LOVEHATE- TUJUH

Brandon PoV...

Ketika aku kembali, Harry sudah berada di dalam ruanganku. Duduk sambil menikmati secangkir kopi yang sudah habis setengah.

"Kenapa kau disini?" Tanyaku seraya menempatkan pantatku diatas kursiku, tidak mengubris kehadiran Harry.

"Aku menemukan seorang wanita." Beritahunya setelah jeda yang cukup panjang.

Kudongakkan kepalaku sementara sebelah alisku terangkat. "Bukannya kau selalu menemukan wanita?" Sarkasmeku kembali lagi. Sejujurnya bukan hal yang luar biasa jika pria yang masih duduk diatas sofa ruang kantorku ini menemukan wanita, justru akan mengherankan hingga bisa saja masuk dalam kejadian luar biasa jika sedetik saja Harry tidak menemukan wanita dan mencelupkan kejantanannya kedalam sana.

"Dia berbeda." Tukasnya jengkel dan keningku semakin bertaut ketika melihat kejengkelan yang diperlihatkannya. Tidak seperti Harry yang biasanya.

"Okey. Seberapa beda?" Aku mulai penasaran dengan sosok wanita itu.

"Dia pelayan."

Jujur, ini membuatku bingung. Apa Harry mengatakan profesi dari wanita misterius itu atau dia mengatakan kalau dia menyukai wanita yang memakai pakaian pelayan seperti fantasi pria kebanyakan yang menginginkan wanitanya memakai pakaian suster atau... polisi?

"Dia cantik. Bukan, dia sangat cantik." Ralatnya kemudian.

Kupandangi Harry lebih teliti. Harry terus saja menyunggingkan senyum cerah bak matahari musim semi dan terperanggah.

"Tunggu! Hangan bilang kau jatuh cinta pada gadis asing itu." Kataku sedikit tidak menyangka. Harry menyukai seorang wanita? Maksudku ini menyukai dalam artian bukan sekedar ingin celup sana- celup sini seperti yang biasa dia lakukan bukan?

Dia memberiku tatapan tajam. "Jangan konyol. Aku hanya tertarik dengannya okey?"

Kuhembuskan napasku, lega. "Aku pikir juga begitu." Lanjutku kembali melihat berkas didepanku.

"Dia baru bekerja di tempat itu."

"Memang dimana dia bekerja?"

"Di tempat Josh. Lovely's Cafe."

"Benarkah? Kalau begitu dia beruntung. Kudengar Josh tidak sembarangan merekrut pengawai." Balasku mengendikkan bahuku, merasa itu bukanlah urusanku.

"Mungkin dia sangat telaten. Kapan- kapan kita kesana. Bagaimana? Kudengar akhir bulan ini ada live musiknya juga. Aku akan memperkenalkanmu padanya."

Kudongakkan kembali kepalaku, melihat Harry yang masih berseri- seri. "Apa kau yakin dia juga tertarik padamu?"

"Hm well, awalnya dia sok jual mahal tapi kurasa dia juga tertarik padaku." Jawabnya penuh percaya diri dan itu membuatku tergelak lalu kembali memasang wajah mengoda.

"Apa kau yakin ingin mengajakku? Terakhir kali kita bersama, aku harus membereskan kekacauan yang kau buat."

Ya. Kekacauan karena wanita yang dikenalkannya padaku malah mengedip nakal kearahku.

"Ya. Aku berani bertaruh kalau tidak akan ada wanita yang akan melirikmu mengingat kau sudah terikat dengan yang namanya perkawinan."

"Sialan." Aku merutuk tapi juga merasa lega. Bukan lega karena telah menikah, bahkan jika aku maupun aku masih bisa melakukannya. Toh, pernikahanku dengan Elena hanya sebatas diatas kertas.

Aku baru saja kembali ingin membalas perkataan Harry ketika aku mendengar suara dering ponselku dan menampilkan namanya di layar.

Baru sedetik aku mengangkatnya ketika mendengar suara penuh amarah miliknya diseberang.

"Apa yang kau lakukan?"

"Memang apa yang kulakukan?" Aku menanyainya bingung. Dia bahkan sama sekali tidak mengucapkan kalimat pembuka di telpon.

Harry memberiku tatapan yang menandakan pertanyaan apa dia? Yang kubalas dengan anggukan kepala kemudian tergelak. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini dan seandainya jarakku dengannya dekat, dengan senang hati aku akan menendangnya keluar dari sini.

"Apa maksudmu membuang semua pakaianku?"

Aku mengernyit bingung. Inikah yang membuat wanita yang telah menjadi istriku marah? Hanya karena pakaian?

"Aku tidak membuang semua pakaianmu. Hanya beberapa yang kuanggap tidak pantas untuk kau kenakan."

Ku dengar suaranya yang mengerang marah disebelah sana dan entah kenapa aku menyukai suara erangannya. Terdengar seksi di telingaku. Oh sial! Kenapa aku malah berpikir yang macam- macam tentangnya.

"Kalau kau membuang beberapa pakaianku terus aku harus pakai apa, Brandon?" Keluhnya yang membuatku ingin segera pulang dan melihat ekspresinya saat ini apalagi setelah ia menyebut namaku. Dia membuatku bergairah dengan cara yang tak biasa.

Semenjak dia datang ke rumahku dua minggu yang lalu. Ada saja kelakuan yang disatu sisi membuatku ingin marah tapi disisi lain membuatku terhibur.

Seperti kemarin. Dia ingin menggoreng ayam tapi tanpa sengaja dia menyenggol panci sehingga minyak yang dipegangnya jatuh dan tumpah dan Claire yang tadinya ingin mengambil air minum seketika terpeleset dan jatuh menimpaku yang kebetulan lewat di depannya atau ketika dia tidak sengaja menyalakan alarm kebakaran, membuatku harus berlari hanya menggunakan handuk sementara dia tertawa terpingkal- pingkal di lantai. Alasannya untuk menguji seberapa tangkas diriku jika terjadi kejadian serupa. Membuatku harus mengertakkan gigiku yang langsung membuatnya terdiam dan aku menyadari kalau pipinya meronah karena melihatku yang setengah telanjang.

Aku sebenarnya hanya ingin menggodanya dengan menghampirinya tapi dia langsung lari terbirit- terbirit dan baru pulang larut malam.

"Aku sudah menyiapkan pakaianmu di dalam lemari."

Lagi- lagi aku mendengar suara erangan diseberang. "Apa kau bercanda? Kau mengharapkanku memakai pakaian itu?"

"Itu masih lebih baik dibandingkan dengan pakaian yang memperlihatkan setiap bentuk tubuhmu."

"Baiklah. Berikan kartumu."

"Untuk apa?"

"Kau menyuruhku membeli pakaian untukku sendiri kemarin." Serunya kesal.

Aku terkekeh. "Terlambat. Kau sudah menolak penawaranku kemarin."

"Aku membencimu, Brandon."

"Aku juga mencintaimu sayang."

Tuut tuut tuut

Aku tertawa mendengar dia sudah memutuskan sambungan disana kemudian menyadari tatapan Harry padaku.

"Apa?" Tanyaku heran merasa aneh dengan tatapannya.

"Apa kau sudah mulai menyukainya?"

"Siapa?"

"Adiknya Julia."

Aku tertawa. "Jangan konyol. Mana mungkin aku menyukainya. Kami menikah karena orang tua, ingat?"

"Tapi tetap saja pilihan ada ditanganmu."

"Jadi karena kau menyukai gadis pelayan itu. Kau mengira aku menyukainya?"

"Bisa saja. Kalian tinggal bersama kan?"

"Kau harus menghitung Claire juga."

"Tapi Claire tidak tidur bersamamu."

Aku terdiam menyadari ucapannya. Aku merasa Harry yang saat ini di hadapanku bukanlah Harry yang biasanya kukenal.

"Oh baiklah. Kita akan melihat gadis pelayan itu nanti tapi jangan salahkan aku kalau dia menggodaku." Kataku menyerah.

"Jangan khawatir. Dia sepertinya tidak suka dengan pria beristri." Sahutnya percaya diri.

Kali ini aku berhasil mengusirnya dari kantorku. Sepeninggal Harry, aku memikirkan ucapan Harry. Ah, tidak mungkin.

Aku harus segera mencari tahu keberadaan Julia dan pacarnya itu setelah itu akan kuputuskan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS