LOVEHATE- TIGA EMPAT

"Hai sayang," ku usap wajah diam didepanku, lembut. "Apa kabar? Maaf karena aku terlambat beberapa menit dari yang kujanjikan kemarin. Ada beberapa klien penting yang datang. Kau tidak marah kan?"

Hening.

Kuambil napas sejenak kemudian menghembuskannya dengan pelan. Kedua anak kami memang selamat. Dokter berhasil menyelamatkan keduanya termasuk Elena sendiri tapi sebagai gantinya Elena harus mengalami koma yang berkepanjangan dan hari ini sudah memasuki bulan ketiga dia mendiamkanku seperti ini.

Josh akhirnya menceritakan tentang keadaan Elena yang sebenarnya. Elena pernah mengalami penyakit Haemolacria atau yang biasa disebut adalah tangisan darah dan menurut psikolog yang kebetulan mendiagnosa Elena kala itu, hal itu disebabkan karena Elena mengalami hal traumatis sehingga menimbulkan perasaan yang tak diinginkan oleh orang- orang disekelilingnya- membuatnya mengalami kesedihan yang paling dalam tapi Elena sudah dinyatakan sembuh sejak lima tahun yang lalu yang berarti ada penyebab lain hingga kembali menimbulkan penyakitnya tersebut. Josh mengatakan dengan gamblang jika kurang lebih kesedihan itu sangat besar berasal dariku.

Memikirkan kalau akulah penyebabnya membuatku merasa semakin bersalah pada Elena.

Kejadian lain yang tak kalah mencengangkan adalah adanya berita dua jam setelah perut Elena di bedah agar bisa mengeluarkan dua anak kami. Mrs. Eve, ibu kandung Elena juga menghembuskan napasnya yang terakhir. Dikatakan, kalau Mrs. Eve menolak untuk mendapatkan jantung Elena. Tentu saja karena aku juga berusaha mempertahankannya dengan mati- matian. Aku menolak jantung Elena diambil begitu saja meskipun ada surat yang menyatakan jika terjadi sesuatu pada tubuhnya maka Elena akan mendonorkan jantungnya pada ibu kandungnya sendiri.

Hanya sebuah pesan singkat dalam sebuah surat yang ditulis oleh Mrs. Eve dan ditujukan padaku- menantu tak tahu diri (begitu yang tertera dalam pembukaannya) dan keinginan agar menjaga putri satu- satunya dengan baik beserta cucu- cucunya (yang jika kupikir akan senang hati kulakukan meskipun tanpa diminta) serta memarahiku karena selalu meninggalkan Elena dalam rangka bisnis. (Kalau ini aku tidak tahu kalau Elena menceritakan tentangku pada ibu kandungnya dan sejak kapan aku meninggalkan Elena dengan sangat lama? Apakah itu karena Elena tidak pernah membawaku menemui ibunya? Apakah ibunya sering menanyaiku sehingga Elena mengatakan kalau aku sibuk bepergian karena bisnis?) oh, juga sedikit meninggalkan ancaman diakhir surat kalau ia tidak akan segan- segan mendatangiku dan juga menghantuiku jika aku sama sekali tidak melakukan apa yang sudah ditulisnya dalam surat.

Berbeda dengan Mrs. Eve yang mengirimiku surat panjang, kedua orang tuaku lebih menjurus ke acara verbal. Mereka berdua tidak menyangka akan sikapku yang menurut mereka sangat tidak dewasa. Claire juga tidak kalah mendapatkan amukan dari Mama karena sikapnya yang keterlaluan dan berani memiliki hubungan dengan pria sembarangan. Untuk saat ini, Claire harus tinggal kembali bersama Mama dan Papa beserta uang jajan akan dikurangi atau tidak diberikan sama sekali jika Claire masih senang dengan kegiatan foya- foyanya. Sesuatu yang membuatku langsung mengernyitkan dahi, begitupun dengan Mama dan Papa ketika Claire langsung menyetujuinya. Tanpa ada teriakan, amarah dan sejenisnya yang keluar dari mulutnya.

"Hey sayang, apa kau tahu? Leo dan Leah sudah bisa mengenaliku." Inilah yang selalu kulakukan semenjak Elena berada dalam 'tidur pulasnya' menceritakan tentang perkembangan anak kami. "Leah juga sudah bisa tersenyum ketika mendengar suaraku dan senyumnya sangat mirip denganmu. Kuharap kau bisa bangun dan ikut melihatnya bersamaku." Kugenggam kedua tangannya yang terasa hangat di tanganku. "Tapi mereka juga lebih sering menangis tapi juga sering tertawa. Sulit membedakan yang mana membuatku merasa terhibur. Tangisan mereka yang mengingatkanku kalau mereka sangat merindukanmu seperti aku yang merindukanmu atau tawa mereka yang menguatkanku untuk selalu optimis kalau kau akan bangun untuk kami."

Hening.

"Please Elena, apa kau tidak ingin membuka matamu dan melihat bagaimana perkembangan anak kita? Mereka merindukan sentuhanmu seperti yang biasa kau lakukan untuk mereka jika berada dalam dekapanmu." Lagi- lagi aku bercerita.

3 minggu setelah kelahiran Leo dan Leah.

"Bagaimana ini Brandon, mereka tidak mau berhenti menangis?" Rengek Mama kebingungan sementara ia berusaha menenangkan Leo, putra pertama kami dalam dekapannya.

"Aku juga tidak tahu, Ma." Balasku sementara aku berusaha menenangkan Leah, anak perempuan kembaran Leo. Sungguh aku juga tidak tahu harus melakukan apa untuk mereka. Tangisan mereka semakin kencang seiring berjalannya waktu dan ini yang paling parah. "Mungkin mereka lapar?" Tebakku.

"Mama sudah memberinya susu tadi."

"Tapi kenapa mereka menangis sekeras ini?" Kali ini aku panik. Mama yang pernah memiliki aku dan Claire pun tidak tahu harus bagaimana menghadapi Leo dan Leah.

"Apa mungkin mereka rindu Elena?" Tiba- tiba suara bibi Samantha menghentikan aku dan Mama dalam mendiamkan si kembar.

Kualihkan pandanganku kembali kearah Mama yang tampak sedang berpikir lalu melihatnya mengangguk. "Kurasa kau ada benarnya, Samantha."

"Tapi itu tidak mungkin." Seruku tidak mempercayai kesepakatan tak terucap diantara mereka.

Mama langsung memandangku tajam. "Kenapa tidak mungkin? Mereka berdua sudah bersama Elena selama hampir 9 bulan. Mama akan mencoba bicara dengan suster." Tegasnya dan tanpa menunggu lagi ia keluar dari ruangan bayi setelah sebelumnya menyerahkan Leo kedalam dekapan Bibi Samantha.

Selang beberapa menit, Mama datang dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Ayo kita ke kamar Elena." Sahutnya dan mengambil alih Leah dari dekapanku.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan Mama dan Bibi Samantha apalagi mengingat kondisi Elena yang sama sekali tidak memungkinkan ketika sedetik kemudian aku nyaris tidak dapat mempercayai apa yang sedang kulihat. Mama dan Bibi Samantha secara berbarengan menempatkan tubuh mungil Leo dan Leah di masing- masing dada Elena yang ajaibnya membuat mereka langsung terdiam bahkan terlelap sementara Elena yang sama sekali tidak bergerak.

"Ini sudah hampir memasuki bulan ketiga dan kau masih betah bermimpi." Kataku kembali pembicaraan satu arahku. "Aku membutuhkanmu Elena. Sangat membutuhkanmu. Bagiku kau adalah napasku, jiwaku dan aku merasa tidak lengkap jika kau tidak disisiku... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu hingga bahkan jika aku harus menghabiskan waktu bersamamu selama sisa hidupku, aku tidak yakin aku bisa menebus pengorbanan yang sudah kau lakukan selama ini untuk kedua anak kita." Kuhirup udara dalam- dalam. "Kembalilah sayang... Aku membutuhkanmu... Leo dan Leah, anak kita membutuhkanmu juga. Please kembalilah."

Kukecup keningnya dengan perasaan teramat sedih. Tidak pernah kubayangkan akan merasakan hal yang semenyakitkan ini bersamanya dan ini jauh lebih mengerikan melihatnya hanya berbaring diam dibandingkan ketika kami berpisah dulu.

"Kembalilah Elena, please," pintaku memohon. "Biarkan aku membayar kesalahanku dulu. Kumohon. Kembalilah padaku."

Air mataku jatuh seiring aku yang mengecup keningnya. Aku sungguh sangat merindukannya saat ini.

"Aku... membencimu Brandon."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS