MISSING YOU - 18

Sean tidak mengerti apa yang terjadi pada Ivy- putri semata wayangnya. Ini pertama kalinya dia melihat Ivy yang menangis sesengukan hingga kedua mata anak itu bengkak. Untung saja Ivy tidak menolak ketika Sean berniat menggendongnya tapi tetap saja melihat putrinya menangis hingga membasahi kemejanya membuatnya merasakan perasaan bersalah meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya.

Ivy adalah anak yang ceria. Tidak sekalipun Sean pernah melihatnya menitikkan air mata kecuali jika dihitung ketika ia masih bayi, meskipun waktu itu perasaannya juga sakit ketika melihat Ivy yang masih berumur beberapa hari menangis tapi kejadian tadi siang itu sangat berbeda. Putrinya tidak terluka, juga tidak kesakitan tapi tahu- tahu dia sudah menangis hingga tak seorangpun mampu menggerakkan tubuhnya saking terkejutnya melihat anak itu menangis.

Sean terpaksa harus pulang lebih cepat agar bisa menemani putrinya dan saat ini anak itu sedang terlelap karena kelelahan menangis. Sean sedang membolak- balik kertas berisi data pasiennya ketika ia mendengar suara pintu di buka dan menampilkan tubuh mungil putrinya dalam balutan piyama karakter Sad di film inside out berwarna biru. Benar- benar seperti menunjukkan kalau seempunya saat ini sedang bersedih. Dalam hati Sean mengutuk dirinya karena telah membelikan piyama dengan masing- masing karakter film itu, harusnya dia membelikan putrinya karakter Joy saja tanpa ada Fear, Disgust, Anger atau Sad. Memikirkan putrinya merasakan perasaan seperti pada karakter itu membuatnya berkeinginan untuk membuangnya dan hanya menyisakan Joy seorang diri saja tapi mengingat seperti apa sifat putrinya, membuatnya harus memikirkan secara matang rencananya.

Sean menghela napas berat ketika melihat sepasang mata anaknya itu bengkak dan masih ada bekas- bekas air mata di pipinya.

"Hai princess." Sean sengaja berjalan menuju putrinya dan bertumpu pada kedua lututnya agar ia bisa sejajar dengannya. "Apa kau mau makan?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh putrinya.

Tanpa mengatakan apa- apa lagi, Sean mengangkat tubuh mungil Ivy dan mendudukkannya di meja bar di dapurnya. Segera saja Sean mengeluarkan sebotol yogurt rasa strawberry ukuran mini dan diberikannya pada putrinya.

Tidak ada yang bersuara hingga Sean menyelesaikan pastanya dan meniriskannya ke atas piring lalu menyodorkannya pada putrinya semata wayangnya. Tidak lupa ia menggorengkan beberapa sosis goreng, tahu kalau Ivy sangat menyukai makanan itu.

"Daddy... marah sama Ivy?" Ivy tidak berani mengangkat wajahnya dan lebih memilih menusuk- nusuk potongan sosisnya yang sudah nyaris habis.

Sejenak Sean berpaling dan menatap kepala putrinya yang sepertinya lebih tertarik pada sosis yang telah tercabik- cabik karena tusukan garpunya.

"Lihat daddy." Perintah Sean yang langsung diikuti oleh Ivy. Sean menghela napas ketika melihat kedua mata itu lagi. "Kemarilah." Suruh Sean lagi dan Ivy kembali menurut hingga berada dalam pangkuan Sean. "Ada apa sayang?" Tanya Sean sambil mengusap rambut coklat Ivy lembut.

"Maaf daddy." Ucap Ivy lirih tapi masih bisa di dengar oleh Sean.

"Daddy juga minta maaf sayang. Apa Ivy mau memaafkan daddy?" Tanya Sean menatap sepasang bola mata milik putrinya itu.

Ivy mengangguk dan menyunggingkan senyumnya yang langsung dibalas kecupan dikening oleh Sean. Apapun yang membuat putrinya menangis seperti tadi pasti bukanlah hal yang bagus dan Sean memilih untuk tidak menanyakan hal itu. Dia tidak mau melihat putrinya kembali menitikkan air mata.

Ivy meminta untuk tidur bersama dengan Sean malam ini. Setelah membacakan sebuah dongeng pengantar tidur buat putrinya lalu merapikan selimut di tubuh putrinya ketika ia mendengar sayup- sayup suara putrinya lagi.

"Ivy wants mommy. I miss mommy, dad."

.
.

Sementara itu di tempat lain, Bianca berjalan mondar- mandir di sekitar apartemennya. Entah kenapa, kejadian di depan ruangannya tadi siang dimana Ivy yang tiba- tiba menangis membuat perasaannya berdenyut tidak karuan. Dia ingin menghubungi Sean dan menanyakan keadaan gadis kecil itu tapi dia juga tidak mau di cap sebagai orang yang senang mencampuri urusan orang lain apalagi mengingat dia habis bertengkar bahkan menampar pria itu. Sekali lagi ia meringgis mengingat ia baru saja menampar kepala divisinya. Belum cukup enam bulan dia bekerja di St. Jacqualine Hospital dan dia sudah berani menyentuh pipi seseorang dengan tangannya.

Beberapa kali ia melirik ponselnya dan hendak menekan beberapa nomor ketika ia kembali terhenti dan pada akhirnya melemparkannya ke sofa yang terdekat.

Ia baru saja menandaskan yogurt rasa strawberrynya ketika ia mendengar suara dering ponselnya dan langsung berlari tanpa memperdulikan lututnya yang terasa sakit karena terantuk meja untuk meraih ponselnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Vivian bingung ketika mendengar nada kesakitan ditambah suara ngos- ngosan sahabatnya itu.

"Tidak apa- apa. Jadi bagaimana?" Tanya Bianca langsung.

Terdengar suara Vivian yang menghela napas. "Sepertinya sudah tidak ada masalah." Mau tidak mau Bianca menghela napas lega. "Aku baru saja menghubungi Sean dan dia mengatakan Ivy sudah agak tenang. Sekarang dia sudah kembali tertidur setelah makan malam." Bianca mengangguk merasa luar biasa lega. "Hmm Bi, bolehkah aku mengatakan sesuatu?"

Seketika kening Bianca mengernyit, "tentu. Ada apa?" Tanya Bianca.

"Mungkin ada baiknya kalau kau meminta maaf pada Sean. Biar bagaimana pun kau juga salah. Maaf, bukan maksudku menyalahkanmu tapi..."

"Aku mengerti, Vi." Potong Bianca. "Aku juga merasa tidak enak apalagi setelah... well, kau tahulah."

Tanpa di duga Vivian tertawa. "Ya. Aku juga agak kaget ketika kau menamparnya tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu melakukannya lagi. Biar bagaimana pun aku sedikit cemburu."

"Kau cemburu karena aku menampar dokter Carter?" Tanya Bianca tidak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya.

Vivian terkekeh di seberang. "Tentu saja tidak, bodoh. Seandainya aku tidak mengingat kalau kau adalah sahabatku mungkin aku sudah menarikmu atau mungkin menyeretmu karena telah memukul priaku."

Wow. "Jadi dia sudah mendapatkan titel sebagai pria Vivian Logan, heh?" Goda Bianca menahan agar tidak tertawa karena membayangkan wajah wanita yang kemungkinan besar sudah memerah.

"Dasar. Kau ini." Balas Vivian.

"Oh senang rasanya mendengar suara malu- malumu. Aku akan selalu mendukungmu, bestie. And hey, bagaimana kalau kau yang mengikatnya lebih dulu?"

"Maksudmu?"

"Katakan kalau kau menyukainya."

"Apa kau sudah gila?"

"Tentu saja tidak. Ayolah Vi, tidak masalah siapa yang lebih dulu mengungkapkan. Yang penting kan kau tulus menyukainya." Entah kenapa ketika mengatakan hal itu, ada perasaan aneh yang hinggap di dadanya hingga ia harus memegang tepat di mana jantungnya berdetak aneh. "Apa aku jantungan?" Guman Bianca masih memegang dadanya.

"Apa?"

"Oh tidak apa- apa. Apa yang kau lakukan?" Tanya Bianca mengalihkan pembicaraan.

"Oh. Aku baru saja kembali dari rumah sakit."

"Oh baiklah. Istirahatlah."

"Yeah, kau juga. Dan ingat, kau harus minta maaf pada Sean."

"Baik miss Logan."

"Sampai besok, Bi"

klik.

Di atas tempat tidur, dalam alam bawah sadar Bianca bergerak gelisah dalam tidurnya. Sesekali ia mendengar sayup- sayup suara tangisan bayi dan beberapa langkah orang yang sepertinya sedang sangat terburu- buru lalu disertai teriakan- teriakan penuh permohonan.

"Please... please...Save... my....baby..."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS