LOVEHATE- TIGA

Brandon PoV...

"Jangan pernah berpikir kalau kau akan menjadi nyonya di rumah ini!"

"Aku juga tidak mengharapkan seperti itu." Balas suara yang lain tak kalah kerasnya.

Aku mendesah untuk sesaat sebelum turun dari kamarku yang memang berada di lantai dua, yang langsung berhadapan dengan dua orang gadis yang saling menatap dengan sengit.

Apalagi yang mereka pertengkarkan kali ini? Sejak dari mengantar Mama dan Papa di bandara kemarin. Mereka berdua selalu saja melontarkan kalimat beserta tatapan sinis satu sama lain.

"Aku lebih tua darimu jadi aku berhak memberitahumu beberapa peraturan di rumah ini." Hardik Claire seraya tangannya menuding wajah dihadapannya tanpa menyadari kalau aku sudah berada beberapa langkah dari mereka.

"Ada apa ini?" Kedua mataku menatap mereka marah. Tidak bisakah sekali saja mereka tidak bertengkar?

"Please teach your fucking wife some politeness." Hardik Claire tanpa sadar.

"Language Claire," aku membentaknya memperingatkan yang langsung membuatnya terdiam- menyadari kesalahannnya lalu berpaling pada Elena. "Apa yang kau lakukan kali ini?" Tanyaku pada gadis itu.

Bukannya merasa takut dengan tatapan yang aku berikan, gadis itu justru memberiku tatapan tajam dari kedua matanya.

"Apa yang ingin kau dengar?" Tanyanya. "Kejujuran atau kebohongan?"

"Hati- hati kalau bicara." Ancamku penuh penekanan.

Elena mendengus. "Memang apa yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang adikmu katakan ini?"

"Apa yang kau...?"

"Listen, Brandon, "potongnya membuatku terbelalak tidak percaya. Tidak pernah ada seorangpun yang berani memotong ucapanku. Tidak pernah. Bahkan Claire pun tidak. "Aku tidak perlu menjelaskan padamu semuanya," lalu kemudian pandangannya kembali beralih pada Claire didepannya. "Kau lebih tua dariku? Yang benar saja!" Dia mengeluarkan tawa mengejek. "Yang aku tahu kita hanya terpaut beberapa bulan. Umur kita tetaplah sama, sekedar info."

"Kau!" Claire tampak sangat marah dan semakin marah ketika melihat Elena justru berpaling hendak pergi.

"Stay there, Claire!." Tahanku sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi di depan mataku. Claire cenderung bersikap brutal jika sedang marah dan jika tidak dihentikan olehku maka bukan tidak mungkin akan terjadi pertumpahan darah disini.

"Tunggu," setengah berlari aku meraih tangan Elena dan menahannya sebelum gadis itu mencapai pintu dan ketika kulitku bersentuhan dengan kulitnya, lagi- lagi aliran listrik yang pernah kurasakan ketika makan malam kemarin terjadi lagi.

"Ada apa lagi?" Tanyanya tajam setelah melihat tangannya yang kugenggam.

"Kemana kau?"

"Apa?"

"Kau mau kemana?"

Elena menatapku sejenak. "Memang apa urusannya denganmu?"

Demi tuhan! Apa gadis ini memang sangat keras kepala?

"Kampus." Dia menjawab kemudian.

"Kau mau ke kampus dengan pakaian ini?"

Mataku sengaja menelusuri pakaian yang dikenakannya. Jeans dan kaos tapi yang menjadi perhatianku adalah bagian belakang kaus itu tampak berlubang, memperlihatkan bra hitam miliknya.

"Memang apa yang salah dengan pakaianku?" Tanyanya dengan kening yang saling bertaut.

"Ganti"

"Apa?"

"Kubilang ganti pakaianmu." Kali ini aku sengaja menggunakan nada memerinta padanya dan terdiam ketika tanpa kuduga dia justru menyentakkan tangannya hingga terlepas dariku.

"Tidak." Balasnya dalam suara tegas.

"Tidak?" Seperti orang ambesil, kami selalu mengulang kalimat yang sama.

"Ya," katanya lagi dengan suara tegas yang sama. "Kau tidak berhak mengatur apapun dalam hidupku termasuk caraku berpakaian."

Dan dia pergi tanpa memperdulikan aku yang sangat marah padanya.

"Apa lagi yang kau lakukan?" Hardikku marah dan melihat Claire sedang asyik menyantap serealnya.

"Tidak ada."

Oh bagus!

"Lihat aku, Claire," perintahku dan dengan terpaksa dia berpaling untuk melihatku. "Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan padanya? Oh, dan jangan coba menghindar, okey? Kau tahu siapa dia di rumah ini."

"Itu tidak akan mengubah keadaan." Balasnya kembali berpaling.

Claire memang sangat keras kepala dengan hal yang menyangkut apapun yang dipikirkannya dan kemungkina besar itu karena dia terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya.

"Berikan kunci mobilmu." Perintahku.

"Apa? Oh, tidak Brandon." Dia tampak memelas tapi aku tidak peduli. Dirinya dan Elena benar- benar membangkitkan emosiku di pagi yang cerah ini.

"Berikan Claire." Perintahku tak terbantahkan.

"Brandon, please."

Aku tidak peduli. Kuambil kunci mobilnya langsung, tanpa memperdulikan wajahnya yang marah.

"Pikirkan apa yang kau perbuat hari ini dan temui aku kalau kau sudah merasa menyesal."

***

Aku baru saja selesai membaca proposal kerjasama ketika pintuku diketuk dari luar, menampilkan wajah sosok tak asing dibaliknya.

"Brandon."

Aku kaget mendapati melihat sahabat setelah sekian lama. Maksudku dia tidak datang ke acara pernikahanku jadi ya, apakah itu termasuk lama?

Harry adalah salah satu sahabat yang kumiliki semasa kuliah di Harvard University. Kami sama- sama mengambil jurusan bisnis dan manajemen dan kemudian memutuskan untuk menjalin kerjasama setahun kemudian.

"Hei, apa kabar?" Kataku seraya mempersilahkannya untuk duduk didalam ruang kantorku. "Bagaimana Brazil?"

"Gadis- gadisnya masih tetap sama. Seksi dan sangat hot di ranjang." Pungkasnya membuatku tersenyum.

Harry adalah playboy sejati. Kalau aku yang biasanya memutuskan cewek selama seminggu, Harry hanya perlu waktu sehari atau semalam untuk melakukannya.

"Jadi bagaimana pernikahanmu?" Tanya Harry kemudian.

"Kacau." Jawabku seraya menyodorkan segelas whiskey padanya.

"Kacau bagaimana? Yang kulihat dulu Julia sangat kalem meskipun harus kuakui sangat jauh berbeda cari tipemu." Katanya dengan kening berkerut setelah meneguk minumannya.

"Aku tidak jadi menikahinya."

"Bagus. Lagipula aku memang tidak yakin kalau kalian akan bertahan. Pernikahan kalian hanya sebuah perjodohan yang tidak masuk akal. Mana mungkin hanya karena janji konyol antar orang tua kalian sehingga perjanjian ini harus terlaksana dan apa kata ayahmu, dia akan menarik sahamnya jika kau tidak melakukannya? Yang benar saja!"

Aku tertawa mendengar kalimatnya yang sangat panjang. Dalam hati aku berpikir bagaimana para wanita itu bisa gampang tergoda dengannya? Tapi setelah dipikir lagi, para wanita yang kami kencani memang melihat wajah dan kekayaan kami dan jujur saja, kami memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu selama mereka memberikan kepuasan diatas ranjang, kurasa itu setimpal.

"Tunggu, apa maksudmu dengan mengatakan kacau tadi?" Mendadak Harry menghentikanku dari kegiatan yang ingin menyodorkan gelasku kearah bibir.

Akhirnya dia sadar juga. Aku bergumam dalam hati. Tadinya aku bertanya- tanya kapan dia akan sadar.

"Apa kau ingat ceritaku yang mengatakan kalau Julia mendatangiku dua hari sebelum pernikahan?"

Harry mengangguk. "Ya. Apa dia mengajukan kontrak pernikahan?"

Aku menggeleng. "Tidak. Bukan seperti itu. Dia datang untuk membatalkan pernikahan kami."

"Gadis pintar, oh atau mungkin wanita pintar. Dia tidak mungkin masih gadis kan?" Harry tertawa mendengar leluconnya sendiri, membuatku menggelengkan kepala melihat kelakuannya.

"Ya. Dia ternyata sudah punya pacar dan memintaku untuk membatalkannya."

"Hm, terus?"

"Sayangnya aku lupa memberitahukan hal ini pada kedua orang tuaku."

"Oh, sial!" Wajahnya meringgis seakan dialah yang mengalaminya dan bukannya aku.

"Apa?" Tantangnya ketika aku hanya diam menatapnya.

"Apa kau masih akan terus menyela setiap kali aku menyelesaikan satu kalimat?"

Dia tertawa seraya menggaruk kepalanya. "Maaf. Lanjutkan ceritamu. Jadi kau lupa memberitahukan mengenai itu pada kedua orang tuamu?"

"Ya. Sehari sebelum pernikahan ditetapkan, aku harus menyelesaikan proyek di Singapura dan sama sekali tidak berpikir kalau pernikahan itu tetap dilaksanakan. Ya. Aku lupa dan ternyata Julia pun tidak mengatakan apa- apa pada keluarganya."

"Dan apa yang terjadi? Apa orang tuamu seperti semacam mendapatkan rasa malu?"

"Well, semacam itu. Awalnya aku tidak tahu ketika orang tuaku bergantian menghubungi nomorku dan ketika aku sadar, aku sudah berada di acara resepsi pernikahan."

"Hah?" Aku bisa saja tertawa ketika melihat ekpresi yang ditampakkan Harry di depanku. Wajahnya terlihat sangat bodoh dan semakin bodoh ketika dia mengeluarkan suaranya. "Tapi bukannya kau bilang, Julia ingin membatalkan pernikahannya denganmu?"

"Ya. Mana aku tahu kalau tepat di malam sebelum acara berlangsung, Julia akan kabur dengan pacarnya itu."

"Jadi siapa yang kau nikahi?"

"Adiknya."

Harry menatapku lama dan tidak lama kemudian dia sudah tertawa terbahak- bahak.

"Astaga adiknya? Berapa usianya? Dua puluh lima?"

"22 dan dia masih kuliah tahun terakhir."

Kali ini airmata tawa berhasil lolos dari Mata Harry.

"kau menikahi gadis yang terpaut sembilan tahun dibawahmu?"

Kupandangi Harry tajam sampai dia berhenti tertawa.

"Well, jadi seperti apa dia?" Tanyanya setelah berdehem beberapa kali. Aku tahu dia masih ingin tertawa. "Apa dia kalem seperti kakaknya?"

"Tidak. Dia semacam lebih kearah gadis keras kepala dan pemberontak."

"Wow. Kau memang kacau sobat. Pasti sulit menghadapi gadis yang well, entahlah remaja kurasa bukan tapi ya, pemberontak bukanlah tipe yang kau sukai. Kau kan senang mengontrol."

Kuanggukkan kepalaku mendengar komentar Harry barusan.

"Itulah yang kukatakan. Belum lagi dia selalu berkelahi dengan Claire."

"Wow jadi Claire membencinya? Aku jadi kasihan dengannya."

Kukernyitkan dahiku heran. "Kasihan?"

"Ya. Kakaknya kabur dengan pria lain dan dengan terpaksa dia yang harus mengantikan kakaknya menjadi pengantin. Biar kutebak, kau tidak pernah bertemu dengannya, bukan? Claire tidak menyukainya, kau pun begitu. Apa itu bukan kasihan namanya?"

Aku termenung mendengar kata- kata Harry. Aku tidak pernah memikirkan posisi Elena sebelumnya. Apa dia memang tersiksa?

"Dia bisa menolak kalau dia mau. Dia sepertinya orang yang mudah melakukannya melihat jiwa pemberontak dalam dirinya." Elakku mencari pembenaran atas sikapku.

"Dan mempermalukan kedua belah pihak? Lagian kenapa bukan kau saja yang membatalkan pernikahan itu? Bukankah Julia juga sudah menemuimu?"

Aku tidak pernah memikirkannya. Kenapa aku malah menerima pernikahan ini padahal aku bisa mengatakan dihadapan semua orang kalau aku menolak pernikahan ini?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS