MISSING YOU - 14
"Sleep tight princess and get well soon. I love you."
Bianca tidak bisa menutupi rasa kagetnya mendengar suaranya barusan dan ketika kedua matanya bertemu dengan kedua bola mata Sean, entah mengapa ada perasaan aneh yang ikut terbawa padahal dia yakin, dia masih baik- baik sebelumnya.
"Sean, ayo!" Teriak Roxyan yang sejak tadi telah berada didalam mobilnya. Untuk sesaat Sean mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya dan menganggk lalu kembali beralih untuk melihat Bianca.
"Terima kasih" Ucap Sean lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Roxyan.
Sesuatu dalam diri Bianca meneriakkan ingin ikut merawat Ivy tapi otaknya mengatakan kalau dia tidak berhak melakukannya. Siapa dia hingga harus terlibat dalam hubungan ini?
Dengan langkah gontai ia kembali ke dalam rumah sakit dan baru saja akan menekan tombol lift ketika secara bersamaan pintu lift itu juga terbuka menampilkan wajah Vivian yang khawatir. Sekali lagi dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit dia tersentak. Bagaimana bisa dia melupakan sosok Vivian? Sudah jelas Vivian menyukai Sean dan itu berarti dia tidak berhak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi seorang pria yang sudah jelas disukai sahabatnya.
"Bianca... astaga... Sean, Sean dimana?"
Vivian merasa lega mendapati Bianca di rumah sakit ini. Ketika ia mendengar kalau Ivy sakit tadi. Cepat- cepat ia menghentikan kegiatannya di ruangannya dan langsung berlari menuju lift.
"Baru saja pergi. Apa kau...?"
"Oh baiklah. Aku akan menyusulnya. Terima kasih Bi." Dan sekali lagi Bianca merasakan perasaan aneh ketika Vivian berlari meninggalkan sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
Kenapa terasa menyakitkan mengetahui bukan aku yang berada dalam posisi Vivian?
Oh astaga... apa sih yang kau pikirkan Bi. Sudah sewajarnya kan itu terjadi?
Sisi lain dari dirinya ikut membentak apa yang baru saja dia pikirkan dan menyesal karena telah berpikir yang tidak- tidak pada sahabatnya.
.
.
.
Hari berganti hari dan tanpa disadari oleh Bianca, sudah seminggu lebih sejak kejadian itu berlalu. Vivian juga tidak pernah datang atau hanya sekedar menyapa Bianca atau ketika ia mendatangi ruangan Vivian, tidak sedikit pula ia mendapati kalau sahabatnya itu sedang terburu- buru untuk menemui Sean dan Ivy.
Hari ini pasien rumah sakit bertambah banyak dikarenakan kecelakaan yang terjadi sejak tiga jam yang lalu. Semua orang sibuk melakukan pertolongan pertama dan melakukan operasi untuk menyelamatkan pasien.
Bianca baru saja masuk ke dalam lift dan berdiri di bagian paling belakang ketika secara bersamaan kerumunan orang juga ikut masuk membuatnya semakin terdorong ke dalam. Dia baru saja akan bergerak agar bisa memberikan ruang untuk pernapasannya ketika seseorang menariknya dan memerangkapnya supaya tidak semakin tergencet.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik pria dihadapannya kaget atas apa yang baru saja dilakukan oleh wanitanya.
"Memang apa yang ku lakukan? Tentu saja aku menciummu." Wanita itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kita berada di lift, Bianca." Jelas sekali pria itu merasa risih apalagi melihat kedua tangan wanitanya berada di sekitar pinggangnya meskipun kedua mata wanitanya melihat kearahnya.
"Aku tahu tapi mereka tidak akan memperhatikannya, iya kan?"
Pria tadi memperhatikan ke sekelilingnya. Memang benar tidak ada yang memperhatikan posisi mereka berdua dimana pria itu memerangkap seorang wanita di kedua tangannya agar sang wanita tidak tergencet oleh kerumunan orang.
Lalu tiba- tiba kedua mata pria itu menyipit curiga. " kau sengaja ya?" Tanyanya.
Sang wanita tersenyum penuh arti. "Bukankah ini terlihat sangat romantis? Posisi dimana kau melindungiku layaknya ksatria. Alih- alih dengan kuda putih tapi dengan seragam putih." sang wanita terkikik geli karena melihat seragam dokter yang mereka berdua kenakan.
Sang pria hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita yang sudah menjadi pacarnya beberapa bulan. Kadang ada saja kelakuan dari wanitanya yang bisa membuatnya tidak berkutik dan entah kenapa dia tidak bisa marah dengan kelakuannya itu justru dia merasa gemas.
"Akuilah Sean, kau menyukainya juga kan? Ciumanku?" Bianca terkekeh ketika melihat wajah tidak mengerti prianya dan ketika Sean mendekatkan bibirnya ke bibir Bianca dengan tiba- tiba membuat sang wanita tersentak kaget. Setelah Sean puas menjelajahi seluruh sudut bibir Bianca, dia lalu menyunggingkan senyum puasnya dan menatap kedua mata coklat wanitanya.
"Ya. Kurasa kau benar, sayang. Posisi kita memang sangat romantis. Aku bahkan bisa melakukan apa saja dengan posisi ini."
"Dokter Roseen, anda tidak apa- apa?"
Bianca tersentak. Kerumunan sudah agak berkurang sehingga Sean berdiri beberapa senti dari hadapannya tapi dia masih bisa merasakan kedua tangan Sean di kedua sisi tubuhnya.
"Anda tidak keluar?" Tanya Sean lagi ketika Bianca sama sekali tidak merespon pertanyaannya tadi.
Sean merasa bingung dengan perubahan Bianca yang tiba- tiba. Tadi dia memang sengaja menarik Bianca agar semakin tidak terdorong ke belakang karena ia melihat wanita itu seperti kesulitan dengan banyaknya orang yang masuk ke dalam lift.
"Dokter Roseen?" Sekali lagi Sean memanggil Bianca.
"Maaf. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Anda duluan saja, dokter Carter?"
Meskipun bingung tapi Sean mengangguk dan selang beberapa menit kemudian dia keluar dari lift itu meninggalkan Bianca seorang diri dalam kotak besi itu.
Setelah pintu menutup, tubuh Bianca langsung meluruh ke lantai.
"Apa tadi itu?" Bianca berkata pada dirinya sendiri hingga tanpa disadarinya, tiba- tiba saja air keluar dari kedua bola matanya, membuatnya merasakan sakit yang teramat di bagian dadanya.
"Itu tidak mungkin... apa tadi itu dan siapa....?"
***
Comments
Post a Comment