MISSING YOU - 25

Fix. Sekarang Sean benar- benar yakin kalau wanita itu menghindarinya. Kalau kemarin dia hanya menganggap kalau Bianca menghindarinya karena ingin menebus ketidakhadirannya tempo hari maka kali ini Sean yakin seyakin- yakinnya melebihi 100 persen.

"Apa aku bau?" Sean mencegat Roxyan tepat ketika pria itu ingin masuk ke dalam lift.

"Hah?" Meskipun bingung dengan pertanyaan Sean tapi dia tetap mengikuti Sean yang mengendus- endus tubuhnya."tidak. Wangimu tetap sama. Cih, sebenarnya apa yang kulakukan." Ujar Roxyan setelah menyadari kalau ia baru saja menjadi bahan tontonan seisi rumah sakit.

"Kalau begitu kenapa dia..."

Sean tidak memperhatikan raut wajah kesal Roxyan disampingnya. Semua perhatiannya tertuju pada sosok wanita yang sempat berpapasan dengannya tadi. Ketika kedua mata mereka bertemu tadi, Sean melihat ekspresi terkesiap wanita itu dan lari terbirit- birit bersamaan dengan arah datangnya tadi.

Ada yang aneh dengannya tapi apa?

Sean mengacak- acak rambutnya kesal. Meskipun dia mengetahui kalau Bianca telah memiliki tunangan tapi dia tidak bisa menampik perasaannya pada wanita itu dan tidak mendengar suara merdunya, membuat Sean merasa kehilangan. Sial. Sekali lagi Sean mengacak rambutnya frustrasi. Kenapa harus dia?

"Hei kau tidak apa- apa?"

Sean mengerjap dan menyadari kalau tinggal mereka berdua di dalam lift.

"Eh, kemana yang lain?" Sean bertanya bingung.

"Sudah turun di departemen masing- masing. Kau kenapa sih? Apa terjadi sesuatu antara kau dan Bianca?"

"Apa?"

"Tadi aku sempat melihatnya lari seakan melihat hantu."

"Oh"

"Pasti ada yang terjadi"

"Kau mencurigaiku?" Tanya Sean setelah beberapa detik menafsir maksud tatapan yang dilontarkan Roxyan.

"Akan lebih baik kalau kau mengatakan yang sejujurnya" Ujar Roxyan kalem.

"Memang kau pikir aku pria seperti apa?" Sean mengertakkan giginya, tersinggung.

"Seperti pria pada umumnya"

"Dan seperti apa pria pada umumnya itu?"

"Well, hm  mungkin pria yang tertarik pada seorang wanita?"

Sean tersedak ludahnya sendiri. "Sebaiknya kau memeriksakan otakmu sendiri daripada memeriksa otak orang lain. Sepertinya ada yang salah dengan tata letak otakmu." Dan tanpa menoleh lagi, Sean keluar dari lift yang membawanya ke divisinya.

.

.

Bianca sedang memeriksa data pasien miliknya ketika ia mendengar suara pintu diketuk dari luar dan tidak lama kemudian memunculkan kepala Immanuel dibaliknya.

"Dadda? Apa yang..." Bianca terburu- buru bangkit dari duduknya dan menghampiri ayahnya. "Apa dadda sakit? Dimana?" Bianca memperlihatkan raut wajah khawatir. Tidak ada lagi perasaan marah juga kecewa yang dulu dia perlihatkan. "Dengan siapa dadda kemari? Mamma mana?" Ceracau Bianca dan mau tidak mau membuat Immanuel terkekeh melihat kelakuan putrinya.

"Aku merindukan putriku. Bagaimana kabarmu, pumpkin?"

Sesaat Bianca membeku di tempatnya dan menyadari kalau dia juga merindukan kehangatan daddanya, terlepas betapa kecewa dan marahnya dia dulu.

Seperti mengetahui apa yang ada dalam benak putrinya. Immanuel segera membawa putri kesayangannya itu masuk kedalam pelukannya. Bianca tidak menangis juga tidak menolak pelukan yang diberikan padanya. Sudah cukup dia menangis selama sebulan ini hingga rasanya airmatanya sudah habis tapi apakah benar begitu?

"Masuklah dulu dadda" Ujar Bianca setelah lama mereka berpelukan di depan pintu ruangan Bianca.

Tidak sekalipun Immanuel mengalihkan tatapannya dari wajah putrinya bahkan ketika Bianca kembali sambil membawa secangkir minuman untuk dirinya.

"Bagaimana dirimu, pumpkin?" Tanya Immanuel setelah Bianca duduk dihadapannya.

"Aku baik, dad"

Rasanya... rasanya sulit sekali ia marah pada daddanya apalagi setelah melihat pertengkaran yang terjadi pada orang tuanya tempo hari.

"Bagaimana keadaan mamma?"

"Dia baik- baik saja. Kami... untuk sementara kami berpisah."

"Oh dad, aku... aku..."

"Bukan salahmu nak. Mungkin sudah seharusnya aku mengambil sikap. Seharusnya aku mencari tahu dulu sebelum memutuskan untuk ikut menyembunyikan hal itu darimu. Maafkan orang tua ini, pumpkin"

"Oh dad." Bianca sungguh tidak tega. Ia kemudian bangkit dan berjalan menghampiri daddanya. "Bukan salah dadda jika aku harus mengalaminya. Aku... aku baik- baik saja."

"Jangan coba untuk membohongi daddamu, pumpkin. Kaulah orang yang paling tersakiti disini bukan dadda, bukan pula mammamu tapi kau. Kami... kami sama- sama telah memisahkan dirimu dari anakmu"

Hati Bianca seakan teriris ribuan pisau tak kasat mata. Ya, dia tidak menampik kalau dia merasa sakit dan luka itu masih ada bahkan jika itu harus mengeluarkan nanah. Bianca sadar kalau dirinya adalah seorang dokter yang mengobati pasien dan mengetahui segala macam obat untuk segala macam penyakit tapi entahlah, dia kebingungan akan memilih obat apa untuk lukanya sendiri.

"Apa kepalamu masih sakit?"

Bianca menggeleng. Mungkin jika daddanya datang dua minggu setelah kepulangannya dari New Zealand, dia akan menangis bahkan mengeluh dan memberitahunya kalau kepalanya benar- benar sakit ketika kilasan- kilasan tentang masa lalunya menghampiri.

Dia bahkan nyaris tidak bisa bergerak setelah semalaman dia mengalami deman akibat mengingat potongan terakhir dalam ingatannya.

"Kau mengalami kecelakaan setelah berbicara dengan mammamu"

Itu bukan pertanyaan tapi lebih menuju kearah pernyataan. "Kurasa waktu itu kau begitu marah padanya hingga tidak melihat ada mobil lain disisi lain dan menabrak mobil yang kau kendarai"

Tanpa sadar Bianca meringgis, mengingat kejadian beberapa tahun silam. Pecahan kaca yang sepertinya masih terngiang ditelinganya seperti kejadiannya baru terjadi kemarin, belum lagi suara bising yang entah berasal darimana atau mungkin saja berasal dari kerumunan orang yang berusaha membantunya keluar dari mobilnya yang waktu itu terbalik atau mungkin saja suara bising itu berasal dari dokter dan monitor yang sudah dikenalnya. Bianca tidak tahu.

"Aku sudah merasa baik, dad. Aku baik- baik saja"

Rasanya menyakitkan mengatakan dirimu baik- baik saja sementara bukan itu yang sebenarnya. Tapi apa yang bisa diperbuatnya, keadaan Immanuel juga tidak lebih baik darinya bahkan mungkin justru lebih terlihat mengenaskan dengan tubuh yang seperti habis mengangkat beban berat beberapa ton.

"Pumpkin...?"

"Tidak dad, sungguh. Aku baik- baik saja" potong Bianca. Tidak ingin mendengar apapun yang ingin dikatakan oleh Immanuel. Setidaknya tidak untuk sekarang. "Dimana dad tinggal? Aku akan mengantar dad"

"Untuk sementara dad tinggal di hotel"

"Apa dad ingin tinggal di apartemenku? Aku tidak keberatan jika dad berada disana" tawar Bianca.

Dia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Immanuel, dia ingin kembali menjadi daddy' daughter seperti dulu lagi terlepas dari masalah yang mereka hadapi.

"Tidak perlu, pumpkin. Dadda tidak ingin menganggumu"

"Kata siapa dad mengangguku. Aku sama sekali tidak keberatan dad tinggal ditempatku. Itu mungkin justru akan memudahkanku untuk mengontrol dad. Oh iya, kapan terakhir dad makan?"

"Kapan terakhir kau makan?" Immanuel mengikuti gaya bicara putrinya dan menyadari kalau putrinya terlihat berbeda dari yang terakhir dilihatnya.

"Oh ayolah dad, itu pertanyaanku" Sungut Bianca tidak terima, membuat Immanuel tertawa yang kemudian disambut tawa dari Bianca.

"Ah betapa aku merindukan suara tawamu, pumpkin"

"Aku juga merindukanmu, dad. Sungguh" Dipeluknya Immanuel dengan erat, seakan mengisi baterai agar bisa menjalani harinya. "Ayo, Dad perlu makan. Aku mengetahui tempat makan yang enak tidak jauh dari sini dan akan kupastikan dadda memakan semua yang kupilihkan"

Immanuel terkekeh. "Apapun untukmu, pumpkin"

"Sejujurnya dad, aku agak keberatan dengan dad yang terus menerus menyebutku dengan nama makanan tapi sudahlah" ujar Bianca disela mereka yang memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah.

"Lho kenapa? Itu panggilan sayang dadda untukmu"

"Dengan nama sejenis labu? Tidak dapat dipercaya!" Lagi- lagi Immanuel terkekeh melihat putrinya yang memutar mata jengah.

"Kudengar Vivian berada dirumah sakit ini juga"

"Ya. Dia di lantai 9, divisi anestesi"

"Oh dan bagaimana dengan putrimu? Apakah kau pernah melihatnya? Dia pasti secantik dirimu jika perempuan"

"Dan kalau laki- laki?" Bianca bermaksud menggoda daddanya. Dia tidak ingin acara makan bersama daddanya ternodai dengan memikirkan kesalahan yang terjadi antara dirinya, terlebih lagi dia tidak ingin kehilangan nafsu makan dan pada akhirnya pertahanannya harus runtuh.

"Akan kupastikan akan mirip dengan dadda" Tegas Immanuel lantas membuat Bianca tertawa.

"Jangan khawatir, dad. Dia perempuan." Jawab Bianca ikut tertawa. "Dia seorang putri yang sangat cantik dan menggemaskan. Dia mewarisi warna rambut yang mirip denganku" ucap Bianca bangga ketika dia tersenyum membayangkan wajah Ivy. "Aku yakin, dadda akan menyukainya"

"Kau sudah bertemu dengannya?" Mau tidak mau Immanuel terkejut dengan informasi yang baru saja diketahuinya.

"Ya. Terkadang dia kesini"

"Kesini? Ke rumah sakit ini? Apa dia sakit?"

Bianca tersenyum sambil mengusap lembut lengan pria paruh baya itu. "Tidak. Ivy baik- baik saja. Terkadang ia datang dengan ayahnya"

"Namanya Ivy? Nama yang cantik" Desah Immanuel bahagia, mungkin berusaha membayangkan wajah cantik cucunya. Satu menit kemudian tatapan Immanuel kembali kearah Bianca. "Ayahnya? Maksudmu pria itu juga bekerja di sini?"

"Ya. Kami di divisi yang sama" Ada nada getir dalam suara Bianca apalagi setelah kembali mengingat semuanya tapi tidak bisa melakukan apapun dan Immanuel menyadari hal itu. "Namanya dokter Carter. Sean Alvarion Carter" jelasnya mengindahkan perasaan gamang yang mendadak muncul dalam dirinya ketika secara bersamaan pintu lift itu terbuka yang menandakan kalau mereka telah tiba di lantai satu ketika membeku ketika matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh dari hadapannya- dimana menampilkan wajah seorang anak perempuan yang sedang tertawa bahagia dalam gendongan ayahnya.

Eh?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS