MISSING YOU - 26
Bianca bergerak gelisah di tempat duduknya saat ini. Bagaimana tidak, saat ini dihadapannya duduk Immanuel yang sedang bercanda tanpa henti dengan putri kandungnya tanpa memperdulikan dua orang dewasa yang saat ini terdiam meskipun salah satunya sedang melihat kearah mereka dengan tatapan heran sekaligus bingung.
Sejak mengetahui kalau mereka akan pergi, Ivy menolak untuk melepaskan Bianca dari pandangan dan Sean yang memang sejak awal dibuat penasaran dengan sikap Bianca beberapa hari ini, membuatnya harus mengikuti kemana putrinya itu pergi.
Tadinya Sean ingin bersikap biasa dihadapan wanita itu tapi ketika pandangannya bertemu dengan seorang pria paruh baya yang baru akan keluar dari lift dan tiba- tiba hendak mengajaknya bersalaman ketika mendadak pandangan teralih kearah Bianca yang memegang lengan pria itu dengan erat. Entah bagaimana Sean merasakan ada sinar ketakutan ditambah penolakan yang berasal dari kedua mata itu tapi langsung ditenangkan oleh pria yang mengaku sebagai ayahnya.
Dan disinilah mereka, duduk berempat di sebuah kafe dengan Sean yang duduk disebelah Bianca sementara Ivy dengan pria yang memperkenalkan namanya dengan nama Immanuel Roseen, ayah dari Bianca. Sean sedikit tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Putrinya, Ivy bahkan tidak terlihat canggung dan justru jauh terlihat lebih bahagia ketika mulai menceritakan seluruh kenangan dalam hidupnya pada Immanuel Roseen yang hanya dibalas kekehan.
Mereka sudah memesan makanan satu jam yang lalu. Meskipun tadinya alasan utama mengapa Bianca mengajak keluar Immanuel adalah agar pria paruh baya itu bisa makan tapi pada kenyataaannya, dialah yang memesan makanan berat padahal sebelumnya dia hanya berniat untuk minum cappucino dingin. Ia merasa seperti sedang mengunyah karpet ketika daging stek itu masuk kedalam mulutnya sementara telinganya diam- diam mendengar keseluruhan cerita dua manusia beda generasi itu.
".... jadi apa Ivy boleh memanggilmu grandpa?"
Bianca sukses tersedak makanannya sendiri mendengar pertanyaan Ivy barusan. Wajahnya memerah seraya tetap mengarahkan pandangannya pada sosok Immanuel didepannya, sedikit memohon.
"Minum ini dulu." Bianca menerima segelas air dari tangan Sean dengan ragu dan meneguknya.
"Kau tidak apa- apa, pumpkin?"
Immanuel bukannya tidak memperhatikan gerak- gerik Bianca dari tadi. Dia tahu dan sadar kalau putrinya itu merasa tidak nyaman dengan keadaan yang terjadi diantara mereka tapi dia perlu melihat dan mengetahui pria yang pernah menikahi anaknya. Pria yang sama sekali tidak diketahui oleh Immanuel hingga saat ini. Immanuel mungkin terlihat mendengarkan keseluruhan cerita Ivy sambil tersenyum tapi dari sudut matanya, Immanuel melihat bagaimana Sean selalu memperhatikan Bianca dari samping.
"Ya, aku baik- baik saja, dad" Jawab Bianca kembali memfokuskan dirinya pada stek di piringnya.
Rasanya nyaris seabad hanya untuk menghabiskan seporsi stek dan semakin lama Bianca di kafe ini, semakin ia merasa tidak nyaman. Otaknya terus menerus memikirkan sesuatu. Dia khawatir jika Immanuel tidak sengaja mengatakan semuanya. Dia khawatir Sean mengetahui dirinya dan dia khawatir.... dia khawatir dia tidak sanggup menahan diri untuk tidak memeluk anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan dan tidak ingin melepaskannya kelak. Dia khawatir... dia khawatir dan dia khawatir untuk semua yang telah ia lupakan selama ini. Begitu banyak yang ia khawatirkan dan begitu banyak pula yang ia sesalkan.
"Kau tidak memakan buncismu?" Mendadak Sean bertanya-membuat tidak hanya Bianca saja yang menoleh tapi dua orang dihadapannya juga terpaksa berhenti karena mendengar pertanyaan Sean barusan.
"Eh.. a- aku tidak terlalu suka buncis" Jawab Bianca gugup. Gugup karena tiga pasang mata sedang melihat kearahnya. "Rasanya seperti... seperti dia akan berbalik memakanku jika aku memakannya" Lanjut Bianca.
Buncis adalah makanan yang paling dibencinya dan tiap kali dia menemukan buncis di piringnya maka dia akan selalu menyisakan buncisnya, hanya Sean yang biasa mengambil buncis dari piring Bianca dan menukarnya dengan jagung atau kentang dari piring Sean sebagai pertukaran.
Eh Sean?
Ekpresi Bianca mendadak horor menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Ia tidak ingin menoleh ke samping dan lebih memilih untuk bersikap biasa, menutupi kegugupannya dengan minuman di tangannya.
Dari sudut matanya, dia masih bisa merasakan tatapan Sean disampingnya seakan tatapan itu hendak membelah otaknya ketika bernapas lega, memperhatikan Sean yang pada akhirnya memutuskan untuk mengalihkan tatapannya dan mengajak bicara Ivy.
Kejadiannya sudah lama. Tidak mungkin dia mengingat semua itu. Tidak mungkin. Doa Bianca dalam hati.
.
.
Semenjak kejadian di kafe tempo hari. Bianca berusaha untuk tidak berpapasan dengan pria itu lagi, jika perlu ia akan melihat sekelilingnya lebih dulu dan jika dalam jarak pandang lima meter ia melihat Sean, maka dia akan segera berputar arah. Tidak peduli jika ia harus menghabiskan waktu yang lebih lama untuk sampai ke ruangannya.
"Ada apa sih denganmu?"
Vivian langsung menghadang Bianca pada kesempatan pertama di koridor rumah sakit sehabis memeriksa pasien. Dia tentu saja merasa heran melihat kelakuan Bianca akhir- akhir ini ketika memutuskan untuk bertanya langsung.
"Apa?" Tanya Bianca heran. "Memang kenapa denganku?"
Vivian mendengus jengkel. "Kau selalu menolak jika kuajak makan dikantin. Kau juga selalu raib entah kemana setiap aku ke ruanganmu bahkan dokter Athar dan dokter- dokter lainnya juga tidak mengetahui keberadaanmu" jelasnya tidak sabar.
Bianca terdiam. Tentu saja dia merasakan perubahan itu tapi dia tidak mungkin mengatakan kalau selama ini dia hilang ingatan dan pria yang disukai oleh wanita disampingnya ini adalah orang yang sama di masa lalunya. Apa yang harus ia lakukan jika sahabat satu- satunya itu malah berbalik membencinya? Apa yang akan dia lakukan jika sahabatnya itu sakit hati?
"Aku tidak tahu apa yang kau hadapi akhir- akhir ini tapi kau aneh dan apapun itu, membuatku merasa seperti... tidak dianggap" ada nada sakit hati ketika ia mengatakan hal itu.
"Maafkan aku, Vi" Balas Bianca. "Kedua orang tuaku bertengkar dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Saat ini... mereka sedang berpikir apakah akan berpisah atau tidak" Bianca semakin merasa bersalah karena telah menjadikan kedua orang tuanya sebagai alasan atas kekalutan yang selama ini menderanya, meskipun sebagian dari kalimatnya barusan ada benarnya tapi dia tidak mungkin mengatakan hal yang menjadi dasar kekalutannya saat ini.
Kadang kala ia berharap ingatannya tidak usah kembali. Dia ingin melupakan semuanya karena dengan begitu ia tidak akan merasakan perasaan sakit yang teramat di relung hatinya karena sadar atau tidak, perasaannya pada Sean masih ada bahkan mungkin lebih besar daripada yang dulu pernah dia rasakan. Ia meringgis menahan perasaannya yang baru saja terasa tercabik- cabik. Ya, Sean dan Ivy berhak dengan kehidupan baru mereka.
"Oh aku minta maaf, Bi" Ucap Vivian seraya memeluk Bianca, menyangka kalau Bianca menitikkan air mata karena perseteruan orang tuanya. "Mereka pasti punya alasan" Lanjut Vivian.
"Ya. Dan itu karena aku." Ungkap Bianca dalam hati.
"Maafkan aku, Vi" Bianca mengatakan itu dengan sungguh- sungguh terlepas dari sikapnya selama ini.
"Tidak apa- apa. Aku yang seharusnya mengatakan maaf karena telah membuatmu menangis" Balas Vivian membuat Bianca mengangguk. "Kau masih punya aku. Kau bisa mengatakan apapun itu. Bestfriend first, remember? Aku akan selalu ada untukmu" Ucapnya lagi membuat Bianca merasa ingin mengambil pisau bedah miliknya dan membedah jantungnya sendiri
***
Comments
Post a Comment