MISSING YOU - 28

"Senang bertemu denganmu lagi, Bianca Evelyona atau haruskah kusebut Dokter Bianca Evelyona Roseen. Apa kabar?"

Oh tidak!

"Ha. Ha. Ha. Apa- apa yang baru saja kau bicarakan?" Tanyanya mencari celah untuk meloloskan diri.

"Hm benarkah? Tapi sepertinya kita berdua tahu apa yang kita berdua bicarakan. Bagaimana menurutmu?"

"Aku..."

"Apa kita akan terus bermain petak umpet seperti ini, Bi? Aku tidak keberatan." Lalu matanya beralih kearah depan dan tersenyum. "Woi Sean, kemari."

"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Bianca tertahan apalagi ketika Sean melihat mereka dengan kening berkerut.

"Wow. Aku tidak menyangka akan melihat kalian berdua disini." Goda Vivian yang memang datang bersama dengan Sean.

"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Sean tapi pandangannya lurus menatap Bianca.

"Berbicara." Jawab Roxyan dengan senyum puas melirik Bianca.

"Bicara?"

Roxyan mengangguk. "Yup. Apa kau mau ikut dengan kami?"

"Apa yang kau lakukan?" Bisik Bianca pada Roxyan.

Kening Sean semakin bertaut ketika melihat sebelah tangan Bianca justru menarik kemeja Roxyan diam- diam.

"Bagaimana kalau lain kali? Kita berempat bisa mengadakan pesta ditempat Sean atau tempatmu." Usul Vivian, semakin membuat Bianca melotot.

"Ide bagus. Bagaimana menurutmu, Sean?"

"Tidak masalah." Balas Sean seraya mengendikkan bahu.

"Bagus. Lusa di tempatmu."

"Ku- aku rasa aku tidak bisa." Ucap Bianca lirih. "Maaf."

"Ayolah, Bi. Aku tidak mungkin datang sendirian kesana." Rengek Vivian memegang tangannya.

"Tapi..."

"Bianca pasti datang." Sahut Roxyan yang langsung mendapatkan tatapan tidak hanya dari Bianca tapi juga Sean. "Ini pertama kalinya kau datang ke sini, iyakan Bianca?" Bianca bisa merasakan ada nada mengejek yang ditujukan padanya. "Setidaknya kita harus merayakan kedatanganmu kemari dan rumah Sean adalah tempat yang sangat cocok untuk merayakan pesta."

Bianca baru saja ingin membalas ucapan Roxyan ketika kembali mendengar permohonan Vivian. Setelah menghela napas panjang, dengan terpaksa akhirnya ia mengiyakan tapi sebelumnya dia memberi Roxyan tatapan tajam dan pergi.

.

.

Bianca baru saja masuk kedalam mobilnya ketika disaat yang bersamaan seseorang juga ikut maksud.

"Apa yang kau lakukan?" Seru Bianca kaget ketika mengira Roxyan adalah perampok dan ingin merampoknya.

"Aku ingin ikut denganmu?" Roxyan menjawab santai sambil mengenakan seatbeltnya.

"Kau gila ya? Apa kau tahu sekarang sudah jam berapa? Jam 10 malam."

"Aku tahu."

"Dan?"

"Kau berutang penjelasan padaku."

"Aku tidak merasa berutang penjelasan padamu."

"Terserah. bisakah kau menjalankan mobilmu? Sean sedang melihat kita."

Bianca mengedarkan pandangannya dan benar saja Sean berdiri di parkiran tidak jauh dari mereka dan sedang melihatnya, mungkin lebih tepatnya kearah mobilnya dengan kening yang bertaut.

"Apa yang kau lakukan?" Pekik Bianca nyaris histeris.

"Tidak ada."

"Dan kata tidak adamu itu mengambarkan adanya sesuatu."

Roxyan yang tadinya memejamkan mata seketika berpaling dan memandang wanita di sampingnya dengan mata menyipit.

"Kau berubah." Ujarnya.

"Berubah?"

"Ya. Kau semakin pintar berdebat. Aku penasaran kenapa kau menyembunyikan hal ini dan pura- pura tidak mengingat kami."

Sejenak Bianca memejamkan matanya. Ini akan sulit. "Aku tidak pura- pura."

"Well, aku punya waktu yang banyak untuk mendengarnya."

Lama mereka diam hingga mau tidak mau Bianca menarik napas panjang dan menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.

"Kau mau kemana?" Tanya Bianca setelah lama tidak ada yang berbicara.

"Apartemenmu." Dan untuk pertama kalinya, Bianca menatap Roxyan dengan tatapan horor.

"Untuk apa?"

Roxyan balas menatap Bianca. "Aku perlu tahu bagaimana kehidupanmu selama enam tahun belakangan ini kecuali kau menyembunyikan tunanganmu disana. Aku bahkan tidak keberatan menendangnya agar kita bisa berduaan." Ucapnya tajam.

"Andrew tidak ada disana."

"Kalau begitu apa yang kau takutkan? Apa kau mengharapkan aku juga memanggil Sean? Aku tidak keberatan jika dia datang. Kuharap itu bisa membuatmu mengatakan yang sebenarnya."

"Kau keras kepala."

"Kurasa kita berdua tahu siapa yang lebih keras kepala setelah enam tahun ini." Balasnya sinis lalu kembali hening bahkan setelah Roxyan berada di dalam apartemen Bianca, Roxyan hanya berjalan mengamati seluruhnya.

"Sepertinya kehidupanmu selama ini sangat nyaman. Kau bahkan tidak memiliki fotonya." Komentar Roxyan setelah menerima minuman yang baru saja disodorkan oleh Bianca padanya.

"Aku minta maaf." Ujar Bianca. "Tapi bagaimana kau bisa menyadarinya?" Dia berusaha menetralisir keadaan. Biar bagaimanapun ini juga kesalahannya dan wajar saja Roxyan marah padanya.

"Roxy."

"Apa?"

"Kau memanggilku, Roxy dan seingatku hanya satu wanita yang sering memanggilku dengan nama menyebalkan seperti itu." Cibirnya.

"Oh. Harusnya aku tidak terbawa emosi saat itu." Balasnya menyadari kebodohannya.

Sejenak Roxyan meliriknya. "Jangan membuat wajah pura- pura innocent seperti itu, okey? Aku masih merasa kecewa denganmu."

"Oh ayolah, Roxy. Berhenti menjadi nenek- nenek yang sedang PMS. Apa kau sudah makan malam? Mau kubuatkan makanan?"

"Apa kau bisa masak? Aku tidak mau merasakan masakan yang memang tidak bisa dikatakan sebagai makanan, okey? Aku bisa memesan makanan."

"Oh ayolah. Masakanku tidak seburuk itu."

"Memang tidak jika aku tidak ingat kau pernah membuat kami tidak bisa berhenti ke kamar mandi kala itu."

"Cih. Kau memang seperti nenek- nenek..."

"Yang sedang PMS? Aku tahu"

"Oh. Betapa aku merindukanmu, Roxy." Bianca tertawa dan langsung memeluk Roxyan.

"Aku juga. Bagaimana kabarmu?" Balasnya mengelus punggung Bianca.

"Baik." Ujarnya setelah melepas pelukannya.

"Ya. Aku bisa melihatnya dan aku masih..."

"Berutang penjelasan? Baiklah. Kita bisa memesan pizza sebagai makan malam."

Ini akan menjadi malam yang melelahkan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS