MISSING YOU - 21
Sean dan Roxyan sama- sama tersentak kaget mendengar teriakan Ivy dan semakin kaget ketika melihat Bianca telah berada di tanah dengan sebelah tangan dipegang oleh Ivy.
"Astaga, apa yang terjadi?" Seru Roxyan ketika sudah berada di dekat mereka. Sean segera mengendong Ivy yang sudah mengeluarkan air mata, menenangkannya.
"Dia mati, daddy?" Ivy berujar di sela tangisnya. "Iya kan daddy, Bibi Bi mati... dia mati."
"Dia pingsan, Sean" Ujar Roxyan setelah memeriksa denyut nadi Bianca.
"Dia mati, daddy." Tangisan Ivy semakin keras seiring dia menggumamkan kata- kata itu.
"Shhh sayang. Tidak. Bibi Bi tidak mati" Ucap Sean menenangkannya.
"Tapi dia tidak bergerak. Bibi Bi mati" Kali ini suaranya bergetar dan Sean harus memeluk tubuh mungil itu semakin erat sambil menggumankan kalimat menenangkan.
"Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit"
Dan tanpa menunggu lagi, Roxyan mengangkat tubuh terkulai Bianca, menghindari kerumunan orang yang semakin lama semakin ramai karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Tidak butuh waktu yang lama hingga mereka tiba di rumah sakit terdekat. Ivy menolak untuk pergi dari sisi Bianca, masih dengan mata yang berlinang air mata.
"Ivy sayang, bibi Bi hanya perlu istirahat kok sayang. Jangan nangis lagi" Bujuk Roxyan yang tidak tahan melihat anak itu terus mengeluarkan air mata dalam dekapan Sean. Sean juga tidak tahu harus mengatakan apa. Segala upaya telah dikerahkannya tapi tetap saja anaknya itu menangis.
"Tapi bibi Bi mati." Ujar Ivy
"Tidak kok sayang. Bibi Bi masih hidup. Coba deh kamu rasakan." Sean tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu tapi ia tetap meraih tangan mungil Ivy dan mendekatkannya ke pipi Bianca. "Bagaimana? Dia hangat kan?" Kedua kening Ivy mengernyit dan tanpa diduga Sean, Ivy memindahkan tangannya dari pipi Bianca ke dada wanita itu. Baik Sean maupun Roxyan tidak ada yang bersuara. Keduanya sama- sama bingung dengan apa yang dilakukan anak itu dan seketika air mata Ivy berhenti.
"Jantungnya masih ada." Ujar Ivy kemudian lalu tersenyum.
.
.
Bianca terbangun dengan kepala yang terasa sakit dan menyadari kalau dia berada di ruangan yang serba putih. Belum sempat ia mencerna semuanya, mendadak ia mendengar suara deheman.
"Kau sudah bangun?"
"Oh. Hai Roxyan." Bianca mencoba bangun dari tidurnya dan dengan sigap Roxyan membantunya.
"Kau mau minum?" Tanya Roxyan yang dibalas dengan anggukan pelan wanita itu.
"Terima kasih." Ujar wanita itu setelah meneguk air yang diberikan Roxyan padanya. "Apa yang terjadi?" Tanya Bianca kemudian.
"Kau pingsan." Jawab Roxyan.
"Pingsan?"
"Ya. Sepertinya kau terlalu lelah."
"Oh." Bianca merasa malu karena telah bersikap lemah padanya juga Sean dan Ivy... eh Ivy?
"Sean sedang menemani Ivy di luar."
"Apa dia baik- baik saja?"
"Well, selain karena syok dan mengira kau mati. Dia sepertinya baik- baik saja." Roxyan mencoba meredakan wajah syok di wajah wanita itu. "Sepertinya dia sangat menyayangimu." Lanjut Roxyan yang langsung membuat Bianca menoleh, bingung.
"Siapa?"
"Ivy."
"Oh."
"Kau tidak lihat bagaimana kami harus menyakinkan dirinya agar tidak berpikiran kalau kau mati." Roxyan mengucapkan hal itu dengan tertawa. Seakan kejadian menegangkan tadi hanya sebuah cerita lucu yang harus diceritakan.
"Well, aku tidak akan membayangkannya." Balas Bianca yang dibalas Roxyan dengan tersenyum.
"Sebaiknya jangan. Kurasa dia akan senang jika melihatmu akhirnya membuka mata."
"Kalau begitu ayo kita lakukan." Bianca beranjak dari tempat tidurnya.
"Eh apa yang kau lakukan? Istirahatlah dulu."
"Aku sudah baikan, Roxyan. Aku sudah well, tertidur dalam tanda kutip selama...." ia meraih jam tangan miliknya yang tergeletak di sisi ranjang dan melihatnya. "Wow... 3 jam. Aku tidak heran kalau Ivy menganggap aku mati." Kekehnya.
Mereka berdua baru saja akan keluar dari ruang inap ketika Ivy datang, masih dalam dekapan Sean.
"Bibi Bi." Seru Ivy merontah ingin segera melepaskan diri dari ayahnya dan beralih dalam dekapan Bianca. "Bibi Bi sudah bangun? Apa bibi Bi baik- baik saja?" Tanyanya seraya memainkan rambut Bianca yang dibiarkan tergerai.
"Iya. Bibi Bi baik- baik saja kok." Bianca memperhatikan mata Ivy yang bengkak karena menangis. Berapa lama anak ini menangisinya? Pemikiran itu membuat Bianca mendesah.
"Apa Ivy menangis?"
Ivy mengangguk. "Ya. Ivy kira bibi Bi tidak akan bangun lagi." Sadar atau tidak sadar, ada nada sedih dalam suara Ivy barusan dan itu semakin membuat Bianca merasa bersalah.
"Seharusnya Ivy tidak menangis."
"Kenapa?"
Lagi- lagi Bianca menghela napasnya. Dia merasa tidak suka jika melihat anak itu menangis terlebih lagi karena dirinya. Ini seperti dirinya ikut merasa sedih jika melihat anak itu bersedih.
"Biar Ivy aku gendong." Ujar Sean yang menyadari kalau tubuh Bianca masih lemah.
"Kenapa? Kenapa Ivy tidak boleh menangis karena bibi?" Tanya Ivy bahkan setelah ia berpindah ke dalam dekapan Sean kembali, masih menolak memalingkan wajahnya dari wajah Bianca.
Bianca dan Sean saling bertukar pandang lalu sekali lagi ia menghembuskan napasnya.
"Ayo kita pulang. Bibi Bi sepertinya butuh istirahat." Ujar Sean merasa tidak nyaman dengan pandangan yang tadi diberikan oleh Bianca.
"Kenapa bibi Bi?" Tanya Ivy keras kepala masih tetap melihat wajah Bianca.
"Ivy?" Tegur Sean dan sekali lagi kedua mata anak itu mulai terlihat sembab dan itu membuat Bianca semakin tidak nyaman jika anak itu menitikkan air mata.
"Karena..." Bianca mendekat. Memegang wajah mungil anak itu dengan tangannya dan mengecup sebelah mata Ivy. "Air mata ini terlalu berharga untuk dikeluarkan." Ujarnya lembut lalu mengecup mata satunya. "Jadi jangan menangis lagi ya." Lanjutnya membuat Ivy menyunggingkan senyum senang tapi tidak dengan kedua pria yang saat ini terperangah disekelilingnya.
Roxyan mengantar Bianca kembali ke apartemen wanita itu. Selama perjalanan tidak seorang pun diantara mereka yang berniat mengutarakan pendapat bahkan ketika Bianca turun dari mobilnya, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa. Dirinya terlalu sibuk memikirkan kejadian di rumah sakit tadi.
***
Comments
Post a Comment