MISSING YOU - 23

Setelah semalaman memikirkan ditambah menenangkan dirinya, akhirnya Bianca memutuskan untuk kembali ke New Zealand. Dia perlu tahu kenapa orang terdekatnya menutupi fakta ini darinya.

Dan disinilah dia, di ruang tengah rumahnya sendiri- berdiri tanpa bisa mengatakan apa- apa melihat kedua orang tuanya, Immanuel dan Ellie Roseen serta Andrew yang tampak terkejut melihat kedatangannya yang tiba- tiba.

"Sa- sayang, kamu disini?" Tanya Andrew seraya bangkit dari duduknya menghampiri Bianca.

Jelas sekali pria itu baru saja membicarakan hal penting yang tidak ingin didengar oleh Bianca ketika kedua matanya mengerjap, menyadari kalau dirinyalah yang menjadi topik pembicaraan beberapa detik yang lalu.

"Kau mengetahuinya"

Ini bukanlah yang dia harapkan untuk tahu dan tidak terlalu terkejut mendapati dirinya merasa marah. Dia bahkan tidak tidur semalaman karena bingung dan pada akhirnya langsung memesan tiket keberangkatan pertama menuju New Zealand dan apa yang dilihatnya saat ini membuatnya merasa dibodohi.

"Sayang, apa yang kau bicarakan?"

Andrew berusaha untuk mengelak, hendak menyentuh wanita itu tapi dengan cepat ditangkis oleh Bianca lalu tatapannya kemudian tertuju pada kedua orang tuanya. Immanuel bahkan hanya bisa menghela napas lalu berdiri untuk menenangkan putrinya.

"Kenapa? Kenapa Dadda melakukan ini padaku?!" Teriak Bianca histeris.

Dia tidak bisa menampik rasa sakit di dadanya. Selama ini dia dibohongi, fakta yang sebenarnya ditutupi olehnya hingga membuatnya menjadi orang bodoh. Ia ingin membalas, menyakiti siapapun yang telah menyakitinya agar siapapun tahu bagaimana rasa sakit itu tapi sudut terdalam dalam hatinya melarang untuk melakukannya. Ia tidak mau berakhir dengan menyakiti mereka tapi apakah itu perlu? Sementara hatinya terasa sakit karena perbuatan mereka. Orang- orang yang dipikirnya adalah keluarganya.

"Dadda minta maaf, pumpkin."

Bianca menggeleng, melenyapkan air mata yang sudah berada dipelupuk matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah tapi dia juga perlu mencari tahu alasan dibalik ini semua. Dia harus menegakkan dirinya untuk mendengar semuanya bahkan jika itu adalah hal yang terburuk sekalipun.

Bianca tersenyum mengejek, mengejek dirinya sendiri. Sudah jelas ini akan menjadi hal yang buruk. Semenjak mendengar cerita Kathy dan Jared kemarin, dia sudah merasa buruk dan semakin bertambah buruk ketika berada disini.

"Duduklah. Kau perlu istirahat. Apa kau akan lama tinggal disini? Dimana tasmu?" Dia menjulurkan kepala, berharap akan melihat barang bawaannya kemudian mengernyit. "Kau tidak membawa apapun?"

"Aku membawa diriku sendiri." Jawab Bianca. "Dan bukan barangku yang perlu Dadda khawatirkan saat ini"

Immanuel menghela napas. "Duduklah dulu. Kau tampak lelah, pumpkin."

"Tidak! Aku ingin mendengarnya dan itu sekarang!" Tegasnya.

Kedua pria dihadapannya hanya bisa saling menatap hingga suara deheman dibelakang membuatnya berbalik.

"Duduklah dulu Bianca. Kau baru tiba dan mungkin kau bisa beristirahat sejenak. Aku akan menyuruh bibi menyiapkan kamarmu" Ujar Ellie sama sekali tidak menoleh. "Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan jika kau duduk Bianca."

Bianca terpaksa menuruti kemauan ibunya dan duduk kemudian diikuti oleh Andrew disampingnya. Ingin sekali ia menyentuh wanita yang telah dicintainya sejak lama tapi melihat sikap Bianca yang sepertinya menolak sentuhannya membuatnya harus kembali menelan kenyataan pahit jika wanita itu tidak akan pernah menjadi miliknya bahkan dengan ciuman- ciuman mereka selama ini, Andrew tahu kalau wanita itu tidaklah sepenuhnya mencintainya. Wanita itu seakan tahu kalau bukan dirinyalah yang diinginkan melainkan seseorang yang jauh tersembunyi dalam otaknya dan menunggu untuk dibuka kembali.

Bianca memandangi wajah mammanya. Wajah tegas seorang Ellie Roseen, wanita yang sampai sekarang hanya bisa mengontrol kehidupannya dan kemudian menutup seluruh akses yang memungkinkan seluruh ingatan Bianca kembali.

Dan kilasan- kilasan tentang memorinya yang selalu muncul dalam minpinya, yang dikiranya hanya sekedar bunga tidur. Sekarang dia yakini sebagai hal yang benar adanya. Bianca ingat alasan dibalik kecelakaan itu terjadi dan itu karena pertengkarannya dengan Ellie. Kala itu entah darimana Ellie tahu kalau selama ini Bianca tidak melanjutkan kuliahnya di New Zealand dan diam- diam berangkat menuju London dan mengambil jurusan kedokteran, sesuatu yang sangat ditentang oleh mammanya. Ellie sebenarnya mengharapkannya untuk menjadi seorang wanita bisnis seperti dirinya.

"Aku seperti orang bodoh" Ujar Bianca merasa sangat sakit dihadapan mereka bertiga.

"Sayang"

"Kau tidak bodoh, Bianca." Sergah Ellie tidak tahan. "Seharusnya kau melupakan semuanya saja. Melupakan pria itu. Jalani hidupmu, nak."

"Aku mencintainya, mamma dan mamma tahu itu" ucapnya lirih, merasa sangat lelah.

Disampingnya Andrew menahan perasaan geramnya. Dikepalkannya tangannya disisi tubuhnya. Dia tidak rela. Dia tidak rela mendengar Bianca mengucapkan kalimat itu untuk pria lain.

"Cinta, huh? Kau bisa mencintai Andrew"

Bianca memandang wajah mammanya yang telah melahirkannya tidak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu sementara daddanya juga berada disini, diantara mereka. Hingga kemudian dia sadar, Bianca sadar alasan kenapa ibunya lebih sering mengambil alih dibandingkan daddanya.

"Apakah.... apakah mamma tidak mencintai dadda?" Akhirnya Bianca mengucapkan apa yang baru saja terlintas dibenaknya.

"Ya"

"Tapi kena..." Bianca sama sekali tidak pernah menyangka hal ini.

"Kau lihat, sayang kami bisa saling mencintai meskipun dijodohkan"

Dijodohkan?

Bianca tersentak mengetahui fakta ini. Dia pikir kedua orang tuanya selama ini menikah atas dasar cinta, mengingat bagaimana daddanya selalu menyunggingkan senyumnya setiap kali bercerita tentang mammanya tapi apa yang baru saja keluar dari mulut mammanya bukanlah sesuatu yang pernah terlintas dalam benaknya.

"Mamma" Desah Bianca putus asa.

"Kau akan lebih bahagia jika bersama dengan Andrew. Kau hanya syok mengetahui hal ini"

Bianca menggeleng keras. "Tidak. Aku benar- benar mencintainya, mamma"

"Tidak!" Teriak Andrew tidak tahan. Harus berapa kali lagi ia menahan diri mendengar wanitanya mengatakan hal itu. "Kita akan menikah dalam minggu ini."

"Apa?!"

"Kau mendengarku sayang." Ujar Andrew mendadak lembut.

"Apa kau tidak mengerti, drew? Aku sudah menikah." Bianca berdiri dan menepiskan tangan Andrew yang hendak menyentuhnya.

"Aku tidak peduli" Balas Andrew ikut berdiri. Membuat baik Bianca maupun Andrew saling melotot.

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Drew" Kali ini air mata telah lolos dari matanya. "Kau sahabatku"

"Aku sudah berhenti menjadi sahabatmu sejak kita menjalin kasih dan bertunangan"

Bianca mulai terisak, ini sangat menyakitkan baginya.

"Kau... kau menyakitiku, drew. Kau bilang kau... kau akan melindungiku"

"Ucapanku waktu itu masih berlaku, sayang" Balasnya. Kali ini Andrew mengulurkan tangannya untuk mengelus sebelah pipi Bianca dengan lembut. "Aku akan melindungimu tapi hal itu tidak berlaku jika harus menyerahkanmu kembali pada dokter itu"

Seluruh dunianya seakan ikut tersedot. Rasanya menyakitkan. Kenapa? Kenapa ketika ia berusaha mencari tahu kebenarannya malah terasa menyakitkan? Tadinya dia berharap dengan adanya Andrew dan mendengar penjelasannya, pria itu akan mengerti tapi...

"Sudahlah sayang" Akhirnya Ellie mendekati Bianca dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Apa yang dikatakan oleh Andrew itu benar. Tidak seharusnya kau mengingat kembali masa lalumu. Semuanya tidak akan berubah bahkan dengan keberadaan anak kalian sekalipun"

Bianca tersentak, menyadari hal penting lainnya.

"Anak? Anak apa?"

Immanuel yang tadinya hanya terdiam mendengar pembicaraan diantara mereka, mendadak ikut bangkit dan menatap ketiga orang diruangan itu. "Anak siapa yang kalian bicarakan?" Tanya Immanuel lagi lalu tatapannya mengarah pada putrinya dan menatap marah terutama pada Ellie. "Apa ada yang belum kau ceritakan padaku, Ellie?"

Seketika suasana rumah itu menjadi dingin dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Bianca melihat amarah bergejolak dalam diri daddanya bahkan ia sempat mendengar mammanya terkesiap kaget ketika tahu- tahu daddanya berjalan mendekat kearah mereka, masih dengan raut wajah menahan amarah.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS