MISSING YOU - 13

"Lho Ivy?"

Roxyan sangat kaget ketika mendapati Ivy berada di ruangan Sean dimana pria itu sedang bekerja. Bukan apa- apa, Sean sangat jarang membawa Ivy ke rumah sakit tapi melihat Ivy yang berada dalam gendongan Sean seperti anak kangguru membuat Roxyan ikut terkekeh juga. Hanya satu yang bisa membuat Ivy seperti itu.

"Kau tahulah. Dia jadi rewel kalau sedang sakit." Ucap Sean seraya mengelus pundak Ivy dengan lembut.

Roxyan memperhatikan Ivy secara seksama. Hidung anak itu berwarna merah seperti Rudolph, salah satu rusa milik Santa Claus dan mengeluarkan air dari hidungnya.

"Dia flu. Kenapa tidak sekalian cuti saja sih?" Tanya Roxyan seraya menowel pipi chubby Ivy tapi langsung mendapatkan pukulan dari Sean di lengannya.

"Berhenti menganggunya. Dia baru saja berhenti menangis." Roxyan hanya nyengir menimpali. Benar juga, kedua mata Ivy terlihat sembab tapi meskipun begitu tetap saja dia kelihatan menggemaskan. Entah kenapa setiap kali melihat Ivy seperti mengingatkan akan sesuatu tapi dia tidak yakin apa itu.

"Aku akan pulang cepat hari ini."

Roxyan mengangguk paham. "Sudah diperiksa?"

"Ya. Tadi di bagian anak. Katanya hanya flu ringan dan suaranya juga sedikit serak. Mungkin itu yang membuatnya rewel."

"Seharusnya tadi kau langsung pulang saja dan bukannya kembali ke sini."

"Tadinya mau seperti itu tapi ada beberapa yang perlu ku cek. Mungkin sebentar lagi."

Roxyan hanya bisa menghela napas kemudian beralih melihat Ivy yang masih terdiam sementara kedua lengan mungilnya melingkari leher Sean.

"Halo Ivy... Ivy mau apa? Nanti paman Roxyan belikan apa saja yang Ivy mau asal Ivy cepat sembuh ya."

Kalau Ivy yang biasanya alias tidak sakit seperti ini, kemungkinan besar gadis kecil itu akan bersorak kegirangan apalagi jika harus menambah koleksi bonekanya tapi Ivy yang sekarang hanya memandangi Roxyan seakan pria itu hanya manekin hidup. Wajah Ivy datar tanpa ekpresi.

"Okey. Fix. Anakmu benar- benar sakit, Sean." Sahut Roxyan sungguh- sungguh, membuat Sean ingin segera menoyor kepala pria yang menjadi sahabatnya itu dengan linggis. Jelas sekali terlihat kalau anaknya itu sedang sakit dan justru malah mengajaknya bercanda.

Sean memutuskan untuk beranjak dari ruangannya lima menit kemudian, masih tetap membawa Ivy dalam dekapannya yang diikuti oleh Roxyan dibelakang. Dia baru saja akan menekan tombol lift ketika disaat yang bersamaan pintu lift terbuka dan menampilkan Bianca yang baru tiba di divisinya.

"Eh?"

"Hai dokter Roseen, baru selesai berkeliling?" Tanya Roxyan sekalian menyapa karena selama beberapa menit tidak seorangpun yang memulai pembicaraan dan hanya saling melihat.

"Eh iya" jawabnya ketika matanya menangkap sosok gadis kecil yang saat ini berada dalam dekapan Sean. "Lho, Ivy kenapa?" Tanyanya kaget sekaligus khawatir. Entah mengapa melihat gadis kecil itu selalu menimbulkan perasaan aneh dalam hatinya.

"Hanya flu." Jawab Sean pendek.

"Sudah diperiksa?" Bianca berjalan menghampiri Ivy dan memegang kening gadis kecil itu. "Sedikit hangat." Tambahnya.

"Ya. Sudah. Ini baru mau pulang dan merawatnya. Untuk sementara biar anda yang menangani pasien. Tidak masalah kan?"

Bianca mengangguk. "Tentu dokter Carter. Tidak masalah."

Sementara itu Ivy yang mendengar suara Bianca langsung menggerakkan kepalanya kearah Bianca ketika Ivy langsung mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh rambut Bianca yang dibiarkan tergerai.

"Gendong" pinta Ivy serak.

"Lho kan sudah daddy gendong, sayang" sahut Sean bingung

"Bukan sama daddy tapi sama bibi Bi."

Baik Bianca maupun Sean sama- sama saling menatap. Sementara itu Roxyan hanya diam seraya tetap memperhatikan kedua orang itu. Otaknya seperti sedang berusaha mengumpulkan kepingan- kepingan puzzle tak kasat mata, yang tidak dimengertinya.

"Gendong." Kali ini Ivy sudah ingin menangis. Kedua matanya mulai berkaca- kaca.

"Ivy jangan rewel. Kita akan pulang ke rumah." Bentak Sean.

"Ivy mau sama bibi Bi... Ivy mau bibi Bi..." Kali ini Ivy mulai berurai air mata ditambah dengan ingusnya yang memang sudah berair semakin banyak keluar hingga membasahi kemeja yang dipakai oleh Sean.

"Bibi Bi..." rengek Ivy parau yang membuat Bianca tidak tega.

Mengikuti insting bercampur nalurinya, Bianca membuka jas dokternya menampilkan blus berwarna putih tanpa lengan. Dia bersyukur setidaknya tadi pagi dia memutuskan untuk memakai celana panjang sehingga memudahkan dirinya untuk bergerak bebas.

"Maaf ya. Tapi bisakah kau menaruh ini ke dalam ruanganku?" Bianca menyerahkan jas dokternya pada Athar yang kebetulan bersamanya, yang dibalas oleh Athar dengan anggukan kecil setelah itu memutuskan untuk beranjak meninggalkan tempat itu. Dia tahu jika semakin lama dia berada disitu, maka bukan tidak mungkin dia akan mendapat amukan dari Sean apalagi saat ini Ivy sedang sakit. Sean akan lebih mudah tersulut karena kekhawatirannya pada putri semata wayangnya itu.

"Serahkan Ivy padaku, dokter Carter. Aku akan menggendongnya" Ucap Bianca seraya membentangkan kedua tangannya untuk menerima tubuh Ivy.

"Terima kasih tapi tidak perlu dokter Roseen. Dia hanya rewel karena sedang sakit." Tolak Sean. Sementara Ivy masih menangis sesenggukkan.

Tanpa sadar Bianca menghembuskan napasnya kasar dan mengambil alih Ivy. Sean yang tidak menduga hal ini akan terjadi hanya bisa terperangah melihat Ivy yang sudah beralih dari tubuhnya ke tubuh Bianca. Seperti sudah mengetahui kalau dia tidak lagi berada dalam dekapan Sean, secara otomatis mengeratkan pelukannya ke leher Bianca dan menguburkan kepalanya kedalam lekukan leher wanita itu dan bersembunyi di dalamnya.

Bianca berjengit pelan ketika merasakan deru napas hangat milik Ivy dilehernya dan meringgis ketika mendapati baik Roxyan maupun Sean hanya menatapnya dengan diam.

"Baiklah gentlemen, adakah salah satu dari kalian yang berbaik hati menekan tombol lift karena sepertinya aku cukup sibuk disini" sahut Bianca merasa risih melihat tatapan aneh kedua pria itu seakan- akan takut jika sedetik saja mereka lengah, mereka akan mendapati Bianca menjatuhkan Ivy ke tanah. "Terima kasih, dokter Grawthorn." Ucap Bianca ketika melihat Roxyan lah yang melakukannya.

"Tidak masalah dokter Roseen." Balas Roxyan tapi tetap memperhatikan tingkah laku Bianca.

"Apa yang kau lakukan?" Bisik Sean setelah mereka berempat telah berada didalam lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah ketika menyadari kalau sejak tadi Roxyan terus saja memperhatikan wanita yang saat ini sedang menggendong anaknya.

Roxyan lebih memilih untuk berdiri dibelakang Bianca hingga Sean menyadari dan pelan- pelan menghampiri Roxyan. Rasanya aneh saja jika dia harus berdekatan dengan jarak yang begitu dekat dengan wanita itu. Seperti ada yang salah tapi dalam artian yang membingungkan.

"Sepertinya Ivy terlelap." Jawab Roxyan ikut berbisik.

Sean memutar kedua bola matanya. "Tentu saja. Anakku sedang sakit dan hampir seharian ini dia menangis." Memang apa lagi yang dia harapkan?

"Dan dia juga nyaman." Tambah Roxyan.

Sean mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia juga bingung dengan atmosfer yang tiba- tiba tercipta. Belum lagi jantungnya yang dia yakini tidak ada masalah tiba- tiba berdetak tidak karuan.

Tak terasa mereka bertiga telah sampai di pelataran parkir. Sean sudah meminta Roxyan untuk mengemudikan mobilnya karena Sean tidak mau tiba- tiba Ivy menangis di perjalanan menuju rumah. Bianca menyerahkan kembali Ivy yang sedang tertidur lelap ke pelukan Sean dengan hati- hati dan melihat Ivy yang mengeliat ketika kedua tangannya terlepas dari leher Bianca tapi setelah itu kembali terlelap dalam dekapan Sean.

"Sleep tight princess and get well soon. I love you." Bisik Bianca nyaris tak terdengar tapi seketika membuat tubuh Sean menegang. Jelas dia mendengar kalimat Bianca barusan.

Apa ini?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS