MISSING YOU - 22
Rasanya ada getaran halus sekaligus menyakitkan setiap kali ia mengingat kejadian kemarin dan semakin lama ia memikirkannya, semakin sesak pula yang ia rasakan.
Ia baru diberi tahu kalau hari ini wanita itu meminta izin cuti dan Sean memaklumi sebabnya. Wajah Bianca kemarin memang terlihat sangat pucat.
Ia ingin menghubungi dan menanyakan kabarnya tapi setiap kali ia akan menyentuh tombol dial, perasaannya kembali meragu.
"Kenapa perasaan yang pernah kurasakan kembali muncul?" Dengan frustrasi, Sean mengusap wajahnya kesal.
"Ini pasti karena ia bersikap manis pada Ivy. Aku hanya terbawa suasana." Guman Sean menyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh membiarkan perasaan terhadap dokter itu semakin besar tapi bisakah dia?
Tok tok...
"Masuk." Perintah Sean. Dari balik pintu muncul Vivian dengan senyum sumringahnya. "Oh hai Vi."
"Apa aku menganggu?" Tanya Vivian lalu masuk keruangannya.
"Oh tidak." Jawab Sean, mempersilahkan Vivian untuk duduk di sofa. "Ada apa Vi? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya disela membuka lemari es berisi cola dan jus. Sean mengambil sebotol jus rasa apel dan menyodorkan pada wanita itu.
"Tidak. Hanya ingin melihatmu. Thanks." Ucapnya menerima jus apelnya.
"Oh."
"Aku dengar hari ini Bianca tidak masuk."
Sean mengangguk. "Ya. Dia cuti selama dua hari."
"Oh. Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Vivian yang langsung membuat Sean mengernyit, heran. "Oh. Sori kalau aku salah." Lanjut Vivian lagi ketika melihat raut wajah barusan.
"Tidak. Kami tidak bertengkar." Jawab Sean menyakinkan.
Vivian bernapas lega dan ternyata hal itu tidak luput dari mata Sean.
"Oh maaf." Ucap Vivian malu karena tertangkap basah.
"Aku akan menerima permintaan maaf mu jika kau menjelaskan hal itu." Apa aku sekejam itu?
Vivian tampak menimbang kalimatnya hingga kemudian ia memutuskan akan mengatakannya saja. Toh, ini juga demi kebaikan sahabatnya dan mungkin lebih baik kalau mereka akrab satu sama lain mengingat sebentar lagi mereka.... memikirkan hal itu membuat kedua pipi Vivian terasa panas karena malu.
Sean hanya diam sambil memperhatikan ekpresi wajah Vivian di depannya dan ia berani bersumpah jika sekilas tadi dia sempat melihat ada rona merah di kedua pipi wanita itu.
Sean mendesah putus asa. Dia bukanlah pria yang tidak tahu apa yang diinginkan wanita itu tapi hatinya sudah tertambat pada wanita lain dan wanita itu pergi tanpa sama sekali berniat mengembalikannya.
Pernah sekali dia mengatakan pada wanita itu kalau dirinya bukanlah pria yang tepat untuk dirinya tapi sepertinya Vivian tidak ingin menyerah dan keberadaan Bianca, si dokter baru itu membuat perasaannya semakin tidak menentu.
"Aku tidak mengatakan hal ini karena aku sahabatnya." Kalimat awal yang dilontarkan oleh Vivian menariknya kembali ke dunia nyata dan kata 'sahabat' yang tadi dikatakannya membuat tubuhnya tegang. Dia sangat penasaran dengan wanita yang akan dibicarakan oleh Vivian. "Menurutku kau tidak adil dengannya."
Kalimat terakhir Vivian membuat tubuhnya tersentak. Dalam pikirannya, tidak sekalipun kalimat itu terlintas dalam benaknya.
"Tidak adil?"
"Tidak hanya aku tapi seluruh dokter di rumah sakit ini juga merasakan hal yang sama."
Ada jeda selama beberapa saat hingga Vivian kembali melanjutkan.
"Aku bukannya mengoreksi cara kerjamu tapi..." Vivian merasa ragu untuk mengatakan hal ini tapi demi sahabatnya, ia harus melakukannya dan dia juga sudah capek mendengar dokter- dokter lain membicarakan baik itu pria yang disukainya maupun sahabatnya. Dia merasa seperti berada di tengah perang yang bahkan Vivian pun tidak tahu apa yang diributkan. "Mungkin kau bisa sedikit lebih lunak pada Bianca, hanya sedikit. Harus kuakui, aku sedikit agak cemburu melihat bagaimana kalian di ruang operasi ketika melakukan operasi tempo hari, disitu kalian seperti well, entahlah saling mengetahui apa yang harus dilakukan."
Dalam hati Sean, ia juga menyadari hal itu. Seperti mereka sudah saling mengetahui apa yang harus dilakukan bahkan tanpa harus mengucapkan, seakan mereka telah lama saling mengenal. Itulah sebabnya dia selalu merasa kesal jika bersama wanita itu dan sebisa mungkin agar tidak bersamanya lagi.
"Baiklah. Akan kuusahakan." Ujar Sean kemudian.
Vivian terperangah. Jelas wanita itu kaget karena dengan mudahnya Sean menyetujui perkataannya dan sejujurnya itu membuat perasaannya berbunga- bunga.
"Oh baiklah. Thanks. Hmm apa kau mau makan siang denganku?" Tanya Vivian berusaha meredakan rasa gugupnya yang semakin menjadi- jadi dan Vivian hampir melonjak kegirangan ketika dilihatnya kepala Sean mengangguk.
***
Bianca memutuskan untuk pergi mencari udara segar. Cutinya akan berakhir besok dan meskipun dia sudah agak baikan dan bisa kembali bekerja hari ini tapi hatinya menyuruhnya ke suatu tempat.
Dan disinilah dia. Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dengan mobilnya, akhirnya ia menemukan hamparan pantai dengan pasir putih yang terlihat layaknya seperti mutiara.
Dia bahkan tidak tahu kenapa dia bisa tahu letak pantai ini mengingat dia sama sekali tidak pernah kemari sebelumnya tapi entah mengapa pantai ini terasa tidak asing baginya. Seperti kenangan akan masa lalunya yang menyenangkan berada di sini.
Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.
Bianca tertegun ditempat. Kedua matanya mengerjap aneh sekaligus bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa rasanya ia ingin menangis? Ada apa dengannya?
Bianca memutuskan untuk berjalan menyusuri sisi pantai sambil meredakan perasaannya yang aneh. Dia baru saja akan menikmati matahari terbenam ketika matanya menangkap suara teriakan meminta tolong dari orang- orang yang berkerumun tidak jauh darinya.
"Ada apa?" Bianca bertanya terengah karena berlari dan menerobos kerumunan yang semakin lama semakin banyak.
"Aku tidak tahu. Tiba- tiba saja dia jatuh dan tidak sadarkan diri." Jawab orang disampingnya.
Bianca langsung melakukan pertolongan pertama dengan melonggarkan ikat pinggang pada pria yang tergeletak tak sadarkan diri itu.
"Kenapa dia harus memakai ikat pinggang sekencang ini padahal berada di pantai." Dalam hati Bianca merutuk sambil terus berusaha melepaskan ikatannya.
"A- apa yang kau lakukan? Kau siapa?" Tanyanya pria satunya, menghentikan apa yang baru saja dia lakukan.
"Aku melancarkan peredaran darahnya kembali dan aku dokter." Balasnya jengkel.
Bianca lalu mendekatkan telinganya di dada pria itu, berusaha mendengarkan detakan jantung si pria.
Serangan jantung?
"Apa... apa yang terjadi?"
"Apa sudah ada yang memanggil ambulans?" Tanya Bianca kemudian.
"Ya. Sebentar lagi tiba."
Tidak cukup lima menit, ambulans datang dan mau tidak mau Bianca harus ikut juga sekedar jaga- jaga. Dia tidak tahu dia dibawa kemana tapi ketika turun dari ambulans, mau tidak mau dia harus menyerahkan pasien tadi ke dokter lain untuk ditangani.
Dia memperhatikan kerumunan perawat yang lalu lalang dan menyadari kalau saat ini ia berada di rumah sakit dengan nama St. Catherine Bay. Ia sempat iseng menanyakan nama rumah sakit ini pada perawat yang sempat bertemu pandang dengannya.
Belum sempat ia mencerna nama rumah sakit yang terasa tidak asing di telinganya. Suara teriakan kemudian disusul tubrukan, membuatnya terdorong kebelakang beberapa langkah.
"Astaga. Kupikir aku salah. Ternyata ini benaran kau." Ucap si wanita berambut pirang strawberry, yang tadi memeluknya. Wanita itu menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Hai Bianca, apa kabar?" Ucap sang pria berdiri tidak jauh dari mereka.
"Eh baik. Kalian?" Bianca tidak tahu harus mengatakan apa. Dia merasa tidak mengenal dua orang yang saat ini berdiri dihadapannya dan sedang menatapnya dengan bahagia.
"Cih, kejam sekali. Dia sudah melupakan kita, Jared." Ucap si wanita, memperlihatkan wajah kesalnya.
"Dasar kau ini, Bi. Beberapa tahun tidak bertemu saja membuatmu menjadi sombong." Tambah si pria.
"Eh maaf. Aku tidak..."
Tanpa diduga sang wanita terkekeh. "Kami hanya bercanda. Baiklah. Biar kau tidak lupa lagi dan awas saja kalau kau sampai lupa. Aku Kathy dan pria jelek ini namanya Jared."
Bianca memperhatikan keduanya secara bergantian dan entah kenapa ia tersenyum.
"Ayo. Apa kau sudah makan? Aku ingin mendengar ceritamu." Lalu tanpa menunggu balasan dari Bianca, Kathy langsung menariknya dan mereka bertiga berjalan bersisian menuju kafe yang berada tidak jauh dari rumah sakit.
"Sudah kuduga kalau kalian akan menjadi dokter yang hebat. Jahat sekali kalian menikah diam- diam." Ucap Kathy setelah ia mengembalikan menu ke pelayan kafe.
Eh?
"Kau tampak cantik, Bi bahkan dengan rambut aslimu, apa kau tahu kalau dulu dia diam- diam mencari tahu alasan kau sering gonta- ganti warna rambut? Oh. Tentu saja tidak seorangpun yang tahu kalau coklat adalah warna asli rambutmu selain aku." Kathy lalu terkekeh mengingat kejadian itu. "Dan aku tidak heran kalau dia tidak mau melepaskanmu dan langsung mengikatmu dengan pernikahan. Kurasa dia tahu kalau kau menjadi incaran dokter yang masih single dulu." Lanjutnya tanpa menyadari ekspresi kebingungan Bianca.
"Eh, aku tidak meng...."
"Bagaimana kabar Sean? Apa dia baik?" Kali ini Jared bertanya.
"Eh Sean?"
"Ya. Sean. Sean Alvarion Carter. Suamimu. Bagaimana kabar si brengsek itu? Lain kali ajak dia juga kesini. Dia selalu saja menolak jika diajak bertemu. Hanya Roxyan yang selalu hadir dan..."
Rasanya seluruh pendengaran Bianca tertutup. Lidahnya mendadak kelu dan otaknya membeku mendengar informasi ini. Apakah mungkin beberapa orang bisa memiliki nama yang sama? Satu- satunya orang yang dikenalnya dan memiliki nama yang sama hanya orang itu?
Tapi....
Bagaimana bisa dia?
Dokter Carter? Sean?
Sean adalah....?
Sebenarnya apa yang terjadi?
***
Comments
Post a Comment