LOVEHATE- TUJUH BELAS

Seperti biasa, aku menghabiskan waktuku berada di kafe milik Josh hingga larut malam. Bukan apa- apa, aku hanya tidak ingin perasaan yang kumiliki terhadap Brandon semakin besar sementara aku mengetahui dengan jelas kalau Brandon bukanlah orang yang ditakdirkan untukku.

Matahari baru saja kembali ke peraduannya dan digantikan dengan bulan yang sebentar lagi akan muncul ketika mendadak sebuah tangan kekar menahanku untuk membawa gelas- gelas pesanan dari dalam dapur dan terlonjak ketika mengetahui siapa pemilik tangan itu.

"Harry?"

Harry menatapku dengan ekspresi yang sama sekali tidak kumengerti. Marah? Tapi kenapa?. Hidungnya tampak kembang- kempis dan aku semakin tidak mengerti ada apa dengannya.

"Benarkah?" Suaranya terdengar dalam dan menyakitkan kemudian berhenti.

"Ada apa?" Keningku sama- sama saling bertaut mendengar dirinya kembali terdiam dan menatapku seakan aku baru saja memasukkan kedua tanganku kedalam mesin pencuci piring. "Harry, ada apa? Kau baik- baik saja?" Kusentuh lengannya setelah kembali menyimpan gelas- gelas itu kembali ditempatnya. Bisa berbahaya jika aku menjatuhkannya. Selain aku tidak ingin mendapatkan amarah dari Josh, aku juga tidak sanggup menggantinya.

"Benarkah kalau kau adik Julia?"

Eh? Dia mengenal Julia?

"Ya." Aku menjawab masih dengan wajah bingung. Darimana dia mengenal Julia? Apa Brandon memperkenalkan mereka sebelumnya? Memikirkan tentang fakta ini membuat perasaanku sedikit merasa tidak nyaman. Brandon pasti sudah mempertemukan mereka sebelum pernikahan itu terjadi. Buat apa aku marah? Toh, Julia berhak mendapatkannya. Akulah yang seharusnya tahu...

"Dan kau menikah dengan Brandon?"

Aku terdiam dan mengernyit. "Itukah alasan yang membuatmu harus menahanku?"

Sungguh. Aku mulai tidak nyaman dengan pembicaraan ini.

"Bagaimana mungkin?" Desisnya tidak percaya.

"Apa?"

"Bagaimana mungkin kau bisa menikah dengannya?"

Aku benar- benar tidak mengerti dan bingung. Apa yang sebenarnya ingin ia katakan?

"Dengar Harry," ucapku pelan tapi penuh penekanan. "Aku tidak mengerti kenapa kau sampai menanyakan hal itu padaku." Kuhela napasku, pendek kemudian melanjutkan. "Aku memang adik Julia serta aku juga sudah adalah orang yang menikahi pria yang sudah menjadi milik kakakku. Dan dari yang kulihat kemarin, sepertinya kau dan Brandon juga sudah saling mengenal, iyakan? Jadi apa sebenarnya masalahmu?"

Dia mengerang frustrasi sembari mengacak- acak rambutnya.

"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah menikah dan suamimu itu adalah sahabatku sendiri?"

Kali ini dia sukses membuatku melonggo. Memang apa urusannya jika aku sudah menikah dan tunggu, Brandon adalah sahabatnya? Memang aku mengenal semua sahabat Brandon? Kurasa tidak! Dan memang apa yang dia harapkan? Mengatakan pada semua orang kalau aku telah menikah? Memang siapa yang akan peduli?
Kutarik napasku pelan dan menghembuskannya. Kenapa aku justru seperti baru saja melakukan sebuah kejahatan berat?

"Aku tidak tahu apa masalahmu Harry. Seingatku dulu, kita tidak punya hubungan dekat yang memungkinkan aku menceritakan masalah pribadiku dengan orang yang baru saja kukenal," Aku sengaja menghentikan kalimatku dan balas menatapnya." Apa kau mengharapkanku mengatakan ini ' Oh hai, aku sudah menikah lho dan coba tebak, aku menikahi sahabatmu'. Bahkan aku tidak tahu kalau Brandon adalah sahabatmu sampai hari ini." Seruku benar- benar kesal.

Dia terdiam seraya memandangiku. Entah apa yang ada dalam pikirannya itu. Aku ingin sekali ia mengatakannya.

"Tapi aku berpikir kalau kau juga menyukaiku. Kau memberiku harapan."

Hah? Mataku seketika langsung melotot kaget. Kapan aku memberinya harapan? Tunggu dulu, apa tadi dia bilang kalau dia menyukaiku? Aku berusaha untuk tidak tertawa, yang justru malah membuat suaraku seperti baru saja tersedak tulang ikan. Lagipula kucing tersedak tulang ikan? Bukankah itu masuk dalam bagian makanannya? Oh, sudahlah!

"Hm, Har, kurasa kau... kurasa kau salah paham. Maaf, aku tidak menyukaimu." Sungguh ini membuat perasaanku tidak nyaman. Maksudku aku memang tidak benar- benar akrab dengannya tapi menyakiti perasaannya sementara Harry selalu dengan baik hati membeli minuman di kafe milik Josh, memberiku tip dan sebagainya. Harry adalah pria baik meskipun kadang sangat menyebalkan dengan rayuan serta gombalannya padaku tapi itu cukup membuatku terhibur dan fakta bahwa dia juga sahabat Josh, membuatku seperti telah ikut menyakiti Josh. Tunggu, bukankah dia juga sahabat Brandon? Apa ini berarti aku juga telah menyakiti Brandon? Argh, sebenarnya apa yang kupikirkan?!

"Kau menyukainya?"

"Eh, Siapa?" Aku begitu terkejut dengan arah pembicaraan yang tiba- tiba ini.

"Brandon."

Aku tertawa mencoba menyembunyikan perasaan gugupku tiap kali ada orang yang menanyakan perasaan yang kumiliki. Aku memang menyukai Brandon. Ya, aku akui itu tapi aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terus tumbuh dan berlarut- larut. Tidak. Tidak boleh.

"Tentu saja tidak." Sanggahku. "Apa kau lupa kami menikah karena apa?" Aku yakin kalau Harry tahu alasan aku menerima pernikahan ini. Mereka bertiga adalah sahabat, tidak mungkin kalau dia tidak tahu.

Harry menatapku lama. Sangat lama yang kurasa lebih dari seabad ketika aku terselamatkan dengan kemunculan Josh yang tiba- tiba diantara kami.

"Elena? Oh hai Harry, aku tidak melihatmu datang."

Mungkin jika aku tidak terlalu mengenal Josh, aku akan berpikir kalau wajah yang diperlihatkan saat ini bukanlah wajah terkejut karena melihat kami. Josh memandangiku seakan dia mengerti apa yang sedang kualami dan memang dia mengerti dan pilihan apa yang kupunya.

"Elena, bisakah kau datang membantuku di dapur? Kadang aku lupa bagaimana takaran yang pas dengan kue andalanmu itu." Katanya kemudian.

Aku mengangguk sebagai usaha terakhirku untuk segera pergi dari situasi yang tidak nyaman ini.

"Tentu Josh." Jawabku sambil memaksakan diriku agar tersenyum kemudian beralih pada Harry yang masih diam, menatapku. "Apa kau ingin memesan minuman? Tenang saja, aku yang teraktir."

Okey, mungkin ini terlihat aku memberinya harapan tapi jujur saja aku merasa bersalah padanya meskipun aku tahu ini bukanlah sepenuhnya kesalahannya.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kurasa aku akan pulang saja. Terima kasih Elena." Jawabnya dengan senyum terpaksa.

Harry memang tampan dengan senyum menggodanya tapi entah kenapa jauh dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku lebih memilih Brandon. Mereka berdua tampan tapi masing- masing dari mereka memiliki definisi tampan dalam konteks yang berbeda.

Aku menghela napas, merasakan sesak dalam hatiku. "Baiklah. Hati- hati."

Aku melihat kepergiannya dari balik jendela kafe dengan tatapan bersalah hingga mobilnya raib dalam kegelapan malam.

"Jangan khawatir. Harry akan baik- baik saja." Ucapan Josh dibelakangku membuatku sedikit lebih tenang. Aku memang butuh orang seperti Josh untuk tetap bersamaku selain Brandon.

"Aku merasa tidak enak padanya."

"Oh ayolah Elena, Harry bukanlah pria lemah seperti yang kau pikirkan," aku berbalik untuk melihatnya ketika kembali Josh melanjutkan. "Kami bertiga bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang kami inginkan. Ups," serta merta matanya melebar seperti tertangkap basah baru saja menyembunyikan bra dari dalam toko pakaian, membuatku tertawa.

"Jangan khawatir," aku memperlihatkan senyuman penuh pengertian padanya. "Aku tahu kalau kalian bertiga sering bersenang- senang dengan para wanita diluar sana."

"Hei, Brandon sudah tidak pernah lagi melakukannya. Jangan berbuat tidak adil seperti itu padanya."

Kukendikkan bahuku, mencoba bersikap normal. "Aku tahu."

Josh menatapku kemudian menghembuskan napasnya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Elena. Aku tahu ini berat untukmu tapi tidak bisakah kau melepaskannya? Jangan terluka."

Aku tersenyum. "Aku akan baik- baik saja, Josh. Bukankah kau selalu ada disampingku?"

Josh memberiku pelukannya dan memang aku membutuhkannya saat ini. Setidaknya hingga aku merasa tenang dengan perasaan yang kumiliki.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tahu itu."

Lagi- lagi aku menyunggingkan senyumku dibalik tubuhnya. "Hanya itu yang kuinginkan." Gumamku tapi tahu kalau Josh bisa mendengarku.

Aku akan baik- baik saja.

Aku akan baik- baik saja.

Elena akan baik- baik saja.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS