MISSING YOU - 1
Sean....!
Sean....!
Hey Sean!
Terdengar suara teriakan tidak sabar kearahnya, membuatnya sedikit kesal dan berbalik ketika kedua matanya melihat seorang gadis ... tidak. lebih tepat gadisnya. Miliknya. Hidupnya. Nyawanya sedang tertawa cekikikan kearahnya. Rambutnya yang pirang sebahu berkibar karena tertiup angin.
"Apa kau mencintaiku, Sean?" Tanya gadis itu yang entah mengapa tiba- tiba sudah berada di depannya.
.
.
.
Kringgggggg
Suara weker membangunkan dirinya dari mimpi yang selama 3 hari ini selalu mendatanginya. Selalu kata- kata dan pertanyaan yang sama.
Apa kau mencintaiku, Sean?
Tapi ketika ia akan menjawab, selalu pula ia terbangun. Di tatapnya langit- langit kamarnya yang berwarna krem dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengayunkan kakinya beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari kamarnya.
Hal pertama yang menyambutnya ketika ia memasuki kamar itu adalah nuansa kamar berwarna pink yang dipenuhi dengan berbagai macam boneka di sudut lantai. Hanya ada dua boneka beruang yang kelewat besar di atas tempat tidur.
Dengan gerakan pelan, Sean mengulurkan tangan dan menurunkan salah satu boneka beruang yang berwarna coklat itu ke lantai. Berhati- hati untuk tidak meletakkan begitu saja boneka itu.
Pelan- pelan ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh mungil si empunya boneka tadi dan membaringkan tubuhnya di tempat boneka tadi berada. Beberapa detik kemudian, sebuah tangan mungil mulai merambat menuju ke perut dan berakhir di dadanya. Sean berusaha untuk tidak tertawa.
"Daddy?"
Sean tersenyum. "Pagi princess." Sapanya.
"Pagi daddy." Balas putri kecilnya seraya merangkak agar lebih dekat dengannya. Otomatis tubuh Sean memeluk putrinya dan diam- diam menghirup aroma coklat dari rambut brunette si pemilik. Sean tidak mengerti kenapa bisa putrinya memiliki rambut brunette karena dirinya sama sekali memiliki rambut yang berwarna perunggu tapi karena dia sama sekali tidak pernah melihat warna rambut asli miliknya maka dia berkesimpulan kalau putrinya mewarisi warna rambut dia.
"Apa yang daddy lakukan di kamar Ivy?" Tanya Ivy, putrinya. Kedua mata coklat yang sangat cocok dengan warna rambutnya itu semakin membuatnya terlihat cantik dan menggemaskan. Sean berdoa semoga Ivy tidak cepat dewasa dan selamanya akan menjadi gadis kecilnya. Sean bahkan sudah membayangkan akan menjadi apa Ivy ketika besar nanti dan mengertakkan gigi membayangkan berapa banyak laki- laki yang akan menggodanya kelak.
Ivy Aleandra Carter adalah nama yang dipilihnya untuk gadis kecil kesayangannya dan juga satu- satunya. Ivy adalah hartanya, nyawanya dan napasnya yang dia miliki. Dia masih merasa menyesal jika mengingat kalau dia pernah melewatkan dua tahun tidak menjaga dan merawat anaknya itu dan malah berkubang dalam kesedihan karena kehilangan belahan jiwanya hingga Roxyan Grawthorn, sahabatnya berinisiatif menariknya keluar dalam kubangan kesedihan.
"Daddy... daddy?"
Sean tersentak dari lamunannya dan mendapati putrinya menatapnya dengan bingung.
"Eh, iya? Ada apa princess?"
Ivy mendengus dan itu membuat Sean tertawa. "Apa daddy akan mengantarku ke sekolah hari ini?" Tanyanya meskipun ada nada kesal karena tadi tidak dipedulikan.
Sean sengaja mengangkat sebelah alisnya, menggoda. "Haruskah?"
Ivy langsung merajuk dan hendak melepaskan diri dari pelukan ayahnya, semakin membuat Sean tertawa tapi tidak melepaskan pelukannya. Dia sudah berjanji akan menebus dua tahun yang dilewatkannya itu dengan melakukan apa saja untuk putrinya.
Tapi sulit baginya untuk tidak menggoda putrinya itu juga karena mereka memiliki ekspresi merajuk yang sama. Saat ini usia putrinya sudah menginjak 5 tahun. Sebulan lagi tepatnya tanggal 14 februari, Ivy akan berusia genap 6 tahun.
Sean akan melakukan apa saja agar bisa bersama putrinya termasuk tidak melakukan atau menerima pekerjaan di hari putrinya berulang tahun. Profesinya sebagai dokter bedah di rumah sakit terkemuka di kota London membuatnya nyaris tidak bisa menemani putrinya tidur atau sekedar mengantarnya ke sekolah.
"Tentu." Jawab Sean seraya mengecup puncak kepala Ivy.
"Asyik!" Seru Ivy riang.
Tidak sampai dua jam, mereka berdua berjalan mengitari koridor kelas sekolah putrinya. Tidak hentinya Ivy bersenandung selama perjalanan, membuat Sean ikut- ikutan bersenandung dan harus menerima delikan tajam dari putrinya itu karena selalu salah lirik tapi selain itu Ivy tampak baik- baik saja dan melanjutkan senandungnya.
Setelah mengucapkan salam pada para pengajar sekolah putrinya yang Sean sadari beberapa dari mereka diam- diam mencuri pandang padanya.
Di usianya yang menginjak 34 tahun di tambah profesinya yang sebagai dokter semakin membuatnya mendapatkan tatapan penuh pemujaan dari para kaum hawa dan statusnya yang masih sendiri meskipun telah memiliki anak tidak membuatnya bercela bahkan semakin menjadi- jadi apalagi jika melihat bagaimana interaksi ayah dan anak itu, mengundang para wanita single berbondong- bondong ingin menjadi ibu tiri Ivy. Lagipula Ivy juga anak yang manis, baik hati dan menggemaskan serta lembut semakin membuat para wanita diluar sana berpikir tidak akan sulit membesarkan anak sekecil Ivy.
"Pastikan kamu belajar dengan baik okey?" Pesan Sean ketika sudah sejajar dengan tinggi putrinya.
Ivy menggangguk. "Sampai nanti dad. I love you."
Sean tersenyum dan mencium kedua pipi tembem dengan semburat- semburat pink di sekitarnya. "I love you more, princess."
Lalu Ivy berpaling darinya dan berlari masuk ke dalam kelasnya. Dari kejauhan Sean melihat Ivy mulai bermain dan tertawa dengan teman- temannya.
****
Comments
Post a Comment