MISSING YOU - 19

Dengan ragu, akhirnya Bianca berdiri di depan pintu ruangan Roxyan. Butuh tekad yang besar baginya untuk melangkahkan kakinya menuju divisi syaraf dan otak di lantai 12 dan itu semua ia lakukan untuk mencari tahu satu hal.

Setelah berkali- kali menghela napas, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan itu yang dibalas suara berat dari dalam- mempersilahkannya masuk.

"Hai"

Bianca sengaja melonggokkan hanya kepalanya di sela daun pintu. Takut mendapatkan penolakan dari pria itu meskipun dia juga sedikit ragu pria itu akan melakukannya, mengingat pria ini sering bersikap ramah padanya. Sangat berbeda dengan pria yang satunya.

"Oh hai Bianca, masuklah." Ujar Roxyan kaget sekaligus bingung setelah menyadari siapa yang baru saja bertandang ke tempatnya.

"Apa aku menganggumu, dokter Grawthorn?"

"Kau ini. Aku sudah menyuruhmu untuk tidak bersikap terlalu formal denganku tapi tetap saja kau selalu melakukannya"

"Maaf. Kebiasaan. Jadi apa aku menganggumu, Roxyan?"

"Jangan khawatir. Hanya melihat beberapa data milik pasien. Duduklah dulu. Sebentar lagi aku selesai"

Bianca mengangguk lalu menuju sofa coklat di tengah ruangan. Beberapa menit berselang, Roxyan datang sambil membawa sekaleng Cola dan memberikannya pada Bianca.

"Thanks."

Roxyan mengangguk. "Jadi ada apa?" Tanya Roxyan yang langsung membuat bibir Bianca mencebik.

"Apa kau selalu bersikap terus terang seperti ini?"

Pria itu tertawa. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa seakrab itu berbicara dengan wanita yang saat ini duduk dihadapannya, selain tentunya karena dia mirip dengannya.

"Ada apa?"

"Apa?"

"Kau memberiku tatapan aneh beberapa detik yang lalu"

"Benarkah?" Roxyan kaget dengan pernyataan Bianca barusan.

"Ya" Bianca mengangguk. "Itu seperti kau entahlah... menunggu sesuatu keluar dari... kepalaku?" Guraunya seraya memperlihatkan ekpresi ngeri di wajahnya.

"Hahaha kau lucu juga ya"

Bianca mencoba untuk tidak ikut terpancing jadi yang dia lakukan hanya membuka Colanya dan meneguknya sambil matanya melihat ke sekeliling, menunggu sesuatu atau mungkin.... seseorang?

"Kalau kau mencari Sean, dia tidak ada di sini."

Eh?

"Dia menemani Ivy"

Sebenarnya dia hanya sekedar bercanda tapi ketika melihat gelagat aneh yang ditimbulkan sedetik yang lalu, membuatnya bingung.

"Ivy? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanpa Bianca sadari, ada nada cemas dalam suaranya dan Roxyan menyadari hal itu.

"Tidak. Ivy baik- baik saja. Sean hanya menemaninya saja"

"Oh syukurlah" ungkapnya penuh syukur.

Roxyan lalu mengalihkan pembicaraan dengan hal- hal ringan lainnya seperti bagaimana dirinya selama bekerja di St. Jacqualine Hospital beserta pasien- pasiennya. Selama pembicaraan berlangsung, tidak sekalipun ia mengalihkan tatapannya dari wanita itu. Dia berusaha mencocokkannya dengan orang dikenalnya di masa lalu tapi semakin dia mencoba, semakin membuatnyabil bingung. Bianca sama sekali tidak menunjukkan raut wajah yang aneh didepan Roxyan selain Bianca yang terlihat jauh lebih dewasa dan kalem dengan kecantikan yang juga tidak bisa dibilang lumayan. Kadang kala, ia mendengar kalau beberapa keluarga pasien yang ditanganinya rela menungguinya hingga selesai berkeliling.

"Oh tidak" Bianca terlonjak dari duduknya dan menyadari kalau sudah nyaris dua jam ia berbincang dengan Roxyan. "Maaf Roxyan, aku menghabiskan banyak waktumu." Ucap Bianca merasa tidak enak.

"Itukah sebabnya kau bersikap sekaget tadi?" Roxyan tidak dapat menyembunyikan senyum gelinya akan perubahan sikap Bianca yang tiba- tiba tadi. "Aku pikir ada seekor anaconda di sofaku."

"Dasar konyol. Baiklah. Thanks atas waktu dan juga hm, Colanya" Seraya mengangkat sebelah tangannya yang masih memegang kaleng Cola yang sudah nyaris habis.

"Tidak masalah. Aku juga senang dikunjungi oleh wanita secantik dirimu, dokter Roseen"

Bianca tertawa lepas dan itu membuat Roxyan tidak dapat berpikir karena tawa barusan.

"Baiklah Roxyan, sampai nanti" Baru selangkah kaki Bianca keluar ketika Roxyan kembali memanggilnya.

"Apa besok siang kau punya waktu?"

Kedua kening Bianca mengernyit. "Aku rasa tidak. Besok aku bebas. Ada apa?"

"Bagus. Aku ingin mengajakmu"

"Eh, kemana?"

Roxyan lantas memberinya senyum penuh misteri. "Besok akan kau lihat. Ngomong- ngomong gunakan pakaian yang nyaman ya?"

Hah?

Bianca memandangi pakaian yang saat ini dikenakannya. Hanya celana kain dan kemeja.

"Aku selalu nyaman dengan apa yang kugunakan kok"

"Setidaknya pakailah sesuatu yang datar." Lanjut Roxyan kembali membuat Bianca menunduk melihat heels 7 centi yang dikenakannya.

"Kau ingin mengajakku berkeliling ya?" Tanya Bianca curiga.

"Well, semacam itu."

"Kemana?" Bianca mulai berandai- andai. Sudah lama ia tidak ke gunung atau mungkin pantai. Pantai sepertinya alternatif yang bagus. Vivian selalu tidak punya waktu untuk diajak ke pantai dan Bianca juga tidak mau pergi sendiri.

"Kau akan tahu besok. Pastikan saja kau mengirimkan alamat apartemenmu padaku. Akan kujemput jam 2 siang, okey?" Dan sebelum Bianca menjawab, Roxyan telah mendorongnya menjauh dari pintu dan menutup pintunya tepat di depan wajah Bianca.

.

.

Bianca tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Setelah semalaman kembali berdebat dengan Roxyan tentang kemana tujuan mereka dan berakhir dengan kekalahan dari Bianca. Akhirnya mereka telah sampai di tempat dimana yang mereka tuju ralat Roxyan tuju.

"Tidak dapat dipercaya! Setelah seharian kau bersikap sok misterius ternyata hanya taman hiburan yang ingin kau perlihatkan padaku?" Bianca tidak dapat menyembunyikan rasa kesal bercampur bingung di wajahnya.

"Oh jangan khawatir. Kau tidak salah kostum kok. Kalau memang itu yang kau pikirkan" Balas Roxyan nyengir dan langsung mendapatkan pukulan di lengannya.

"Aku bahkan tidak peduli bagaimana penampilanku sekarang" Sergah Bianca kesal.

"Oh tentu saja kau harus peduli karena sejak kita turun dari mobil tadi, semua orang menatapmu"

"Dan kenapa mereka melakukan itu?" Tanya Bianca jengah sekaligus ingin tahu tapi matanya mengitari sekitaran wahana, mencari sarana untuk membalas dendam. Mereka sudah berada di sini jadi sekalian saja ia menikmatinya.

"Hei, perhatikan dong kalau orang bicara" Hardik Roxyan setelah memukul kepala Bianca guna menarik perhatiannya, membuat wanita itu mendelik padanya.

Sejujurnya Roxyan agak menyesali permintaannya yang menyuruh Bianca agar berpakaian kasual saja. Alasannya agar wanita itu tidak mudah lelah jika harus berjalan mengitari wahana jika menggunakan heels. Jika Bianca yang di rumah sakit terlihat dewasa dengan pemilihan pakaiannya yang bergaya vintage, dengan perpaduan celana panjang atau dress layaknya dokter pada umumnya tapi penampilannya saat ini benar- benar seksi dan menakjubkan.

Bianca memakai blus berwarna putih dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka hingga menampilkan tulang lehernya yang tampak seksi. Belum lagi hotpants warna krem dan kets senada yang memperlihatkan kaki putih mulusnya. Seakan itu belum cukup, rambut Bianca juga di kuncir kuda hingga memperlihatkan lehernya. Hanya lipgloss dan pemerah pipi yang dia gunakan untuk mencerahkan wajahnya dan selebihnya itu tidak memakai apa- apa. Sangat.... sangat Hot.

"Hey Bi"

"Hm?"

"Aku ingin menanyakan sesuatu"

"Kalau itu tentang kembang gula yang baru saja ku beli, aku menolak. Kau bisa membelinya di tempat tadi. Aku tidak keberatan menemanimu"

"Cih, bisakah kau mengalihkan tatapanmu dari makananmu dulu dan melihatku? Aku tidak meminta makananmu, tahu?!"

Dengan terpaksa Bianca menoleh dan mendapati wajah kesal Roxyan dan langsung membuatnya tertawa.

"Apa?!" Tanya Roxyan ketus.

"Kau marah" Jawab Bianca tanpa sama sekali berniat meredakan tawanya.

Roxyan langsung memutar matanya jengah tapi dia tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Alih- alih ia menghentikan Bianca, yang ada ia langsung meraup hampir setengah kembang gula Bianca.

"Hey!" Protes Bianca tidak terima dan menjauhkan kembang gulanya.

"Dasar pelit! Biar bagaimanapun kau membelinya pakai uangku"

"Mana aku tahu kalau kau akan membawaku ke sini. Sudah untung aku hanya membeli satu, tadi aku bahkan berniat membeli seluruh isinya."

Kedua mata Roxyan membelalak. "Kau bercanda"

"Tidak"

"Aku tidak percaya"

"Coba saja"

"Ayo!" Tantang Roxyan yang langsung dibalas anggukan mantap Bianca.

"Siapa takut!"

Roxyan tersenyum. Perasaan nyaman ini pernah ia rasakan ketika masih bersama dengan wanita itu dan meskipun wanita itu berpacaran dengan sahabatnya yaitu Sean tapi tidak sekalipun dia membeda- bedakan bahkan mereka seperti telah bersahabat. Pertemuan pertama yang konyol kemudian beralih ke hal- hal konyol lainnya dan hanya mereka berdua yang melakukannya. Sean lebih cenderung bersikap layaknya pacar yang baik dimana sering menjaga si wanita agar tidak terluka tapi si wanita malah tidak tahu. Hal itu dikarenakan sikap Sean yang lebih cool meskipun dia tahu kalau mereka berdua memang sama- sama di takdirkan. Roxyan tahu dari cara mereka saling memandang dan saling menjaga satu sama lain, ada cinta disana. Betapa dia merindukan sahabatnya itu dan pasti sahabatnya juga merindukannya bahkan lebih daripada dirinya.

"Lho, Roxyan dan.... dokter Roseen?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS