LOVEHATE- TIGA TIGA

Brandon PoV...

"Elena?"

Jantungku rasanya ditekan sangat kuat melihatnya terjatuh seperti itu.

"Elena..." sekali lagi aku memanggil namanya, berharap dia akan merespon suaraku ketika dia mengeluarkan suara yang aneh dari mulutnya disusul dengan teriakan yang sangat memilukan seakan tubuhnya sedang digilas oleh sesuatu ketika aku melihat sesuatu berwarna merah yang baru saja keluar dari sela pahanya disusul suara tersedak.

Darah.

Elena mengeluarkan darah dari mulut, hidung dan matanya kemudian...

Hening.

"Elena!"

Aku tidak tahu siapa yang memanggil namanya. Telingaku rasanya mendadak menjadi lumpuh dan aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Elena sama sekali tidak bergerak dalam dekapanku.

"Sialan Brandon! Apa yang kau lakukan?" aku berbalik dan melihat Josh yang melihatku marah. apa yang terjadi? "Brengsek! apa kau mau melihat Elena meninggal?" Meninggal? Siapa? " Brengsek Brandon! Lakukan sesuatu! Sialan! Jantungnya berhenti!"

Kulihat Josh mulai mengambil alih tubuh wanita yang tadinya berada dalam dekapanku dan mulai memompa jantungnya.

Brandon?

Astaga Brandon! bisakah kau membuat suara setiap kali kau muncul? Selalu saja membuatku ketakutan setengah mati.

Elena?

kudorong tubuh Josh dan mulai menggantikannya melakukan CPR pada Elena yang mulai terasa dingin.

Tidak! Tidak. Kumohon bertahanlah, sayang. Kumohon. Tetaplah bersamaku.

Aku minta maaf.

.

Aku tidak tahu apa yang terjadi didalam ruangan sana. Sejak Elena tiba di rumah sakit, tidak satupun yang bisa memberitahukan tentang keadaannya pada kami. Yang ada kami hanya melihat beberapa suster saling memberikan kode dan membawa banyak peralatan.

"Elena wanita yang kuat. Dia akan baik- baik saja."

Kupandangi Josh beberapa saat, berharap apa yang dikatakannya itu benar. Ya. Elena memang wanita yang kuat. Napasnya kembali meskipun masih lemah tepat ketika ambulans tiba ke tempat kami.

"Terima kasih, Josh." Balasku. Aku tahu ini mungkin terdengar canggung. Selama beberapa bulan ini hubungan kami memang tidak baik tapi melihat caranya yang melihatku, aku menyakini kalau persahabatan kami masih akan terjalin.

Kami menyayangi satu orang yang sama meskipun dalam konteks yang berbeda.

"Bagaimana Elena, Brandon?" Sejenak aku berpaling dan tidak terkejut mendapati Claire yang seperti baru saja menangis, dibelakangnya menyusul Harry.

"Aku masih belum mendapatkan penjelasan dokter." Jawabku jujur.

Claire semakin terisak. "Ma- maafkan aku... aku... jika bukan karena aku, Elena tidak akan..."

"Shh..." aku langsung memeluk tubuh Claire, menenangkannya. "Elena akan baik- baik saja. Jangan menangis lagi." Kataku mengusap kepalanya.

"Tapi tadi..."

"Shhh..." kuhentikan dia sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Sudah cukup buruk yang aku lihat, tidak perlu menambahkan perasaan buruk ini lagi mengenai keadaanya yang tak kuketahui.

"Aku akan menghubungi Mama dan Papa." Ucapnya setelah melepaskan pelukannya.

Aku mengangguk. "Tanyakan juga keberadaan Bibi Samantha pada mama. Dia juga pasti ingin mengetahui keadaan Elena."

Claire ikut menganggukkan kepalanya seraya merogoh ponsel yang berada didalam tas dan memencet sebuah nomor.

"Ma...?"

Kuputuskan untuk tidak mendengar apa yang Claire bicarakan. Rasanya waktu berjalan sangat lambat. Josh dan Harry yang ikut denganku juga berusaha untuk saling menguatkan tapi rasanya sangat percuma. Aku rasanya sudah tidak sabar mendengar kabar tentang Elena, sementara Josh terlihat seperti ingin menerobos masuk kedalam.

Dari pembicaraan yang sempat kucuri dengar antara Harry dan Josh. Aku baru tahu kalau Luke adalah orang yang sangat terobsesi pada Elena. Pria itu dulunya sangat menginginkan Elena hingga mau menjadikan Elena sebagai miliknya hingga tanpa pikir panjang ia ingin memperkosa Elena tapi untungnya diselamatkan oleh Josh yang kebetulan melihat Luke yang hendak mencampurkan obat kedalam minuman Elena.

Memikirkan Elena yang hampir diperkosa oleh orang seperti Luke, membuatku semakin marah dan dalam hati bertekad akan membuat pria itu sengsara.

Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tempat Elena dirawat.

"Mr. Hill?"

"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?"

Untuk beberapa detik yang kurasa sangat lama. Dokter itu hanya melihatku tanpa mengatakan apa- apa.

"Apa yang terjadi?" Aku mulai merasa gusar. Aku tidak tahan lagi dengan sikap diamnya dan baru akan memutuskan apakah harus memukulnya lebih dulu ketika kembali aku mendengar suaranya.

"Apakah anda tahu kalau Mrs. Hill telah mendaftarkan dirinya sebagai donor jantung tetap?"

Donor jantung? Apa maksudnya?

"Apa maksudnya donor jantung tetap?" Aku bersyukur Josh yang menanyakan itu. Aku begitu syok mengetahui informasi ini.

"Hm, begini Mr..."

"Panggil saja Josh." ujarnya tidak sabar.

Dokter itu mengangguk, paham. "Berdasarkan aplikasi yang kami terima, sekitar 2 bulan yang lalu Mrs. Hill memeriksakan jantungnya dan memutuskan untuk mendonorkan jantungnya pada seseorang yang bernama Mrs. Eva".

"Mrs. Eva? Ibu Elena?"

Aku begitu terperanjat. Kupandangi Josh. berapa banyak hal yang Josh ketahui yang tidak ku ketahui dan apa maksudnya ibu Elena? Bukannya nama ibu Elena adalah Sandra?

"Ya. Dan Mrs. Hill telah menanda tangani aplikasinya."

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Dok, pasien sadar."

"Apa saya boleh masuk?" Aku mencegahnya sebelum ia pergi.

Sejenak dokter itu berpikir kemudian mengangguk. "Baik. Tapi hanya boleh anda."

Aku mengangguk. Setelah memakai pakaian dengan terburu- buru yang sudah disiapkan suster, aku segera menuju ke tempat Elena.

Hal pertama yang kulihat adalah darah di sekitar mulut Elena telah di bersihkan dan di gantikan dengan tabung oksigen. Selang- selang infus telah berada di tangannya.

Elena tersenyum ketika melihatku dan betapa aku merindukan senyumnya itu.

"Brandon." Dia berkata lirih sementara matanya mengerjap. Pasti dia sedang sangat kesakitan.

Kubawa tangannya dan merasakan tangannya masih sangat dingin. "Shhh sayang... Tidak apa- apa."

"Kau harus menyelamatkan mereka."

Mereka?

"Kau harus menyelamatkan anak- anak kita." lanjutnya.

Aku terdiam. Tidak menyangka kalau Elena mengandung anak kembar. Tidak heran dia sangat lahap memakan makanannya.

Sialan Brandon! Kau benar- benar pria dan suami yang tidak tahu diuntung.

"Kau juga harus selamat sayang." Kataku memegang keningnya. "Mereka juga membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu."

Elena menggeleng. "Aku mencintaimu Brandon."

Rasanya ada gelenyar aneh ketika Elena mengatakannya.

Tit... Titt... Tit...

"Kita harus membuat keputusan Mr. Hill. Kondisi bayi dan ibu kritis. Harus ada satu diantara mereka yang di selamatkan". Seru dokter itu mendesak.

Kurasakan tanganku menegang dan melihat Elena lah mengenggam tanganku dengan erat.

"Selamatkan mereka." pintanya memohon.

Elena mulai menangis dan baru kusadari kalau dari dalam matanya bukanlah air mata melainkan darah. Apa itu ada hubungannya dengan alasan kenapa aku tidak pernah menitikkan air mata.

Aku tidak akan meminta apapun padamu, Brandon tapi kumohon jangan biarkan dia menitikkan air mata.

Perkataan Josh dulu disaat hubungan pernikahanku terungkap seketika menjelaskan semuanya.

"Selamatkan mereka Brandon. Kumohon."

Rasanya aku ingin ikut menangis melihat dirinya yang seperti ini. Elena sedang kesakitan dan yang kulakukan hanya membuatnya semakin terluka. Aku benar- benar tidak berguna.

Tit... Tit... Tit...

Aku mencintai calon anak kami tapi aku juga mencintai Elena. Aku tidak bisa memilih satu diantara mereka tapi jika harus memilih maka aku...

Ku tutup mataku dan kubuka dengan pelan bersamaan dengan kuhembuskan napasku. "Aku mencintaimu, sayang." kataku seraya menatap kedua matanya "Selamatkan ibunya dok." kataku memutuskan.

Elena terdiam dan tanpa memandangku dia berkata lirih. "Aku menarik kata- kataku, Brandon. Aku tidak mencintaimu.. aku.. membencimu. Keluarkan mereka dan selamatkan kedua bayiku!"

"Elena." aku memohon putus asa.

"Selamatkan mer.."

Tit... tit.. tit...

Terdengar suara mesin yang sangat memekakkan telinga disusul Elena yang kembali mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Hal berikutnya yang kulihat adalah dia mulai kejang- kejang di tempatnya.

"Elena? Elena?"

Aku berteriak bersamaan dengan aku yang melihat seorang perawat yang menyuntikkan sesuatu kedalam lengannya dan beberapa perawat lain yang berusaha mengeluarkanku dari ruangan tempat Elena dengan paksa.

Tidak... Tidak... Elena harus selamat... Masih banyak yang harus dia ceritakan padaku... Dia berutang banyak padaku selama ini... Dia tidak boleh meninggalkanku begitu saja... Tidak ketika aku masih membutuhkan dirinya di sisiku.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS