MISSING YOU - 12

"Kau terlalu berlebihan, Drew." Ujar Bianca memutar kedua bola matanya setelah mendengar pernyataan Andrew barusan.

"Aku serius, Bianca"

"Aku baru dua bulan di sini, drew. Mana mungkin aku pindah lagi."

"Hufff benar juga."

Bianca hanya bisa tersenyum mendengar keluh kesah tunangannya tersebut di telepon. "Hey, bukankah kau mau ke sini bulan depan. Jangan bilang kau membatalkannya" tebak Bianca

"Hehehe maafkan aku baby tapi pekerjaan di sini sangat menyita waktuku."

"Sudah kuduga. Jangan terlalu lelah, drew. Aku tidak mau kalau kau sakit."

"Aku justru berharap sakit supaya kau bisa datang dan merawatku." Godanya.

"Dasar."

Andrew terkekeh. "Jadi bagaimana belanjamu? Apa sudah selesai?"

Bianca melihat troli belanja bulanannya yang sudah nyaris penuh. "Hanya perlu buah dan yogurt."

"Oh. Jaga kesehatanmu di sana baby. Aku juga tidak mau kau sakit."

"Jangan khawatir. Aku seorang dokter, ingat?"

"Tentu saja aku ingat tapi kau juga manusia. Oh sepertinya aku sudah harus pergi. Nanti kuhubungi lagi. I love you baby."

"I love you too, drew."

Setelah menaruh kembali ponselnya kembali ke dalam tas, Bianca lalu berjalan menuju bagian yang menjual yogurt sambil mendorong troli belanjaan ketika secara bersamaan ia akan sebuah tangan mungil ikut juga mengambil yogurt yang sama dengan dirinya.

"Bibi Bi!" Seru suara mungil itu riang.

"Ivy?" Bianca tersentak menyadari gadis mungil itu apalagi setelah mendapati dia hanya seorang diri.

"Bibi Bi juga disini?"

"I- iya sayang. Ivy sama siapa?" Tanya Bianca mensejajarkan dirinya dengan bocah perempuan dihadapannya.

Tanpa menjawab pertanyaan Bianca, Ivy langsung memiling rambut Bianca yang memang sengaja di urai ke jari- jari mungilnya.

"Daddy."

"Dokter Carter? Eh hmm terus dok... maksud bibi Bi, daddy Ivy ke mana?" Tanya Bianca sedikit bingung karena tiba- tiba Ivy menunjukkan wajah gelinya.

"Ivy tidak tahu." Jawabnya mengendikkan bahunya acuh.

Dalam hati Bianca, kebingungan. Dia tidak tahu harus berbuat apa apalagi ditambah Ivy semakin mendekatkan dirinya pada Bianca.

"Hmm Ivy." Bianca menatap Ivy janggal karena anak itu semakin lama semakin lekat menatapnya, membuat bulu kuduknya merinding. "Ivy juga suka yogurt? Sama dong kayak bibi Bi. Bibi Bi juga suka banget sama yogurt." Ucap Bianca sengaja mencari pengalih perhatian. Dia tidak tahu kenapa setiap berdekatan dengan anak perempuan itu, selalu membuatnya merasakan perasaan aneh yang tidak bisa dilukiskannya.

"Ivy tahu kok."

Eh?

Bianca tidak dapat menyembunyikan ekspresi kebingungannya dihadapan gadis kecil itu yang entah mengapa selalu menampilkan senyum penuh rahasia kepadanya.

"Astaga Ivy, jangan pernah pergi secara tiba- tiba lagi seperti ini." Baik Bianca maupun Ivy sama- sama mendongak ketika menemukan raut wajah penuh kekhawatiran di wajah Sean.

Sean terdiam. Tidak dapat mengatakan apa- apa ketika menyadari siapa yang jongkok sejajar dengan putrinya. Rambut brunette terurai milik Bianca semakin menambah kecantikan pada wanita itu dan secara mendadak pula, Sean merasakan jantungnya kembali hidup setelah sekian lama.

Disisi lain, Bianca yang melihat penampilan Sean selain dengan jas dokternya sejenak terkesima. Sean tampak sangat tampan dengan kaos biru lengan pendek dan celana biru dongker selututnya di mata Bianca.

"Dokter Carter." Bianca memutuskan untuk mengambil alih situasi ini. Pikirannya menyuruhnya untuk bersikap normal sementara jantungnya berdetak tak terkendali.

"Dokter Roseen, anda disini?"

"Ya. Anda juga di sini." Oh. Ini memalukan. Tambah Bianca dalam hati.

"Ya. Hmm apa yang anda beli?"

Bianca sengaja melihat belanjaannya kemudian kearah troli Sean lalu mengernyit mendapati hanya ada susu dan buah di dalam troli Sean.

"Oh biasanya pengasuh rumah tangga atau Vivian yang belanja."

Oh. Bianca mengangguk mengerti.

Lama mereka terdiam hingga Ivy berdecak kesal merasa dicuekin.

"Daddy, Ivy lapar." Sahut Ivy memutuskan kecanggungan dua orang dewasa di depannya.

"Eh.. oh baiklah. Ayo kita bayar dulu semua ini." Ucap Sean seraya memperlihatkan belanjaannya. "Lalu ke kafe."

Ivy mengangguk. "Ayo bibi Bi." Ajak Ivy setelah melihat Bianca tidak bergerak dari tempatnya.

"Eh?"

Bianca dan Sean kembali saling bertatapan bingung.

"Apa bibi Bi tidak lapar?"

Kembali Sean dan Bianca saling menatap dalam diam.

"Tidak apa dokter Roseen. Ikut saja." Putus Sean.

***

Entah mengapa, melihat interaksi antara ayah dan anak didepannya membuatnya ikut merasakan perasaan bahagia dan ikut tersenyum. Penuh cinta. Itulah kesan pertama kali yang dirasakan oleh Bianca ketika melihat mereka berdua. Vivian pernah mengatakan padanya kalau ibu Ivy meninggal karena kecelakaan tapi meskipun begitu tak seorangpun yang mengetahui paras wanita itu bahkan Vivian yang notabene dekat dengan Sean pun tidak tahu bagaimana
parasnya. Vivian mengatakan hanya Roxyan lah satu- satunya yang pernah melihatnya.

Sikap Sean di rumah sakit dan di kafe ini juga sangat jauh berbeda. Jika di rumah sakit, Sean cenderung dingin dan terkesan selalu marah jika berhadapan dengan Bianca tapi apa yang dilihatnya hari ini membuyarkan semua hal itu.

Apalagi setelah mereka berdua memutuskan untuk melakukan teknik awake craniotomy- operasi dimana pasien sadar tempo hari, sedikit membuat hubungan mereka perlahan mulai mereda. Operasi itu terbilang sukses bahkan sangat sukses karena dukungan dari divisi anestesi yaitu dokter Vivian Logan karena terus memantau perkembangan si pasien sementara Sean membedah kepala pasiennya. Bianca bertugas untuk terus mengajak bicara si pasien agar Sean dapat mengambil tumor yang bersarang didalam otak si pasien tanpa perlu merusak syaraf yang lain.

Tidak ada yang menyangka kalau baik Sean maupun Bianca akan bekerja sama seperti saat itu, mengingat hubungan keduanya seperti air dan api yang pada akhirnya menobatkan mereka berdua sebagai dokter handal yang dimiliki oleh divisi bedah.

"... jadi bibi Bi tinggal sendiri?" Tanya Ivy yang dibalas Bianca dengan mengangguk. "Bibi Bi, tidak menikah?"

"Ivy." Tegur Sean membuat wajah Ivy seketika manyun. "Maaf dokter Roseen. Ivy kadang suka kelewatan."

Bianca tersenyum. "Tidak apa- apa, Se... eh maaf dokter Carter."

"Tidak apa- apa. Kita tidak sedang berada di rumah sakit. Kau boleh memanggilku Sean." Sean tersenyum maklum.

Oh my God! What's wrong with me? Bianca mengerang dalam hati ketika untuk pertama kalinya ia melihat Sean tersenyum dan itu kearahnya. Ulang. Ke arahnya. Pasti dewi fortuna sedang tidak tersesat.

Selang beberapa jam. Akhirnya Sean beserta Ivy berpisah dengan Bianca setelah sebelumnya Ivy bersikeras untuk ikut mengantar Bianca sampai ke apartemen tempat tinggalnya.

Seperti biasa sebelum tidur. Sean selalu menyempatkan dirinya untuk membacakan sebuah cerita pada Ivy lalu pergi kembali ke kamar tidurnya setelah Ivy terlelap.

Sean yang telah melihat putri kesayangannya tertidur sambil memeluk bonekanya, pelan- pelan turun dari ranjang milik Ivy dan menunduk untuk mencium kening putrinya dengan sayang.

Setelah beberapa detik. Kedua mata Ivy kembali terbuka dan tersenyum mengingat waktu yang dilewatkannya hari ini lalu bangkit dari tempat tidurnya. membuka laci kedua yang berada di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah buku.

Dia lalu membawa buku dengan judul Red Riding Hood itu keatas tempat tidur dan membuka halaman yang dicarinya ketika senyumnya semakin melebar. Dipandanginya sebuah foto dimana didalamnya terdapat sebuah gambar antara seorang pria dan seorang wanita. Wanita itu tampak sangat bahagia ketika melihat si pria sementara si pria memandangi perut si wanita yang sudah semakin besar dengan pandangan penuh kekaguman.

Ivy memandangi sosok sang wanita dan mendekapnya dalam pelukannya, masih sangat senang

"I found you, mommy" ucapnya lirih.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS