LOVEHATE- TIGA SATU
Elena PoV...
Jika ditanya apa hal yang paling menyenangkan dalam sepanjang hidupku yang bisa kuingat, maka dengan senang hati akan kukatakan, merasakan tendangan kecil di sekitar perutku- karena itu berarti, ada kehidupan lain yang ikut tumbuh di dalam diriku dan hari ini adalah mendengar detak jantung mereka.
Sangat mengembirakan sekaligus menyenangkan. Setidaknya itu yang bisa kutekankan pada diriku sendiri sejauh ini karena tidak dapat kuindahkan kalau aku juga mengharapkan kehadiran Brandon di sisiku. Alih- alih dua orang pria yang sudah kuanggap sebagai sahabat dan juga keluargaku, Josh dan Harry.
Malam- malamku masih sering terganggu dengan mimpi yang memperlihatkan Brandon yang tidak membutuhkanku lagi, dia sangat kecewa padaku dan memilih untuk pergi meninggalkanku.
Aku tahu kalau Josh sangat marah pada Brandon- sesuatu yang kuanggap wajar dilakukan olehnya tapi aku juga tidak bisa membiarkannya untuk memukul pria yang kucintai. Ada bagian dalam diriku yang ikut tersakiti jika melihat Brandon terluka.
Dan Harry? Harry jauh lebih bersikap wajar jika dibandingkan dengan Josh. Harry lebih bisa mengontrol emosinya dan aku bisa mengandalkan hal itu darinya ditambah lagi dengan kehadiran dua anak didalam perutku dan sebentar lagi akan datang, aku pasti bisa melalui semuanya.
Ibu kandungku masih tetap bersikap biasa, maksudku dia masih menolak untuk berbicara panjang lebar denganku dan hanya menekankan maksudnya tapi aku masih tetap berusaha untuk melihatnya di rumah sakit, sesuatu yang mungkin akan dianggap sebagai sikap yang bodoh oleh Bibi Samantha.
Flashback...
"Ma." Aku memanggil wanita yang duduk disampingku dengan lembut, berharap dia akan menjawab panggilanku yang sebenarnya sia- sia.
"Jadi kau datang lagi?" Tanpa menoleh, ia mulai mengeluarkan nada dingin pada suaranya.
Aku mengangguk dan tersenyum. "Aku hamil dan ini cucu mama." Kataku memberitahu. "Apa mama tahu? Mereka kemba. Sebentar lagi mama akan punya dua cucu sekaligus." Aku berusaha mengeluarkan suara riang pada suaraku.
"Jadi kau sudah menikah?"
Lagi- lagi aku mengangguk. Sesuatu yang sangat konyol mengingat ibuku sama sekali tidak melihatku.
"Apa dia baik?" Tanyanya.
"Ya. Dia sangat baik."
"Tapi kau tidak membawanya untuk menemuiku."
Aku sudah mempersiapkan jawaban jika muncul pertanyaan seperti ini. Ada sedikit rasa penyesalan kenapa sejak awal aku tidak memberitahu mengenai Brandon padanya.
Aku sudah tahu kalau ini akan begini jadi aku tidak terlalu gelagapan jika ditanya.
"Dia orang yang sangat sibuk, Ma."
Kulihat dia mengangguk pelan. "Bagaimana kalian bertemu?"
"Kami dijodohkan."
"Dijodohkan?"
"Sebenarnya Julia adalah orang yang dijodohkan dengannya dan aku..."
"Dan kau merebutnya?"
"Eh tidak... maksudku terjadi sesuatu pada Julia yang mengharuskannya untuk menggantikannya."
Tidak ada jawaban dan kupikir aku gagal lagi kali ini. Kenapa begitu sulit untuk berdamai dengan orang yang telah melahirkanku? Meskipun aku membencinya tapi jauh di sudut hatiku yang terdalam aku juga mencintainya. Aku membutuhkan seorang ibu disaat sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang ibu.
"Kau sudah memeriksakan dirimu?"
Aku tahu apa yang dia maksudkan dan aku mengangguk. "Ya."
"Bagus. Kalau begitu pembicaraan kita sampai disini." Dan dia langsung bangkit berdiri, hendak meninggalkanku, lagi.
"Mama?" Aku memanggilnya sebelum ia melangkah pergi. "Bolehkah aku menanyakan satu hal?"
Tidak ada jawaban tapi aku harus menanyakannya. Aku sudah lama memikirkan ini.
"Apa mama tidak menyayangiku?"
Tidak ada jawaban.
"... Sama sekali tidak pernah berinistiatif untuk melihatku atau paling tidak mencari tahu bagaimana aku dibesarkan? Aku..."
"Elena!"
Aku terdiam dan untuk pertama kalinya ia melihatku tepat di mata.
Dan mendadak aku merasakan perasaan sesak yang menyelubungiku.
"Jangan kecewa Elena tapi aku hanya membutuhkan jantungmu, tidak lebih. " katanya.
Hening selama beberapa saat dan kuputuskan untuk menghapusnya dengan senyuman.
Aku akan baik- baik saja.
"Aku mengerti." Ucapku meredakan keheningan diantara kami. "Terima kasih karena telah mengandungku selama 9 bulan dan tidak membunuhku. Terima kasih karena telah mewariskan rambut dan hidung mama. Aku akan pergi."
Flashback end...
Setidaknya aku memiliki Josh juga Harry disampingku, soal lain aku tidak perlu memikirkannya. Saat ini fokusku hanya pada kehamilanku dan juga calon anakku kelak. Oh! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kehadiran mereka di dunia ini.
Aku disadarkan dengan ucapan Josh yang berniat untuk memasakkan kami dan sentak saja aku dan Harry menolak.
Aku baru saja memikirkan tentang menu apa yang akan kami makan. Josh tidak bisa dipercaya dalam hal mengolah makanan, pria itu selalu saja bereksperimen dengan bahan- bahan di dapur dan beruntung aku tidak pernah menjadi tumbal untuk makanannya, hanya Harry dan secara tegas pula Harry menolak apapun pemberian dari Josh. Sementara memikirkan hal itu dan juga tertawa karena aksi kocak antara Josh dan Harry, mendadak aku mencium aroma parfum yang tidak asing di indra penciumanku disusul jantungku yang seketika berdetak dengan kencang ketika pada akhirnya aku melihatnya setelah sekian lama.
"B- Brandon." Hanya itu yang bisa kukatakan karena entah bagaimana, Josh sudah berada dihadapanku. Menghalangi pandanganku dari sosok yang baru saja kulihat.
"Sepertinya kalian bersenang- senang." Ia melangkahkan kakinya agar lebih mendekat.
"Kami baru saja pulang. Apa yang kau inginkan?" Harry yang lebih dulu bertanya.
"Membawa pulang istriku." Dan Brandon langsung meraih tangan kananku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanpa kuduga Josh juga meraih tangan kiriku.
Apa- apaan ini?
"Lepaskan tanganmu darinya, Josh." Suara Brandon dingin dan berbahaya setelah memperhatikan jemari Josh di jemariku.
"Tidak akan. Memang kau pikir kau ini siapa?" Josh membalas dengan nada yang sama.
Kedua mata Brandon terlihat mengelap. "Elena adalah istriku dan aku ingin membawanya pulang."
"Istri? Apa kau yakin? Mengingat selama tiga bulan ini kau tidak pernah datang menjemputnya."
Rahang Brandon semakin mengeras.
"Josh, sudahlah." Aku begitu terperanggah hingga tidak memperhatikan usaha Harry yang berusaha melerai keduanya.
"Urusan aku menjemputnya atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu. Yang jelas dimata hukum dia masih berstatus istriku." Kembali Brandon berucap.
"Bukankah dulu sudah kuperingatkan kalau kau menyakiti Elena, aku akan merebutnya darimu. Suka atau tidak suka."
"Sialan!" Bukkk
Dan segera saja Brandon melayangkan tinjunya ke wajah Josh, membuat Josh tersungkur dan aku yang terbelalak.
"Astaga! Hentikan Brandon."
Melihat Brandon yang dipegang oleh Harry membuat Josh langsung berdiri dan ikut melayangkan tinjunya ke rahang Brandon.
"Astaga!" Aku memekik karena kaget. Ikut melerai mereka, jika saja Brandon tidak langsung menangkap pergelangan tanganku, sudah pasti aku akan menabrak tempat sampah di belakangku dan seketika jantungku semakin berdetak tidak karuan ketika mata kami bersirobok. "Aku baik- baik saja. Terima kasih." Aku mengatakannya hendak melepaskan diri tapi Brandon justru membawaku ke dekat tubuhnya dan menaruh tangannya di pinggangku. Seketika aku merasa udara di sekelilingku mendadak hilang.
"Kau tidak berhak melarangku untuk membawanya." Ucapnya.
"Kau..."
"Josh," aku terpaksa memanggil nama Josh agar dia mau melihatku. "Aku akan pulang dengannya." Kataku.
"Apa? Kau tidak..."
Aku tersenyum berharap dia tenang. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Josh tapi aku baik- baik saja."
"Tapi..."
"Kumohon?"
Tidak ada jawaban darinya hingga aku melihatnya menghela napas kemudian ia mengalihkan sorot matanya kearah Brandon.
"Pastikan kau menjaganya dengan baik dan jika aku mendengar kau membuatnya men..."
"Josh?" Kuhentikan Josh sebelum dia kecoplasan. "please?" Pintaku.
Sekali lagi aku melihatnya menghembuskan napas. "Baiklah. Kau boleh pergi bersamanya."
Senyumku semakin mengembang. "Terima kasih."
"Aku yang harusnya berterima kasih." Ucapnya seraya berjalan kearahku lalu melayangkan kecupan ringan di keningku. Bisa kurasakan pegangan Brandon di pinggangku semakin menegang dan kaku. "Aku pasti akan merindukanmu. Jaga bayiku dengan baik." Aku tahu Josh sengaja menekankan kata bayi dalam suara agar membuat Brandon marah tapi tidak akan kubiarkan dia.
Sudah cukup ketegangan yang terjadi hari ini. Aku berbalik untuk melihat Brandon dan sepertinya Brandon juga menyadarinya.
"Aku akan ikut denganmu."
Dia mengangguk pelan.
Aku akan bertahan.
Setidaknya hingga mereka lahir.
Aku pasti bisa melakukannya.
***
Comments
Post a Comment