MISSING YOU - 11
"Sean, Ayo cepat!" Seru Bianca.
Sebenarnya Sean agak takut melihat Bianca yang kelewat bahagia seperti itu. Biar bagaimanapun dia juga ikut mengkhawatirkan keselamatan bayi yang saat ini berada dalam kandungan wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Seminggu yang lalu Bianca merenggek untuk berlibur ke Korea dan setelah Sean menyesuaikan jadwalnya di rumah sakit akhirnya dia berhasil mendapatkan cuti selama tiga hari. Waktu yang tidak sedikitpun di sia- siakan oleh Bianca. Sejak usia kehamilan Bianca memasuki usia enam bulan, Sean sudah mewanti- wanti dan melarang Bianca untuk bekerja terlalu keras apalagi tidak banyak yang mengetahui pernikahan mereka hanya Roxyan orang terdekat yang mengetahui hal itu dan Bianca juga tidak mempersoalkan hal itu meskipun pada awalnya Sean heran dengan sikapnya tapi Bianca selalu seperti punya banyak jawaban.
Karena kehamilan Bianca pulalah sehingga ia terpaksa untuk menunda jadwal magangnya di rumah sakit.
"Aku punya suami yang juga berprofesi sebagai dokter. Memang apa lagi yang harus kutakutkan?"
Itulah jawaban yang selalu dilontarkan oleh Bianca setiap kali Sean mengungkapkan kekhawatirannya melihat istrinya yang selalu tampak tidak mengenal lelah.
Saat ini usia kehamilan Bianca sudah memasuki delapan bulan dan harus diakui oleh Sean kalau semakin lama Bianca semakin terlihat cantik juga seksi apalagi jika malam tiba. Sean bahkan harus menahan diri untuk tidak mengertakkan gigi jika Bianca timbul rasa jailnya dan ujung- ujungnya menggoda Sean. Sean harus pelan- pelan memperlakukan Bianca seakan tubuh wanita itu akan mudah pecah jika terjadi sedikit saja kesalahan. Tentu saja karena dia sedang hamil besar.
Tanpa Sean sadari Bianca telah memasang tiga buah gembok dengan satu gembok kecil di antara dua gembok besar.
"Ayo kita lempar bersama." Kata Bianca semangat.
"Kau betul- betul mempercayai apa yang diceritakan dalam film korea itu ya?"
Bianca mengangguk. "Tentu saja. Lihatlah mereka." Bianca lalu menyuruh Sean mengedarkan pandangannya ke seluruh Namsan Seoul Tower. "Semua orang melakukannya kan? Itu artinya mereka juga percaya. Eh tapi sebelumnya ucapkan sesuatu."
"Sesuatu apa?" Tanya Sean bingung.
"Ya. Terserah. Kan kau prianya di sini."
"Lho, bukannya kau yang lebih sering bersikap duluan?"
Eh?
"Kau yang pertama menembakku kemudian kau juga yang melamarku. Tahukah itu melukai harga diriku?" Sean selalu kesal jika mengingat betapa Bianca selalu selangkah darinya.
Bianca sontak tertawa, "astaga Sean, kau masih mengingat hal itu?" Tanyanya disela tawanya.
"Tentu saja."
Bianca lantas memeluk Sean dan mengecup dagu pria itu. "Tapi ketika kau melamarku dulu, itu sangat indah. Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau kau akan melakukan hal itu."
"Itu karena aku tidak suka saja kau melakukannya dan aku ingin melakukannya dengan benar. Dengan cara seorang pria."
Bianca mengangguk setuju. "Ya. Dan itu adalah malam terbaik yang pernah kudapatkan. Siapa yang menduga kau akan mengganti tempat bunga dengan sekotak coklat mahal dan cincin."
"Itu karena terakhir aku memberimu bunga, kau langsung menyimpannya di sudut ruangan hingga layu."
"Itu karena bunga tidak bisa ku makan. Lain halnya jika coklat."
"Bunga memang tidak untuk di makan, sayang." Ujar Sean gemas seraya mengecup bibir Bianca lembut.
"Kalau begitu aku tidak salah dong. Masih lebih baik coklat."
"Hmm jika ada aku dan coklat kesukaanmu, yang mana akan kau pilih?"
"Hmm biar ku pikirkan. Sepertinya aku lebih memilih coklat."
Sontak Sean melepaskan pelukannya. "Kalau begitu, menikah saja dengan coklat kesukaanmu itu."
Bianca yang awalnya kaget dengan perubahan suaminya itu, mengerjap kaget lalu pemahaman mendadak mampir di otaknya. Ditahannya bibirnya agar tidak tertawa terbahak- bahak. Sangat jarang melihat prianya bersikap kekanak- kanakan seperti tadi tapi terlambat Sean sudah melihat sudut aneh yang tercipta di bibir wanita itu.
"Hei Sean tunggu." Tahan Bianca lalu kembali memeluk tubuh Sean lalu Bianca berjinjit mencium kening Sean kemudian beralih ke hidung lalu matanya menatap pria yang menjadi cinta pertama dan akan selalu menjadi cinta terakhirnya. "Coklat memang yang kusukai tapi mereka akan mudah habis jika ku makan." Kemudian bibirnya menekan bibir Sean lembut. "Tapi lihatlah dirimu, entah berapa ribu kali kita berciuman atau aku yang menciummu tapi kau tidak pernah habis atau aku tidak perlu membeli Sean lainnya. "
"Kau memang wanitaku yang sangat nakal." Ucap Sean dan langsung melumat bibir lembut Bianca. "I love you, baby. Now and forever."
"Dan berjanjilah satu hal padaku, Sean. Jangan pernah melupakanku. Aku tidak mungkin bisa bertahan jika tahu kalau kau melupakan dan tidak menginginkanku."
Meskipun ia menganggap permintaan Bianca tadi konyol tapi memikirkan ia berpisah dengan belahan jiwanya membuatnya tiba- tiba merasa kosong. Ditekannya bibir Bianca ke bibirnya lekat.
"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkannya. Kau tidak tahu betapa berartinya hidupmu dan juga calon anak kita dalam hidupku."
"Aku juga, Sean."
"Aku mencintaimu, Bianca. Sangat. Sangat mencintaimu."
***
"Sudah diputuskan. Kita akan menyelamatkan suaranya dan melepas syaraf mengenali wajahnya dan dokter Carter yang akan melakukannya."
Eh?
"Bianca, apa yang kau lakukan?" Bisik Vivian kaget ketika melihat Bianca beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan. Tanpa memperdulikan tatapan para dokter di ruangan tersebut, dia terus saja memperhatikan gambar otak di depannya.
"Apa yang kau lakukan, dokter Roseen?" Tanya Sean ketika tidak ada suara yang keluar dari bibir dokter wanita itu justru Sean melihat kerutan di dahinya semakin dalam, membuat ingatannya menuju ke masa lalu.
"Apa kau yakin kita tidak bisa menyelamatkan keduanya?" Tanya Bianca tiba- tiba membuat Sean terkejut karena terlalu lama memperhatikan wanita itu. "Kurasa tidak perlu mengambil syaraf mengenali wajahnya. Kita bisa mengambil tumornya tanpa melibatkan kedua syaraf itu."
Sean ikut memperhatikan gambar itu.
"Tapi itu terlalu beresiko, Bianca."
Untuk sesaat Bianca tersentak. Ini pertama kalinya ia mendengar Sean memanggilnya tanpa ada embel- embel dokter di depannya sementara tanpa mereka berdua sadari, beberapa dokter, khususnya divisi bagian bedah yang tahu bagaimana hubungan kedua dokter dari masing- masing rumah sakit terkemuka itu berinteraksi, membuat mereka merasakan angin segar. Sementara Roxyan dan Vivian yang awalnya kaget dan berniat melerai jika terjadi perang mulut antara kedua dokter seketika bangkit dari duduknya dan berdiri di sisi mereka masing- masing.
"Kita tidak bisa menjamin kalau tumornya akan hilang." Lanjut Sean.
"Jadi kau memilih untuk mengorbankan salah satu diantara dua pilihan itu?"
"Bukankah itu masih lebih baik daripada kehilangan suara, dokter Roseen?"
Oh, sekarang kita kembali ke nama itu lagi? Geram Bianca dalam hati.
Vivian yang sudah mengenal Bianca tahu kalau sahabatnya itu mulai kesal dengan melihat raut wajahnya dan segera memegang tangan Bianca untuk menenangkannya tapi dengan segera di sentak oleh Bianca.
"Tidakkah itu kejam, dokter Carter?"
"Kejam?"
"Ya. Kejam. Tidak seorangpun yang menginginkan dilupakan apalagi jika harus tidak mengenali wajah orang- orang yang dikenalnya."
Sean terdiam memandangi wajah Bianca yang mulai memerah karena marah. Ada apa dengannya? Dia bukan Bianca yang kau kenal. Bianca yang kau kenal tidak semudah itu mengeluarkan emosinya. Sudah jelas dia bukan Biancamu. Wanitamu. Belahan jiwamu. Sean berusaha menahan dirinya melihat wanita di depannya itu.
"Kalau begitu katakan solusi apa yang terbaik untuk pasien ini. Jangan bilang, kau belum memikirkannya. Aku tahu kau terlambat datang tadi."
"Eh itu... pokoknya aku minta maaf soal keterlambatanku."
"Terserah. Jadi apa solusimu?"
"Apa kau benar- benar tidak tahu?"
"Hanya satu yang ku pikirkan tapi aku tidak yakin."
"Kalau begitu lakukan itu. Mengenai akan berhasil atau tidak, akan kita lihat nanti."
Sean dan Bianca masih saling menatap. Sebenarnya Bianca sama sekali tidak berniat untuk membela atau mendukung atau entah apalah namanya ini tapi hati kecilnya mengatakan ini tidak benar dan ia juga yakin kalau Sean bisa melakukannya. Tadinya dia ingin mempermalukan Sean karena selama ini hanya memberikan dia operasi ringan- ringan saja tapi entah kenapa ketika Sean menyebut namanya secara langsung tadi memberinya perasaan aneh, konyol sekaligus membuka luka lama.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" Tanya Vivian memutuskan kontak mata diantara keduanya.
"Apa kau yakin?" Tanya Sean tanpa berniat melepaskan pandangannya dari wajah itu.
"Aku yakin jika kau yakin, dokter Carter" balas Bianca
Lama mereka terdiam hingga kembali terdengar suara Sean yang telah mengambil keputusan.
"Baiklah akan kita coba cara itu." Lalu dia berpaling untuk melihat George. "Masih ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan pasien dan aku membutuhkan dokter Logan dalam operasi ini."
***
Comments
Post a Comment