MASK- DELAPAN
Rasanya aku ingin pesta ini segera berakhir. Aku sudah sengaja datang terlambat untuk menghindari beberapa orang tertentu tapi tetap saja itu tidak mengubah keadaan.
Pesta pernikahan Laura dan James berlangsung dengan meriah, tentu saja. Mengingat baik Laura maupun James berasal dari keluarga terpandang dan dikenal oleh semua para pengusaha lainnya.
Sebenarnya pesta ini lebih terlihat seperti perayaan pernikahan mereka tapi Laura bersikukuh untuk mengingat kembali masa- masa dimana mereka menikah dulu dan jadilah seperti ini. Pesta pernikahan dengan adanya undangan yang disebar, gaun serta beberapa buket bunga seperti pada pesta pernikahan pada umumnya.
Aku memang sudah mengatakan pada Laura kalau mungkin aku akan datang terlambat dikarenakan pesawat yang akan kutumpangi mengalami delay. Tiga hari sejak kejadian dikamar Jullian dulu membuatku harus menjaga jarak darinya. Ada yang aneh setelah itu dan untungnya Mia langsung memberitahuku kalau aku mendapatkan undangan dari Paris Fashion week.
"Kau tampak baik, sister."
Aku tidak perlu bertanya siapa yang baru saja menyapaku. Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak ingin kutemui apalagi dalam pesta ini. "Sudah lama kita tidak bertemu. Hm kira- kira berapa lama ya? Ah. Ya. Terakhir waktu pernikahanmu dulu, iyakan? Kau semakin cantik, sister."
Aku tidak perlu bertanya siapa yang baru saja menyapaku. Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak ingin kutemui apalagi dalam pesta ini. "Sudah lama kita tidak bertemu. Hm kira- kira berapa lama ya? Ah. Ya. Terakhir waktu pernikahanmu dulu, iyakan? Kau semakin cantik, sister."
Kubalikkan badanku untuk menghadapnya dan langsung berhadapan dengan pria itu. Jika Jullian adalah pria dengan beberapa kharisma yang tampak membuatnya bak dewa yunani dan pembawaannya yang tegas. Berbeda dengan pria dihadapanku kali ini, pria dihadapanku ini memang tampan tapi siapapun yang mengenalnya dengan baik pasti akan menyadari kalau ada kelicikan didalamnya dan sialnya hanya aku yang paling dia perlihatkan.
"Kutebak para wanita disini sama sekali tidak membuatmu tertarik, iyakan Collin?" Ujarku memperlihatkan senyum paling sinisku.
Collin tertawa dan menyesap cocktail yang baru saja dibawakan oleh pelayan yang baru saja berkeliling.
"Bukankah sudah jelas siapa wanita yang paling mendapatkan banyak perhatian di pesta ini?" Ucapnya lambat tapi tidak melepaskan pandangannya dariku. "Harus kuakui caramu mendapatkan perhatian tadi sangat menakjubkan."
"Kalau kau hanya datang untuk mengatakan betapa cantiknya aku malam ini maka kuucapkan terima kasih. Tidak perlu mengatakan kalimat berbelit- belit."
Kembali Collin tertawa. "Ternyata masuk ke keluarga Anderson dan menikah dengan bajingan yang bernama Jullian itu, membuatmu semakin sombong."
Aku tertawa membalas ucapannya. "Bukankah sudah jelas? Kalau kau keberatan, katakan itu pada ayah dan suruh dia membatalkan pernikahan bisnis ini. Aku tidak keberatan menjadi janda sekarang."
Aku bisa melihat rahang Collin mengeras. Tentu saja dia tahu dampak yang akan timbul jika sampai pernikahan ini dibatalkan. Posisiku saat ini hanyalah tumbal, tumbal tak berharga untuk menjalin kerjasama.
"Well, harus kuakui kau cukup pintar untuk seorang anak...." Collin sengaja mendekatkan kepalanya di telingaku dan berbisik. "Haram, adikku sayang."
Aku seperti merasakan tubuhku mendadak kaku mendengar kalimat akhirnya. Ku katupkan bibirku rapat dan menutup mataku beberapa saat lalu kembali melihatnya. Aku bisa melihat dia tersenyum penuh kemenangan dan aku tahu kalau dia mengharapkan aku akan berlari dan mungkin saja menitikkan air mata. Ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu dan aku menolak untuk kalah darinya kali ini.
Aku sengaja menyunggingkan senyum paling mematikanku. "Tentu saja dan harus kau akui karena anak haram inilah," aku sengaja menunjuk diriku sendiri. "Hingga perusahaanmu dan orang itu bisa terselamatkan." Ucapku tanpa melepaskan senyum dibibirku.
Collin seakan ingin menghancurkan gelas yang dipegangnya dengan tangannya tapi segera berhenti dan tertawa.
"Wow aku hampir saja kehilangan kendali, sister."
"Sangat senang bisa melihatmu bisa mengontrol diri." Balasku tidak mau kalah. Kami berdua saling bertatapan hingga Collin yang pertama memecahkan suasana.
"Kuharap kau bisa setangguh ini jika berhadapan dengan suamimu." Ucapnya kemudian. Kuikuti arah pandangannya dan mengerti apa maksud ucapannya. Jullian sedang tertawa dengan Caroline, meskipun tidak ada kontak fisik yang bisa membuat orang lain yang melihatnya menjadi curiga tapi aku tahu. "bahkan suamimu sendiri lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dirimu yang memang sudah menjadi istrinya dan kudengar kalau mereka baru saja pulang dari berlibur."
Aku memang tahu kalau Jullian baru saja pulang dari Milan beberapa hari yang lalu dan aku sengaja tidak ingin mengetahui apa yang dia lakukan di luar. Aku tidak ingin membebaninya dengan kehidupanku yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu apa. Ini hanya pernikahan sementara dan akan berakhir setelah setahun.
Kualihkan pandanganku, kembali melihat Collin yang ternyata sedang menatapku, seakan menunggu sesuatu.
"Aku tidak tahu kalau kau adalah kakak yang sangat perhatian sampai hari ini tapi biar kutekankan sesuatu, hubunganku dengan Jullian masih tergolong baik- baik saja."
"Oh ya?"
"Mau dengar pendapatku?"
Tidak ada jawaban.
"Urusi saja perusahaan itu agar pengorbananku tidak sia- sia dan jangan menyewa informan lagi. Itu akan menghabiskan uangmu atau uang perusahaan, terserahlah kau menyebutnya apa." Dia hendak menahanku tapi langsung ku potong. "Kau bisa langsung menanyaiku dan aku dengan senang hati akan menceritakan apapun yang ingin kau ketahui termasuk urusan tempat tidurku. Oh. Dan jangan lagi menyuruh teman- temanmu atau siapapun itu untuk berpura- pura menjadi klienku atau menawarkan sejumlah uang yang besar hanya karena ingin mengujiku. Kau tahu aku tidak akan tertipu dengan masalah kecil itu."
"Sudah kuduga ternyata setelah menikah kau menjadi lebih pintar."
"Aku tahu." Balasku tersenyum. "Aku rasa sudah tidak ada yang perlu bicarakan lagi jadi aku undur diri."
Kemungkinan aku akan langsung pulang dan beristirahat. Aku benar- benar lelah saat ini hingga aku merasakan sebuah tangan menahanku ketika akan berbalik.
"Buktikan kalau hubunganmu dengannya baik- baik saja."
"Apa?"
"Bukankah kau bilang kalau hubunganmu dengan Jullian baik- baik saja? Buktikan kalau begitu." Tantang Collin.
Kuhempaskan tangannya dari tanganku, "dan kenapa aku harus melakukannya?" Tantangku balik.
"Karena aku ingin tahu kalau kau tidak sekedar berbohong. Oh dan mungkin aku bisa meminimalis para pria kaya itu untukmu."
"Brengsek."
Collin tertawa mengejek. "Ahhh sudah lama aku tidak mendengar kata itu dari bibirmu. Pertama kali aku mendengarnya ketika kau masih di Senior School dan hendak..."
"Hentikan!" Kugigit bibir bawahku menahan amarah yang akan keluar akibat pengalaman menyakitkan yang pernah ditimbulkan olehnya hingga merasakan rasa karat dan asin di bibirku.
"Kutebak kau sudah mengerti maksudku." Collin kembali menyunggingkan seringai liciknya. "Dan lakukan disini dengan dilihat oleh orang lain."
"Kau gila." Desisku
"Kalau begitu kau tidaklah setangguh yang kupikirkan."
Kami berdua saling menatap.
"Pastikan saja kau mematuhi ucapanmu dan ingat jangan lagi menyuruh pria-pria itu mendatangiku."
"Tergantung bagaimana penampilanmu malam ini sayang."
Kepalaku terasa berat, mungkin saja karena aku masih mengalami jetlag jadi rasanya ruangan ini seperti berputar. Kubalikkan badanku dan berjalan menghampiri Jullian yang rupanya sedang melihat kearahku.
Kenapa dia melihatku seperti itu? Apa dia mendengar pembicaraan antara aku dan Collin? Tapi itu tidak mungkin, jarakku dan jaraknya cukup jauh jadi tidak mungkin.
"Hai Caroline." Sapaku setelah berada dihadapan Jullian dan Carol. Carol tampak melihatku dengan kaget dan aku merasa bersalah karena harus menyakitinya malam ini. "Maaf, bisakah aku meminjam Jullian sebentar?" Tanyaku yang dibalas tatapan penuh curiga darinya.
"Dimana?" Tanya Jullian tiba- tiba.
Eh?
Aku agak terkejut ketika tanpa diduga Jullian mengatakan hal itu.
"Baiklah. Mari kita berdansa sekaligus kita bisa bicara berdua." Lanjutnya. Tidak hanya aku tapi juga Carol yang tampak kaget mendengar ucapan Jullian tadi. Kualihkan pandanganku dan langsung bertatapan dengan Collin yang seakan menantangku.
"Baiklah."
Sejujurnya berada sedekat ini dengan Jullian membuatku merasa tidak nyaman apalagi ketika ia menempatkan sebelah tangannya di punggungku yang terbuka membuatku entahlah merasa panas dan aku tidak tahu kenapa aku merasa menggigil seperti ini. Sepertinya tubuhku benar- benar lelah.
"Kau tidak apa- apa?" Tanyanya setelah entah sudah berapa kali aku tidak sengaja menginjak kakinya.
"Maaf. Kurasa aku terlalu lelah malam ini." Jawabku tersenyum.
"Kau bisa menumpuhkan semua berat badanmu ke tubuhku."
Aku tertawa menimpalinya. "Dan membuatmu harus menahan berat badanku."kugelengkan kepalaku. "Kurasa itu bukan ide yang bagus."
Dia ikut tertawa. "Benar juga. Jadi apa kau mau istirahat?"
Aku menggeleng. "Tidak. Mungkin ada baiknya kalau kita sekalian memperlihatkan pada kedua orang tua kita kalau pernikahan kita baik- baik saja." Jawabku seraya melirik baik itu orang tuaku maupun orang tua Jullian ditambah dengan kakek yang entah sejak kapan mereka melihat kearah kami.
Jullian ikut melihat kearah yang kulihat dan berkata. "Ya. Kau benar."
Aku kembali melihat kearah Jullian dan tersenyum. "Maaf karena membuatmu harus berpisah dengan Carol."
Tidak ada jawaban darinya. Entah berapa lama keheningan tercipta diantara kami dan aku juga tidak tahu harus mengatakan apa padanya hingga aku melihat Collin berada tepat dibelakang Jullian, sedang berdansa dengan seorang wanita yang sepertinya tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Collin tapi Collin sama sekali tidak melihat wanita itu dan malah memberiku senyum meremehkan.
Lakukan saja, Azalea! Toh, hanya malam ini.
Kubulatkan tekad dalam diriku, menyingkirkan perasaan bersalah yang tadi hinggap dan balik menatap Collin yang sempat mengangkat kedua keningnya.
Awalnya aku hanya mendekatkan bibirku di bibir Jullian. Bibirnya beraroma mint hingga terasa memabukkan di bibirku. Aku bisa merasakan tubuh Jullian kaget tapi tidak melepaskan tangannya dariku. Well, setidaknya dia tidak mempermalukan diriku malam ini dan untuk terakhir kalinya aku mengecup bibirnya lembut. Sangat lembut dan mendesah ketika berpikir semuanya sudah berakhir. Sudah cukup topeng yang kulepas malam ini.
Kulepaskan bibirnya hingga kedua mata kami bertemu dan tersenyum ketika tangannya berada di tengkukku dan bibir kami kembali bertemu tapi bukan seperti yang tadi kulakukan.
Aku mengerjap kaget ketika merasakan lidah Jullian telah berada di dalam mulutku hingga bisa merasakan aroma mint miliknya lagi membuatku terhipnotis dan balas menciumnya.
***

Comments
Post a Comment