan dan terjatuh merasakan aspal yang keras dengan perut lebih dulu.
Jantungku rasanya berhenti saat itu juga ketika merasakan tubuhku dibalik oleh seseorang. Mulutku terasa perih dan dadaku rasanya terbakar hingga aku merasa ronggaku seperti akan meledak. Aku tersedak dan aku melihatnya... Brandon melihatku dengan tatapan cemasnya ataukah begitu? Dan dia seperti mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar dengan jelas. Telingaku rasanya berdenging hingga aku mendengarnya. Teriakan memilukan dan menyakitkan yang tidak pernah kudengar sebelumnya yang ternyata berasal dari... mulutku.
***
Comments
Post a Comment