LOVEHATE- TIGA LIMA
Elena PoV.
Elena...
Elena...
Elena...
"Halo sayang, namamu siapa?"
Kupandangi wanita nyaris separuh baya yang sedang berjongkok dihadapanku. Tatapannya ramah dan meneduhkan. Disampingnya juga berdiri seorang pria tidak kalah ramahnya sedang menatapku sambil tersenyum disampingnya berdiri seorang anak perempuan yang mungkin lebih tua beberapa tahun dariku melihatku dengan matanya yang besar.
"Elena," aku terdiam tampak ragu dengan wanita asing dihadapanku saat ini. "Bibi." Aku tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa. Aku tidak mengenalnya dan aku ragu dia ingin menculikku, melihat penampilanku yang kotor seperti ini.
Lagipula mana ada penculik yang ingin menculik anak yang tidak mempunyai keluarga dan hanya tinggal di panti sosial yang kumuh dan seperti kandang babi.
"Hm, Elena?"
"Ya?"
"Maukah kau menjadi kakak Julia?"
"Eh?" Kupandangi bibi asing itu lama kemudian melihatnya tersenyum.
"Ini namanya Julia." Katanya sambil membawa anak perempuan bermata besar itu didekatnya. Anak perempuan itu juga tersenyum padaku. "Dia kesepian dan ingin teman."
"Tapi dia sudah memiliki teman." Kataku seraya menunjuk boneka yang ku tahu harganya mahal. (Aku selalu melihat boneka itu ditempatkan didalam kaca toko- toko jika sedang menemani ibu panti ke pasar).
"Dia tidak bisa bicara. Aku ingin sesuatu yang bicara." Sahut Julia sambil mencebikkan bibirnya sangat lucu.
"Bibi ingin kau tinggal bersama kami, sayang dan menemani Julia." Bibi asing itu kembali membuka suara.
Aku tidak mengerti jadi kupalingkan wajahku pada ibu penjaga panti ketika ia melihatku dengan pandangan yang menenangkan.
"Mereka ingin menjadi orang tuamu, Elena. Apa kamu mau?" Kata ibu panti padaku.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi yang aku tahu mataku seketika berbinar ketika ibu panti mengatakan kalau ada orang tua lain yang ingin menjadikanku sebagai anak. Itu adalah impian setiap anak di tempat ini. Menunggu dan melihat jika ada orang tua yang berhati malaikat yang akan membawa kami.
Aku mengangguk merasa sangat senang tanpa sama sekali melepaskan pandanganku dari si bibi asing dihadapanku. Ini luar biasa. Akhirnya ada juga yang ingin menjadikanku sebagai bagian dari keluarga.
Wanita itu memberiku senyun yang semakin lebar sembari mengelus rambutku ketika tiba- tiba perasaan hangat tiba- tiba menyelusup masuk kedalam relung hatiku saat ia membawaku kedalam pelukannya.
"Mulai sekarang namamu adalah Elena Violetta Williams." Imbuhnya ketika aku mulai terisak karena bahagia.
.
.
"Julia, please." Pintaku setelah duduk diatas ranjang king sizenya.
Julia terlihat lelah ketika menatapku. "Memang apa lagi yang sudah kau lakukan kali ini?" Tanyanya putus asa.
Aku nyengir. "Aku tidak sengaja menabrak mobil ayah di pembatas jalan di sudut itu."
"Apa?" Aku tertawa ketika melihat matanya yang memang sudah besar semakin membesar karena melotot. "Kau gila! Kau bisa di cincang bukan sama ayah melainkan sama ibu."
"Justru karena itu Julia, kau harus menolongku." Pintaku lagi kali ini sambil menangkupkan kedua tanganku, memelas.
"Tidak. Tidak. Aku masih mau hidup." Dia berdiri dari tempat tidurnya.
"Ayolah Julia. Aku akan membalasmu suati hari nanti kalau perlu aku akan menjadi pionmu tapi tolong bantu aku. Kali ini saja."
Dia tampak menghela napas ketika melihatku. "Memang bagaimana caranya kau bisa menabrak pembatas jalan"
Jadi kuceritakan padanya tentang bagaimana aku menghindari seekor kucing yang sedang melintas dan tanpa melihat kalau ternyata aku malah menabrak pembatas disisi yang lain.
Julia melihatku dengan tatapan tidak percaya kemudian pemahaman tiba- tiba terlintas di kepalanya.
"Tunggu dulu. Bagaimana kau bisa mendapatkan kunci mobil ayah dan darimana kau belajar mengendarai mobil?"
Aku langsung menyunggingkan senyum banggaku. "Oh itu gampang. Diam- diam aku mengambilnya ketika ayah lengah dan aku diam- diam juga selalu memperhatikan ayah jika sedang membawa mobil. Aku jenius kan?"
Mata Julia sukses membelalak tapi tatapan matanya bukan mengarah padaku tapi kearah...
"ELENA VIOLETTA WILLIAMS!"
Dan aku tahu kalau hidupku akan berakhir saat ini juga dan jika Julia tidak membantuku maka hidupku benar- benar tamat kali ini.
.
.
"Aku ingin mencari ibuku."
"Apa? Apa kau gila?"
"Tidak. Aku serius Julia."
Julia menatapku dengan pandangan tidak percaya. "Apa yang mendasari semua ini? Ayah dan ibu baru sebulan ini meninggal dan kau ingin kembali pada orang yang sudah tega membuangmu ke tempat itu. Apa kau berniat untuk kembali padanya hah?"
"Tidak,"Ku gelengkan kepalaku. "Bukan seperti itu, Julia."
Kami berdua bertatapan dalam diam. "Terserahlah." Ucapnya marah. "Tapi asal kau ingat, kau masih berutang pion padaku untuk waktu itu."
Aku tersenyum. "Aku masih ingat. Memang kau mau menggunakannya kapan?"
Julia menangkat bahunya. "Tidak tahu. Sementara ini aku belum mempunyai masalah yang perlu melibatkanmu."
.
.
"Ma...ma?" Kupandangi wanita yang berdiri dihadapanku, tidak percaya. Akhirnya setelah beberapa bulan mencari keberadaannya aku menemukannya di bagian sekitar New Orleans.
Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan secantik ini. Aku tahu kalau dia sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha minyak dan telah memiliki keluarga kecil.
"Siapa kau?" Tanyanya sedikit kasar.
"Aku Elena. Putrimu yang kau tinggalkan di panti asuhan dulu."
Kedua keningnya saling bertaut, masih melihatku dengan tajam.
"Oh. Jika aku meninggalkanmu di tempat itu, itu artinya aku sudah membuangmu dan tidak membutuhkanmu."
Aku terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan penolakan seperti ini.
"Mama."
Ini tidak masuk akal. Bagaimana dia bisa setega ini padaku?
"Apa yang kau inginkan?"
Kubersihkan tenggorokanku yang mulai terasa perih. "Aku... aku hanya ingin menemuimu. Aku merindukanmu, Ma."
"Rindu?" Dia tertawa. "Bagaimana kau bisa rindu sementara aku tidak pernah merawatmu. Sekadar mengingatkanmu saja sayang, aku bahkan berniat membunuhmu ketika kau lahir dulu jadi sebelum aku memutuskan untuk masuk penjara. Mungkin ada baiknya kalau aku membuangmu saja toh, kau juga bukanlah anak yang kuharapkan kehadirannya."
"Ma..." Ini benar- benar tidak nyata. Ini pasti minpi. Mimpi terburuk sepanjang hidupku. Aku terlalu syok hingga rasanya air mataku sulit untuk keluar.
"Pergilah."
"Ma..."
"Pergilah gadis kecil. Melihatmu di sini membuatku merasa jengkel dengan mata yang kau warisi darinya."
"Ma...."
Hening.
.
.
"Aku berjanji akan menerima dan mencintai Brandon Demian Hill hingga maut memisahkan kami."
"Aku berjanji akan menerima dan mencintai Elena Violetta Williams hingga maut memisahkan kami."
.
.
"Astaga Brandon! Bisakah kau membuat suara jika kau datang? Kau selalu saja membuatku kaget."
Dia mengeluarkan tawanya yang semakin membuatku merasa jengkel.
"Kurasa aku mencintaimu, Elena."
Aku mencintaimu Elena.
Aku sangat mencintaimu.
Kembalilah padaku.
Aku mohon.
Jangan tinggalkan aku... Aku membutuhkanmu... Mereka sangat membutuhkanmu...
Kumohon sayang, kembalilah padaku... Ku mohon...
Elena?
Suara kaget terdengar dite telingaku.
Elena?
Berganti suara penuh kebahagian.
Elena?
Kenapa dia terdengar sedih? Apa yang membuatnya sedih?
"Elena sayang. Aku mencintaimu."
Aku seperti pernah mendengar pemilik suara ini.
"Kembalilah padaku, sayang. Aku membutuhkanmu dan... anak kita."
Anak kita? Tunggu? Aku ingat. Aku ingat apa yang terjadi tapi bukankah seharusnya aku...
"Leo dan Leah membutuhkan ibunya."
Tunggu.
Perlahan kubuka mataku. Awalnya terlihat kabur lalu tidak lama mulai terlihat jelas. Bahkan aroma maskulin dari pria yang sedang menyentuh keningku pun terasa sangat intens, membuat jantungku seketika berdetak lebih kencang.
Brandon?
Kucoba mengumpulkan ingatanku tentang dirinya. Dia pria yang sangat kucintai dan tunggu, bukankah aku sudah memintanya untuk...
Sekuat tenaga aku mencoba mengumpulkan kalimatku ketika aku mendengar suaraku sendiri meskipun agak sedikit serak dan lemah.
"Aku... membencimu, Brandon."
.
.
.
"Oh ayolah, Brandon." Aku membentaknya jengkel. "Bisakah kau berhenti melihatku seperti aku baru saja kembali dari luar angkasa?"
Dua minggu telah berlalu sejak kesadaranku kembali dan Brandon semakin hari semakin membuatku jengkel. Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya hanya saja tatapan yang diberikan padanya untukku seakan menyiratkan kalau dia masih tidak percaya aku disini dan berbicara padanya.
Masih jelas dalam ingatanku bagaimana ekspresi Brandon ketika melihatku pada akhirnya membuka mata. Dia terdiam dan hal selanjutnya yang terjadi adalah dia mulai menitikkan air mata.
Brandon menangis.
Lidahku rasanya kelu melihat penampilannya yang sangat jauh dari yang selama ini ditampakkannya. Dia masih terlihat tampan, tentu saja tapi berantakan seakan tak terurus kurasa bukan masuk dalam gaya hidup Brandon. Tiga puluh menit kemudian Mama, Papa, Bibi Samantha dan Claire yang sama sekali tidak kusangka seketika memelukku dan menangis terisak- isak. Aku masih belum terlalu bisa mengucapkan kalimatku tanpa harus terbatuk. Kurasa kala itu aku terlalu lama tertidur hingga bisa saja tenggorokanku rasanya kering.
Josh dan Harry tiba beberapa menit kemudian dan tampak sangat puas ketika melihatku. Apa aku baru saja mendapatkan hadiah yang sangat besar? Seperti sebuah pulau misalnya? Jangan tanyakan aku.
"Dan kapan aku diijinkan keluar dari sini?" Tukasku marah.
Semua peralatan medis tentu saja sudah dilepaskan tapi dokter yang merawatku mengatakan kalau aku masih butuh yang namanya perawatan dan mengecek kondisi tubuhku secara berkala.
"Sebentar lagi." Brandon menjawab kalem.
"Tapi berapa lama lagi?" Aku mulai merenggek padanya. Aku benar- benar benci harus berada di tempat ini lebih lama lagi.
Brandon terdiam lalu seraya tersenyum, ia beranjak dari sofa yang didudukinya menuju kearahku. Aku semakin merasa tidak bisa bernapas ketika ia justru duduk disisi tempat tidurku dan mengelus pipiku dengan lembut.
Hm, aku menyukai caranya yang menyentuhku.
"Aku tahu kau merindukan mereka," sahutnya lembut. "Dan aku yakin mereka juga sangat merindukanmu."
Ya. Aku rindu dan penasaran setengah mati dengan anak kami- Leo dan Leah, begitu yang Brandon katakan padaku. Brandon lebih sering menceritakan tentang perkembangan mereka dan menolak untuk memperlihatkan wajah mereka setiap kali dia melakukan video call dengan Claire atau mama Brandon, atau Bibi Samantha dan lebih parahnya lagi Josh dan Harry malah mendukung aksi ini.
"Aku merasa dikhianati." Ujarku merasa sakit hati.
"Dikhianati?" Kening Brandon berkerut tapi aku bisa melihat sudut bibirnya berkedut menahan tawa.
"Ya. Kalian bisa leluasa melihat mereka tapi aku? Aku bahkan tidak bisa melihatnya sekalipun lewat video call sialan itu." Sungutku tanpa bisa menahan diri lagi.
Tidak ada lagi istilah tentang menahan tawa dan sebagainya karena yang Brandon lakukan semakin membuatku merasa jengkel. Dia tertawa ketika aku membuka mata, dia tertawa ketika mendengarkan aku berbicara dan dia juga tertawa ketika melihatku marah. Apa ada yang salah dengan dirinya?
Hal selanjutnya yang terjadi adalah dia membawaku kedalam pelukannya, membuatku seketika melupakan amarah yang tadi kurasakan dan digantikan oleh sesuatu yang lain.
"Apa kau ingin menggodaku?" Tanyanya membuat bibirku seketika mencebik.
"Tidak." Elakku tapi tetap melihat wajahnya. Kurasa... kurasa sedikit menyentuhnya tidak akan membuatku kesakitan, iya kan?
"Kau tidak membuatnya ini menjadi mudah, sayang."
Detik selanjutnya yang aku rasakan adalah bibir Brandon sudah menyentuh bibirku dan berdasarkan naluri, kukalungkan kedua tanganku ke sekeliling lehernya. Mempertemukan lidah kami. Rasanya sangat menyenangkan bisa merasakan dirinya lagi setelah sekian lama. Brandon lebih cenderung menjaga jarak jika kami hanya berdua tapi kupikir itu karena dia tidak ingin menyakitiku tapi sepertinya pertahanannya kali ini sudah runtuh. Sama sepertiku, dia juga menginginkanku.
Entah berapa lama kami berciuman. Otakku rasanya melupakan dimana aku berada saat ini, yang kupikirkan hanyalah aku tidak ingin Brandon menghentikan ciumannya dan mendecak jengkel ketika Brandon yang pertama kali menghentikan ciumannya.
"Well," mataku mengerjap beberapa kali ketika melihat seorang suster dan beberapa dokter yang sedang memberiku tatapan geli yang tergambar jelas di wajah mereka. Membuat darahku seketika merambat naik ke kedua pipiku. "Sepertinya keadaan Elena jauh lebih baik daripada yang kami harapkan." Oh, Crap! Meskipun tidak ada yang salah dengan aku mencium suamiku tapi tetap saja, diperhatikan seperti saat ini apalagi oleh dokter yang merawatku, bukanlah sesuatu yang ingin pertontonkan saat ini. "Kami akan mengijinkan Elena pulang kapanpun dia inginkan. Apa kau sudah siap Elena?"
Dan tanpa menyia- nyiakan kesempatan emas yang sudah ada. Aku menganggukkan kepalaku merasa sangat senang karena akhirnya aku sudah bisa bertemu dengan kedua anakku yang cantik dan tampan dan oh, aku mungkin bisa leluasa bersama Brandon di rumah.
***
Comments
Post a Comment