MISSING YOU - 15
Dengan langkah tergesa- gesa Sean turun dari taksi yang membawanya dari bandara. Dia baru saja tiba dari Denmark untuk mengikuti konferensi di sana ketika mendengar jika wanitanya telah melahirkan. Seharusnya seminggu lagi adalah jadwal istrinya melahirkan tapi entah kenapa dia mendapat kabar kalau istrinya telah melahirkan.
Sean lantas segera menghampiri seorang suster di meja resepsionis dan menanyakan tentang istrinya. Suster itu tampak terkejut ketika Sean menyebutkan nama dan nama istrinya, ketika kemudian dia digiring ke sebuah ruangan yang diasumsikan Sean sebagai ruangan dokter. Suster itu lalu menyebutkan namanya yang seketika membuat dokter itu terdiam selama beberapa saat hingga kemudian mengangguk dan mempersilahkan Sean untuk duduk.
Meskipun Sean agak sedikit gusar dan tidak sabar tapi dia tetap menuruti permintaan dokter bermata sipit tersebut.
"Istri anda sudah melahirkan seorang perempuan yang sangat cantik." Ucap dokter itu dan untuk pertama kalinya Sean merasa lega.
Rasa gugupnya tiba- tiba lenyap mendengar berita gembira ini dan bangkit dari duduknya serta menjabat tangan dokter itu sambil terus mengucapkan terima kasih.
"Saat ini bayi anda kami tempatkan di ruangan bayi" Lanjutnya dan Sean sudah semakin tidak sabar untuk melihat anaknya beserta istrinya hingga kemudian dia mengernyit heran. Dokter itu sama sekali tidak melakukan pergerakan bahkan cenderung menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Ada apa dok? Semua baik- baik saja kan?" Kali ini Sean bertanya. Dia ingin segera melihat wanitanya. Sepanjang perjalanan tadi dia sudah tidak sabar dan ingin mengucapkan ucapan terima kasih yang tak terhingga pada wanita yang telah memberikannya putri menurutnya pasti sangat cantik.
"Maaf. Maafkan kami Mr. Carter"
"Apa yang terjadi? Bianca baik- baik saja kan?" Sean tidak ingin berpikir yang macam- macam tapi entah mengapa jantungnya seakan berdetak dengan kencang hingga rasanya ingin lepas.
"Kami sudah berusaha sangat keras"
Rasanya lantai yang dipijak Sean seperti ingin menelannya. Semuanya terasa tidak berada pada tempatnya.
"Tapi kecelakaan itu membuat istri anda tidak dapat bertahan. Dia mengeluarkan banyak darah akibat kecelakaan yang dialaminya dan juga pendarahan yang terjadi akibat melahirkan."
Kali ini kaki Sean seakan berubah menjadi jelly. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi hingga dia meluruh ke lantai.
"Maaf Mr. Carter. Istri anda meninggal pada pukul 13:46" Dan saat itulah seluruh hidupnya ikut tersedot seiring dengan kalimat yang diucapkan oleh dokter itu.
***
Sean tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang dia tahu adalah dia tidak bisa melupakan wajah yang memiliki kemiripan dengan wajah wanitanya dan sialnya lagi memiliki nama depan yang sama.
Bianca.
Di awal pertemuan mereka, Sean tidak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya ketika melihat wajah dokter baru itu tapi kemudian menyadari kalau dia bukan dia. Penampilan wanita itu sangat jauh berbeda dengan wanitanya tapi dia tidak dapat memungkiri kalau jantung yang sekian lama tidak berdetak kembali berdetak karena melihat dokter baru itu.
Bianca Roseen.
Itulah nama yang diperkenalkan pada seluruh staf rumah sakit. Dengan sikap keras kepala dan tidak mau diaturnya yang kadang membuat Sean geram.
Dan ketika melihat ia menggendong Ivy untuk pertama kalinya. Sekali lagi dia mendapati jantungnya berdetak dan semakin tidak karuan ketika mengendong Ivy untuk kedua kalinya ketika anaknya sakit flu. Sean selalu berusaha menampilkan sikap tidak pedulinya pada wanita itu yang kadang membuat Roxyan bertanya- tanya dan selalu ditanggapi oleh Sean dengan sikap acuhnya pada pria itu. Toh, memang dia dikenal dengan sikap dinginnya di rumah sakit ini jadi tidak masalah baginya untuk melakukan hal itu, iya kan?
Tapi dua minggu yang lalu, pertahanannya seperti kembali goyah ketika melihat ekspresi yang ditampilkan oleh seorang Bianca Roseen. Dia tampak kaget dan tidak fokus dan Sean takut jika tindakannya yang tiba- tiba menarik wanita itu agar tidak semakin tergencet kerumunan orang di lift tempo hari malah menyakitinya.
"Kau bisa melubangi kertas itu dengan tatapanmu." Sean mendongak dan mendapati Roxyan sedang menatapnya dengan kening yang terangkat. "Apa sesuatu terjadi? Kau tampak lebih diam beberapa hari ini." Lanjut Roxyan seraya mengambil tempat duduk di depan meja Sean.
"Berapa lama kau sudah berdiri di sana?"
"Cukup lama hingga tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kau sudah menghela napas panjang. Ada apa? Apa sesuatu terjadi dengan Ivy? Apa dia masih flu?"
Sean menggeleng. "Tidak. Dia baik- baik saja."
"Kalau begitu apa itu berhubungan dengan dokter Roseen?" Tebak Roxyan benar. "Oh ternyata memang dia. Apa yang terjadi?" Kali ini Roxyan tidak bisa menghentikan senyumnya melihat ekspresi wajah Sean.
"Jangan sok tahu" Kembali Sean melihat data- data pasiennya.
"Oh aku selalu melihatmu diam- diam memperhatikannya dan jangan khawatir tidak seorangpun yang memperhatikan selain aku." Potong Roxyan sebelum Sean membuka mulutnya. "Jadi?"
"Jadi apa?" Tanya Sean dengan dahi berkerut.
Sejenak Roxyan terdiam memperhatikan sahabatnya lalu menghela napas. "Well, aku tidak menyalahkanmu sobat. Wajah mereka memang sangat mirip"
Sean ikut menghela napas. "Tidak. Mereka tidak mirip."
"Jangan menghindarinya Sean. Aku tahu kau berbohong."
"Aku tidak."
"Dengar Sean, Biancamu sudah hidup tenang di alam sana. Saatnya kau melanjutkan hidupmu. Ingat Ivy, dia masih kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu"
"Ada aku. Aku tidak akan membiarkannya kekurangan kasih sayang"
Roxyan mengerang frustrasi melihat kekeras kepalaan sahabatnya itu. "Apa kau lupa bagaimana Ivy tidak mau melepaskan pelukan dokter Roseen beberapa hari yang lalu? Anakmu itu menangis ketika kau memaksanya. Jangan keras kepala Sean!"
Sean terdiam.
Tentu saja dia masih ingat. Ivy waktu itu menolak untuk melepaskan dekapan Bianca, membuat dokter wanita itu harus mengalihkan pekerjaannya ke dokter intern lainnya.
Lagi- lagi Sean menghembuskan napas panjangnya. Ivy menolak disentuh dan menjadi anak yang keras kepala sekaligus manja jika berada di dekat dokter wanita itu.
Roxyan yang melihat kegelisahan sahabatnya satu itunya ikut- ikutan menghela napas. "Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan siang di luar. Ku dengar ada cafe yang baru dibuka dekat sini" Ajak Roxyan yang langsung diiyakan oleh Sean.
Mereka berdua baru saja akan menuju ke parkiran ketika bertemu dengan Vivian dan Bianca yang juga akan keluar.
"Sean, Roxyan, kalian juga ingin keluar?" Tanya Vivian dengan mata berbinar. Sudah lama wanita itu tidak melihat pria idamannya dikarenakan kesibukannya di luar rumah sakit.
"Hai Vi, ya. Kami ingin ke cafe dekat sini" Jawab Sean.
Bianca yang melihat wajah Vivian yang berubah menjadi semerah tomat berusaha untuk tidak tertawa. Sahabat satu- satunya itu sepertinya sangat menyukai Sean.
"Kalau kalian mau kemana?" Roxyan ikut menimpali.
"Oh kami juga ingin makan siang di kafe dekat sini." Jawab Bianca karena Vivian sepertinya berada di dunia lain sambil memandangi Sean.
"Kebetulan sekali. Kita bisa pergi sama- sama"
Bianca melirik Vivian dan langsung mengangguk mengiyakan. Baru beberapa langkah mereka melangkah, Bianca merasakan tangannya ditarik dan tubuhnya dibalik oleh seseorang dengan paksa ketika mendadak bibirnya dikecup oleh seseorang.
"I miss you so much, baby" Desah orang itu setelah melepaskan bibirnya dari bibir Bianca.
***
Comments
Post a Comment