MISSING YOU - 10

Drtttt....

Dengan susah payah akhirnya Bianca berhasil meraih ponselnya yang tergelatak lalu menempelkannya di telinga setelah sebelumnya menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

"Halo"

"Duh anak dadda ini. Kebiasaannya gak pernah hilang. Selalu bangun siang."

"Dad. Aduh!" Serunya terperanjat karena tidak mengira akan mendapatkan telpon dari ayahnya dan mengerang kesakitan ketika kepalanya terantuk kepala tempat tidur akibat terlalu cepat bangun.

Diseberang ayahnya tertawa menimpali, sudah mengenal kebiasaan putri semata wayangnya ini.

"Kejam" rengeknya manja

"Kejam mana sama orang yang sama sekali tidak menghubungi baik dadda maupun mamma sebulan sejak kepindahannya?"

Oh tidak!

"Dan jangan coba- coba mencari alasan Bianca. Dadda tahu kau sedang merencanakan sesuatu."

"Hehehe you are my real dad."

"Usaha yang bagus, pumpkin. Jadi bagaimana kerjaanmu di sana? Apakah bagus? Bagaimana lingkungan rumah sakitnya? Para dokternya? Dadda harap kau bisa bergaul dengan mereka dengan baik. Oh dan jangan..."

"Wow... wow dad. Pelan- pelan." Potong Bianca cepat- cepat setelah mendengar serentetan kalimat yang diutarakan oleh ayahanda tercintanya, Immanuel Roseen. "Bianca perlu space untuk menjawab semua pertanyaan dadda" Lanjutnya seraya turun dari tempat tidur nyamannya dan melangkahkan kakinya ke ruang dapur. Lalu segera membuka pintu kulkas sesampainya ia disana dan mengeluarkan sekotak jus jeruk kemudian menuangnya ke dalam gelas.

"Baiklah. Jawab saja pertanyaan dadda yang tadi. Bagaimana pekerjaanmu di sana?"

Bianca terkikik geli mendengar nada mengalah seorang Immanuel Roseen dan hanya seorang Bianca lah yang dapat melakukan itu.

Jika ibunya, Alicia Roseen cenderung melarang apapun yang ingin dilakukan oleh Bianca maka Immanuel justru membiarkan Bianca melakukan apapun itu. Daddy's daughter adalah kalimat yang disematkan Vivian padanya ketika mengetahui betapa sayangnya Immanuel terhadap Bianca. Bukan berarti Alicia tidak sayang tapi ibunya lebih kearah sikap over protectivenya. Seakan jika ada orang yang mendekat dalam jarak 5 meter, maka orang itu jahat. Vivian dulu harus bersusah payah meyakinkan Alicia kalau dia hanya ingin berteman dengan putrinya.

"Kerjaanku baik malah lebih dari kata baik, dad."

"Oh baguslah. Bagaimana dengan dirimu? Kuharap kau tidak sakit- sakitan selama kau berjauhan dengan kami."

Mau tidak mau Bianca memutar matanya atas pernyataan konyol Immanuel barusan. "Putrimu seorang dokter, dad. Apa dadda lupa?"

"Dokter juga manusia, pumpkin."

Oh. Inilah yang Bianca tidak suka. Immanuel kadang sangat berlebihan jika menyangkut tubuhnya hampir sama dengan Alicia.

"Bagaimana keadaan mamma? Apa dia baik- baik saja?" Bianca mencoba mengalihkan pembicaraan yang pada akhirnya dia tahu, dia akan kalah. Orang tuanya tidak akan berhenti berbicara jika itu menyangkut kata dokter. Entah kenapa Alicia anti dengan profesi menyembuhkan orang itu dan Immanuel dengan cintanya selalu menuruti keinginan sang istri.

"Baik tapi masih marah karena kau lebih memilih pindah dari sini ke sana."

"Oh ayolah dad, di sini tidak seburuk itu kok."

"Tentu saja buruk. Kau sendirian dan kedinginan disana."

Oh great, ayahnya mulai bersikap melebih- lebihkan seperti ibunya. "Dad, dengar. Aku memang sendirian tapi tidak kedinginan seperti yang dad tuduhkan, okey? Aku punya pemanas yang sangat bagus, kalau dad ingin tahu."

Kembali Immanuel tertawa. "Oh, aku merindukanmu pumpkin."

"Aku juga merindukanmu, dad dan berhentilah memanggilku dengan nama makanan seperti itu."

"Oh kenapa? Dad suka."

Tentu saja. "Baiklah. Ceritakan apa yang sudah terjadi disana."

"Hey bukankah seharusnya dad yang bertanya seperti itu?" Seru Immanuel tidak terima membuat Bianca terkekeh. Dia senang bersikap begini pada ayahnya. Ayahnya lebih cenderung menghadapi Bianca layaknya seorang teman juga anak. Berbeda dengan ibunya yang kaku.

"Baiklah. Aku menyerah. Apa yang ingin dadda ketahui?"

"Semuanya."

"Tidak semuanya berakhir bahagia dad."

"Tapi setidaknya kau sudah mengecap yang rasanya pahit kan, pumpkin?"

Lalu meluncurlah semua cerita mulai dari setibanya ia di kota ini kemudian berlanjut dengan apa yang dilakukannya di rumah sakit dan semuanya itu tidak luput di telinga ayahnya.

"Hmm tidak semenarik yang dadda bayangkan." Komentar Immanuel setelah Bianca selesai bercerita.

"Itulah yang tadi kukatakan."

"Yang menarik hanyalah ketika kau memutuskan akan mengambil alih operasi anak itu. Kenapa dokter hm siapa namanya tadi... Corny?"

"Dokter Carter, Dad."

Terkadang Bianca heran dengan sikap masa bodoh ayahnya terhadap nama belakang seseorang. Seakan- akan itu tidak penting baginya. Dia seorang pemimpin di perusahaan yang sangat besar di bidang pertambangan yang notabene sering berinteraksi dengan para klien tapi herannya tidak terlalu mengingat nama seseorang.

"Ya dia. Bukankah kau adalah dokter handal di rumah sakit ini?"

Oh sangat ayahnya. Menolak dikalahkan begitu saja.

"Tidak juga, dad. Waktu itu aku belum memiliki izin melakukan bedah jadi wajar saja dokter Carter melarangku. Dia hanya melindungi staffnya, dad.

Oh bagus. Vivian akan tertawa terbahak- bahak jika mendengar hal ini. Akulah yang dulunya ngotot marah- marah tidak terima. Tambahnya dalam hati

"Terserah kau saja tapi kalau dia macam- macam denganmu. Dadda sendiri yang akan turun tangan."

Oke. Fix. Ini terlalu berlebihan. "Jangan melibatkan unsur kekuasaan di tempatku bekerja dad. Ini bukanlah kesepakatan antara dua belah pihak."

Sejenak tidak ada suara hingga Emmanuel berdehem. "Hmm kau yakin tidak ingin menggantikan posisi dadda, pumpkin?"

Hampir saja Bianca tertawa kalau tidak mengingat pembicaraan mereka tadi. "Dadda tahu apa jawabanku."

"Yeah setidaknya dadda sudah mencoba."

Kali ini Bianca sukses tertawa. "Astaga, dad selalu berhasil membuatku tidak bisa marah."

"Dad juga senang mendengarmu tertawa. Oh iya, apa kau tidak ke rumah sakit?"

Bianca melirik jam di dindingnya. Pukul 10 lewat yang berarti sudah dua jam dia berbicara dengan ayahnya.

"Umm sepertinya aku sudah harus bersiap- siap. Terima kasih sudah membangunkanku, dad."

"Anytime pumpkin."

"I love you."

"Love you more, sweetheart"

***

Satu jam lewat empat puluh lima menit kemudian. Akhirnya Bianca tiba di rumah sakit dan setelah menganti pakaiannya dengan jas dokternya, ia lalu melangkahkan kakinya menyusuri ruang perawatan dan UGD demi melakukan pemeriksaan rutin. Hal ini dia lakukan untuk mengetahui lebih jelas keadaan pasiennya.

20 menit ia melakukan pemeriksaan ketika seorang suster yang diketahui bernama Nora kaget ketika melihatnya.

"Lho dokter Roseen?"

"Hai Nora. Hmm daritadi aku perhatikan dokter-dokter lainnya tidak ada. Apa ada operasi besar- besaran ya?" Tanya Bianca setelah menyerahkan hasil pemeriksaannya ke Nora.

"Dokter tidak tahu? Semua dokter bedah di suruh ke ruang konferensi dan beberapa dokter di bagian anestesi dan syaraf."

Eh?

"Semuanya sudah dikirimi pemberitahuan melalui messenger pagi tadi."

Cepat- cepat Bianca merogoh kantung bajunya dan membelalak mendapatkan pesan yang memberitahukan waktu diadakannya rapat dan sialnya itu lima puluh lima menit yang lalu.

Sial.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Nora, ia segera berlari dengan kecepatan supernya. Bisa- bisa dokter Carter marah lagi padanya. Guman Bianca harap- harap cemas.

Dia membuka pintu ruang konferensi dengan sangat pelan dan hanya membuat beberapa dokter menoleh lalu kembali melihat ke depan. Bianca sempat beradu pandang dengan Sean yang kebetulan saat ini sedang menjelaskan apa yang akan dilakukannya lalu kembali fokus. Bianca tidak tahu apa arti tatapan itu tapi dia merasa kalau dia sedang dalam masalah.

"Darimana saja kau?" Bisik Vivian tiba- tiba.

"Wow, kau di sini?"

"Berhenti bertele- tele. Aku sudah mengirimkanmu puluhan pesan dari tadi dan kau baru datang sekarang?"

"Maaf. Aku tidak memperhatikannya."

Vivian terdiam lalu menghela napas. "Well, setidaknya kau datang meskipun sudah hampir selesai."

Bianca nyengir menampilkan wajah meminta maafnya. "Jadi apa yang terjadi?"

"Seorang pria umur 45 tahun. Menderita tumor otak. menyerang syaraf bicara dan syaraf mengenali wajah."

Bianca menganggukkan kepalanya sambil melihat gambar hologram otak di depannya lalu mengarahkan pandangannya pada beberapa lembar kertas yang tadi diberikan oleh Vivian. Semakin dilihatnya semakin dalam kerutan di dahinya.

"Aku rasa..." suara Bianca terhenti ketika mendengar suara tegas George, direktur rumah sakit yang memutuskan.

"Sudah diputuskan. Kita akan menyelamatkan suaranya dan melepas syaraf mengenali wajahnya dan dokter Carter yang akan melakukannya."

Bianca terbelalak.

Eh?

Eh?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS