MISSING YOU - 17
Bianca sama sekali tidak menyia- nyiakan waktu yang dihabiskannya bersama Andrew yang mana sangat jarang ia habiskan bersama, mengingat mereka berdua sama- sama memiliki kesibukan yang padat. Begitu pun dengan Andrew yang tidak ingin menyia- nyiakan kebersamaan mereka dengan selalu mengantar- jemput Bianca dari rumah sakit ke apartemen wanita itu.
Bianca mengetuk- ngetuk lantai dengan tidak sabar. Pagi ini dia mengantar Andrew ke bandara yang akan membawanya ke Swiss. Baru semalam Andrew mengatakan kalau dia harus terbang ke Swiss mengurus pekerjaannya disana dan Bianca menolak untuk tidak menemani Andrew, paling tidak hanya sampai bandara.
Tapi sialnya pesawat dengan tujuan Swiss mengalami delay dan mau tidak mau Bianca juga harus menunggu. Dia tidak mau pergi sebelum melihat tunangannya masuk ke dalam pesawat. Karena saking terburu- burunya berangkat tadi pagi membuatnya ikut melupakan ponselnya.
"Semoga saja tidak ada telpon penting" batin Bianca.
Setelah lebih dari satu jam mereka menunggu, akhirnya mereka mendengar suara yang tidak asing diperdengarkan di bandara tersebut.
"Sudah saatnya aku pergi."
Bianca mengangguk menimpali. "Hubungi aku kalau kau sudah sampai."
Mau tidak mau Andrew terkekeh melihat sikap Bianca. "Pasti sayang." Katanya seraya menjepit hidung Bianca dengan gemas. "Dan jangan pikir karena aku sudah tidak ada di dekatmu lagi, kau bisa leluasa menggoda para pasienmu."
"Oh baiklah. Kalau begitu aku akan menggoda dokternya saja." Goda Bianca bercanda tapi lantas membuat Andrew tersentak.
"Jangan juga melakukannya."
Bianca mengernyit heran dengan perubahan wajah Andrew yang tiba- tiba lalu kemudian bibirnya berkedut menahan tawa.
"Astaga Andrew." Kali ini Bianca histeris dan tahu- tahu dia sudah tertawa terbahak- bahak.
Awalnya Andrew tidak mengerti alasan Bianca tertawa hingga kemudian ia mendapati Bianca mengedipkan sebelah matanya dengan seductive. Dikalungkannya kedua lengannya di sekitar leher pria tersebut.
"Kau tunangan terkonyol yang pernah kutemui." Ucap Bianca pelan. "Kalimatku yang dulu masih berlaku Drew, kau orang yang paling berharga dalam hidupku. Memilikimu merupakan hal terbaik yang pernah ku dapatkan. Kau sahabatku..."
"Juga tunanganmu... dan ku harap sebentar lagi menjadi suamimu."
Bianca tersenyum. "Ya."
"Ikutlah denganku Bianca. Kita bisa mengurus kepindahanmu di rumah sakit lain."
Bianca menggeleng tapi tetap mempertahankan senyumnya. "Dua tahun dan aku janji akan mengurusnya."
Sebenarnya Andrew tidak setuju jika harus menunggu dua tahun dan dalam hati ia berjanji akan memperpendeknya menjadi satu tahun atau kalau perlu enam bulan. Itu lebih baik tapi dia tidak mau melihat wajah kecewa wanitanya.
"Masuklah. Dan hubungi aku setelah kau tiba."
Andrew mengangguk dan mencium bibir Bianca sekilas. Bianca terus melihat Andrew hingga sosok pria itu menghilang dari jarak pandangnya.
***
Bianca terlambat selama kurang lebih dua jam. Setelah mengantar Andrew ke bandara, ia memutuskan untuk langsung menuju ke rumah sakit alih- alih kembali menuju apartemennya untuk mengambil ponselnya.
Ia baru saja menaruh tasnya di atas meja ketika pintu ruangannya menjeblak terbuka, menampilkan sosok Vivian.
"Astaga Bi, darimana saja kau? Aku terus menghubungimu."
"Bandara. Mengantar Andrew. Handphone di apartemen, kelupaan karena mengantar Andrew pagi ini"
Kedua mata Vivian mengerjap menyerap informasi ini lalu bibirnya mulai menyunggingkan senyumnya.
"Jadi pasangan lovebird kita sudah kembali?"
Bianca yang baru saja memasang jas dokter ke tubuhnya berpaling dan mendapati wajah sumringah Vivian.
"Apa?" Tanya Bianca heran dengan ekpresi aneh milik sahabatnya.
"Oh ayolah. Kau nyaris tidak punya waktu ketika bersama Andrew bahkan untuk sekedar menyapaku di rumah sakit saja tidak pernah." Jawabnya seraya mengibaskan tangannya dengan malas.
"Kau tahu sendiri sangat jarang Andrew mengambil libur di hari kerjanya. Terlebih lagi dia sudah jauh- jauh datang kemari hanya untuk menemuiku."
"Ya ya ya terserahlah."
Bianca terkekeh. "Jadi apa ada perkembangan?"
"Apa maksudmu?"
"Oh ayolah Vi. Selama beberapa hari ini aku tidak mengikuti perkembangan yang ada." Ujar Bianca menaik- turunkan alisnya untuk menggoda sahabatnya.
"Oh" Sontak wajah Vivian memerah mengetahui maksud pertanyaan yang dilontarkan Bianca. "Masih sama seperti kemarin."
"Hm aku tidak tahu tapi sepertinya kau harus lebih agresif dalam menghadapi dokter Carter."
"Hahaha dasar sok tau."
Bianca baru saja akan membuka pintu ruangannya ketika pintunya lebih dahulu terbuka.
"Darimana kau?"
Eh?
Bianca tersentak kaget ketika mendapati Sean memandangnya dengan tatapan tajam dan... marah?
"Apa kau tidak tahu kalau pasien dengan kelainan jantung hampir saja meninggal karena kau?" Sergah Sean tanpa memperdulikan tatapan kaget wanita itu. "Apa yang sebenarnya kau pelajari selama ini?" Lagi- lagi Sean memuntahkan laharnya.
"Sean...?" Vivian berusaha menengahi keduanya karena Bianca sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata.
"Kalau tidak mampu menjadi dokter, jangan menjadi dokter. Kau bisa menyusahkan pasien lainnya."
"Sean..." kali ini Vivian sudah memegang lengan Sean untuk menghentikannya.
"Dengar, aku tidak peduli dengan kehidupan pribadimu tapi paling tidak ingatlah tanggung jawabmu. Jangan mentang- mentang karena kau dokter terbaik di rumah sakit lain jadi kau juga ingin mendapatkan keistimewaan yang sama di tempat ini."
Dia....
"Keluar dari rumah sakit ini."
Dia benar- benar...
"Dan berhenti menjadi dokter karena sepertinya kau lebih senang bermain dokter- pasien dengan tunanganmu itu."
DIA BENAR- BENAR MEMBUATKU MARAH...
Plak. Sebelah tangan Bianca terangkat dan menampar pipi Sean dengan keras, membuat Vivian terperangah.
"Apa. Yang. Baru. Saja. Kau. Lakukan?" Geram Sean mengepalkan tinjunya, menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun- ubun.
"Aku menampar pikiranmu yang kotor tentang diriku." Seru Bianca tidak mau kalah.
"Kotor, heh?"
"Ya. Kotor. Apa kau pikir karena kau kepala divisi di sini jadi kau bisa meremehkan orang lain, huh? Aku minta maaf karena telah melalaikan tugasku tapi kau tidak berhak menyuruhku untuk pergi."
"Tidak berhak ya?" Sean menyunggingkan senyum mengejeknya.
"Jangan coba- coba, Sean." Ancam Bianca tajam.
"Kau mengatakan aku tidak berhak. Akan kita lihat setidak berhak apa posisiku hingga mengeluarkan surat itu."
"Sean... sudahlah. Bianca sudah meminta maaf."
"Dia mungkin meminta maaf atas kelalaiannya hari ini tapi bagaimana kalau hal yang sama terjadi lagi? Apa kau mau bertanggung jawab pada keluarga pasien?" Tanya Sean memandang Vivian.
"A- aku..."
Sean kembali mengarahkan pandangannya pada Bianca. "Pergi dari sini. Aku tidak membutuhkan dokter yang tidak kompeten." Ucap Sean dingin.
"Kau bercanda."
"Apa aku terlihat bercanda saat ini, dokter Roseen?"
Keduanya saling melempar tatapan tajam hingga Bianca menghela napas.
"Tidak. Aku tidak akan pergi" Ucap Bianca menahan keinginan untuk menampar Sean lagi.
"Jangan membuatku harus memanggil keamanan untuk menyeretmu dari sini."
"Kau menyalahi aturan, dokter Carter."
"Aturan bisa di ubah. Pergi sekarang juga."
"Kau..." Bianca baru saja akan membalas ucapan Sean ketika mendadak mereka mendengar suara teriakan marah dari arah belakang Sean disusul isak tangis.
"Daddy jahat!" Seru Ivy dengan air mata yang berlinang.
Dibelakang Roxyan tidak tahu harus berbuat apa dan hanya memandang Sean dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan.
"Princess?"
"Daddy jahat... daddy jahat!" Raung Ivy semakin keras.
***
Comments
Post a Comment