LOVEHATE- TIGA PULUH
Aku bisa mengerti dengan keterkejutan di wajah Harry ketika mendengar penuturanku. Toh, dia sudah melihatnya dan tidak ada lagi yang bisa ku sembunyikan darinya.
"Tidak mungkin." Harry mengucapkannya seakan mengharapkanku agar berubah menjadi santa klaus.
"Ya. Mungkin saja. Kau sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalamu."
"Tapi..."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Harr. Aku pun nyaris tidak mempercayainya ketika melihatnya pertama kali tapi itulah yang terjadi. Air matanya semerah darah."
"Jadi perumpamaan yang mengatakan air mata darah itu benar ada?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan Harry. "Secara harfiah, ya. Kau benar. Elena melakukannya dan menurut dokter Frans, dokter yang menanganinya. Itu terjadi ketika seseorang sudah tidak dapat lagi membendung perasaan depresi dan putus asanya akan sesuatu. Bisa dikatakan perasaan Elena kala itu berada pada titik nol atau bahkan jauh di bawahnya."
"Minus maksudmu?"
Kukendikkan bahuku. "Aku rasa begitu."
"Tapi bagaimana mungkin? Apa yang menyebabkannya?"
"Maaf sobat," aku tersenyum. "Aku tidak bisa mengatakannya."
Hening sesaat.
"Aku mengerti." Ucap Harry kemudian.
"Dan usahakan jangan mengungkit hal ini lagi padanya."
"Karena nanti dia akan depresi lagi hingga kemudian berada pada titik nol?"
Aku tertawa. Bukan karena mengolok- olok Harry tapi karena tahu betapa rumitnya hidup Elena.
"Itu salah satunya tapi yang paling utama adalah karena dia sedang hamil."
Seketika wajah Harry kembali menyiratkan keterkejutan yang sangat nyata. Tentu saja Harry kaget, aku pun juga sangat kaget, nyaris tidak percaya ketika melihat perutnya yang tampak membesar aneh. "Kita tidak tahu apakah hal itu nantinya akan berefek pada bayinya atau mungkin saja pada dirinya tapi yang aku tahu wanita hamil tidak boleh stres. Dia harus selalu merasa senang agar bayi dalam kandungannya juga senang."
.
.
Semenjak kejadian itu, aku memaksa Elena untuk tinggal denganku dan tanpa terasa ini sudah memasuki bulan ketiga dia berada di apartemenku. Dia tidak lagi mengeluarkan air matanya dan sebenarnya itu karena aku langsung bergerak cepat dengan menghubungi dokter Frans lagi.
Awalnya dokter Frans kaget ketika aku menghubunginya setelah sekian lama- setidaknya terakhir ketika Elena sudah dinyatakan sembuh dan tidak mengalami kesedihan yang paling terdalam lagi dan semakin kaget ketika dokter Frans mengetahui maksud dan tujuanku menghubunginya.
Sejujurnya aku masih penasaran apa menjadikan Elena sesedih itu. Elena tidak mudah mengeluarkan air matanya- dia selalu mencoba untuk tidak menangis, karena dia tahu jika dia melakukannya maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapinya termasuk kembali menjalani terapi.
Apa ada sesuatu yang terlewatkan dariku?
Oh! Aku tentu saja masih ingin membunuh Brandon, setidaknya aku yakin kalau sedikit banyaknya si brengsek itu juga turut andil tapi ketika aku mengatakannya, Elena kembali menangis, membuatku terpaksa mengurungkan niat muliaku itu.
Aku juga masih tidak percaya kalau hubungan pernikahan mereka bisa sejauh ini. Maksudku tidak ada salahnya dengan pria dan wanita tapi aku tahu Elena seperti apa dan Brandon seperti apa. Brandon bukan orang yang akan memanfaatkan orang lain demi memenuhi kebutuhannya, dia bukan orang yang sembarangan memilih pasangan, bukan berarti Elena tidak layak tapi...
Tiba- tiba ingatanku melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana Julia mendadak muncul dan Brandon yang tiba- tiba terlihat sangat marah. Apakah Brandon sudah memiliki perasaan yang khusus pada Elena? Tapi jika itu benar, kenapa semua ini bisa terjadi? Sementara aku tahu kalau Brandon sangat protektif pada apa yang disayanginya.
Harry memberitahuku kalau keadaan Brandon juga tidak lebih baik. Oh! Siapa yang akan peduli dengan si brengsek satu itu. Jika saja Elena tidak menahanku kala itu- tentu saja dengan air mata darahnya, sudah pasti Brandon sudah akan mati di tanganku. Dari pengakuan dan pengamatan Harry yang lebih dulu menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan Brandon, Brandon lebih mudah marah dan langsung melampiaskan amarahnya jika saja sekertarisnya terlambat satu detik dalam memberikan laporan yang diminta.
Sama sepertiku, Harry juga sangat marah pada Brandon tapi harus ada yang menjadi netral diantara kami dan sudah jelas itu bukan aku. Aku mungkin akan langsung mencincang Brandon jika satu menit saja kami ditinggalkan berdua.
Aku dan Harry selalu menyempatkan diri dan waktu untuk menemani Elena. Pada awalnya Elena menolak, dengan alasan tidak ingin merepotkan tapi sama dengan Harry, aku menolak melakukan perkataannya itu dan tersenyum senang ketika melihat kekalahan dari wajahnya itu.
Jadi setelah mengantar Elena melakukan terapinya, aku dan Harry beralih tempat menuju tempat dimana Elena akan memeriksakan kandungannya.
"Apa tidak apa- apa jika aku membawa sahabat- sahabat dari suami saya, dok?" Tanya Elena setelah aku menarikkan sebuah kursi untuk dia duduki.
"Oh tidak masalah, Elena " dokter Sisca menjawab dengan senyum. "Tapi apa kau yakin mereka ingin mendengar ini?"
Aku dan Harry sama- sama saling bertukar pandang, tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka ketika melihat Elena yang menganggukkan kepalanya.
"Ini hanya pertanyaan biasa yang selalu kita lakukan. Apa kau siap?"
Elena mengangguk.
"Baiklah. Bagaimana makanmu?"
"Baik. Semuanya terkontrol dengan baik. Aku bahkan selalu mengkomsumsi buah seperti yang kau katakan."
Sisca mengangguk dan tersenyum lembut.
"Bagaimana dengan pikiranmu? Apa kau menghindari stress?"
Aku dan Harry serempak memutar mata ketika mendengar pertanyaan dokter itu tadi. Stres? Elena mungkin mencoba terlihat biasa- biasa saja tapi aku tahu kalau dia cuma tidak ingin menperlihatkannya. Dia tidak ingin aku langsung memukul suaminya. Ya. Sangat Elena!
"Ya. Aku baik- baik saja."
"Aku menduga kau sudah tidak sabar mengunjunginya lagi."
"Oh ya, aku sudah sangat merindukan mereka." Desah Elena penuh damba.
"Mereka?" Harry yang pertama kali menyuarakan apa yang kupikirkan tadi.
Elena dan Sisca itu hanya tersenyum menimpali, membuatku mengerang jengkel atas sikap penuh rahasia mereka. Tapi tunggu, mereka? Mereka? Aku memberi tatapan pada Harry tapi sepertinya pria bodoh ini lambat mencerna semuanya.
"Apa kau sudah siap?"
"Sangat siap."
"Kalau begitu ayo kita mengunjunginya." Ujar Sisca riang seraya membawa Elena ke ruangan lain.
Di ruangan itu Elena di suruh berbaring sementara bajunya sedikit di singkap sedikit. Aku bisa merasakan jantungku berdetak dengan kencang dan ketika mendengar suara lain yang bukan berasal dari jantungku, aku merasa seperti jantungku seketika berhenti. Suara itu terdengar pelan tapi juga kuat.
"Nah, itu calon keponakan kalian." Ujar Elena senang.
Dan segalanya menjadi lebih indah dari yang biasanya. Ini luar biasa dan tanpa sadar aku berpelukan dengan Harry yang juga ikut merasakan kebahagian mendengar detak jantungnya dan sama- sama saling mendorong ketika menyadari kelakuan kami, meninggalkan Elena yang tertawa pelan.
"Mereka kembar?" Tanyaku sekedar memastikan.
"Tentu saja. Bukankah aku hebat memberikan kalian dua keponakan sekaligus? Aku sudah tidak sabar menjadikan kalian sebagai wali mereka."
"Oh tentu saja! Aku pasti akan bersedia."
Elena tertawa dan ini membuktikan kalau Elena sebentar lagi tidak akan menjalani terapinya, sesuatu yang dikeluhkannya selama ini.
Kemudian aku terdiam ketika menyadari pandangan Elena yang tidak berada padaku dan menoleh. Harry masih tidak bergerak dari tempatnya. Pasti dia baru menyadarinya.
"Harr? Kau tidak apa- apa?" Elena yang pertama kali bersuara setelah bangun dari tempatnya.
"Mereka kembar?" Harry bertanya.
"Ya."
"Astaga!"
Elena tersenyum melihat keterkejutan di wajah Harry. "Kau tahu, ini lebih dari yang kuharapkan tapi aku menikmati tampang bodoh kalian tadi."
Dan baik aku maupun Harry rela melakukan apapun untuk wanita hamil ini seakan kami lah ayah dari bayi yang sedang di kandung Elena.
Aku dan Harry memutuskan untuk merayakan hal ini dengan berpesta pora di apartemenku. Kami akan menjadi pelayan semalaman buat Elena. Elena masih terus mengoceh dan tertawa mengingat kebodohan kami di rumah sakit tadi sementara aku mulai memencet kode pada apartemem ketika merasakan kalau suara tawa Elena sudah berhenti begitupun dengan Harry.
Mereka berdua sedang melihat pada satu titik di belakangku dan dari raut wajah Elena, aku tahu siapa itu.
"Brandon..." suara lirih Elena memecahkan keheningan yang sempat tercipta diantara kami... berempat.
***
Comments
Post a Comment