MISSING YOU - 24

Rasanya Bianca ingin tertawa. Tidak sekedar tertawa tapi terbahak- bahak hingga perutnya terasa sakit atau mungkin hingga ia bisa memuntahkan seluruh isi perutnya tapi itu tidak akan terjadi bahkan jika ia sangat menginginkannya karena satu hal yang dia ketahui dengan pasti adalah keinginan terkadang tidak selalu sejalan dengan apa yang orang inginkan dan itu juga berlaku pada dirinya.

Sejak kejadian di rumahnya tempo hari, tidak sekalipun dia beranjak dari apartemennya. Ya. Dia telah kembali ke London dan lebih senang mengurung dirinya dalam kegelapan segelap perasaannya. Andrew tentu saja berusaha mengejarnya dan menggedor- gedor pintu apartemen Bianca tapi Bianca bersikeras untuk tidak memperdulikannya justru semakin menutup diri. Baru setelah dua hari, Andrew tidak lagi muncul dan mungkin saja pria itu mengira kalau Bianca tidak lagi kembali ke apartemennya. Entahlah.

Tiga hari?

Lima hari?

Atau mungkin sudah lebih dari seminggu ia mengurung diri? Bianca tidak peduli.

Kejadian tempo hari memperlihatkan hal yang sebenarnya dan untuk pertama kalinya juga, ia dengan sadar- dengan mata kepalanya sendiri melihat kedua orang tuanya bertengkar. Mempertengkarkan apa yang selama ini disembunyikan oleh Ellie Roseen dan yang semakin membuat Bianca kecewa, Andrew juga mengetahuinya. Hanya Immanuel yang tidak tahu. Daddanya mengira kalau Bianca hanya menikah tanpa ada anak didalamnya. Alasan mengapa daddanya tidak setuju adalah karena dia tidak mengetahui pria yang telah menikahi putrinya dan merasa kecewa ketika mendengar kalau pria itu malah pergi meninggalkan Bianca dengan alasan yang sangat tidak bisa ia maafkan. Bosan. Bosan dengan putrinya.

Selama berada dalam kegelapan apartemennya, keadaan Bianca juga tidak bisa dikatakan seperti manusia lagi. Mata yang sembab karena menangis selama berhari- hari hingga dirinya nyaris tidak bisa mengangkat kepalanya. Pembicaraan terakhir antara dirinya dan Andrew juga selalu terngiang di kepalanya, membakar emosinya.

"Tidak ada yang bisa kau lakukan, Bianca. Sean sudah melupakanmu dan apa kau tidak sadar jika ia sudah menganggapmu mati. Jadi buat apa kau kembali padanya? Karena terakhir kali kau bertemu dengannya, sepertinya pria itu tidak mengenalmu dan... dan anakmu itu pasti sudah menganggapmu juga tidak ada" Ucapnya kala itu hingga menohok perasaannya dan tamparan sangat keras pun berakhir di pipi pria itu.

Ivy...

Ivy...

Ivy... putrinya...

Kembali air mata Bianca menetes, makin lama makin deras. Dia merutuki ketololannya, kenapa sejak awal dia tidak menyadari perasaannya ketika bertemu dengan anak itu? Ikatan yang terjadi selama sembilan bulan mengandungnya harus sirna dan tergantikan dengan enam tahun dalam ketidaktahuan dan kehampaan.

Sejak dua tahun yang lalu, ia selalu tahu ada yang aneh dalam otaknya karena selalu memimpikan seseorang yang bahkan selalu membuat jantungnya berdetak dengan kencang setiap kali pria itu menyebut namanya dan mengira kalau itu Andrew.

Rasanya dia ingin berteriak. Menghancurkan apapun yang dilihatnya tapi percuma. Apalagi yang perlu dia hancurkan. Apartemennya bahkan bukan lagi seperti tempat tinggalnya yang rapi dan nyaman. Semakin lama rasa sesak itu semakin menghimpitnya membuatnya seperti kehabisan napas.

Matanya kemudian menangkap cahaya yang berkelap- kelip dan dengan malas, ia meraih ponselnya dan mengangkatnya, tanpa sama sekali berniat untuk melihat si penelpon.

"Oh my God! akhirnya kau mengangkat panggilanku. Dimana kau? Apa yang terjadi?"

"Vi?" Hampir saja Bianca kembali menangis tetapi langsung terhenti ketika mendengar ucapan Vivian selanjutnya.

"Kau sama sekali tidak mengangkat telponmu atau bahkan membuka pintu apartemenmu. Sebenarnya apa yang terjadi? Bahkan Sean juga menanyakanmu"

Sean?

Dia nyaris tersentak menyadari fakta selanjutnya dan tanpa sadar ia tertawa. Kenapa ini harus terjadi padanya?

"Bi, kau masih disana?"

"Aku baik- baik saja, Vi."

"Benarkah? Kau bisa menceritakan apapun padaku. Kau tahu itu kan? Bestfriend first?"

Hening.

"Bi?"

"Yeah, bestfriend first" Ucap Bianca pada akhirnya dan terpaksa menyunggingkan senyumnya agar bisa menetralisir perasaannya yang kacau balau. "Aku sibuk mengurus sesuatu akhir- akhir ini dan aku lupa memberi kabar. Maaf"

"Kau yakin tidak apa- apa?"

Bianca mengangguk yakin dan kembali tertawa menyadari ketololannya dan merasa kalau akhir- akhir sepertinya syaraf tertawanya mulai tidak berfungsi dengan normal. Bagaimana mungkin dengan hatinya yang terasa sakit, dia masih mampu mengeluarkan tawa?

"Sangat yakin" Ucap Bianca seraya berjalan menuju cermin di kamar mandinya dan mendesah pelan ketika melihat matanya yang bengkak. Dia berniat akan mengompres matanya dengan es batu malam ini agar bisa kembali beraktivitas keesokan harinya. "Aku akan kembali ke rumah sakit besok."

"Baiklah. Aku akan menemuimu besok"

"Baiklah"

Lama tidak ada yang berbicara sehingga Bianca mengira Vivian telah memutuskan sambungan ketika mendengar suara Vivian kemudian.

"Aku menyayangimu, Bi. Sangat menyayangimu sebagai seorang sahabat. Apapun yang terjadi, pastikan kau ingat kalau kau memilikiku. Bestfriend first, ingat?"

"Bestfriend first. Aku ingat dan aku juga menyayangimu, Vi."

Klik.

.

.

Sebulan sudah sejak kembalinya Bianca ke rumah sakit. Tidak ada yang berubah pada diri wanita itu, dia mengerjakan pekerjaan dan rutin memeriksa pasien seperti yang biasanya. Hanya satu yang kadang membuat dokter lain terheran- heran, yaitu wanita itu lebih sering berbalik arah atau memilih jalan yang memutar jika melihat Sean. Awalnya dokter lain yang melihatnya mengira kalau Bianca hanya melupakan sesuatu tapi setelah seminggu wanita itu melakukannya baik Vivian, Roxyan maupun Sean merasa ada yang aneh dengan tingkah wanita itu.

Seperti hari ini, Bianca dan Vivian sedang bercanda sambil menikmati makan siang mereka ketika Roxyan yang tentu saja bersama Sean datang menghampiri ketika mendadak Bianca bangkit dari duduknya dan mengatakan kalau dia melupakan seorang pasien dan harus melakukan pemeriksaan rutin.

"Ada apa dengannya?" Tanya Roxyan pada Vivian seraya memperhatikan Bianca yang selesai menaruh nampannya ditempat nampan kotor berada. Jauh dari tempat duduk mereka.

Vivian yang ditanyai hanya bisa mengangkat bahunya, ikut merasa bingung dengan sikap sahabatnya yang tiba- tiba. Bianca memang terlihat tertawa ketika bersamanya tapi tawa itu tidak sampai ke matanya.

"Apa kau melakukan sesuatu lagi padanya, Sean?" Tuduh Roxyan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sean bahkan Vivian juga memberi Sean tatapan ingin tahu sekaligus menuduh.

Sean menghela napas. "Aku tidak melakukan apa- apa padanya." Jawabnya

"Aneh. Apa dia tidak mengatakan apa- apa padamu, Vi?" Kali ini Roxyan menujukan pertanyaannya pada Vivian.

"Aku juga tidak tahu. Dia hanya mengatakan hal- hal seperti dia baik- baik saja. Sebaiknya aku melihatnya. Sampai nanti Sean, Roxyan" Ucap Vivian meninggalkan keduanya.

Tidak ada yang bersuara diantara mereka hingga Vivian sudah tidak terlihat ketika Roxyan bergumam tapi masih bisa terdengar.

"Apa dia sakit?"

"Kau sepertinya peduli dengannya" Sean mengaduk- aduk kopi di dalam gelasnya dengan sengaja tapi pikirannya saat ini tertuju pada keanehan wanita itu.

"Maksudmu Bianca? Tentu saja aku peduli"

Acara mengaduk kopinya seketika berhenti digantikan dengan keinginan untuk membalikkan meja tempat mereka ketika dia sadar akan sikapnya.

Tunggu dulu, kenapa dia harus marah karena Roxyan mengatakan hal itu? Hahaha dia tidak mungkin...

"Lucu sekali. Karena sepertinya kau juga merasakan hal yang sama" Roxyan menyindirnya dengan telak membuatnya harus mendapatkan pelototan.

"Jangan ngawur. Dia sudah bertunangan, Roxy" balasnya membuat Roxyan mendengus tidak suka.

Roxyan sangat membenci mendengar namanya diganti apalagi dulu namanya sering diteriakkan oleh wanita itu. Sean tersenyum geli menyadari nama panggilan yang baru saja diucapkan itu mempunyai efek yang sangat besar pada sahabatnya.

"Aku tidak percaya kau memiliki sisi menjengkelkan dalam dirimu" Ujar Roxyan yang langsung membuat Sean tergelak.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS