MISSING YOU - 16

"I miss you so much, baby" Ucap pria itu setelah melepaskan kecupannya di bibir Bianca.

"A- Andrew? Oh my God!" Bianca tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan langsung memeluk pria yang telah menjadi tunangan. "Kau! kapan kau datang? Kejam sekali"

Andrew terkekeh melihat raut wajah cemberut wanita itu dan mencubit sebelah pipinya. "Aku ingin memberimu kejutan, sayang jadi apa kau merindukanku?" Tanyanya seraya memainkan kedua alisnya.

"Tentu saja." Jawabnya memukul lengan pria itu. "Kau bilang kalau kau tidak bisa datang." Rajuk Bianca membuat Andrew gemas dan mengecup kening wanita itu.

"Tadinya begitu tapi aku sangat merindukanmu." Lagi- lagi dia memeluk Bianca yang dengan senang hati dibalas olehnya.

"Ehem" Vivian berdehem pelan tapi itu cukup membuat mereka berdua tersadar. "Sepertinya kami tidak dianggap disini" Ledek Vivian, membuat pasangan itu hanya bisa tersenyum malu.

"Hai Vivian." Sapa Andrew tapi tetap mendekap pinggang Bianca dengan possesive.

"Hai Andrew, senang melihatmu lagi"

"Ya. Apa kabar?"

"Seperti yang kau lihat, aku baik. Bagaimana denganmu? Kuharap tidak berhubungan dengan wanita yang saat ini dalam dekapanmu" gurau Vivian tapi cukup membuat Bianca tersipu.

"Oh kau tidak bisa membayangkannya, Vi. Aku merasa kosong tanpa kehadirannya" Lalu keduanya tertawa.

"Baiklah. Kurasa kami akan duluan" Sahut Sean tiba- tiba. Entah mengapa dia merasa ingin menonjok pria yang baru saja muncul itu apalagi ketika melihat dia mencium Bianca tepat dihadapannya.

"Oh maaf" Bianca yang lebih dulu sadar semakin merasa bersalah ketika matanya bertemu dengan kedua mata Sean. Dia tidak tahu ada apa dengannya tapi ketika pandangannya bertemu Sean, Bianca merasa ada kesedihan pada kedua mata itu. Rasanya dia ingin menyentuh dan melenyapkan gurat kesedihan itu. "Maaf dokter Carter, dokter Grawthorn"

Roxyan hanya bisa membalas dengan tersenyum sambil sesekali melirik ke sampingnya, tempat dimana sahabatnya berdiri. "Drew, perkenalkan ini dokter Grawthorm, dia dokter di bagian syaraf dan otak." Ujar Bianca memperkenalkan.

"Heighter, Andrew Heighter." Ucap Andrew seraya mengulurkan tangan kanannya.

"Grawthorn, Roxyan Grawthorn." Balas Roxyan membalas uluran tangan Andrew. Lalu Andrew beralih ke arah Sean juga.

"Carter, Sean Alvarion Carter" dan untuk pertama kalinya Andrew tersentak tapi cepat ia mengubahnya menjadi senyuman. Sean yang sempat melihat perubahan wajah Andrew tadi seketika mengernyit bingung.

"Aku lapar. Ayo kita makan" Ujar Roxyan cepat.

.

.

"Hmm sayang." Panggil Andrew ketika Bianca baru saja keluar dari kamarnya sambil terus mengusap rambutnya yang masih basah.

"Ya?"

"Apa dokter Carter itu baik padamu?" Tanya Andrew tanpa melepaskan pandangannya dari film yang sedang di tontonnya.

"Apa yang kau bicarakan?" Bianca mengernyit heran dan mengambil tempat di samping pria itu.

Andrew berbalik agar bisa berhadapan dengan wanitanya sementara tangannya mengusap pipi wanita itu dengan lembut.

"Aku... aku hanya bertanya- tanya karena kalian berada di divisi yang sama dan kudengar dia dokter bedah yang hebat di negara ini jadi..." Andrew sengaja menggantung kalimatnya, tidak tahu harus mengatakan apa.

"Kau cemburu?" Tebak Bianca langsung tapi tidak bisa menyembunyikan perasaan gelinya terhadap pria didepannya ini.

Pria itu mencebik. "Tidak juga."

"Oh manis sekali." Seru Bianca tidak tahan untuk tidak mencium pipi tunangannya itu. "Aku tidak masalah jika kau cemburu" Godanya lagi.

"Kau ini selalu saja bicara langsung seperti ini" Gerutu Andrew.

Bianca terkekeh. "Itu karena kita sudah lama saling mengenal."

"Ya. Cukup lama ketika kau baru saja menginjak usia 8 tahun."

"Dan kau selalu ada ketika kubutuhkan."

"Itu karena aku sudah lama mencintaimu."

"Dan begitupun juga aku. Siapa yang menduga kau akhirnya menjadi tunanganku."

"Dan akan kupastikan tidak ada seorangpun yang akan mengambilmu dari sisiku." Lagi. "Hei, bagaimana kalau kita menikah besok?"

Bianca yang tadinya kaget serta merta tertawa hingga nyaris sakit perut.

"Ada apa? Kau tidak mau?" Tanya Andrew setelah melihat Bianca yang tertawa terpingkal- pingkal.

"Astaga Drew, aku tidak menyangka kalau kau akan secemburu itu pada dokter Carter" Ucapnya di sela tawanya.

"Aku memang cemburu padanya tapi bukan hanya itu masalahnya. Aku benar- benar menginginkanmu menjadi istriku, milikku sepenuhnya."

Bianca terdiam kemudian mengarahkan tubuhnya agar bisa memeluk tubuh Andrew. "Jujur, aku sangat senang memilikimu, Drew. Kau pasangan paling sempurna yang dikirimkan Tuhan untukku tapi kau tahu sendiri alasannya kan?"

Andrew melepaskan pelukannya dan menatap tepat ke mata Bianca. "Kau tidak perlu melakukannya. Yang perlu kau tahu adalah dari dulu sampai sekarang hanya ada aku. Tidak ada yang lain."

"Aku tahu tapi..." Andrew langsung mencium bibir Bianca dan menempelkan dahinya ke dahi Bianca.

"Aku mencintaimu, Bianca. Sangat mencintaimu hingga rasanya menyakitkan jika harus kehilanganmu."

Bianca tersenyum. "Kalau begitu jangan karena aku juga mencintaimu." Lama mereka terdiam ketika kembali Bianca berucap. "Dan jangan khawatirkan dokter Carter. Kami hanya rekan kerja lagipula apa kau tidak lihat bagaimana sikap Vivian ketika di kafe tadi?"

"Vivian menyukai Se.. eh maksudku dokter Carter?"

Meskipun pada awalnya Bianca menyadari kalau Andrew hampir saja menyebutkan nama Sean tapi dia menganggap kalau Andrew hanya keceplosan.

"Ya. Jadi tidak mungkin kan kalau aku merebut gebetan sahabatku sendiri apalagi jika diingat kalau aku sudah punya tunangan yang luar biasa tampan dan baik hati ini."

Andrew mendengus tapi kemudian ikut tersenyum.

"Aku mencintaimu, Bianca." Guman Andrew sekali lagi, membuat wanita itu menimpalinya dengan senyuman.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS